tersangka korupsi BLBI pada tahun 2004. Alasannya adalah Surat Keterangan Lunas(SKL) yang dikeluarkan BPPN berdasarkan Inpres No 8/2002. Inpres tentang PemberianJaminan Kepastian Hukum Kepada Debitur Yang Telah Menyelesaikan KewajibannyaAtau Tindakan Hukum Kepada Debitur Yang Tidak Menyelesaikan KewajibannyaBerdasarkan Penyelesaian Kewajiban Pemegang Saham, lebih dikenal dengan Inprestentang
release and discharge
.Berdasarkan Inpres ini, para debitur BLBI dianggap sudah menyelesaikan utangnya,walaupun hanya 30 persen dari jumlah kewajiban pemegang saham (JKPS) dalam bentuk tunai dan 70 persen dibayar dengan sertifikat bukti hak kepada BPPN. Atas dasar buktiini, mereka yang diperiksa dalam proses penyidikan akan mendapat SP3. Dan apabilakasusnya dalam proses di pengadilan, maka akan dijadikan
novum
atau bukti baru yangakan menjadi dasar dibebaskannya para terdakwa.Hingga saat ini tercatat beberapa nama konglomerat papan atas seperti Sjamsul Nursalim,The Nin King, dan Bob Hasan yang telah mendapatkan SKL dan sekaligus
release and discharge
dari pemerintah. Padahal, Inpres No 8/2002 yang menjadi dasar Kejaksaanmengeluarkan SP3 itu bertentangan dengan sejumlah aturan hukum seperti UU No31/1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Pasal 4 UU itu secara tegasmenyebutkan bahwa ''Pengembalian kerugian keuangan negara atau perekonomiannegara tidak menghapuskan dipidananya pelaku tindak pidana.''Dengan demikian, jelas bahwa pengembalian aset atau utang sejumlah tersangka korupsikepada negara, tidak serta-merta menghapuskan proses tindak pidana korupsi yangdilakukannya. Seharusnya, pihak Kejaksaan Agung tetap memproses para tersangka yangterlibat kasus BLBI hingga tahap penuntutan di pengadilan.Atas pertimbangan tersebut, ICW bersama beberapa LSM dan tokoh masyarakat yangtergabung dalam Koalisi Tolak Pengampunan Konglomerat Pengemplang Utang, pada 27Mei 2003 mengajukan permohonan ke Mahkamah Agung untuk melakukan uji material(
judicial review
) atas Inpres tersebut. Dalam gugatannya Koalisi menuntut Inpres itudicabut karena telah melanggar dan/atau bertentangan dengan peraturan perundanganyang berlaku. Sayangnya, hingga saat ini, atau lebih dari tiga tahun, MA belum jugamengeluarkan putusan terhadap gugatan tersebut.
Ironi
Setelah pergantian pemerintahan dari Megawati Soekarnoputri kepada Susilo BambangYudhoyono, tampaknya kebijakan mengenai penyelesaian kasus BLBI tidak mengalami perubahan. Pemerintah masih bersikap kompromistis terhadap para debitur BLBI danlebih memprioritaskan pengembalian keuangan negara daripada penegakan hukumnya.Ironisnya pemerintah seringkali memperlakukan para konglomerat yang telah dinilaitelah merugikan keuangan negara itu secara istimewa.