P. 1
Mekanisme an Ego Novel Frida Karya Barbara Mujica

Mekanisme an Ego Novel Frida Karya Barbara Mujica

Ratings: (0)|Views: 879 |Likes:
Published by nggakpunya3144

More info:

Published by: nggakpunya3144 on Mar 27, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/28/2012

pdf

text

original

 
MEKANISME PERTAHANAN EGO TOKOH UTAMANOVEL
FRIDA
 KARYA BARBARA MUJICA
(KAJIAN PSIKOANALISIS SIGMUND FREUD)
Oleh
MOCH. HENDY BAYU PRATAMANIM 022144017
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYAFAKULTAS BAHASA DAN SENIJURUSAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA2006
 
 
BAB IPENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sastra tidak lahir dari situasi kosong. Sastra diciptakan pengarang denganmerujuk pada kenyataan dan masyarakat (Pradopo, 2003:113). Di dalam suatukarya sastra menceritakan tentang masalah manusia, dan juga kemanusiaan. Lebihlanjut lagi, karya sastra, menurut Endraswara (2003:96), merupakan produk darisuatu kejiwaan dan pemikiran pengarang yang berada pada situasi setengah sadar (
 subconsious
). Setelah jelas, baru dituangkan ke dalam bentuk secara sada(
conscious
). Antara kesadaran dan ketidaksadaran, selalu mewarnai dalam prosesimajinasi pengarang. Oleh karena itu, karya sastra tidak terlepas dari psikologi.Endraswara (2003:97) menyatakan bahwa psikologi dan sastra memilikihubungan fungsional karena sama-sama untuk mempelajari keadaan kejiwaanorang lain, bedanya dalam psikologi gejala tersebut nyata, sedangkan dalam sastra bersifat imajinatif. Lebih lanjut lagi menurut Darma (2004:130), sastra langsungatau tidak, merupakan kepanjangan psikologi. Hal ini disebabkan masing-masingtokoh dalam sastra mempunyai kepentingan dan masalah. Adanya kepentingandan adanya masalah inilah mereka saling berinteraksi, dari interaksi inilah pembaca (penikmat) dapat menyimak watak masing-masing tokoh. Apa yangdilakukan masing-masing tokoh, dipercakapan, dan dipikirkan, tidak lain adalah pencerminan jiwa masing-masing tokoh.Seperti yang dikemukakan oleh Wellek dan Austin (1990:90) danHardjana (1994:60) bahwa ada empat kajian sastra yang berhubungan dengan psikologi, yaitu (1) kajian mengenai psikologi pengarang sebagai tipe atau sebagai pribadi, (2) kajian tentang proses kreatif penciptaan sastra yang dilakukan pengarang, (3) kajian tentang ajaran dan hukum-hukum yang diterapkan padakarya sastra, dan (4) kajian tentang pengaruh atau dampak sastra pada pembaca.Lebih lanjut lagi, menurut Hardjana (1994:66) untuk membahas sastra darisudut pandang psikologi, seorang peneliti dapat mengamati tingkah laku tokoh-tokoh tersebut sesuai dengan apa yang diketahuinya tentang jiwa manusia, maka
 
 peneliti tersebut telah berhasil menggunakan teori-teori psikologi modern untuk menjelaskan dan menafsirkan sebuah karya sastra.Di Indonesia, kajian psikologi sastra perkembangannya lebih lambatdaripada sosiologi sastra atau ilmu-ilmu lain. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain (1) psikologi sastra seolah-olah hanya berkaitandengan manusia sebagai individu, kurang memberikan peranan terhadap subjek transindividual, sehingga analisis dianggap sempit, (2) dikaitkan dengan tradisiintelektual, teori-teori psikologi sangat terbatas, sehingga para sarjana sastrakurang memiliki pemahaman terhadap bidang psikologi sastra, (3) relevansianalisis psikologis kurang menarik minat khususnya di kalangan mahasiswa. Halitu dapat dibuktikan dengan sedikitnya skripsi dan karya tulis yang memanfaatkanteori psikologi (Ratna, 2004:341).Sebagai ilmu yang mempelajari semua tingkah laku manusia, kaidah psikologi banyak diterapkan dalam karya sastra. Untuk itu, antara psikologi dankarya sastra memiliki hubungan yang erat. Menurut Ratna (2004:343) Ada tigacara yang dapat dilakukan untuk memahami hubungan antara psikologi dengansastra, yaitu (1) memahami unsur-unsur kejiwaan pengarang sebagai penulis, (2)memahami unsur-unsur kejiwaan tokoh-tokoh fiksional dalam karya sastra, dan(3) memahami unsur-unsur kejiwaan pembaca.Teori psikologi yang digunakan di dalam penelitian ini adalah psikoanalisis Sigmund Freud. Hubungan antara sastra dengan psikoanalisis inisangat erat. Milner (1992:31—33) menyatakan bahwa hubungan tersebut ada dua jenis, yaitu: (1) kesamaan antara hasrat-hasrat yang tersembunyi pada setiapmanusia yang menyebabkan kahadiran karya sastra yang mampu menyentuh perasaan kita, karena karya sastra itu memberikan jalan keluar terhadap hasrat; (2)kesejajaran antara mimpi dan sastra, dalam hal ini ada hubungan antara elaborasikarya sastra dengan proses elaborasi mimpi, yang oleh Freud disebut “pekerjaanmimpi”. Baginya, mimpi seperti tulisan, yaitu sistem tanda yang menunjuk padasesuatu yang berbeda dengan tanda-tanda itu sendiri. keadaan orang yang bermimpi adalah seperti penulis yang menyembunyikan pikiran-pikrannya.

Activity (28)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Ines Malinda liked this
Nona Vero liked this
Eyan Putra Iand liked this
Icuk Yudhiono liked this
Shelvy Jonathan liked this
Ratih Tiun Tiun liked this
Iqon Maazz liked this
Rizayu Paradita liked this

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->