/  10
 
Wasiat 1: Habib AbduLlah al-Hadad
Bismillah Ar-Rahman Ar-Rahim
Maha suci Engkau ya Allah; sungguh kami tiada memiliki ilmu kecuali yang telah Engkau ajarkan kepadakami. Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.Alhamdullilah. Segala puji syukur bagi Allah, Tuhan Sang Pencipta semua makhluk, Yang menyeru hamba-hambanya seraya mengkhususkan sebahagian dari mereka dengan hidayah dan rahmah! Dan semua itu bersesuaian dengan kehendakNya yang azali. :Sungguh kami telah mewasiatkan kepada orang-orang yangdiberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu: “Bertakwalah kepada Allah”.(QS.4:131). Dan firman- Nya: “Allah menyeru (manusia) ke syurga Daru’s-Salam dan memimpin orang yang dikehendakiNyakepada jalan yang lurus” (QS.10:25.) Dan firman-Nya lagi: “Allah menentukan siapa yang dikehendaki- Nya, (untuk menerima) rahmayNya (yang khusus) dan Allahlah Yang Maha mempunyai kurnia yang besar”.(QS. 2:105).Salawat dan salam bagi junjungan dan pemimpin besar kita: Nabi Muhammad Saw, juga bagi keluarganyaserta para sahabatnya, para pembela agama nan lurus.Amma ba’du: Assalamualaikum wa rahmatullah wa barakatuh.Kepada saudaraku yang mencintai dan mengharap, yang mencari ilmu dengan bersungguh-sungguh, dankepada setiap saudara seiman yang saling mencintai kerana Allah, Tuhan semesta alam, di mana sajakeberadaannya, di penjuru Timur Bumi dan di Baratnya, di dataran dan lautan, yang datar mahupun yang berbukit-bukit dan di semua daerah sekitarnya.Saudaraku yang tercinta,Anda telah meminta kepada saya, agar menuliskan wasiat untuk anda, yang mudah-mudahan dapatmembuat anda merasa bahagia,dan dapat anda jadikan pegangan kuat dalam perjalanan hidup anda. Untuk itulah saya akan berupaya memenuhi permintaan anda, sekalipun saya sebetulnya bukan ahlinya. Namunkeinginan anda untuk mengajukan permintaan ini, demikian juga kesediaan saya utnuk memenuhikeinginan anda itu, semata-mata demi mengikuti uswah hasanah (peneladanan yang baik) yang memperoleh petunjuk dan para khalaf yang mengikuti mereka. Semoga Allah selalu meredhai mereka semuanya.Memang sudah semenjak dahulu kala, tradisi saling mewasiati ini telah menjadi ciri khas dari akhlak mereka. Dan Allah s.w.t telah melukiskan sifat mereka itu dalam Al-Quran yang mulia, yang tiada datangkepadanya kebatilan, dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan oleh Tuhan Yang MahaBijaksana lagi Maha terpuji. Sebagaimana tercantum dalam kedua surah:Al-Balad dan Wa’l-Ashri. Makaterpeganglah erat-erat dengannya dan mintalah petunjuk Allah dan pertolongan-Nya selalu.
Takwa dan Peringkat-Peringkatnya
Ketahuilah, wahais audaraku, bahawa yang paling layak di utamakan dalam berwasiat, adalah wasiattentang takwa kepada Allah Yang Maha Mulia dan Maha Bijaksana. Maka dengan ini, sya berwasiat kepadaanda dan kepada diri saya sendiri, serta kepada segenap orang yang beriman dan kaum muslimin semuanya,agar bertakwa kepada Allah Rabb’ul –Alamin, kerana takwa merupakan sarana terpenting yangmenghantarkan kepada kebahagian dunia dan akhirat. Takwa pula merupakan asas pondasi pemerkuat pilar- pilar aga,a. Kerananya, tanpa pondasi yang kukuh, sebuah bangunan akan lebih cenderung mengalamikehancuran daripada kesempurnaan.Adapun takwa itu sendiri terdiri atas beberapa tingkatan:Pertama, menjauhi segala perbuatan maksiat dansegala yag diharamkan dalam agama. Yang demikian itu merupakan suatu kewajipan yang tidak bolehtidak. Kedua, menjauhkan diri dari perkara-perkara yang shubhat (yang meragukan, antara haram danhalal). Hal itu merupakan sikap kewaspadaan yang akan melindungi pelakunya dari terjerumus ke dalamsesuatu yang haram. Ketiga, menghindari hal-hal yang berlebihan dan tidak perlu, di antara yang mubah(yang dibolehkan, tidak diperintahkan dan tidak pula dilarang agama) demi memuaskan hawa nafsu semata-mata. Penghindaran diri seperti itu termasuk kategori ‘zuhud yang mendalam’ sepanjang pelaksanaannya
1
 
Wasiat 1: Habib AbduLlah al-Hadad
disertai kerelaan dan kepuasan hati sepenuhnya atau tazahhud (yakni zuhud tingkat bawah yangdipaksakan) sepanjang pelaksanaannya masih disertai dengan perasaan enggan dan berat hati, keranaterpaksa melawan hawa nafsu. Kerananya, barang siapa meninggakan sesuatu kerana takut kepada manusiaatau mengharapkan sesuatu yang ada pada mereka, maka ia-pada hakikatnya- hanya bertakwa kepadamereka dan bukan bertakwa kepada Allah. Sedangkan yang benar-benar bertakwa kepada Allah Swt, adalahyang melakukannya kerana semata-mata mengharapkan keredhaan-Nya, menginginkan pahala-Nya dantakut akan seksa-Nya.Dan barangsiapa telah berdiri mantap dalam maqam ketakwaan, maka ia telah layak menerima ilmu yangdiwariskan (‘ilm-l-wiratsah). Itulah ‘ilmu ladunni’ (al-‘ilm al-ladunniy) yang dihunjamkan Allah Swt secaralangsung ke dalam hati para wali-Nya. Ilmu yang tidak tercantum dalam buku-buku, tidak tercakup dalam pengajaran yang bagaimanapun. Ilmu seperti itu, diharamkan Allah atas orang-orang yang menghambakepada hawa nafsunya, yang telah diliputi kegelapan hati, yang hanya mementingkan selera nafsu mereka, berkaitan dengan apa yang dimakan, dipakai dan dinikahi. Ilmu ladunni seperti itulah yang diajarkan AllahSwt kepada hamba-hamba-Nya yang khusus seperti diisyaratkan dalam firman-Nya: “Bertakwalah kamukepada Allah, nescaya Allah akan mengajari kamu”. Demikian pula dalam sabda Rasullah Saw .:  barangsiapa mengamalkan ilmu yang diketahuinya, nescaya Allah akan mewariskan kepadanya ilmu yang belum diketahuinya.” Dan itulah buah dari amalan ilmu yang diperoleh dari Al-Quran dan Sunnah NabiSaw., yang tersaring bersih dari segal;a noda hawa nafsu. Dan begitu pula buah dari upaya mengikuti jalanlurus yang disertai dengan penuh takwa, disamping menjauh dari sifat keangkuhan dan kebanggaan padadiri sendiri.Dan tentunya takkan mungkin bagi seorang hamba, menyiapkan dirinya guna dapat meraihlimpahan anugerah illahi yang demikian besarnya itu, tanpa sebelummnya melakukan riyadhah (pelatihanmental dan pengendalian diir) yang intensif, dengan cara memutuskan segala ajakan syahwat hawa nafsu,disertai dengan mengkonsentrasikan diri kepada Allah secara terus menerus, dalam beribadat kepada-Nyasecara ikhlas dan murni semata-mata hanya untuk-Nya saja.
Keharusan Menuntut Ilmu
Saya berpesan selanjutnya hendaklah Anda selalu berusaha dengan sungguh-sungguh menuntut ilmu yang berguna, dengan cara membaca, menelaah buku-buku ataupun berdiskusi untuk mencapai hasil. Jangansekali-kali meninggalkan upaya itu kerana malas atau bosan, atau pun kerana perasaan takut sekiranya andananti tidak mampu mengamalkan ilmu anda itu. Yang demikian itu merupakan kebodohan belaka.Dan hendaklah anda dalam hal ini selalu membaikkan niat anda dan bermawas diri, jangan segera berpuas hati dengan merasa telah cukup berhasil, sampai anda benar-benar menguji diri anda sendiri.Selanjutnya, berupayalah sungguh-sungguh untuk mengamalkan ilmu yang telah anda ketahui itu, sertamengajarkannya kepada siapa yang belum mengetahuinya, baik anda diminta atau tidak. Dan apabila setanmembisikkan kepada anda: “
 Janganlah mengajar sebelum kamu benar-benar menjadi alim yang luasilmunya”
, maka katakan kepadanya: “Kini aku apabila ditinjau dari apa yang telah kuketahui adalah
alim
(seorang yang berilmu), dan kerananya wajib untuk mengajarkannya kepada orang-orang lain. Sedangkan – apabila ditinjau dari apa yang belum kuketahui-maka aku kini seorang pelajar yang wajib belajar danmenuntut ilmu”. Ini tentunya berkenaan dengan ilmu yang wajib dipelajari. Adapun selebihnya, tak apalah jika anda pelajari juga.Mengajarkan ilmu merupakan amal ibadat yang besar pahalanya, sepanjang diiring dengan niat baik yang dasarnya ‘kerana Allah’ semata-mata bukan kerana sesuatu lainnya, tanpa sedikit pun niat untuk meraih harta atau kedudukan.Hendaklah anda, secara konsisten menelaah buku-buku para ulama terdahulu, terutama para tokohsufi dan memperhatikan apa yang ada didalamnya. Kerana di situ terhimpun banyak petunjuk khusustentang bagaimana mengenal Allah serta berbagai bimbingan tentang cara-cara pembaikan niat, keikhlasandalam beramal pendidikan jiwa dan lain sebagainya. Semuanya itu adalah ilmu-ilmu sangat bermanfaatyang tentunya akan menuntun kearah keberuntungan dan keselamatan.
2
 
Wasiat 1: Habib AbduLlah al-Hadad
Dan tiada yang enggan memperhatikan dan membaca buku-buku seperti itu, kecuali orang-orangyang sudah buta mata hatinya atau gelap jiwanya. Walaupun demikian sekiranya waktu anda sangatterbatas, tidak cukup untuk mengkaji buku-buku itu secara keseluruhan, maka khususkanlah pengkajiananda pada buku-buku karangan Imam Ghazali kerana itulah yang paling banyak manfaatnya, paling lengkapisinya dan paling menarik susunan kata-katanya.
Kehadiran Hati dan Kekhusyukan Anggota Tubuh
Saya berpesan, hendaklah anda selalu menghadirkan diri dan mengkhusyukkan anggota badan di saatmelakukan ibadah-ibadah anda. Dengan demikian anda akan meraih buah hasilnya dan tersinari oleh percikan cahayanya. Dan hendaklah anda selalu dalam keadaan siap untuk menerima pengawasan Allahatas segala gerak geri anda. Camlah selalu dalam hati anda bahwa Allah Swt. Adalah Maha cermat dalam pengamatan-Nya dan Maha dekat dengan diri anda.Upayakanlah agar anda mampu menjadi penasihat bagi diri anda sendiri dan sekaligus pemberi peringatan kepadanya. Ajaklah ia ke jalan Allah dengan Hikmah kebijaksanaan serta nasihat yang baik.Berikan pengertian kepadanya bahwa pengabdian dan ketaatan kepada Allah Swt. Akan membawa rasakenikmatan abadi, serta kemulian dan kekayaan yang besar. Sebaliknya, meninggalkan pengabdian danketaatan lalu melakukan perbuatan maksiat, akan berakibat seksaan batin yang pedih dan kehinaan yang besar. Nafsu manusia, kerana kebodohannya, tidak mahu melakukan atau meninggalkan apa pun kecualidemi sesuatu yang diingininya ataupun yang ditakutinya. Ini mengingat nafsu manusia memang bertabiatselalu malas melakukan ketaatan dan sebaliknya cenderung melakukan pelanggaran.Saya juga berpesan, hendaklah anda tidak mensia-siakan sedetik pun dari waktu-waktu anda, bahkansetarikan nafas pun, kecuali yang akan membawa manfaat bagi diri anda dalam kehidupan akhirat andaataupun kehidupan dunia anda yang dapat menolong anda di dalam kehidupan akhirat kelak.
Menghilangkan Was-Was Setan Dari Dalam Hati
Adakalanya muncul dalam hati manusia pelbagai was-was (bisikan jahat setan yang menimbulkankeraguan dalam hati), yang paling sulit diantaranya ialah menyangkut masalah akidah, demikian pula dalam pelbagai amalan peribadatan.Adapun salah satu cara agar bisa terhindar dari was-was itu ialah, antara lain dengan meneliti secarasaksama:apabila was-was tersebut sudah jelas-jelas berkaitan dengan kebatilan, seperti meragukan tentangeksistensi Allah dan hari akhirat, maka tiada jalan lain baginya kecuali harus menolaknya dengan tegas,dengan berpaling darinya dan memohon perlindungan Allah Swt. Secara tulus, seraya memperbanyak zikir kepada-Nya.Akan tetapi bilamana bisikan was-was itu masih dalam kerangka sesuatu yang meragukan:apakahtermasuk sesuatu yang haqq atau bathil, maka hendaklah meminta fatwa tentang hukumnya kepada orang-orang yang berilmu dan beroleh petunjuk;kemudian berpegang erat-erat dengan fatwa mereka danmengandalkannya. Adapun setiap perbuatan hati yang dilakukan tanpa adanya unsur kesengajaan, makakafarat (penebus)-nuya adalah dengan bersikap membencinya.
Menjaga Lidah
Saya berpesan kepada anda agar berupaya sungguh-sungguh dalam menjaga llidah dari ucapan sia-sia.Sebab, lidah adalah cermin isi hati. Kata seorang bijak: “Lidah itu bagaikan binatang buas, bila egkaumengurungnya, ia akan menjagamu. Tetapi bila engkau melepaskannya, ia akan menerkammu”.Oleh sebab itu, usahakanlah menyibukkan lidah anda hanya dengan sesuatu yang memanngtermasuk urusan anda sendiri, misalnya dengan membaca Al-Quran, berzikir dan menyeru manusai ke arahkebaikan. Jangan sekali-kali melibatkannya dalam hal-hal bukan urusan anda. Iaitu ucapan-ucapan yangtidak anda harapkan pahalanya apabila anda ucapkan, dan yang tidak pula anda khuatirkan akan terkenahukuman apabila tidak anda ucapkan. Setiap ucapan menimbulkan konsekuensi antara lain terjerumus
3

Share & Embed

More from this user

Add a Comment

Characters: ...