Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
87Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Kumpulan Makalah Filsafat

Kumpulan Makalah Filsafat

Ratings:

3.0

(2)
|Views: 14,999|Likes:
Kumpulan Makalah Filsafat


Semua Isi Ini Jugak Bisa Anda Dapatkan di
http://suriyaaceh.blogspot.com
Saya Telah Mengaturnya Kedalam Satu fail Tingal Di Prin ja Sob...!
Kumpulan Makalah Filsafat


Semua Isi Ini Jugak Bisa Anda Dapatkan di
http://suriyaaceh.blogspot.com
Saya Telah Mengaturnya Kedalam Satu fail Tingal Di Prin ja Sob...!

More info:

Published by: Pangeran Suriya Senja on Apr 05, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOC, TXT or read online from Scribd
See More
See less

06/07/2013

pdf

text

original

 
FILSAFAT"Virtual Cosmology"
"A boundary is not that at which something stops but, as the Greeks recognized, theboundary is that from which something begins its presencing" 
(Martin Heidegger).FENOMENA pasar global dan liputan perang (invasi) Amerika Serikat dan sekutunyadengan (ke) Irak kian menegaskan datangnya fajar baru era kehidupan manusia, eravirtual cosmology (kosmologi virtual).Betapa tidak? Wawasan tradisional kita tentang kosmos, baik yang tercipta melalui lensanilai-nilai dan keyakinan tradisi agama monoteistik, kerangka pikir Yunani-abad pertengahan-maupun lensa modernitas-aufklarung-digeser lensa fenomenologis-intensional-virtual.Dalam era pasar global, kosmos tidak lagi kita lihat pertama-tama sebagai ciptaan Tuhanyang teratur, bukan pula struktur teratur (cosmos) dari berbagai entitas (tanah, air, api,tumbuhan, binatang, cakrawala, manusia, dll), atau sebagai ens yang merupakan emanasidari the ultimate ens (atau perwujudan dari Substance), tetapi merupakan sebuah pasar,komunitas penjual dan pembeli dan aneka variabel yang menyokong relasi jual-beli itu(produksi-distribusi-advertasi), yang eksistensinya dicipta dan ditopang jaringaninformasi dan komunikasi virtual.DI era pasar global, kosmos terbangun dari aneka fenomena nyata keseharian daninteraksi manusia yang dibidik melalui lensa "dagang" dan disuguhkan secara virtualmelalui internet, TV, dan media massa sejenis. Karena yang dibidik merupakan fenomenaaktual keseharian, maka kosmologi baru ini bernuansa fenomenologis; karena disuguhkanmelalui media virtual maka kosmologi ini bersifat virtual; dan karena pemegang lensa- pembidik-penyuguh fenomena itu punya agenda tertentu maka kosmologi baru ini juga bersifat intensional (fenomenologis-virtual-intensional).Hal senada bisa disimak saat kita menyaksikan suguhan perang (invasi) AS dansekutunya ke Irak. Liputan perang di Irak, yang dilakukan media dengan memotret kisah-kisah tragis-bengis dan kepahlawanan tiap hari, yang disuguhkan secara virtual, dandibidik-disuguhkan dengan intensi (agenda) tertentu, juga menandakan geneology(kosmogoni) dan definisi baru dari kosmos. Persaingan tayangan antara media barat danmedia timur mengisyaratkan sifat intensionalitas setiap bidikan dan suguhan.Ke mana kamera dibidikkan, tergantung mereka yang mempunyai dan membawa kamera.Memang tayangan-tayangan virtual perang di Irak mencipta gugusan kosmos yang lebih plural. Gugusan kosmos itu bisa merupakan horizon yang mencipta AS dan sekutunyasebagai pahlawan demokrasi dan kebebasan yang memerangi bentuk totalitarianisme a la
 
Saddam Hussein, atau bisa juga menciptakan horizon yang melukiskan AS dan sekutunyasebagai wajah neokolonialisme yang berhadapan dengan Saddam Hussein sebagai pahlawan pembela kedaulatan sebuah negara.Biarpun plural sosok kosmologi yang terbentuk, tayangan perang Irak menorehkangambaran-gambaran virtual di dinding-dinding imaji dan kesadaran manusia, yang padagilirannya menancapkan patok-patok demarkasi atau horizon atau kosmologi seseorang,yang akhirnya membatasi ruang imajinasi.Karena itu tepat yang dikatakan filsof fenomenologis, Martin Heidegger, "a boundary isnot that at which something stops but, as the Greeks recognized, the boundary is thatfrom which something begins its presencing." Kosmos tidak lagi dibatasi bentanganspasial yang mengakhiri atau menjadi batas kita bergerak, tetapi dibatasi atau dipigurahorizon-horizon yang tercipta dari aneka suguhan virtual yang mengepung kita, yangdibidik dan disuguhkan dengan agenda tertentu. Kemampuan kita menakar siapa AS atauIrak, terbatasi perspektif kita yang terbentuk dari imaji-imaji virtual itu.MENGINGAT kosmologi selalu dicipta berdasar perspektif atau lensa tradisi tertentu,maka ia tidak pernah netral. Lensa atau perspektif itu selalu intensional. Karena itu pemahaman akan kosmogoni, akan bagaimana kosmos tercipta (geneologi kosmos), dandefenisi kosmologis yang diproduksi, serta ciri-ciri khas "lensa" yang menciptanya, akanmembantu kita untuk mampu mengambil jarak atas "intensionalitas" lensa itu danmembuat kita mampu mentransendensi diri dan imajinasi kita dari kelopak bangunankosmos tertentu.Merunut sejenak ke belakang, kita akan menemukan kembali beberapa ciri khas lensa pembidik dan penyuguh realitas yang menggugus menjadi bangunan kosmos: eramitologis yang lebih ditandai pemanfaatan peran imajinasi dalam mencipta kosmos; eratradisi agama, yang menggabungkan imajinasi dan rasionalitas yang dilandasi keyakinan(faith); era modern, yang ditandai pemanfaatkan peran rasionalitas dan materialisme; danera "postmodern" yang ditandai ciri-ciri fenomenologis dan virtualitas, atau pemanfaatankemampuan perception dalam menancapkan image-image virtual dari fenomen-fenomenakeseharian.Kosmogoni (geneologi tentang kosmos) mencipta dan menentukan macam kosmologi,sedangkan macam kosmologi menentukan bentuk antropologi, yakni bagaimana manusiamemahami dirinya, menempatkan dirinya dalam kosmos, dan meletakkan dasar-dasar  prinsip sosial dalam berelasi dengan orang lain.Kosmologi, yang dibangun berdasar fenomena-fenomena keseharian, yang dibidik dandisuguhkan secara virtual dengan intensionalitas tertentu, yang akhirnya mengandalkan peran kehidupan mental untuk menancapkan jangkar-jangkar imajinasi-persepsi, dengan
 
demikian, membutuhkan perumusan kembali filsafat antropologi yang bisa memberidasar-dasar etis bagi relasi sosial.Dalam tataran lebih konkret, membiarkan diri ignoran terhadap kosmogoni dankosmologi modern, yang berciri fenomenologis-virtual-intensional, akan membuat kitasekadar menjadi "bidak-bidak catur" yang berkutat dalam jaringan-jaringan mekanis aksi-reaksi yang dicipta oleh media virtual. Kapasitas kita sebagai subjek dan agen daritindakan pun tereduksi ke tingkat tertentu sehingga kita sekadar sebuah unsur/emblemdari jaringan/lalu lintas aksi-reaksi yang rumit dan kompleks.Karena subjek tereduksi sebagai unsur atau sekadar bagian sebuah sistem atau jaringantindakan, maka kerangka moralitas yang menjadi dasar penilaian tindakan, yangmengandaikan adanya subjek yang menentukan dan menguasai tindakannya, menjadikabur dan tidak punya dasar. Dan kita tidak pernah mampu mentransendensi diri darikelopak dan kepungan kosmologi yang tercipta dari image-image virtual itu. Kita tidak akan pernah menjadi subjek!Robertus Wijanarko
 Rohaniwan, mahasiswa S-3 Filsafat DePaul University, Chicago
Pemahaman Absolut<center></center>
Seekor gajah dibawa ke sekelompok orang buta yang belum pernah bertemu binatangsemacam itu. Yang satu meraba kakinya dan mengatakan bahwa gajah adalah tiangraksasa yang hidup. yang lin meraba belalainya dan menyebutkan gajah sebagai ular raksasa. yang lin meraba gadingnya dan menganggap gajah adalah semacam bajak raksasa yang sangat tajam, dan seterusnya. Kemudian mereka bertengkar, masing-masingmerasa pendapatnya yang paling benar, dan pendapat orang lain salah.Tidak ada satupun pendapat mereka yang benar mutlak, dan tak ada satupun yang salah.Kebenaran mutlak, atau satu kebenaran untuk semua, tidak dapat dicapai karena gerakankonstan dari keadaan orang yang mengatakannya, kepada siapa, kapan, dimana,mengapa, dan bagaimana hal itu diatakan. Yang ditegaskan oleh masing-masing orang buta tersebut adalah sudut pandang yang menggambarkan bentuk seekora gajah, bukankebenaran absolut.Setiap orang belajar melihat berbagai hal melalui pemikiran dan nalurinya masing-masing. Kehidupannya di masa lalu membantu mereka untuk menentukan pendapatmereka terhadap berbagai masalah dan obyek yang mereka temui. Karena masing-masingindividu memiliki pemikiran dan naluri, maka persepsi yang ditemui merupakankebenaran, bukan merupakan kesalahan. Hidup tidak hanya mengandung satu kebenaran

Activity (87)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
punco liked this
Leonardus Sihotang added this note|
Boss kalau memang mau membantu ya bantulah dengan seiklasnya. jangan setengah-setengah donnk....masa buat artikel tp tidak sepenuhnya di publikasikan. Bos mau jualan ya?????
Heriesta Arbesta liked this
Multri Yanis liked this
Setiady Alfarizy liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->