positif dalam pemberantasan terorisme di Indonesia daripada hanya sekedar mengutamakan upaya-upaya penegakan hukum melulu. Disamping itu, denganoptimalisasi upaya-upaya deradikalisasi terorisme tersebut, maka
cost
akibat kerugianyang ditimbukan oleh aksi terorisme dapat dihindari sejauh mingkin.
Sumber
:http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2009/12/06/Buku/index.html, diakses pada tanggal 30 Januari 2010.
Membendung Terorisme denganDeradikalisasi
Terorisme bisa tumbuh dalam lingkungan masyarakat fundamentalis, ekstrem, danmerasa tidak mendapat perlakuan yang berkeadilan.Gembong teroris nomor wahid di Indonesia, Noor Din M. Top dan Dr Azahari, sudahtewas. Namun, tak ada jaminan terorisme telah raib. Menurut beberapa kajian,terorisme bukan semata-mata menyangkut si pelaku, melainkan berkaitan dengankeyakinan. Dan, ibarat tanaman, terorisme bisa patah tumbuh hilang berganti.Dalam bukunya,
Terorisme. Fundamentalis Kristen, Yahudi, Islam
, (Jenderal)Abdullah Mahmud Hendropriyono menulis terorisme sebagai ancaman abadi terhadapkeamanan dan kesejahteraan hidup manusia. Ia menyarankan pentingnya melakukankajian filsafat untuk menyusun metode, strategi, teknik, dan taktik operasional dalammenumpas terorisme.Buku setebal hampir 500 halaman itu adalah kajian ilmiah Hendropriyono untuk meraih gelar doktor di bidang ilmu filsafat, yang dipertahankan pada 25 Juli lalu dihadapan tim penguji Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.Menurut Hendro, terorisme bisa tumbuh dalam lingkungan masyarakat fundamentalisatau ekstrem sebagai fenomena global.Terorisme juga bisa tumbuh di kalangan semua penganut agama. Tak hanya dikalangan penganut Islam, tapi juga penganut Kristen dan Yahudi. FundamentalismeKristen tumbuh di Amerika Serikat sejak abad ke-19, dan terus berkembang hinggakini. Pada era pemerintah Presiden George W. Bush, mereka merupakan pendukungutama neo-imperialis. Mereka menganggap kapitalisme modern merusak agama, jadiharus dilawan dan dikembalikan pada ajaran Tuhan.Sementara itu, lahirnya fundamentalisme Yahudi berkaitan erat dengan konstelasigeopolitik ditandai dengan lahirnya Gerakan Zionis. Mereka meyakini bahwaPalestina adalah "tanah berkah" yang ditakdirkan bagi anak-anak Tuhan, yaitu bangsaYahudi. Maka muncullah kemudian negara Israel pada 1948, yang ditentang oleh bangsa Palestina, yang sebelumnya sudah lama menghuni "tanah yang dijanjikan" itu.Adapun fundamentalisme Islam--yang sangat dirasakan akhir-akhir ini--justruterjebak dalam perangkap terorisme yang mengatasnamakan jihad. Sementara itu,3