Read without ads and support Scribd by becoming a Scribd Premium Reader.
 
MODEL PENDEKATAN EKOSISTEMDALAM PEMBANGUNAN MASYARAKAT DAERAH
 
Oleh: Deny Junanto
1. Latar Belakang
Masyarakat pada dewasa ini tidak lagi diposisikan sebagai beban pembangunan.Keberhasilan suatu negara dalam pembangunan, tidak dapat berdiri sendiri tanpa ada peranserta aktif masyarakatnya. Karena setiap kebijakan pembangunan yang dikeluarkanpemerintah pada dasarnya ditujukan bagi masyarakat itu sendiri. Sudah sewajarnyalahmasyarakat memiliki peran yang sangat besar dalam ikut menentukan arah kebijakanpembangunan.Menempatkan masyarakat hanya sebagai obyek pembangunan adalah langkah yangsalah. Hal tersebut bukan saja tidak menjamin keberhasilan pembangunan itu sendiri, tetapiakan membuat pembangunan tersebut menjadi tidak berarti apa-apa bagi masyarakat.Mengingat peran masyarakat yang besar tersebut, masyarakat hendaknya juga dijadikansubyek pembangunan. Menjadikan masyarakat sebagai subyek pembangunan adalah berartimembangun masyarakat itu sendiri.Di era otonomi saat ini, setiap daerah diberikan kebebasan untuk melaksanakanpembangunan daerahnya masing-masing sesuai dengan potensi yang mereka miliki.Permasalahannya kini adalah bagaimana daerah tersebut melihat potensi yang mereka milikibisa memberikan dukungan terhadap pembangunannya. Potensi yang paling pentingsebenarnya adalah masyarakat. Namun bagaimana masyarakat itu diberdayakan, merupakanpersoalan lain yang harus diselesaikan.Seperti yang kita ketahui bahwa setiap daerah di Indonesia mempunyai karakteristikyang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Perbedaan tersebut tentunya juga berpengaruhterhadap strategi kebijakan pembangunan yang ada di setiap daerah. Kondisi yang berbedatersebut memberikan pengaruh yang positif maupun negatif bagi daerah. Keadaan ekonomi,sosial, budaya dan politik masyarakat merupakan salah satu kenyataan yang harus dapatdimanfaatkan bagi keberhasilan pembangunan.Pada umumnya masyarakat di Indonesia dibedakan atas masyarakat pertanian(agrikultur), masyarakat pantai (perikanan), dan masyarakat hutan (di dalam dan sekitarhutan). Pendekatan pembangunan masyarakat di ketiga daerah yang memiliki karakteristikyang berbeda ini tidak bisa digeneralisasikan untuk setiap daerah. Sebagai contoh, kebijakankepemilikan lahan di masyarakat pertanian, tidak bisa diterapkan pada masyarakat pantai.Oleh karena itu kebijakan pembangunan masyarakat di setiap daerah juga seharusnya berbedapula, mengingat kondisi situasi dan lingkungan yang berbeda.Tulisan ini mencoba memberikan sebuah pemikiran bagi pembangunan masyarakat didaerah yang memiliki karakteristik tertentu, yaitu masyarakat pertanian, pantai, dan hutan.
2. Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas, maka bagaimanakah pendekatan pembangunan masyarakatdi daerah yang memiliki karakteristik tertentu seperti masyarakat pertanian, pantai, dankehutanan?
1
 
 
3. Pengertian Masyarakat
Dalam pengertian sosiologi, masyarakat ridak dipandang sebagai suatu kumpulanindividu-individu semata. Masyarakat merupakan suatu pergaulan hidup, oleh karena manusiahidup bersama. Masyarakat merupakan suatu sistem yang terbentuk karena hubungananggota-anggotanya. Dengan kata lain, masyarakat adalah suatu sistem yang terwujud darikehidupan bersama manusia, yang lazim disebut dengan sistem kemasyarakatan. EmileDurkheim (1951) menyatakan bahwa masyarakat merupakan suatu kenyataan yang obyektif secara mandiri, bebas dari individu-individu yang merupakan anggota-anggotanya.Cara yang baik untuk mengerti tentang masyarakat adalah dengan menelaah ciri-ciripokok dari masyarakat itu sendiri. Sebagai suatu pergaulan hidup atau suatu bentukkehidupan bersama manusia, maka masyarakat itu mempunyai ciri-ciri pokok, yaitu:1.
 
Manusia yang hidup bersamaSecara teoritis, jumlah manusia yang hidup bersama itu ada dua orang. Di dalam ilmu-ilmu sosial, khususnya sosiologi, tidak ada suatu ukuran yang mutlak atau angka yangpasti untuk menentukan berapa jumlah manusia yang harus ada.2.
 
Bergaul selama jangka waktu cukup lama3.
 
Adanya kesadaran, bahwa setiap manusia merupakan bagian dari satu kesatuan.
3.1. Ruang Lingkup Masyarakat
Masyarakat dapat ditelaah dari dua sudut, yaitu sudut struktural dan sudutdinamikanya. Segi struktural dinamakan pula struktur sosial, yaitu keseluruhan jalinan antaraunsur-unsur sosial yang pokok yaitu kaidah-kaidah sosial, lembaga-lembaga sosial,kelompok-kelompok sosial serta lapisan-lapisan sosial. Yang dimaksud dengan dinamikamasyarakat adalah apa yang disebut sebagai proses sosial dan perubahan-perubahan sosial.Proses sosial diartikan sebagai pengaruh timbal balik antara berbagai segi kehidupan bersama.Dengan kata lain, proses sosial adalah cara berhubungan yang dapat dilihat apabila orang-perorangan dan kelompok-kelompok manusia saling bertemu dengan menentukan sistemserta bentuk-bentuk hubungan tersebut atau apa yang terjadi apabila ada perubahan-perubahan yang menyebabkan goyahnya cara-cara hidup yang telah ada.Interaksi sosial adalah hubungan-hubungan sosial yang dinamis, yang menyangkuthubungan antara orang-perorangan, antara kelompok-kelompok manusia maupun antaraorang-perorangan dengan kelompok manusia.
3.2. Pemberdayaan Masyarakat
Pemberdayaan masyarakat dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan dankemandirian masyarakat dalam meningkatkan taraf hidupnya. Pemberdayaan sendirimerupakan suatu proses yang berjalan terus menerus.Istilah pemberdayaan (
empowerment
) muncul hampir bersamaan dengan adanyakesadaran pada perlunya partisipasi masyarakat dalam pembangunan. Diasumsikan bahwakegiatan pembangunan itu seharusnya mampu merangsang proses kemandirian masyarakat(
 self sustaining process
). Tanpa partisipasi masyarakat, proses kemandirian tersebut tidak akanmemperoleh kemajuan.
2
 
Pada tataran konseptual istilah pemberdayaan dapat dikaitkan dengan prosestransformasi sosial, ekonomi, dan bahkan politik (kekuasaan). Secara definisi, pemberdayaanmerupakan proses penumbuhan kekuasaan atau kemampuan diri. Melalui prosespemberdayaan maka diasumsikan seseorang dari strata sosial terendah sekalipun bisaterangkat dan muncul menjadi bagian dari lapisan masyarakat menengah atas. Akan tetapi,pada prakteknya proses pemberdayaan membutuhkan bantuan orang lain. Tanpa bantuantersebut tidak mungkin proses akan dapat berjalan dengan baik dan sesuai harapan. Untuk ituharus ada seseorang atau institusi yang bertindah sebagai pemicu kemajuan (
enabler
). Dan“orang kuat” yang sering menjadi andalan tidak lain adalah pemerintah.
4. Partisipasi Masyarakat dan Desentralisasi
Partisipasi masyarakat adalah sebuah proses yang menyediakan individu suatukesempatan untuk mempengaruhi keputusan-keputusan publik dan merupakan komponendalam proses keputusan yang demokratis. Partisipasi masyarakat merupakan arti sederhanadari kekuasaan masyarakat (
citizen power
). Hal tersebut menyangkut redistribusi kekuasaanyang memperbolehkan masyarakat miskin dilibatkan secara sadar dalam proses-prosesekonomi dan politik. Partisipasi masyarakat juga merupakan strategi dimana masyarakatmiskin ikut terlibat dan menentukan bagaimana pemberian informasi, tujuan dan kebijakandibuat, jumlah pajak yang dialokasikan, pelaksanaan program-program, dan keuntungan-keuntungan seperti kontrak-kontrak dan perlindungan-perlindungan diberikan.Arnstein (1995) menggambarkan partisipasi masyarakat adalah suatu pola bertingkat(
ladder patern
). Suatu tingkatan yang terdiri dari delapan tingkat dimana tingkatan palingbawah merupakan tingkat partisipasi masyarakat sangat rendah, kemudian tingkat yang palingatas merupakan tingkat dimana partisipasi masyarakat sudah sangat besar dan kuat.Tingkatan partisipasi masyarakat di atas bisa dijelaskan sebagai berikut.1.
 
Manipulasi (
 Manipulation
)Pada tingkat ini partisipasi masyarakat berada di tingkat yang sangat rendah. Bukan hanyatidak berdaya, akan tetapi pemegang kekuasaan memanipulasi partisipasi masyarakatmelalui sebuah program untuk mendapatkan “persetujuan” dari masyarakat. Masyarakatsering ditempatkan sebagai komite atau badan penasehat dengan maksud sebagai“pembelajaran” atau untuk merekayasa dukungan mereka. Partisipasi masyarakatdijadikan kendaraan
 public relation
oleh pemegang kekuasaan. Praktek pada tingkatan inibiasanya adalah program-program pembaharuan desa. Masyarakat diundang untuk terlibatdalam komite atau badan penasehat dan sub-sub komitenya. Pemegang kekuasaanmemanipulasi fungsi komite dengan “pengumpulan informasi”, “hubungan masyarakat”dan “dukungan.” Dengan melibatkan masyarakat di dalam komite, pemegang kekuasaanmengklain bahwa program sangat dibutuhkan dan didukung. Pada kenyataannya, hal inimerupakan alasan utama kegagalan dari program-program pembaharuan pedesaan diberbagai daerah.2.
 
Terapi (
Therapy
)Untuk tingkatan ini, kata “terapi” digunakan untuk merawat penyakit. Ketidakberdayaanadalah penyakit mental. Terapi dilakukan untuk menyembuhkan “penyakit” masyarakat.Pada kenyataannya, penyakit masyarakat terjadi sejak distribusi kekuasaan antara ras ataustatus ekonomi (kaya dan miskin) tidak pernah seimbang.3.
 
Pemberian Informasi (
 Informing 
)
3
Search History:
Searching...
Result 00 of 00
00 results for result for
  • p.
  • More From This User

    Notes
    Load more