3
Jika tidak mendapatkan budak (atau tidak mampu memerdekakan budak), maka ia harus berpuasa selama dua bulan berturut-turut, sebagai cara tobat kepada Allah SWT.Lebih dari itu adalah perkataan Ibnu Hazm dalam al-Muhalla mengenai pembunuhan janinsetelah ditiupkannya ruh, yakni setelah kandungan berusia seratus dua puluh hari,sebagaimana disebutkan dalam hadits sahih. Ibnu Hazm menganggap tindakan ini sebagaitindak kejahatan pembunuhan dengan sengaja yang mewajibkan pelakunya menanggungsegala risiko, seperti hukum qishash dan lain-lainnya.Beliau berkata:"Jika ada orang bertanya, µBagaimana pendapat Anda mengenai seorang perempuan yangsengaja membunuh janinnya setelah kandungannya berusia seratus dua puluh hari, atauorang lain yang membunuhnya dengan memukul (atau tindakan apa pun) terhadap perut si perempuan itu untuk membunuh si janin?µKami jawab bahwa sebagai hukumannya wajib dikenakan hukum qishash, tidak boleh tidak,dan ia tidak berkewajiban membayar denda. Kecuali jika dimaafkan, maka dia wajibmembayar ghirrah atau denda saja karena itu merupakan diat, tetapi tidak wajib membayar kafarat karena hal itu merupakan pembunuhan dengan sengaja. Dia dikenakan hukumanqishash karena telah membunuh suatu jiwa (manusia) yang beriman dengan sengaja, makamenghilangkan (membunuh) jiwa harus dibalas dengan dibunuh pula. Meski demikian,keluarga si terbunuh mempunyai dua alternatif, menuntut hukum qishash atau diat,sebagaimana hukum yang ditetapkan Rasulullah saw. Terhadap orang yang membunuhorang mukmin. Wa billahit taufiq."Mengenai wanita yang meminum obat untuk menggugurkan kandungannya, Ibnu Hazm berkata:"Jika anak itu belum ditiupkan ruh padanya, maka dia (ibu tersebut) harus membayar ghirrah. Tetapi jika sudah ditiupkan ruh padanya --bila wanita itu tidak sengajamembunuhnya-- maka dia terkena ghirrah dan kafarat. Sedangkan jika dia sengajamembunuhnya, maka dia dijatuhi hukum qishash atau membayar tebusan dengan hartanyasendiri."Janin yang telah ditiupkan ruh padanya, oleh Ibnu Hazm dianggap sebagai sosok manusia,sehingga beliau mewajibkan mengeluarkan zakat fitrah untuknya. Sedangkan golonganHanabilah hanya memandangnya mustahab, bukan wajib.Semua itu menunjukkan kepada kita betapa perhatian syariat terhadap janin, dan betapa iamenekankan penghormatan kepadanya, khususnya setelah sampai pada tahap yang olehhadits disebut sebagai tahapan an-nafkhu fir-ruh (peniupan ruh). Dan ini merupakan perkaragaib yang harus kita terima begitu saja, asalkan riwayatnya sah, dan tidak usah kitamemperpanjang pembicaraan tentang hakikatnya, Allah berfirman:"... Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit." (al-Israµ: 85)Saya kira, hal itu bukan semata-mata kehidupan yang dikenal seperti kita ini, meskipun para pensyarah dan fuqaha memahaminya demikian. Hakikat yang ditetapkan oleh ilmu pengetahuan sekarang secara meyakinkan ialah bahwa kehidupan telah terjadi sebelum itu,hanya saja bukan kehidupan manusia yang diistilahkan oleh hadits dengan "peniupan ruh."Hal ini ditunjuki oleh isyarat Al- Qurµan:"Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh)-nya ruh (ciptaan)-Nya..." (as-Sajdah: 9)Tetapi diantara hadits-hadits sahih terdapat hadits yang tampaknya bertentangan denganhadits Ibnu Masµud yang menyebutkan diutusnya malaikat untuk meniup ruh setelah usia