Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
57Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
RESTRUKTURISASI BUMN

RESTRUKTURISASI BUMN

Ratings: (0)|Views: 2,401 |Likes:

More info:

Published by: Febri Ardiyanto Kusmanadji on Mar 26, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/25/2013

pdf

text

original

 
BAB 1PENDAHULUAN1.1Latar Belakang
Kondisi perekonomian nasional yang saat ini masih belum pulih akibat terjadinya krisismoneter berkepanjangan menyebabkan kalangan dunia usaha belum bisa bangkit seperti sediakala. Ditambah lagi dengan adanya resesi ekonomi dalam skala global dewasa ini yang berdampak pada kegiatan perekonomian nasional, baik dalam skala makro maupu mikro.Sebagai konsekuensi dari guncangan ekonomi tersebut banyak perusahaan yang terpaksaditutup / dilikuidasi karena kelangsungan usahanya tidak dapat dipertahankan. Hal tersebut berimbas pula terhadap Badan Usaha Milik Negara (BUMN).Salah satu masalah yang menyebabkan BUMN di masa lalu kurang mampu menunjukkan prestasi bisnisnya adalah kurang jelasnya arah kebijakan BUMN. Sejak dibentuknya Kementrian Negara BUMN di tahun 1998, arah itu mulai Nampak, dan semakin jelas ketika diterbitkan UU No. 19/2003 tentang BUMN.Dibentuknya Kementrian Negara BUMN adalah untuk lebih menegakkan peranPemerintah sebagai kuasa pemegang saham/pemilik BUMN yang terpisah dengan peran pemerintah yang berfungsi sebagai regulator. Sedangkan UU No. 19/2003 telah menegaskan pembedaan peran antara pemilik, regulator, dan supervisior, dan operator. Untuk bank BUMN,misalnya pemilik adalah pemerintah melalui Menteri BUMN, regulator dan supervisor adalahBank Indonesia, dan bagi yang sudah
 go public
, supervisor lain adalah Menteri Keuanganmelalui Badan Pengawasan Pasar Modal, sedangkan operator adalah Dewan Direksi yangdiawasi oleh Dewan Komisaris. Dengan adanya pemisahan-pemisahan ini, maka intervensi politik dan birokrasi semakin dapat diminimalisir, sehingga profesionalitas menajemen BUMNdapat semakin dioptimalkan.Agenda dari setiap BUMN adalah melakukan perubahan. Setiap saat tuntutan bisnis berubah, dan BUMN harus berubah menyesuaikan diri dan mengantisipasi tantangan di masadepan. Perubahan pun tidak identik dengan penggantian, namun bisa juga dengan inovasi atau penyempurnaan. Termasuk didalamnya mengembangkan kapasitas terpasang, hingga
 fine-tuning 
 
 proses bisnis
, merupakan upaya perubahan. Namun, BUMN-BUMN yang berada pada kondisi kritis perlu untuk dilakukan perubahansecara mendasar, atau restrukturisasi, yaitu penataan ulang secara mendasar. Jumlah BUMNdibawah pembinaan Menteri Keuangan & Pemberdayaan (d/h Meneg PM&PBUMN) pada tahun1998 secara keseluruhan apabila dihitung dengan anak perusahaan dan cucu BUMN bisamencapai 1000 perusahaan. Total asset yang dikelola BUMN sekitar Rp. 500 triliun (akhir tahun1999) dan bergerak hampir di seluruh bidang aktivitas ekonomi. Mengingat BUMN memegang peranan yang penting dan turut mempengaruhi kinerja perekonomian nasional, maka BUMN perlu dikelola dengan efektif dan efisien berdasarkan prinsip-prinsip Good CorporateGovernance (GCG)., yaitu Transparansi (Transparency), Pengungkapan (Disclosure) atauFairness, Akuntabilitas (Accountability) dan Legalitas (Legality). Untuk menuju programrestrukturisasi dan privatisasi BUMN diperlukan terbentuknya corporate governance.Menteri BUMN dalam berbagai kesempatan menyatakan untuk tidak memberikan penekanan pada kebijakan privatisasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN), yang menjadistrategi terdepan pengelolaan BUMN selama lima tahun terakhir ini. Dalam Master PlanSebaliknya, orientasi atau fokus perhatian dari Kantor Kementerian BUMN dalam lima tahunmendatang adalah bagaimana agar setiap BUMN berupaya untuk selalu terus menerusmenciptakan dan meningkatkan nilai (value creation and improving) perusahaan agar mampumeraih keuntungan (profitabilitas) yang sebesar-besarnya dan mampu meningkatkan kuantitasserta kualitas, baik produk dan layanan kepada konsumen dan masyarakat. Ini menunjukkan bahwa restrukturisasi BUMN, sebagai salah satu kebijakan pokok Kementerian BUMN, telahdipilih sebagai strategi utama untuk perbaikan kinerja perusahaan-perusahaan milik negara.Beberapa pihak mengemukakan pesimismenya terhadap proses restrukturisasi yangdipilih pemerintah untuk mengelola BUMN. Beberapa argumen yang terangkum adalah prosesrestrukturisasi BUMN akan membutuhkan proses yang lama dan ongkos yang besar, karenakurangnya dukungan politik yang kuat dan berkesinambungan,. Selain itu tidak adanyakeprihatinan (sense of crisis) pada pemilik saham dan manajer BUMN tentang urgennyarestrukturisasi BUMN yang merupakan prasyarat penting dilakukannya restrukturisasi.Sedikitnya jumlah manajer Indonesia yang memiliki kompetensi profesional merestrukturisasi perusahaan juga dikatakan akan menyulitkan proses restrukturisasi BUMN. Restrukturisasi
 
BUMN juga akan menumbuhkan perlawanan sengit yang kemungkinan besar akan timbul dari pihak-pihak yang merasa dirugikan dengan adanya restrukturisasi BUMN dan adanya pemimpin perusahaan yang memanfaatkan proses restrukturisasi untuk kepentingan sendiri .Kekhawatiran-kekhawatiran tersebut cukup wajar melihat bagaimana pemerintahmemperlakukan BUMN selama ini, walaupun mungkin perlu dilakukan riset yang lebihkomprehensif untuk mendapatkan data pendukung untuk beberapa argumen yang disampaikan.Selain itu argumen-argumen yang ada masih menyisakan pertanyaan tentang alternatif strategiyang perlu dipertimbangkan Kementerian BUMN, baik untuk memudahkan prosesrestrukturisasi tersebut maupun sebagai pengganti strategi restrukturisasi itu sendiri. Kemudian,dalam keadaan Kementerian BUMN sudah berbulat tekad untuk melakukan restrukturisasiBUMN, akan lebih baik jika kita memikirkan langkah-langkah yang perlu dilakukan agar restrukturisasi perusahaan-perusahaan milik negara tersebut dapat dilakukan dengan baik,daripada bersikap pesimis.
BAB II

Activity (57)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Putra Alam liked this
Levina Ameline liked this
Muhammad Khuluqi liked this
Sandi Simamora liked this
Asa Mutia Sari liked this
winda chan liked this
winda chan liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->