Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
6Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Hukum Menggugurkan Kandungan

Hukum Menggugurkan Kandungan

Ratings: (0)|Views: 1,292 |Likes:
Published by aiemannamia

More info:

Published by: aiemannamia on Mar 26, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/14/2012

pdf

text

original

 
1
Hukum Menggugurkan Kandungan
 
Pertanyaan:
 Assalamualaikum Wr Wb.Aku mau tanya nich.....Aku khan sudah menikah dan sudah dikaruniai anak 1 (laki-laki yang kami beri namaMuhmmad Fadhiel ) yang lahir pada tanggal 17 may 2002 dan pada bulan September akungga kunjung datang bulan dan ternyata saya dinyatakan positive ( sudah check melalui testsensitive tapi hasil dari dokter adalah negative ) dan setelah usia kandungan saya memasuki3 minggu, saya kembali kedokter dan ternyata hasilnya Positive saat itu saya bingung sekalikarena waktu hamil pertama saya mabok sampai tidak bisa melakukan aktivitas apa-apa (sampai makan nasipun saya tidak bisa masuk )sedangkan saya harus mengurusi anak sepertimemberi makan, membuat susu, dsb lach..tapi keadaan saya padaKehamilan 3 minggu sudah mabok parah seperti hamil pertama dan akhirnya kami bertukar fikiran dengan suami saya dan akhirnya sepakat mengambil keputusan untuk menggugurkankandungan ini karena dari pada saya menelantarkan anak yang sudah diberikan kepadaAllahSwt dan pada waktu itu anak saya sudah berusia 4 bulan.Maksud saya ingin Menggugurkan kandungan adalah:1. Anak kami masih kecil dan masih membutuhkan perhatian dari kedua orang tuanya2. Saya masih takut untuk melahirkan lagi karena rencana kami akanMengandung lagi jika anak pertama saya berumur 3 atau 4 tahun.3. Kami merencanakan tidak menggunakan alat KB melainkan dengan kondom ( maaf ) tapi pernah saya sekali tidak menggunakan alat itu tapi hanya sekali dan pada waktu saya tidak lagi masa subur.4. Dan dari perusahaan saya dilarang hamil seblum anak yang baru dilahirkan itu sudah besar.Dan sekarang pertanyaan saya adalah:1. Apakah saya berdosa menggugurkan kandungan pada waktu usia 3 minggu?2. Kalau memang berdosa apa yang harus saya lakukan untuk menebus dosa saya itu?Sekiranya sampai disini dulu pertanyaan dari saya ini semoga mbak EriSudikiranya mau menjawab pertanyaan saya ini karena saya sangat membutuhkanJawaban itu....terima kasih.Wasalamualaikum Wr Wb.
Randu
 
Jawaban:
 Untuk kejelasan masalah seperti ini kami akan kutipkan buku Fatawa Kontemporer yangditulis oleh Dr. Yusuf al-Qardhawi, dan jawaban ini pernah pula kami tampilkansebelumnya:Bahwa kehidupan janin (anak dalam kandungan) menurut pandangan syariat Islammerupakan kehidupan yang harus dihormati, dengan menganggapnya sebagai suatu wujudyang hidup yang wajib dijaga, sehingga syariat memperbolehkan wanita hamil untuk  berbuka puasa (tidak berpuasa) pada bulan Ramadhan, bahkan kadang-kadang diwajibkan
 
2
 berbuka jika ia khawatir akan keselamatan kandungannya.Karena itu syariat Islam mengharamkan tindakan melampaui batas terhadapnya, meskipunyang melakukan ayah atau ibunya sendiri yang telah mengandungnya dengan susah payah.Bahkan terhadap kehamilan yang haram --yang dilakukan dengan jalan perzinaan
 janinnyatetap tidak boleh digugurkan, karena ia merupakan manusia hidup yang tidak berdosa:"... Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain ..." (al-Israµ: 15)Selain itu, kita juga mengetahui bahwa syaraµ mewajibkan penundaan pelaksanaan hukumqishash terhadap wanita hamil yang dijatuhi jenis hukuman ini demi menjaga janinnya,sebagaimana kisah wanita al-Ghamidiyah yang diriwayatkan dalam kitab sahih. Dalam halini syaraµ memberi jalan kepada waliyul-amri (pihak pemerintah) untuk menghukum wanitatersebut, tetapi tidak memberi jalan untuk menghukum janin yang ada di dalamkandungannya.Seperti kita lihat juga bahwa syaraµ mewajibkan membayar diat (denda) secara sempurnakepada seseorang yang memukul perut wanita yang hamil, lalu dia melahirkan anaknyadalam keadaan hidup, namun akhirnya mati karena akibat pukulan tadi.Ibnul Mundzir mengutip kesepakatan ahli ilmu mengenai masalah ini:Sedangkan jika bayi itu lahir dalam keadaan mati, maka dia tetap dikenakan denda karenakelengahannya (ghirrah), sebesar seperdua puluh diat.Kita juga melihat bahwa syaraµ mewajibkan si pemukul membayar kafarat -disamping diatdan ghirrah- yaitu memerdekakan seorang budak yang beriman, jika tidak dapat maka iaharus berpuasa dua bulan berturut-turut. Bahkan hal itu diwajibkan atasnya, baik janin ituhidup atau mati.Ibnu Qudamah berkata, "Inilah pendapat kebanyakan ahli ilmu, dan pendapat ini jugadiriwayatkan dari Umar r.a.. Mereka berdalil dengan firman Allah:"... Dan barangsiapa membunuh seorang mukmin karena tersalah (tidak sengaja) hendaklahia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar diat yang diserahkankepada keluarganya (si terbunuh itu), kecuali jika mereka (keluarga terbunuh) bersedekah.Jika ia (si terbunuh) dari kaum yang memusuhimu, padahal ia mukmin, maka (hendaklah si pembunuh) memerdekakan hamba sahaya yang mukmin. Dan jika ia (si terbunuh) dari kaum(kafir) yang ada perjanjian (damai) antara mereka dengan kamu, maka (hendaklah si pembunuh) membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh) sertamemerdekakan hamba sahaya yangmukmin. Barangsiapa yang tidak memperolehnya, makahendaklah ia (si pembunuh) berpuasa dua bulan berturut-turut sebagai cara tobat kepadaAllah; dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." (an-Nisaµ: 92)Mereka berkata, "Apabila wanita hamil meminum obat untuk menggugurkan kandungannya,maka ia wajib membayar denda, tidak boleh mewarisi sesuatu daripadanya (sebab orangyang membunuh tidak boleh mewarisi sesuatu dari yang dibunuh), dan wajib memerdekakanseorang budak. Denda tersebut hendaklah diberikan kepada ahli waris si janin.Semua sanksi itu dikenakan padanya karena ia telah melakukan perbuatan jahat yaitumenggugurkan janin. Sedangkan memerdekakan budak merupakan kafarat bagi tindak kejahatannya. Demikian pula jika yang menggugurkan janin itu ayahnya maka si ayah harusmembayar denda, tidak boleh mewarisi sesuatu daripadanya, dan harus memerdekakan budak.
 
3
Jika tidak mendapatkan budak (atau tidak mampu memerdekakan budak), maka ia harus berpuasa selama dua bulan berturut-turut, sebagai cara tobat kepada Allah SWT.Lebih dari itu adalah perkataan Ibnu Hazm dalam al-Muhalla mengenai pembunuhan janinsetelah ditiupkannya ruh, yakni setelah kandungan berusia seratus dua puluh hari,sebagaimana disebutkan dalam hadits sahih. Ibnu Hazm menganggap tindakan ini sebagaitindak kejahatan pembunuhan dengan sengaja yang mewajibkan pelakunya menanggungsegala risiko, seperti hukum qishash dan lain-lainnya.Beliau berkata:"Jika ada orang bertanya, µBagaimana pendapat Anda mengenai seorang perempuan yangsengaja membunuh janinnya setelah kandungannya berusia seratus dua puluh hari, atauorang lain yang membunuhnya dengan memukul (atau tindakan apa pun) terhadap perut si perempuan itu untuk membunuh si janin?µKami jawab bahwa sebagai hukumannya wajib dikenakan hukum qishash, tidak boleh tidak,dan ia tidak berkewajiban membayar denda. Kecuali jika dimaafkan, maka dia wajibmembayar ghirrah atau denda saja karena itu merupakan diat, tetapi tidak wajib membayar kafarat karena hal itu merupakan pembunuhan dengan sengaja. Dia dikenakan hukumanqishash karena telah membunuh suatu jiwa (manusia) yang beriman dengan sengaja, makamenghilangkan (membunuh) jiwa harus dibalas dengan dibunuh pula. Meski demikian,keluarga si terbunuh mempunyai dua alternatif, menuntut hukum qishash atau diat,sebagaimana hukum yang ditetapkan Rasulullah saw. Terhadap orang yang membunuhorang mukmin. Wa billahit taufiq."Mengenai wanita yang meminum obat untuk menggugurkan kandungannya, Ibnu Hazm berkata:"Jika anak itu belum ditiupkan ruh padanya, maka dia (ibu tersebut) harus membayar ghirrah. Tetapi jika sudah ditiupkan ruh padanya --bila wanita itu tidak sengajamembunuhnya-- maka dia terkena ghirrah dan kafarat. Sedangkan jika dia sengajamembunuhnya, maka dia dijatuhi hukum qishash atau membayar tebusan dengan hartanyasendiri."Janin yang telah ditiupkan ruh padanya, oleh Ibnu Hazm dianggap sebagai sosok manusia,sehingga beliau mewajibkan mengeluarkan zakat fitrah untuknya. Sedangkan golonganHanabilah hanya memandangnya mustahab, bukan wajib.Semua itu menunjukkan kepada kita betapa perhatian syariat terhadap janin, dan betapa iamenekankan penghormatan kepadanya, khususnya setelah sampai pada tahap yang olehhadits disebut sebagai tahapan an-nafkhu fir-ruh (peniupan ruh). Dan ini merupakan perkaragaib yang harus kita terima begitu saja, asalkan riwayatnya sah, dan tidak usah kitamemperpanjang pembicaraan tentang hakikatnya, Allah berfirman:"... Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit." (al-Israµ: 85)Saya kira, hal itu bukan semata-mata kehidupan yang dikenal seperti kita ini, meskipun para pensyarah dan fuqaha memahaminya demikian. Hakikat yang ditetapkan oleh ilmu pengetahuan sekarang secara meyakinkan ialah bahwa kehidupan telah terjadi sebelum itu,hanya saja bukan kehidupan manusia yang diistilahkan oleh hadits dengan "peniupan ruh."Hal ini ditunjuki oleh isyarat Al- Qurµan:"Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh)-nya ruh (ciptaan)-Nya..." (as-Sajdah: 9)Tetapi diantara hadits-hadits sahih terdapat hadits yang tampaknya bertentangan denganhadits Ibnu Masµud yang menyebutkan diutusnya malaikat untuk meniup ruh setelah usia

Activity (6)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Kasmiati Ati liked this
Wan Aidanuranis liked this
ipehlemot liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->