Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
7Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Makna Puasa Ramadhan Bagi Kehidupan Pribadi Dan Sosial

Makna Puasa Ramadhan Bagi Kehidupan Pribadi Dan Sosial

Ratings: (0)|Views: 845 |Likes:
Published by Khoirul Anwar

More info:

Published by: Khoirul Anwar on Apr 02, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/05/2013

pdf

text

original

 
Makna Puasa Ramadhan bagi Kehidupan Pribadi dan Sosial
• Oleh : Mawardi Siregar, MA
Puasa bukan sekedar kewajiban tahunan yang diperintahkan Allah bagi orang-orang beriman agar mereka menahan lapar dan dahaga. Tetapi lebih dari itu, puasa memilikiimplikasi terhadap individu maupun sosial. Puasa merupakan media pengabdian dansarana ibadah untuk meningkatkan kualitas diri.Puasa merupakan wahana penyucian diri (tazkiyat an-nafs) pembinaan moral, dan penambahan kualitas spiritual manusia. Karena selama berpuasa kaum muslimin dituntutuntuk menjaga diri dari segala macam perbuatan yang dapat menodai kesucian jiwa ragadan melemahkan kekuatan moral spritualnya.Puasa merupakan satu cara untuk mendidik seorang muslim, agar mampu menahandorongan hawa nafsu dan lebih bersabar menahan emosinya, walaupun barangkali itusangat berat untuk dilakukan. Puasa juga merupakan kewajiban konkret yang dapatmendidik pelakunya untuk lebih jujur, amanah, ikhlas, penyabar, pemaaf dan berbuattanpa pamrih.Sekiranya kita berbuka di siang hari, orang akan tetap yakin kalau kita berpuasa. Apalagi jalannya sedikit dilemaskan. Tetapi, hal itu tidak kita lakukan karena tumbuh sebuahkesadaran bahwa puasa hanya untuk Allah, dan pengawasan Allah kita rasakan lebih luasdari pada pengawasan manusia.Kesadaran ini memunculkan sikap jujur pada diri seorang muslim. Sikap jujur inilahselanjutnya yang perlu dibangun oleh setiap muslim dalam kehidupan bermasyarakat.Konkritnya, puasa dapat memberikan kontribusi yang sangat penting bagi pembentukan jati diri seorang muslim. Rekonstruksi kejatidirian dalam hal ini meliputi proses pencerahan spritual, dan penyempurnaan kembali kesehatan fisik dan psikis. Secara fisik,orang yang berpuasa jauh lebih sehat dan stabil pasca pelaksanaan ibadah puasaRamadhan. Hal itu disebabkan karena selama bulan Ramadhan lambung dan perutterkontrol isinya.Jika sebelum Ramadhan perut dan lambung berisi terus, sehingga metabolisme tidak  berjalan lancar, maka untuk menetralisir kembali dan mengembalikan keseimbangantubuh, puasa merupakan salah satu metode yang efektif.Sejumlah pakar kesehatan mengakui hal itu, misalnya klinik dunia terkemuka yangdipimpin oleh DR. H. Lahman, DR. Muller mengemukakan bahwa puasa sangat efektif dalam mengobati gangguan pencernaan, gangguan kegemukan, lever jantung, keletihan,kencing manis dan tekanan darah tinggi.DR. Alexis Karl, seorang doktor ahli bedah yang pernah memenangkan hadiah nobeldalam bidang kedokteran juga mengemukakan, bahwa salah satu cara yang paling ampuhdalam menyehatkan fungsi makanan adalah dengan berpuasa.
 
Jauh sebelum penelitian para doktor itu dilakukan, Rasulullah SAW juga sudahmenegaskan dalam sebuah hadisnya yang berbunyi: “Berpuasalah kamu agar kamusehat”. Di samping itu, orang yang berpuasa akan terbiasa dengan pola hidup sederhana.Pribadinya akan mencerminkan pribadi yang bermental utuh dan suci (fitrah), karenaselama puas telah terdidik dengan sifat-sifat terpuji, seperti pemaaf, penyabar, disiplin danikhlas.Maka produktifitas ibadah spritual tersebut, semakin mengokohkan kesempurnaankemanusiaan kita. Sungguh sangat tepat, jika kemudian ibadah puasa Ramadhan yangdilaksanakan penuh dengan keimanan dan kesadaran, dapat mewujudkan individu muslimyang unggul, cerdas, sehat dan sholeh yang memiliki kepekaan sosial.
Pesan Sosial Puasa
Selain bermakna bagi kehidupan pribadi, puasa Ramadhan juga sangat bermakna bagikehidupan sosial. Di satu sisi, Ramadhan adalah masa jeda bagi perawatan tubuh kita,setelah sebelas bulan mendapatkan tugas operasional amat tinggi.Tapi pada sisi lain, puasa sesungguhnya merupakan salah satu timbangan untuk mengukur kepedulian sosial kita. Timbangan ini bisa digunakan untuk mengukur seberapa besar  bentuk keterpanggilan kita dalam menyikapi kesenjangan sosial yang terjadi dimasyarakat.Dengan berpuasa, kita bisa merasakan pedihnya kehidupan orang-orang yang setiap haridilanda kelaparan karena miskin. Sebab secara fisik orang yang berpuasa mengalamisendiri payahnya menahan lapar dan dahaga di siang hari. Kondisi ini tentu akanmeluluhkan hati kita untuk bersedia merespon lingkungan sosial, khususnya menyangkut partisipasi kita terhadap kaum miskin. Hal ini menunjukkan, bahwa puasa Ramadhanmemiliki aspek yang sangat dominan dalam menciptakan rasa ukhuwah atau solidaritassosial.Pada saat melaksanakan ibadah puasa, hampir tidak terlihat adanya perbedaan antaramuslim yang satu dengan yang lainnya. Dengan tidak memandang si kaya atau si miskinyang biasa hidup berlebihan atau serba kekurangan, pejabat atau rakyat, pada waktu berpuasa semuanya sama-sama menahan lapar dan dahaga, serta menjauhi laranganlainnya yang bisa menghancurkan nilai-nilai ibadah puasa.Minimal, selama bulan Ramadhan berlangsung, stratifikasi sosial yang seringmembedakan status dan kedudukan manusia sedikit banyaknya terhapus. Si kaya yangselama ini hidup dengan kemewahan, dapat merasakan kepedihan waktu lapar dan dahagaseperti halnya yang biasa dan sering dialami oleh si miskin.Melalui ibadah puasa inilah ditanamkan arti penting kesamaan dan kesatuan umatmanusia. Selama satu bulan penuh, kaum muslimin dilatih untuk meningkatkan kepekaansosial, untuk mampu berbagi rasa dengan orang-orang di sekitarnya terlebih-lebih berbagi
 
dengan orang-orang yang tidak mampu.Sebab itu, jika setelah berpuasa perasaan kita tetap tumpul, maka kita merugi. Jika setelah berpuasa kemauan untuk berbagi dengan sesama tidak tumbuh, maka kita tidak beruntung.Jika setelah berpuasa kita juga tidak mampu menjaga tajamnya ujung lidah kita, maka kita benar-benar termasuk golongan yang merugi.Janganlah kita merasa aman dari tajamnya tatapan para penghuni langit, kalau kita dengansengaja membiarkan tetangga dan orang-orang di sekitar kita kelaparan. Sejatinya kita bukan termasuk orang yang beriman bila hal demikian kita lakukan. Keimananmenemukan muaranya ketika ia berbuah secara sosial.Teramat sulit untuk mengukur keimanan seseorang kalau keterlibatannya dalammasyarakat, ternyata minus. Kita jangan menyangka bahwa keimanan cukup hanyadibuktikan dengan shalat, puasa, zakat, dan haji.Bolehlah kita bersujud dan beriktikaf di sudut-sudut masjid dalam keadaan berpuasa. Tapiingatlah, kalau pada saat bersamaan kita membiarkan saudara muslim lainnya kelaparan,dan kita juga tidak menebarkan rasa kasih sayang kepada sesama, maka sedikit demisedikit konstruksi keimanan kita akan berguguran bersama dengan rasa lapar dankepapaan para saudara-saudara kita itu.Seruan Allah yang senantiasa menyertakan keimanan dengan amal saleh merupakanindikasi agar keimanan diwujudkan dalam bentuk perbuatan atau amaliyah nyata. Nilaiguna dari amaliyah nyata itulah yang diharapkan dapat memberikan manfaat bagikehidupan orang banyak.Sebab itu, karena kita beriman, maka kita diwajibkan berpuasa. Karena kita berpuasa,maka kita harus beramal saleh kepada masyarakat kita. Tapi perlu ditegaskan bahwamakna puasa hanya dapat dimanifestasikan, jika substansi dan filosofi rangkaian ibadah puasa Ramadhan terinternalisasi dalam diri pelaku puasa (soimin dan soimat).Tanpa demikian, sulit untuk mendapatkan makna ibadah puasa Ramadhan bagikehidupan. Bahkan, boleh jadi lebih buruk, sebagaimana yang disinyalir oleh RasulullahSAW, “Banyak orang yang berpuasa, namun tidak mendapatkan apa-apa, kecuali lapar dan dahaga.”Dengan demikian, sejatinya puasa Ramadhan dapat membawa dampak positif bagikehidupan pribadi maupun sosial. Kesadaran sosial yang diraih kaum muslimin selama berpuasa, diharapkan tidak hanya sebatas bulan Ramadhan, tetapi termanifestasi secarakontinu dalam realitas kehidupan sehari-hari. Hal itulah yang harus disadari oleh setiapmuslim agar puasanya benar-benar bermakna. Wallahu a ‘lam bish-shawwabi.
* Penulis adalah alumni Pascasarjana IAIN SU Medan konsentrasi KomunikasiIslam dan ketua Lembaga Studi dan Pengembangan Dakwah (LSPD) SumateraUtara
 

Activity (7)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 thousand reads
1 hundred reads
iwase liked this
Arif Hanapi liked this
Ade Mugni liked this
reefqiey liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->