2
Konsep Kebijakan Fiskal Daerah
Desentralisasi tidak hanya terkait dengan model pemerintahan, namun juga menyangkutparadigma ekonomi yang disebut desentralisasi ekonomi. Desentralisasi ekonomi mencakupaktivitas dan tanggung jawab ekonomi yang diimplementasikan pada level daerah. Upayadesentralisasi ekonomi antara lain liberalisasi, privatisasi, dan deregulasi.Berkaitan dengan hal tersebut, desentralisasi fiskal menjadi komponen utama prosesdesentralisasi di Indonesia. Menurut Pakpahan (2006), desentralisasi fiskal meliputi:a. Pembiayaan mandiri (
self financing
) dan
cost recovery
dalam bidang pelayanan publikb. Peningkatan PADc. Bagi hasil pajak dan bukan pajak secara lebih tepatd. Transfer dana ke daerah, utamanya melalui Dana Alokasi Umum (DAU) dan DanaAlokasi Khusus (DAK) dengan lebih adile. Kewenangan daerah untuk melakukan pinjaman berdasarkan kebutuhan daerahSebagai bagian yang terintegrasi dan tidak dapat dipisahkan dengan kebijakan fiskalnasional, kebijakan fiskal daerah juga harus mempertimbangkan prinsip-prinsippenganggaran. Terdapat dua pendekatan yang dapat digunakan dalam penyiapan anggaran,yaitu
hard budget constraint
dan
soft budget constraint
.Berdasarkan pendekatan
hard budget constraint
, daerah terlebih dahulu mengidentifikasipendapatan (
revenues
) baru kemudian menentukan pengeluaran. Sebaliknya, berdasarkan
soft budget constraint
, pengeluaran diestimasi lebih dahulu kemudian daerah mengusahakanpendapatan untuk mendanai pengeluaran tersebut. Dalam pendekatan yang pertama,potensi merupakan pertimbangan utama, sementara pada pendekatan kedua, kebutuhanlahyang menjadi faktor dominan (Kadjatmiko, 2006). Untuk menciptakan kesinambungan fiskaldaerah, maka Kadjatmiko (2006) berpendapat bahwa pendekatan
hard budget constraint
lebih tepat untuk digunakan.Pada dasarnya, Otonomi Daerah memiliki tujuh elemen dasar (Suwandi, 2005). Elementersebut adalah kewenangan, kelembagaan, personel, keuangan daerah, perwakilan,pelayanan publik, dan pengawasan. Sarana untuk mewujudkan otonomi daerah adalahmelalui
good governance
, penerapan Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP), reformasisistem pengelolaan keuangan daerah dan penerapan Standar Pelayanan Minimal (SPM).
Otonomi Daerah dan
Good Governance
Ketiga fase yang dijelaskan tersebut di atas bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraanmasyarakat melalui peningkatan kuantitas dan kualitas pelayanan, pemberdayaan danpartisipasi masyarakat dalam meningkatkan daya saing daerah. Proses ini membutuhkanpenerapan prinsip-prinsip
good governance
yang menyeluruh dan terpadu. Adapun prinsip-prinsip
good governance
adalah:
1
1. Partisipasi; mendorong setiap warga untuk mempergunakan hak dalam menyampaikanpendapat dalam proses pengambilan keputusan, yang menyangkut kepentinganmasyarakat, baik secara langsung maupun tidak langsung.Partisipasi bermaksud untuk menjamin agar setiap kebijakan yang diambilmencerminkan aspirasi masyarakat. Dalam rangka mengantisipasi berbagai isu yangada, Pemerintah Daerah menyediakan saluran komunikasi agar masyarakat dapatmengutarakan pendapatnya. Jalur komunikasi ini meliputi pertemuan umum, temuwicara, konsultasi dan penyampaian pendapat secara tertulis. Bentuk lain untukmerangsang keterlibatan masyarakat adalah melalui perencanaan partisipatif untuk
1
http://www.goodgovernance.or.id