Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
50Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Kliping Terorisme Beserta Komentarnya

Kliping Terorisme Beserta Komentarnya

Ratings: (0)|Views: 3,162 |Likes:
Published by HANDIK ZUSEN
Tugas Mata Kuliah Kapita Selekta Hukum Pidana Tertentu
Tugas Mata Kuliah Kapita Selekta Hukum Pidana Tertentu

More info:

Published by: HANDIK ZUSEN on Mar 31, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/24/2013

pdf

text

original

 
Sumber
Deradikalisasi Cegah Teror
SEHARI
menjelang perayaan Natal, Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror  berhasil menangkap buron kasus terorisme, Baridin alias Bahrudin Latif.Penangkapan mertua Noordin M Top (gembong teroris yang tewas ditembak polisi diSolo, Jawa Tengah) tersebut dilakukan di wilayah Kabupaten Garut, Kamis (24/12).Sejak menjadi buron, Baridin bersembunyi di sebuah gubuk berukuran 2X3 meter diKampung Banyuasih, Kecamatan Cikelet, Garut. Selama tinggal di kawasan tersebut,mulai Agustus 2009, Baridin mengaku bernama Usman dan aktif dalam kegiatanwarga setempat sehingga tidak menimbulkan kecurigaan.Baridin merupakan tokoh cukup penting dalam jaringan terorisme di Indonesia.Pertengahan tahun 2009 lalu, polisi mendapat temuan sejumlah bahan peledak yangdisembunyikan Baridin di belakang rumahnya, Desa Pasuruhan, KecamatanBinangun, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Namanya langsung mencuat setelah polisi mendapat keterangan bahwa Baridinmengawinkan anak perempuannya, Arina Rachmawati, dengan pimpinan jaringanteroris Noordin M Top. Baridin bersama istri dan Arina kabur dari rumahnya diCilacap pada 20 Juli 2009 atau tiga hari sebelum Densus 88 melakukan penggerebekan, sehingga sejak saat itu ia menjadi buron polisi.Penangkapan Baridin tentu saja merupakan sebuah momentum untuk mengungkaplebih dalam jaringan terorisme di Indonesia yang diyakini mulai kocar-kacir setelahtewasnya Noordin M Top dan kawan-kawannya di Solo. Sebelum tewas, Noordin Csdiketahui telah melakukan proses kaderisasi di beberapa daerah.Penangkapan Baridin dan sejumlah orang, serta tewasnya para tersangka kasusterorisme bukan resep mujarab untuk memberantas kelompok tersebut. Lawenforcement alias penegakan hukum hanya akan efektif manakala diikuti oleh gerakanderadikalisasi (mencegah munculnya kelompok radikal dan mengembalikan mereka pada kehidupan normal) yang terintegerasi dan kontinyu.Selama ini gerakan deradikalisasi hanya dilakukan oleh jajaran Polri dan sejumlahlembaga swadaya masyarakat. Belum menjadi sebuah gerakan nasional yangmelibatkan instansi terkait seperti Departemen Agama, Departemen Sosial,Departemen Tenaga kerja dan Transmigrasi. Departemen Hukum dan HAM, sertainstansi terkait lainnya.
 
Upaya deradikalisasi di negara-negara lain, seperti Arab Saudi, sudah demikianterprogram dan mendapatkan dukungan dana besar. Akar persoalan sehinggamemunculkan kelompok radikal bukan hanya menyangkut masalah ekonomi sematatetapi terkait banyak sekali faktor yang saling kait mengait.Tim dari Polri baru berkonsentrasi melakukan proses deradikalisasi terhadap paratersangka/terdakwa, terpidana, dan mantan narapidana kasus terorisme. Karena berbagai keterbatasan, Polri tidak mampu menjangkau anggota kelompok-kelompok radikal yang belum terlibat dalam aktivitas terorisme.Kelompok-kelompok radikal biasanya melakukan aktivitas secara tertutup daneksklusif sehingga sulit dideteksi keberadaannya di tengah masyarakat. Kalaupunmasyarakat mencurigai adanya kelompok radikal, tidak mudah untuk mendeteksisecara lebih dalam kegiatan mereka karena menutup diri dari masuknya orang luar.Penanganan yang kurang tepat terhadap kelompok semacam itu akan memicuterjadinya ketegangan dan masalah sosial. Oleh karena itu perlu sebuah gugus tugasterintegerasi, terdiri dari para pakar di bidangnya serta instansi terkait, untuk mendekati, membina, dan mengembalikan kelompok bersangkutan kepada kehidupannormal.Masyarakat juga perlu mendapat edukasi secara terus menerus dalam mendeteksikeberadaan kelompok radikal dan para buron kasus terorisme. Dari hasil pemeriksaanterhadap para buron yang tertangkap, mereka dapat menghindar dari kejaran aparatkarena mendapat perlindungan dari kelompok radikal.Kelompok radikal dan jaringan teroris memang sulit dibedakan, meskipun sebenarnya berbeda. Apalagi dalam kenyataan, kelompok radikal menjadi sumber kaderisasi dan pemasok anggota jaringan terorisme.Keduanya berpotensi merusak keharmonisan kehidupan sosial masyarakat negeri iniyang sangat majemuk, terutama dari segi agama. Sikap toleransi dan menghormatikemajemukan merupakan harga mati agar negeri ini terbebas dari teror 
.
(Sabtu, 26Desember 2009)
Komentar
:Fenomena keberhasilan proses kaderisasi yang dilakukan oleh Noordin M. Top dalammerekrut anggota-anggota baru dalam jaringan teroris JI di Indonesia, termasuk  perekrutan para pelaku bom bunuh diri
(Martir)
yang terungkap sebagai fakta hasil penyelidikan dan penyidikan yang dilakukan oleh Polri melalui Densus 88/AT sertaSatgas Bom Polri merupakan bukti dari tingginya tingkat bahaya penyebaran pemikiran radikal para teroris JI dengan cara menyimpangkan konsep-konsep ajaranIslam, khususnya dalam hal Jihad. Oleh karena itu, sudah saatnya pemerintahmenaruh perhatian terhadap upaya-upaya deradikalisasi terorisme (pre-emtif dan preventif) guna mencegah berkembangnya paham terorisme di Indonesia disamping pelaksanaan upaya-upaya penegakan hukum (represif).Apabila upaya-upaya deradikalisasi terorisme tersebut dilakukan secara optimal oleh pemerintah Indonesia maka niscaya hal tersebut akan lebih memberikan sumbangsih2
 
 positif dalam pemberantasan terorisme di Indonesia daripada hanya sekedamengutamakan upaya-upaya penegakan hukum melulu. Disamping itu, denganoptimalisasi upaya-upaya deradikalisasi terorisme tersebut, maka
cost 
akibat kerugianyang ditimbukan oleh aksi terorisme dapat dihindari sejauh mingkin.
Sumber
:http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2009/12/06/Buku/index.html, diakses pada tanggal 30 Januari 2010.
Membendung Terorisme denganDeradikalisasi
Terorisme bisa tumbuh dalam lingkungan masyarakat fundamentalis, ekstrem, danmerasa tidak mendapat perlakuan yang berkeadilan.Gembong teroris nomor wahid di Indonesia, Noor Din M. Top dan Dr Azahari, sudahtewas. Namun, tak ada jaminan terorisme telah raib. Menurut beberapa kajian,terorisme bukan semata-mata menyangkut si pelaku, melainkan berkaitan dengankeyakinan. Dan, ibarat tanaman, terorisme bisa patah tumbuh hilang berganti.Dalam bukunya,
Terorisme. Fundamentalis Kristen, Yahudi, Islam
, (Jenderal)Abdullah Mahmud Hendropriyono menulis terorisme sebagai ancaman abadi terhadapkeamanan dan kesejahteraan hidup manusia. Ia menyarankan pentingnya melakukankajian filsafat untuk menyusun metode, strategi, teknik, dan taktik operasional dalammenumpas terorisme.Buku setebal hampir 500 halaman itu adalah kajian ilmiah Hendropriyono untumeraih gelar doktor di bidang ilmu filsafat, yang dipertahankan pada 25 Juli lalu dihadapan tim penguji Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.Menurut Hendro, terorisme bisa tumbuh dalam lingkungan masyarakat fundamentalisatau ekstrem sebagai fenomena global.Terorisme juga bisa tumbuh di kalangan semua penganut agama. Tak hanya dikalangan penganut Islam, tapi juga penganut Kristen dan Yahudi. FundamentalismeKristen tumbuh di Amerika Serikat sejak abad ke-19, dan terus berkembang hinggakini. Pada era pemerintah Presiden George W. Bush, mereka merupakan pendukungutama neo-imperialis. Mereka menganggap kapitalisme modern merusak agama, jadiharus dilawan dan dikembalikan pada ajaran Tuhan.Sementara itu, lahirnya fundamentalisme Yahudi berkaitan erat dengan konstelasigeopolitik ditandai dengan lahirnya Gerakan Zionis. Mereka meyakini bahwaPalestina adalah "tanah berkah" yang ditakdirkan bagi anak-anak Tuhan, yaitu bangsaYahudi. Maka muncullah kemudian negara Israel pada 1948, yang ditentang oleh bangsa Palestina, yang sebelumnya sudah lama menghuni "tanah yang dijanjikan" itu.Adapun fundamentalisme Islam--yang sangat dirasakan akhir-akhir ini--justruterjebak dalam perangkap terorisme yang mengatasnamakan jihad. Sementara itu,3

Activity (50)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Fikri M Ilyasa liked this
Hani Setya liked this
Moen Nik liked this
Duz Aza liked this
Jordan Marthin liked this
kethyb liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->