Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
4Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
15 Februari 1958 Proklamasi PRRI

15 Februari 1958 Proklamasi PRRI

Ratings: (0)|Views: 226 |Likes:
Published by razakinstrument05

More info:

Published by: razakinstrument05 on Mar 30, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/07/2013

pdf

text

original

 
15 Februari 1958 Proklamasi PRRI : “Kok Bakisa Duduak Jan Bakisa dari Lapiak Nan Salai….”
20 February 2009 2,157 views 4 Comments
Tepat 51 tahun yang lalu, tanggal 15 Februari 1958 terjadi peristiwa bersejarah yangamat sangat penting di ranah Minang, yang mampu mengubah sejarah perkembangankawasan ini pada masa berikutnya. Pada tanggal itu Dewan Perjuanganmemproklamirkan berdirinya Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia,disingkat PRRI. Proklamasi ini merupakan puncak dari rentetan peristiwa-peristiwasebelumnya, yang bermula dari rasa ketidak puasan daerah-daerah di luar Jawa atasketimpangan pembangunan yang terjadi antara Jawa dan luar Jawa.Republik Indonesia telah exist sejak 17 Agustus 1945, perjuangan mempertahankankemerdekaan berlangsung sampai dengan 19 Desember 1949, sewaktu pemerintahankerajaan Belanda menyerahkan sepenuhnya kedaulatan kepada pemerintahanRepublik Indonesia. Upaya pengisian kemerdekaan dengan demikian baru bisadimulai sejak tahun 1950. Inipun berlangsung ditengah pertentangan politik yangsangat tajam, yang antara lain ditandai dengan mulai bangkitnya kembali Partai
 
Komunis Indonesia.Ketidak puasan diatas mula-mula dinyatakan dengan berdirinya Dewan Banteng,Dewan Gajah, Dewan Garuda di Sumatera dan PERMESTA di Sulawesi pada tahun1956 yang diprakarsai oleh panglima militer setempat, yang melepaskanketergantungan perdagangan yang selama ini dikelola pemerintah pusat di Jakarta,dan menggantikannya dengan sistim barter yang dilaksanakan langsung antara daerahdengan luar negeri.Pertentangan pemerintah pusat dan beberapa daerah ini terus berlangsung, walauupaya untuk mengatasinya juga terus dilakukan. Di sisi lain daerah-daerah yang bergolak juga merapatkan barisan, yang antara lain ditandai dengan pertemuan rahasiadi Sungai Dareh yang berlangsung pada tanggal 9 Januari 1958. Dan ternyata bulan berikutnya disusul dengan proklamasi dan pembentukan PRRI tersebut diatas.Sudah sangat banyak buku, tulisan, artikel, di berbagai media dan internet yangmembahas dan mengupas peristiwa PRRI ini dari berbagai sudut pandang. Campur tangan asing, khususnya Amerika, juga terjadi dalam permasalahan yang padahakekatnya merupakan permasalahan internal Republik ini yang saat itu masih berumur sangat muda.Bagi generasi muda Minang yang ingin mengetahui peristiwa bersejarah ini, dapatmengikutinya dari copy 3 buah tulisan yang dapat dilihat pada bagian akhir dariartikel ini.Banyak hal yang dapat dipelajari dan hikmah yang dapat disimpulkan dari rentetan peristiwa PRRI ini.Saya sendiri berada di Palembang antara tahun 1950-1958, yang merupakan wilayahdari “Dewan Garuda” (Teritorium II=TT II Sriwijaya).Sebagai siswa SMP saya mengikuti suasana pergolakan daerah ini melalui ceritaorang-orang yang lebih dewasa, koran, siaran radio RRI, dan kemudian Radio PRRIyang disiarkan dari Malaysia dengan suaranya yang sangat jernih dan jelas. Suara bariton penyiarnya sangat khas, dan ada yang mengatakan bahwa penyiarnya ituadalah Des Alwi.Pada waktu sejumlah pimpinan daerah Sumatera Selatan (Lampung dan Bengkulumasih termasuk Sumsel) masih banyak yang dipegang urang awak, seperti antara lainDr. Isa, Dr. Adnan Kapau (AK) Gani, Kol. Hasan Kasim.Yang paling terlihat jelas dengan jelas adalah suasana harian yang diwarnai olehsemangat perjuangan yang tampak melalui latihan tentara sukarela “SriwijayaTraining Center” (STC) yang setiap hari berlangsung di dekat kediaman saya didaerah Bukit Kecil, Palembang.Acara-acara latihan ini sangat menarik bagi anak-anak, karena dapat mengamatisenjata-senjata baru yang tidak pernah dilihat sebelumnya, dengan para sukarelawan
 
yang memakai pakaian tentara Amerika yang kedodoran (belum sempat divermaak).Kalau mereka memakai singlet hijau militer, belahan singlet bagian bawah sudahsampai di pinggang mereka. Walau demikian dengan senjata barunya mereka tetapterlihat gagah.Semangat kedaerahan sangat menonjol saat itu, yang juga merasuki anak-anak dengantingkat pemahaman yang masih terbatas.Sampailah pada suatu pagi di awal tahun 1958, sewaktu saya mengayuh sepedamenuju sekolah yang terletak di jalan Pagar Alam, pemandangan yang sama sekalitidak biasa tampak di sepanjang jalan Pagar Alam tersebut : pasukan berpakaiantempur lengkap berdiri berjaga pada jarak-jarak tertentu. Sikap mereka tampak sangat profesional, dan ternyata mereka adalah pasukan KKO-AL (Korps Komando AL,sekarang: Marinir). Tidak ada pertempuran, tidak ada kekacauan, tidak ada kerusuhansama sekali, dan….tidak ada tembakan.Sekolah berjalan seperti biasa. Sepulang sekolah ternyata mereka masih standby,tetapi tidak dengan wajah sangar atau menakutkan.Kami para anak-anak kecewa dan tidak mengerti (tidak habis pikir, bahasa populernya), karena Palembang diduduki secara sangat mudah oleh “tentara pusat”.Tentara TT II Sriwijaya dan STC ternyata tidak melakukan perlawanan sama sekali.Lapangan terbang Talang Betutu kemudian juga diduduki, dan sejak itu sejumlah pesawat fighter Harvard dan Mustang selalu ada di lapangan terbang tersebut. Kalautidak salah, komando tentara pusat berada dibawah LetKol Juhartono.Yang jelas, sejak itu zaman terasa berubah. Radio PRRI tetap jadi favorit, juga korandari Padang yang penuh dengan cerita-cerita pertempuran. Berita pendudukanPekanbaru, Padang, yang dari waktu ke waktu diikuti pula dengan kota-kota lainnya,sangat memukul warga Palembang, terutama yang berasal dari Minang.Kehidupan terasa sulit atau dipersulit antara lain dengan adanya keharusan mengurus“Surat-Jalan” jika akan pergi antar kota/daerah. Surat Jalan ini harus pula diketahuidan dicap di tempat tujuan.Orang Minang (yang sering disebut sebagai “orang Padang”) berada dalam posisiterpojok mulai saat itu.Menjelang akhir peristiwa PRRI, tahun 1960-1961, banyak pasukan PRRI yangmayoritas anak muda yang menyingkir ke daerah Sumatera Selatan dan sebagian adayang tertangkap oleh tentara TT II Sriwijaya. Di Palembang mereka ditahan di RumahTahanan Militer (RTM) di Sekojo (bekas lapangan terbang militer Jepang).Sesudah permasalahan PRRI ini diselesaikan pada tahun 1961, situasi & kondisi“urang awak” sudah sangat berbeda. Suasana dan semangat yang paling menonjoladalah rasa dikalahkan yang menyakitkan, dan rasa luka dan tertekan yang berlangsung bertahun-tahun.Saya pulang kampung tahun 1963 melalui Pakanbaru. Gubernur Riau dan Sumbar waktu itu sama-sama bernama Kaharuddin. Yang satu Kaharuddin Nasution, dan yang

Activity (4)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 thousand reads
1 hundred reads
Kopral Cepot liked this
Kopral Cepot liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->