Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
4Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Jilbab dan Khimar

Jilbab dan Khimar

Ratings:

4.33

(3)
|Views: 202 |Likes:

More info:

Published by: Muhamad Rama Sundjaya on May 10, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/31/2012

pdf

text

original

 
JILBAB DAN KHIMAR, BUSANAH MUSLIMAH DALAM KEHIDUPANUMUMFriday, 09 September 2005
Oleh :Ust. M. Shiddiq Al Jawi
1. Pengantar
Banyak kesalahpahaman terhadap Islam di tengah masyarakat. Misalnya saja jilbab. Tak sedikit orang menyangka bahwa yang dimaksud dengan jilbab adalah kerudung. Padahaltidak demikian. Jilbab bukan kerudung. Kerudung dalam Al Qur`an surah An Nuur : 31disebut dengan istilah khimar (jamaknya : khumur), bukan jilbab. Adapun jilbab yangterdapat dalam surah Al Ahzab : 59, sebenarnya adalah baju longgar yang menutupi seluruhtubuh perempuan dari atas sampai bawah.Kesalahpahaman lain yang sering dijumpai adalah anggapan bahwa busana muslimah ituyang penting sudah menutup aurat, sedang mode baju apakah terusan atau potongan, ataumemakai celana panjang, dianggap bukan masalah. Dianggap, model potongan atau bercelana panjang jeans oke-oke saja, yang penting ‘kan sudah menutup aurat. Kalau sudahmenutup aurat, dianggap sudah berbusana muslimah secara sempurna. Padahal tidak begitu.Islam telah menetapkan syarat-syarat bagi busana muslimah dalam kehidupan umum, sepertiyang ditunjukkan oleh nash-nash Al Qur`an dan As Sunnah. Menutup aurat itu hanya salahsatu syarat, bukan satu-satunya syarat busana dalam kehidupan umum. Syarat lainnyamisalnya busana muslimah tidak boleh menggunakan bahan tekstil yang transparan ataumencetak lekuk tubuh perempuan. Dengan demikian, walaupun menutup aurat tapi kalaumencetak tubuh alias ketat –atau menggunakan bahan tekstil yang transparan-- tetap belumdianggap busana muslimah yang sempurna.Karena itu, kesalahpahaman semacam itu perlu diluruskan, agar kita dapat kembali kepadaajaran Islam secara murni serta bebas dari pengaruh lingkungan, pergaulan, atau adat-istiadatrusak di tengah masyarakat sekuler sekarang. Memang, jika kita konsisten dengan Islam,terkadang terasa amat berat. Misalnya saja memakai jilbab (dalam arti yang sesungguhnya).Di tengah maraknya berbagai mode busana wanita yang diiklankan trendi dan up to date, jilbab secara kontras jelas akan kelihatan ortodoks, kaku, dan kurang trendi (dan tentu, tidak seksi). Padahal, busana jilbab itulah pakaian yang benar bagi muslimah.Di sinilah kaum muslimah diuji. Diuji imannya, diuji taqwanya. Di sini dia harus memilih,apakah dia akan tetap teguh mentaati ketentuan Allah dan Rasul-Nya, seraya menanggung perasaan berat hati namun berada dalam keridhaan Allah, atau rela terseret oleh bujukanhawa nafsu atau rayuan syaitan terlaknat untuk mengenakan mode-mode liar yangdipropagandakan kaum kafir dengan tujuan agar kaum muslimah terjerumus ke dalamlimbah dosa dan kesesatan.Berkaitan dengan itu, Nabi SAW pernah bersabda bahwa akan tiba suatu masa di mana Islamakan menjadi sesuatu yang asing –termasuk busana jilbab-- sebagaimana awal kedatanganIslam. Dalam keadaan seperti itu, kita tidak boleh larut. Harus tetap bersabar, dan memegangIslam dengan teguh, walaupun berat seperti memegang bara api. Dan in sya-allah, dalamkondisi yang rusak dan bejat seperti ini, mereka yang tetap taat akan mendapat pahala yang
 
 berlipat ganda. Bahkan dengan pahala lima puluh kali lipat daripada pahala para shahabat.Sabda Nabi SAW :“Islam bermula dalam keadaan asing. Dan ia akan kembali menjadi sesuatu yang asing.Maka beruntunglah orang-orang yang terasing itu.” (HR. Muslim no. 145)“Sesungguhnya di belakang kalian ada hari-hari yang memerlukan kesabaran. Kesabaran pada masa-masa itu bagaikan memegang bara api. Bagi orang yang mengerjakan suatuamalan pada saat itu akan mendapatkan pahala lima puluh orang yang mengerjakan semisalamalan itu. Ada yang berkata,’Hai Rasululah, apakah itu pahala lima puluh di antaramereka ?” Rasululah SAW menjawab,”Bahkan lima puluh orang di antara kalian (parashahabat).” (HR. Abu Dawud, dengan sanad hasan)
2. Aurat dan Busana Muslimah
Ada 3 (tiga) masalah yang sering dicampuradukkan yang sebenarnya merupakan masalah-masalah yang berbeda-beda.Pertama, masalah batasan aurat bagi wanita.dua, busana muslimah dalam kehidupan khusus (al hayah al khashshash), yaitu tempat-tempat di mana wanita hidup bersama mahram atau sesama wanita, seperti rumah-rumah pribadi, atau tempat kost.Ketiga, busana muslimah dalam kehidupan umum (al hayah ‘ammah), yaitu tempat-tempat dimana wanita berinteraksi dengan anggota masyarakat lain secara umum, seperti di jalan- jalan, sekolah, pasar, kampus, dan sebagainya. Busana wanita muslimah dalam kehidupanumum ini terdiri dari jilbab dan khimar.
a. Batasan Aurat Wanita
Aurat wanita adalah seluruh anggota tubuhnya kecuali wajah dan dua telapak tangannya.Lehernya adalah aurat, rambutnya juga aurat bagi orang yang bukan mahram, meskipuncuma selembar. Seluruh tubuh kecuali wajah dan dua telapak tangan adalah aurat yang wajibditutup. Hal ini berlandaskan firman Allah SWT :'Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.' (QS An Nuur : 31)Yang dimaksud “wa laa yubdiina ziinatahunna” (janganlah mereka menampakkan perhiasannya), adalah “wa laa yubdiina mahalla ziinatahinna” (janganlah merekamenampakkan tempat-tempat (anggota tubuh) yang di situ dikenakan perhiasan). (Lihat AbuBakar Al-Jashshash, Ahkamul Qur`an, Juz III hal. 316).
 
Selanjutnya, “illa maa zhahara minha” (kecuali yang (biasa) nampak dari padanya). Jadi adaanggota tubuh yang boleh ditampakkan. Anggota tubuh tersebut, adalah wajah dan duatelapak tangan. Demikianlah pendapat sebagian shahabat, seperti ‘Aisyah, Ibnu Abbas, danIbnu Umar (Al-Albani, 2001 : 66). Ibnu Jarir Ath-Thabari (w. 310 H) berkata dalam kitabtafsirnya Jami’ Al-Bayan fi Tafsir Al-Qur`an Juz XVIII hal. 84, mengenai apa yang dimaksuddengan “kecuali yang (biasa) nampak dari padanya” (illaa maa zhahara minha) : “Pendapatyang paling mendekati kebenaran adalah yang mengatakan,’Yang dimaksudkan adalah wajahdan dua telapak tangan.” Pendapat yang sama juga dinyatakan Imam Al-Qurthubi dalamkitab tafsirnya Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur`an, Juz XII hal. 229 (Al-Albani, 2001 : 50 & 57).Jadi, yang dimaksud dengan apa yang nampak dari padanya adalah wajah dan dua telapak tangan. Sebab kedua anggota tubuh inilah yang biasa nampak dari kalangan muslimah dihadapan Nabi SAW sedangkan beliau mendiamkannya. Kedua anggota tubuh ini pula yangnampak dalam ibadah-ibadah seperti haji dan shalat. Kedua anggota tubuh ini biasa terlihatdi masa Rasulullah SAW, yaitu di masa masih turunnya ayat Al Qur`an (An-Nabhani, 1990 :45). Di samping itu terdapat alasan lain yang menunjukkan bahwasanya seluruh tubuh wanitaadalah aurat kecuali wajah dan dua telapak tangan karena sabda Rasulullah SAW kepadaAsma` binti Abu Bakar :'Wahai Asma` sesungguhnya seorang wanita itu apabila telah baligh (haidl) maka tidak boleh baginya menampakkan tubuhnya kecuali ini dan ini, seraya menunjukkan wajah dan telapak tangannya.' (HR. Abu Dawud)Inilah dalil-dalil yang menunjukkan dengan jelas bahwasanya seluruh tubuh wanita ituadalah aurat, kecuali wajah dan dua telapak tangannya. Maka diwajibkan atas wanita untuk menutupi auratnya, yaitu menutupi seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangannya.
b. Busana Muslimah dalam Kehidupan Khusus
Adapun dengan apa seorang muslimah menutupi aurat tersebut, maka di sini syara’ tidak menentukan bentuk/model pakaian tertentu untuk menutupi aurat, akan tetapi membiarkansecara mutlak tanpa menentukannya dan cukup dengan mencantumkan lafadz dalam firman- Nya (QS An Nuur : 31) “wa laa yubdiina” (Dan janganlah mereka menampakkan) atau sabda Nabi SAW “lam yashluh an yura minha” (tidak boleh baginya menampakkan tubuhnya) (HR.Abu Dawud). Jadi, pakaian yang menutupi seluruh auratnya kecuali wajah dan telapak tangan dianggap sudah menutupi, walau bagaimana pun bentuknya. Dengan mengenakandaster atau kain yang panjang juga dapat menutupi, begitu pula celana panjang, rok, dan kaos juga dapat menutupinya. Sebab bentuk dan jenis pakaian tidak ditentukan oleh syara’.Berdasarkan hal ini maka setiap bentuk dan jenis pakaian yang dapat menutupi aurat, yaituyang tidak menampakkan aurat dianggap sebagai penutup bagi aurat secara syar'i, tanpamelihat lagi bentuk, jenis, maupun macamnya. Namun demikian syara' telah mensyaratkan dalam berpakaian agar pakaian yang dikenakandapat menutupi kulit. Jadi pakaian harus dapat menutupi kulit sehingga warna kulitnya tidak 

Activity (4)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Rafii el Ishaq liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->