Read without ads and support Scribd by becoming a Scribd Premium Reader.
 
 
SERTIFIKAT SEBAGAI ALAT BUKTI HAK ATAS TANAHOleh : Raimond Flora Lamandasa, SH *)
Kita mengenal macam-macam sertifikat hak atas tanah, ada Sertifikat Hak Milik (SHM),Sertifikat Hak Guna Bangunan (SHGB), Sertifikat Hak Guna Usaha (SHGU) ataupun SertifikatHak atas Satuan Rumah Susun (SHSRS).Sertifikat hak atas tanah menjadi dambaan dari setiap pemegang hak atas tanah. Serasa masihada yang kurang dan belum mantap bila pemilikan atau penguasaan atas tanah itu belum disertai bukti pemilikan berupa sertifikat. Hal itu memang benar dan sudah selayaknya setiap orangmengusahakan agar ia memperoleh sertifikat karena Undang-Undang PokokAgraria (UUPA) No.5/1960 menjamin hal itu bahwa adalah hak dari setiap pemegang hak atas tanah untuk memperoleh sertifikat (UUPA Pasal 4 ayat 1).Sertifikat memiliki banyak fungsi bagi pemiliknya. Dari sekian fungsi yang ada, dapatdikatakan bahwa fungsi utama dan terutama dari sertifikat adalah sebagai alat bukti yang kuat,demikian dinyatakan dalam pasal 19 ayat 2 huruf c UUPA. Karena itu, siapapun dapat denganmudah membuktikan dirinya sebagai pemegang hak atas tanah bila telah jelas namanya tercantumdalam sertifikat itu. Diapun selanjutnya dapat membuktikan mengenai keadaan-keadaan daritanahnya itu misalnya luasnya, batas-batasnya, ataupun segala sesuatu yang berhubungan dengan bidang tanah dimaksud. Dan jika dikemudian hari terjadi tuntutan hukum di pengadilan tentanghak kepemilikan / penguasaan atas tanah, maka semua keterangan yang dimuat dalam sertifikathak atas tanah itu mempunyai kekuatan pembuktian yang kuat dan karenanya hakim harusmenerima sebagai keterangan-keterangan yang benar, sepanjang tidak ada bukti lain yangmengingkarinya atau membuktikan sebaliknya. Tetapi jika ternyata ada kesalahan didalamnya,maka diadakanlah perubahan / pembetulan seperlunya. Dalam hal ini yang berhak melakukan pembetulan bukanlah pengadilan melainkan instansi yang menerbitkannya yakni BadanPertanahan Nasional (BPN) dengan jalan pihak yang dirugikan mengajukan permohonan perubahan sertifikat dengan melampirkan surat keputusan pengadilan yang menyatakan tentangadanya kesalahan dimaksud.Selain fungsi utama tersebut diatas, sertifikat memiliki banyak fungsi lainnya yang sifatnyasubjektif tergantung daripada pemiliknya. Sebut saja, misalnya jika pemiliknya adalah pengusaha,maka sertifikat tersebut menjadi sesuatu yang sangat berarti ketika ia memerlukan sumber 
 
 pembiayaan dari bank karena sertifikat dapat dijadikan sebagai jaminan untuk pemberian fasilitas pinjaman untuk menunjang usahanya. Demikian juga contoh-contoh lainnya masih banyak yangkita bisa sebutkan sebagai kegunaan dari adanya sertifikat tersebut.Yang jelas bahwa sertifikat hak atas tanah itu akan memberikan rasa aman dan tenteram bagi pemiliknya karena segala sesuatunya mudah diketahui dan sifatnya pasti serta dapatdipertanggung jawabkan secara hukum.Lalu apa yang dimaksud dengan sertifikat itu sendiri ? Untuk mengetahui hal ini, dapatdiketengahkan bunyi Pasal 13 ayat 3 PP No.10 tahun 1961 yang menyebutkan bahwa ”Salinan buku tanah dan surat ukur setelah dijahit menjadi satu bersama-sama dengan suatu kertas sampulyang bentuknya ditetapkan oleh Menteri Agraria, disebut sertifikat dan diberikan kepada yang berhak”.Dari ketentuan pasal itu kiranya jelaslah bagi kita apa yang dimaksud dengan sertifikat hak atas tanah itu, yaitu sebagai salinan daripada buku tanah dan surat ukur tanah yang diikat menjadisatu. Asli sertifikat itu sendiri adanya di kantor BPN dan kepada tiap-tiap pemegang hak hanyadiberikan salinannya saja.PROSES PENSERTIFIKATAN TANAHDi Indonesia, dikenal ada dua cara pendaftaran tanah yakni sporadik dan sistematik. Untucara sistematik karena ini berkaitan langsung dengan program pemerintah terasa tidak terlalu adakendala dilapangan. Tetapi bagi yang menempuh cara sporadik atau yang inisiatifnya berasal dari pemilik tanah dengan mengajukan permohonan, pengalaman selama ini pada umumnya serasa banyak masalah. Tidak heran jika selama ini telah terbentuk kesan bahwa untuk memperolehsertifikat hak atas tanah itu sangat sulit, memakan waktu yang lama dan membutuhkan biayayang mahal. Kesulitan itu biasanya timbul karena berbagai faktor seperti kurang lengkapnyasurat-surat tanah yang dimiliki oleh pemohon, kesengajaan dari sementara oknum aparat yangmemiliki mental tak terpuji dan/atau karena siklus agraria belum berjalan sebagaimana mestinya.Secara objektif harus diakui bahwa tatacara memperoleh sertifikat itu masih terlalu birokratis, berbelit-belit dan sulit dipahami oleh orang awam. Kenyataan ini sering menimbulkan rasaenggan untuk mengurus sertifikat bila tidak benar-benar mendesak dibutuhkan. Sering puladirasakan bahwa jumlah biaya, waktu dan tenaga yang dikeluarkan untuk mengurus sertifikatkadangkala tidak sebanding dengan manfaat langsung dari sertifikat itu sendiri. Oleh karena itukiranya lebih bijaksana apabila diusahakan untuk memperpendek birokrasi tersebut sehingga pelayanan perolehan sertifikat dapat dilakukan dalam waktu yang lebih singkat, efektif danefisien.
 
Tentang prosedur pengurusan dan penerbitan sertifikat sebetulnya sudah diatur dalam PP No.10 tahun 1961 beserta peraturan-peraturan pelaksanaannya. Menurut ketentuan tersebutseseorang dalam mengurus sertifikatnya harus melewati 3 (tiga) tahap, yang garis besarnyaadalah sebagai berikut :
1
Tahap 1 :Permohonan hak.
Pemohon sertifikat hak atas tanah dibagi menjadi 4 golongan, dan masing-masing diharuskanmemenuhi persyaratan-persyaratan tertentu :
1)
Penerima Hak, yaitu para penerima hak atas tanah Negara berdasarkan Surat Keputusan pemberian hak yang dikeluarkan pemerintah cq. Direktur Jenderal Agraria atau pejabat yangditunjuk. Bagi pemohon ini diharuskan melengkapi syarat :a.Asli Surat Keputusan Pemberian hak atas tanah yang bersangkutan. b.Tanda lunas pembayaran uang pemasukan yang besarnya telah ditentukan dalam SuratKeputusan pemberian hak atas tanah tersebut.2)Para Ahli Waris, yaitu mereka yang menerima warisan tanah, baik tanah bekas hak milik adatataupun hak-hak lain. Bagi pemohon ini diharuskan melengkapi syarat :
a.
Surat tanda bukti hak atas tanah, yang berupa sertifikat hak tanah yang bersangkutan. b.Bila tanah tersebut sebelumnya belum ada sertifikatnya, maka harus disertakan surattanda bukti tanah lainnya, seperti surat pajak hasil bumi / petok D lama / perponding lamaIndonesia dan segel-segel lama, atau surat keputusan penegasan / pemberian hak dariinstansi yang berwenang.c.Surat Keterangan kepala desa yang dikuatkan oleh camat yang membenarkan surat tanda bukti hak tersebut.d.Surat keterangan waris dari instansi yang berwenang.e.Surat Pernyataan tentang jumlah tanah yang telah dimiliki.f.Turunan surat keterangan WNI yang disahkan oleh pejabat yang berwenang.g.Keterangan pelunasan pajak tanah sampai saat meninggalnya pewaris.h.Ijin peralihan hak jika hal ini disyaratkan.3)Para pemilik tanah, yaitu mereka yang mempunyai tanah dari jual-beli, hibah, lelang,konversi hak dan sebagainya. Bagi pemohon ini diharuskan memenuhi syarat :a.Bila tanahnya berasal dari jual beli dan hibah :1)Akta jual beli / hibah dari PPAT.2)Sertifikat tanah yang bersangkutan.
1
Sudjito, Prona, Penserifikatan Tanah Secara Massal dan Penyelesaian Sengketa Tanah Yang bersifatStrategis, Liberty Yogyakarta, 1987, hal. 74-81.
Search History:
Searching...
Result 00 of 00
00 results for result for
  • p.
  • Notes
    Load more