/  20
 
infourdi
Urban and Regional Development Institute
promoting sustainable urban and regional development
 www.urdi.org
 Volume 27, Juli - Desember 2009, ISSN 1410-3753
Perubahan Iklim dan Perkotaan
DAFTAR ISI
Artikel UtamaKota Tanggap Perubahan Iklim :Konsep, Prospek, dan Kendala
oleh : Anderias Markus Tassie
Artikel LainKebijakan Perubahan Iklim di Indonesia
Oleh : Patricia Susanna
Kearifan Lokal Masyarakat Sebagai Bentuk Adap-tasi dalam Menghadapi Perubahan IklimStudi Kasus : Kota Semarang
Oleh : Atik Kumala Dewi
OpiniKonsumsi Daging Menjadi PenyebabTerbesar Timbulnya Perubahan Iklim ?
Oleh : Patricia Susanna
Sari BukuHot, Flat, and Crowded - Thomas L. FriedmanKegiatan URDIPelatihan dan PendampinganForum dan SeminarPenelitian dan Analisa Kebijakan
2
P
erubahan iklim menjadi tema yang aktual beberapa saatini. Hal ini dikarenakan beberapa peristiwa di dunia yangsemakin mengkhawatirkan akibat pemanasan global yaitumencairnya tudung es di kutub, meningkatnya suhu lautan,kekeringan yang berkepanjangan, penyebaran wabah pe-nyakit berbahaya, banjir besar-besaran, dan gelombang ba-dai besar. Apa penyebab pemanasan global dan perubahaniklim? Bagaimana cara mencegahnya? Sejauh mana kesadar-an manusia terhadap pemanasan global? Semua pertanyaan-pertanyaan tersebut akan dibahas lebih jauh dalam
InfoURDI Volume 27
ini.Artikel pembuka berjudul
Kota Tanggap Perubahan Iklim
 oleh
Anderias Markus Tassie
, seorang praktisi dari NTT.Artikelnya menjelaskan mengenai perkembangan terjadi-nya pemanasan global mulai dari Zaman Revolusi Industrihingga sekarang. Untuk mengatasi gejala pemanasan globaltersebut, penulis mencoba memberikan beberapa konsepperkotaan yang tanggap terhadap perubahan iklim termasukdi dalamnya beberapa proses dan kendala yang harus diatasiuntuk mewujudkan konsep kota tersebut.Artikel selanjutnya membahas mengenai
Kebijakan Per-ubahan Iklim di Indonesia
yang dirangkum dari
NationalStakeholder Mapping & Analysis - Policy Mapping Analy-sis
, kerjasama
Rockefeller Foundation & Mercy Corps Indone-sia
oleh
Patricia Susanna
. Pada artikel tersebut dipetakanbeberapa instansi dan kebijakan yang mendukung pencegahan terhadap pemanasan global di Indonesia.Artikel lainnya ditulis oleh
Atik Kumala Dewi
yang berjudul
Kearifan Lokal sebagai Bentuk Adaptasi dalam Mengha-dapi Perubahan Iklilm, Studi Kasus : Kota Semarang
. Ar-tikel ini membahas tentang pentingnya kearifan lokal sebagaistrategi adaptasi untuk mengatasi permasalahan perubahaniklim yang telah diterapkan oleh masyarakt pesisir di KotaSemarang.Pada bagian
Opini
dibahas tentang
Konsumsi Daging yangMenjadi Penyebab Terbesar Timbulnya Perubahan Iklim
.Dari beberapa penelitian di dunia, diketahui bahwa peter-nakan merupakan penyumbang gas metana terbesar yangmenyebabkan bumi semakin panas.Kemudian dilanjutkan dengan
Sari Buku
berjudul
Hot, Flat,and Crowded 
karya
Thomas L. Friedman
yang mengajakpara pembaca untuk sadar akan kondisi bumi saat ini de-ngan menjalankan kehidupan berlandaskan
Code Green
danmelakukan inovasi-inovasi di bidang teknologi lingkunganuntuk menyelamatkan bumi.Di akhir Info URDI ini, disajikan beberapa
Kegiatan URDI
 yang telah dilaksanakan pada tahun 2009 yang lalu yang ter-bagi dalam kategori
Pelatihan dan Pendampingan
,
Forumdan Seminar
, serta
Penelitian dan Analisa Kebijakan
.
7101314171616
Climate change becomes a factual issue in recent years, asmany worrying natural events and disaster have taken placein the world. The effect of global warming has melted polarice, increased the temperature of ocean, severe drought, thespread of pestilence, ooding, waves and storm. What hascaused global warming and climate change? How can weprevent? How far do people concern about global warming?All these questions will be answered further in Info URDIVolume 27.The title of the opening article is City Response of ClimateChange written by Anderias Markus Tassie, a practitionerfrom NTT. In this article, he described the process of globalwarming from the era of industry revolution until the pres-ent time. He tried to give several concepts about how citiesshould response to climate change including some explana-tions about the process and obstacle which should be solvedin order to create the concept of city in response to climatechange.The next article discussed is about policy in climate changesummarized from National Stakeholder Mapping & Analysis– Policy Mapping Analysis, joint cooperation between Rock-efeller Foundation & Mercy Corps Indonesia by Patricia Su-sanna. This article explained the role of some institutions andtheir policies to support all efforts in preventing global warm-ing & climate change in Indonesia.Another article was written by Atik Kumala Dewi, titled TheLocal Wisdom as A Form of Adaptation to Climate Change,Case Study : Semarang City. This article discussed how im-portant the local wisdom as an adaptation strategy in facingclimate change has been applied by coastal community inSemarang City.Opinion in Info URDI commented about Meat Consumptionas the Cause of Climate Change. The result of some research-es in the world said that livestock or farm is the greatest con-tribution of methane gas causing global warming.Info URDI also made a review on book titled Hot, Flat, andCrowded by Thomas L. Friedman. He invited the readers tobe aware of the condition of our earth by doing everythingbased on ‘green code’ and to make innovation in environ-mental technology to save our earth.At the end of Info URDI, some URDI activities in the year 2009were presented which divided into Workshop and Training,Forum and Seminar, and also Research and Policy Analysis.
 
ArtikelUtama
Kota Tanggap Perubahan Iklim :Konsep, Prospek, dan Kendala
 Anderias Markus Tassie* 
Pengantar
Penemuan mesin uap oleh James Watt tahun 1769 tidakhanya menciptakan era baru bagi kehidupan manusia, me-lainkan juga memberikan dampak hubungan timbal balik an-tara manusia dan alam. Khalayak yang terkena dampak Rev-olusi Industri, baik langsung maupun tidak langsung, mulaimemperbandingkan kondisi alam dan lingkungan hidup disekitarnya, sebelum dan setelah revolusi industri terjadi.Adalah
Ian L. McHarg
, seorang Arsitek Lansekap kela-hiran sebuah desa kecil dekat Glasgow-Inggris, mencobamemperbandingkan kondisi lingkungan kota Glasgow deng-an lingkungan perdesaan di sekitarnya. Dalam bukunya
De-sign With Nature
, McHarg menggambarkan bahwa dirinyasemasa kecil sampai dewasa menghabiskan waktu di antara2 kutub lingkungan yang sangat berbeda satu sama lain, ku-tub manusia dan kutub alam. Kutub manusia direpresentasioleh Kota Glasgow era revolusi industri yang tak ubahnya se-buah bukit onggokan sampah yang mengeras, berselubungasap dan kotoran. Sedangkan kutub alam direpresentasi olehlingkungan perdesaan yang indah di sekeliling Kota Glasgowyang belum dikotori ulah tangan manusia. Pada masa Revo-lusi Industri, Glasgow merupakan salah satu wilayah kon-sentrasi pabrik-pabrik industri berbahan bakar batu baradengan kondisi lingkungan yang begitu hitam-kotor, kelabudan berjelaga. Tak urung, McHarg menyebut jalan menujuGlasgow dan kota-kota industri besar lainnya di Inggris saatitu sebagai jalan haram-jadah, mencekam, suram, dan penuhdengan kebosanan yang tak terurai dengan kata-kata.Lepas dari pandangan Sang Arsitek, telah kita ketahui ber-sama bahwa revolusi industri telah memberikan efek dominopencemaran dan perusakan lingkungan yang fenomenalsampai saat ini. Efek domino dimulai dari berkembangnyapabrik-pabrik industri dan alat-alat transportasi bertenagamesin yang menggunakan bahan bakar fosil. Pembakarandari bahan bakar fosil ini melepaskan karbondioksida (CO
2
),metana (CH
4
), dinitrogen oksida (N
2
O) dan gas-gas lainnya keatmosr sebagai gas rumah kaca.Dalam laporan terbarunya,
Intergovernmental Panel onClimate Change
(IPCC) mengungkapkan bahwa 90% aktivi-tas manusia selama 250 tahun terakhir telah membuat bumisemakin panas. Sebelum masa Revolusi Industri, aktivitas ma-nusia tidak banyak mengeluarkan gas rumah kaca. Namunsejak Revolusi Industri, tingkat CO
2
beranjak naik, mulai dari280 ppm menjadi 380 ppm dalam 150 tahun terakhir. Pening-katan konsentrasi CO
2
di atmosfer ini adalah yang tertinggisejak 650.000 tahun terakhir.IPCC juga menyimpulkan bahwa 90% gas rumah kacayang dihasilkan manusia khususnya selama 50 tahun ini, telahsecara drastis menaikkan suhu bumi. Kesimpulan ini didasar-kan pada hasil penelitian para ahli selama beberapa dekadeterakhir, bahwa makin panasnya planet bumi dan berubahnyasistem iklim di bumi terkait langsung dengan gas-gas rumahkaca yang dihasilkan oleh aktitas manusia. Dengan kata lain,manusialah kontributor terbesar dari terciptanya gas-gasrumah kaca tersebut. Kebanyakan dari gas rumah kaca ini di-hasilkan oleh pembakaran bahan bakar fosil pada kendaraanbermotor, pabrik-pabrik modern, pembangkit tenaga listrik,peternakan, serta kebakaran lahan dan hutan. Suatu hal yangtak diduga oleh banyak kalangan adalah Laporan PBB padatahun 2006 bahwa industri peternakan merupakan penghasilemisi gas rumah kaca yang terbesar (18%). Jumlah ini lebihbesar dari akumulasi emisi gas rumah kaca dari transportasidi seluruh dunia yang hanya 13%.
Beberapa Pengertian
Terkait dengan kajian perubahan iklim, terdapat 3 ter-minologi utama yang mendapat sorotan yaitu
 gas rumahkaca, pemanasan global dan perubahan iklim
. Mengingat ba-nyaknya versi pengertian dari berbagai sumber, dipandangperlu melakukan penyederhanaan tanpa merubah makna.
1. Gas Rumah Kaca
Atmosfer bumi terdiri dari bermacam-macam gas de-ngan fungsi yang berbeda-beda. Kelompok gas yang men- jaga suhu permukaan bumi agar tetap hangat dinamakan
 gasrumah kaca
. Disebut gas rumah kaca karena sistem kerja gas-gas tersebut di atmosfer bumi mirip dengan cara kerja rumahkaca yang berfungsi menahan panas matahari di dalamnya.Hal ini ditujukan agar suhu di dalam rumah kaca tetap ha-ngat, sehingga tanaman di dalamnya akan dapat tumbuhdengan baik karena memiliki panas matahari yang cukup.Bumi pada dasarnya membutuhkan gas-gas tersebut un-tuk menjaga kehidupan di dalamnya. Tanpa keberadaan gasrumah kaca, bumi akan menjadi terlalu dingin untuk dihunikarena tidak adanya lapisan yang menahan panas matahari.
2. Pemanasan Global
Pemanasan global adalah meningkatnya suhu rata-rata diatmosr, laut dan daratan di bumi akibat peningkatan jum-lah emisi Gas Rumah Kaca (GRK) di atmosfer. Kontributor ter-
2
Penanggung Jawab : Prof. Dr. Budhy Tjahjati S.SoegijokoPemimpin Redaksi : Ir. Gita Chandrika, MCP Wakil Pemred : Ir. Wahyu Mulyana, M.A.Staf Redaksi : Desyrijanti Azharie, Aris Choirul AnwarAtik Kumala Dewi, Patricia SusannaKoordinator Edisi : Desyrijanti AzharieDesain Layout : Aris Choirul AnwarProf. Dr. Budhy Tjahjati S.S, Direktur Eksekutif SeniorIr. Wahyu Mulyana, M.A, Direktur Pengembangan KerjasamaIr. Gita Chandrika, MCP., Direktur Pengelolaan ProgramRedaksi infourdi menerima surat pembaca dan kiriman artikel yang berkaitandengan pembangunan perkotaan dan daerah. Tulisan yang dimuat akan dieditseperlunya tanpa menghilangkan inti dan pesan tulisan yang disampaikan
Badan Pengelola URDI Yayasan Pengembangan Perkotaan & DaerahDewan RedaksiPembina
Dr. Ir. Bondan Hermanislamet (ketua)Prof. Dr. Bambang Bintoro SoedjitoIr. Parwoto Tjondro Sugianto, MDSIr. Untung WidodoIr. Suyono, MS.cIr. Hendropranoto Suselo, MPW Ir. Tatag Wiranto, MURP
Pengurus
Prof. Dr. Budhy Tjahjati S.S (ketua)Dr. Wicaksono Sarosa (sekretaris)Ir. Pingki Elka Pangestu, MTCP (bendahara)
Pengawas
Prof. Dr. BS. Kusbiantoro (ketua)Dr. Ir. Nad Darga TalkurputraDr. Ir. Sujana RoyatDr. Susiyati B. HirawanDr. Ing. Himasari Hanan, M.Arch.E
   d  a  r   i  r  e   d  a   k  s   i   i  n   f  o  u  r   d   i
 
mulai terasa, ditandai dengan suhu yang menjadi lebih ha-ngat dari sebelumnya. Suhu rata-rata tahunan telah mening-kat sekitar 0,3
0
C sejak 1990. Dari pencatatan yang ada, suhutahun 1990-an merupakan dekade terhangat, dan tahun 1999merupakan tahun terhangat dengan kenaikan hampir 1
0
Cdi atas rata-rata suhu tahun 1961-1990. Peningkatan keha-ngatan ini terjadi dalam semua musim di tahun 1999. Curahhujan tahunan telah turun sebesar 2 s/d 3%, justru pada peri-ode Desember - Februari, yang merupakan masa dengan in-tensitas hujan terbesar setiap tahun.Banyak ahli berpendapat bahwa di beberapa bagian diIndonesia, penurunan curah hujan dipengaruhi kuat olehEl Nino. Adanya El Nino membuat kita sudah tidak bisameramalkan kapan musim hujan atau musim kemarau tiba.Semuanya bisa berubah begitu cepat, penuh ketidakpastian.Akibatnya para petani bingung mengetahui kapan mulaimenanam. Cepat atau lambat, iklim yang berubah menjadilebih panas akan mengakibatkan persediaan air semakinmenipis sehingga tidak cukup memenuhi kebutuhan irigasi.Dalam kondisi yang demikian, krisis pangan dan kelaparanterjadi di mana-mana.El Nino akan lebih sering terjadi di Indonesia karena letakyang berdekatan dengan Samudera Pasik. El Nino sendirimerupakan fenomena di Samudera Pasik, di mana laut-an yang hangat mengalir di pantai Ekuador dan Peru yangmengakibatkan perubahan iklim yang sangat genting dan bi-asanya terjadi di bulan Desember. Jika El Nino membawa arushangat, sebaliknya La Nina membawa arus dingin dan kedu-anya sama-sama menimbulkan badai. La Nina terjadi setahunsetelah El Nino dan menimbulkan musim hujan yang basah,sehingga mengakibatkan banjir dan tanah longsor yang ber-bahaya. Kondisi inilah yang mengakibatkan Indonesia sela-ma lebih dari 1 dekade terakhir selalu dilanda banjir, long-sor, kekeringan, gagal panen, gagal tanam, kebakaran hutan,gelombang pasang, angin puting beliung, gempa bumi dansebagainya.
Patrik Wu
, seorang Geologis dari Universitas Alberta –Kanada memetakan berbagai bencana ini sebagai fenome-na perubahan iklim yang ekstrim akibat pemanasan global,yang berdampak pada mencairnya lapisan es di kutub utaradan kutub selatan. Ia berasumsi, lapisan es sangat berat danberlapis-lapis, sekitar 1 ton/m
3
. Jika lapisan es mulai mencair,berat es tersebut akan memberikan tekanan besar ke permu-kaan bumi. Mencairnya es di Antartika memicu gempa bumidan longsor di lapisan bawah laut, sehingga menimbulkangempa bumi dan gelombang pasang. Jadi ada kemungkin-an terjadinya gempa bumi di Aceh, Nias, Padang, Bengkulu,Lampung, Yogya dan beberapa daerah lain di Indonesia sela-ma ini tidak hanya karena tabrakan antara lempeng Australiadan Asia, tapi juga akibat mencairnya lapisan es di Antartikayang letaknya cukup berdekatan.Aspek lain yang perlu diwaspdai adalah kondisi geograsIndonesia yang merupakan wilayah kepulauan. IPCC mera-malkan mulai tahun 2070 s/d 2100, jika terjadi kenaikan per-mukaan air laut s/d 100 cm, diperkirakan 2.000 pulau dan 405ribu Ha daratan Indonesia akan tenggelam; 800 ribu rumahterendam air laut; ratusan ribu penduduk kehilangan tempattinggal dan mengungsi ke tempat yang lebih tinggi; 50 m da-ratan dari garis pantai sepanjang 81 ribu km tenggelam; dan14 ribu desa pesisir hilang.Saat ini, setiap tahun kota Jakarta mengalami penurunanpermukaan tanah s/d 0,8 cm akibat eksploitasi air tanahsecara berlebihan dan penggunaan tiang pancang dalampembangunan gedung bertingkat. Dengan kondisi yangdemikian, jika terjadi kenaikan permukaan laut sebagaima-na ramalan IPCC di atas, maka kota Jakarta akan tenggelammenjadi kota Atlantis.Fenomena lain adalah banyak kota besar mengalami kri-sis air bersih karena air cepat menguap dari tanah, atau ter- jadi abrasi dan intrusi sehingga air tawar bercampur denganair laut yang asin. Terik matahari akan terasa lebih menye-ngat saat musim kemarau panjang tiba. Akibatnya beberapadaerah seperti Gunung Kidul, Wonogiri, dan Nusa Tenggarabesar pemanasan global saat ini adalah CO
2
dan CH
4
yangdihasilkan pertanian dan peternakan (terutama dari sistempencernaan hewan-hewan ternak), N
2
O dari pupuk, gas-gasyang digunakan untuk kulkas dan pendingin ruangan (ChloroFluoro Carbons=CFC) serta uap air. Rusaknya hutan-hutanyang seharusnya berfungsi sebagai penyerap CO
2
juga ma-kin memperparah keadaan karena pohon-pohon yang matiakan melepaskan CO
2
yang tersimpan di dalam jaringannyake atmosfer.Setiap gas rumah kaca memiliki efek pemanasan globalyang berbeda-beda. Beberapa gas menghasilkan efek pe-manasan lebih besar dari CO
2
, seperti metana menghasilkanefek pemanasan 22 kali, N
2
O 296 kali dan CFC hingga ribuankali. Karena dampak yang merugikan, pemakaian CFC telahdilarang di banyak negara karena telah lama dituding sebagaipenyebab rusaknya lapisan ozon. Terkait dengan pemanasanglobal, IPCC menemukan bahwa selama 100 tahun terakhir(1906-2005) temperatur permukaan bumi rata-rata telah naiksekitar 0,74
0
C, dengan pemanasan yang lebih besar pada da-ratan dibandingkan lautan. Tingkat pemanasan rata-rata se-lama 50 tahun terakhir hampir dua kali lipat dari yang terjadipada 100 tahun terakhir. Akhir tahun 1990-an dan awal abad21 merupakan tahun-tahun terpanas berdasarkan sistempencatatan data modern.
3. Perubahan Iklim
Secara umum, Iklim didenisikan sebagai kondisi rata-rata suhu, curah hujan, tekanan udara, dan angin dalam jangka waktu yang panjang, antara 30-100 tahun (
intercente-nial
). Dengan denisi ini, Perubahan Iklim dapat dimaknakansebagai suatu keadaan berubahnya pola iklim dunia. Suatudaerah mungkin mengalami pemanasan, tetapi daerah lainmengalami pendinginan yang tidak wajar. Akibat kacaunyaarus dingin dan panas ini maka perubahan iklim juga men-ciptakan fenomena cuaca yang kacau, termasuk curah hujanyang tidak menentu, aliran panas dan dingin yang ekstrem,arah angin yang berubah drastis, dan sebagainya.
Perubahan Iklim di Indonesia
Karena letak geogras yang diapit oleh benua Asia danbenua Australia serta antara Samudera Hindia dan Samu-dera Pasik, Indonesia memiliki karakteristik iklim yang khasdibanding negara lain di Asia. Di Indonesia terdapat 3 jenisiklim, yaitu iklim muson, iklim tropis, dan iklim laut.
1. Iklim Muson
Iklim jenis ini sangat dipengaruhi oleh angin musimanyang berubah-ubah pada setiap periode tertentu, yaitu setiap6 bulan. Iklim muson terdiri dari 2 jenis, yaitu muson baratakibat pengaruh tiupan angin muson barat dari benua Asiadan muson timur akibat pengaruh angin muson timur daribenua Australia. Angin muson barat bertiup sekitar Oktobers/d April dan mengakibatkan musim hujan. Sedangkan anginmuson timur bertiup sekitar April s/d Oktober dan mengaki-batkan musim kemarau.
2. Iklim Tropis
Karena terletak sepanjang garis khatulistiwa, iklim Indone-sia bersifat panas dan hanya memiliki dua musim yaitu musimkemarau dan musim hujan. Ada penjelasan ilmiah mengenaimengapa Indonesia hanya memiliki 2 musim. Dengan letakgeogras sepanjang garis khatulistiwa, posisi matahari selalubergeser. Pergeseran ini dapat dijelaskan sebagai berikut :a. Setiap tanggal 23 Maret dan 22 September, mataharitepat berada di garis katulistiwa.b. Pada bulan April s/d September, matahari beradadi utara garis katulistiwa. Pada posisi ini, sebagianwilayah Indonesia mengalami musim kemarau.c. Pada Oktober s/d Maret, matahari berada di selatangaris katulistiwa. Pada posisi ini, sebagian wilayah In-donesia mengalami musim hujan.
3. Iklim Laut
Sebagian besar wilayah Indonesia terdiri dari laut sehing-ga banyak terjadi penguapan. Udara menjadi lembab dengancurah hujan yang tinggi.Memasuki abad 20, gejala perubahan iklim di Indonesia
3

Share & Embed

More from this user

Add a Comment

Characters: ...