Aparatur lokal
Tahun 1965, Partai Komunis Indonesia (PKI) melakukan gerakan yang membuat situasinasional berubah. Kesenian tradisional pun mengalami masa kritis. Manifestasi Lekra-Lembaga Kebudayaan Rakyat yang berafiliasi pada PKI- pada kebudayaan menjadikanseniman mati ekspresi. Sebab, ada ketakutan akan menjadi bentuk partisipasi dan sikap politik Lekra. Pada masa ini, ABRI menggelar Operasi Karya, yang salah satunya dilakukandengan menaungi kesenian tradisional. Muncullah Ludruk Wijaya Kusuma dan Bhirawa(AD), Ludruk Bumi Hamka (Marinir), dan Ludruk Bhayangkara (Kepolisian).Bentuk dari penataan ini, terutama pada perizinan, terkait dengan penyelenggaraan keamanandan ketertiban umum. Meski besar biaya perizinan bervariasi di tiap daerah dan ditanggungoleh tuan rumah, tetapi esensi dari izin tersebut tidak bisa dirasakan.Di Malang, biayanya berkisar Rp 500.000 sampai Rp 1 juta. Tetapi, saat pertunjukan,seringkali tidak ada petugas keamanan yang datang menjaga. Apalagi menertibkan pengunjung yang mabuk, berbuat rusuh, atau menggoda waranggana. Padahal, menurutSamad, bila mereka datang, itu merupakan kehormatan bagi tuan rumah. Dikasih makan danrokok, duduk berjajar di baris depan, ngibing, bahkan pulangnya sering menerima angpao.Perizinan lainnya, seperti di Nganjuk, Tuban, dan Malang, adalah diterbitkannya advise(nomor induk) bagi waranggana. Tanpa advise ini, seorang waranggana dilarang untuk pentasdan minimal setahun sekali harus memperbarui advise ini. Biayanya mungkin tidak terlalu besar, sekitar Rp 50.000, tetapi cukup menunjukkan adanya peran negara dalam mematikankehidupan, jiwa, dan bakat seni seseorang.Ini bisa dilakukan mengingat di Nganjuk dan Tuban menunjukkan aktivitas yang tinggidalam penyelenggaraan tayub. Nganjuk memiliki agenda Wisuda Waranggana, berpusat diPadepokan Langen Tayub, Desa Ngrajek, Tanjunganom, Nganjuk. Acara ini digelar setiaptahun di bulan besar (Jawa). Setelah penempaan selama 6 bulan dari olah vokal hingga tari,calon waranggana akan diwisuda di lokasi sekitar punden Ki Ageng Gribig.Di Tuban, menurut Sutardji, Kepala Bagian Kesenian Dinas Pariwisata Tuban, setiaptahunnya terdapat 1.500-3.000 kali pertunjukan tayub. Bahkan, sampai dengan tahun 2004sudah ada yang booking pementasan, sedangkan tahun 2003 ada 158 izin pementasan. DinasPariwisata Tuban, November 2002 lalu, menggelar Citra Resmi Waranggana, acara tahunanuntuk meresmikan (mewisuda) waranggana baru.Bagi Endang Sugiarti, waranggana senior, acara ini semakin memberatkan calon waranggana.Sebab, segala kebutuhan untuk wisuda menjadi tanggungan pribadi, bukan dari DinasPariwisata. "Jumlahnya besar, bisa jutaan. Sewa dokar, pakaian, pendaftaran, sampai make-up," tuturnya. Tayub dan senimannya saat ini menjadi obyek negara. Fungsi fasilitator berubah menjadi eksekutor, atas hak hidup profesi seni seseorang. Menafsir kembali maknatayub sebagai ditata ben guyub, adalah menata kembali kepentingan negara terhadap tayub .Terakhir, penulis ingin menyampaikan satu pesan dari Samad Hariyanto kepada PemerintahKota Malang, "Apa, sih, perhatian mereka pada tayub. Sebagai insan tayub, saya belum pernah itu dikumpulkan, diajak ngobrol. Ketemu paling cuma waktu pengurusan izin."Oleh: MAS BUKHI Pemerhati masalah budaya dari MalangSumber: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0301/14/jatim/80748.htm