Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
120Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Kedudukan Saudara Kandung Dalam Hukum Waris Islam

Kedudukan Saudara Kandung Dalam Hukum Waris Islam

Ratings:

4.91

(53)
|Views: 13,599 |Likes:
Tulisan ini adalah paper penulis (Raimond Flora Lamandasa) dalam mata kuliah Hukum Waris Islam saat penulis kuliah di Program Magister Kenotariatan UGM Yogyakarta
Tulisan ini adalah paper penulis (Raimond Flora Lamandasa) dalam mata kuliah Hukum Waris Islam saat penulis kuliah di Program Magister Kenotariatan UGM Yogyakarta

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: Raimond Flora Lamandasa, S.H., M.Kn. on May 13, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/07/2013

pdf

text

original

 
BAB IPENDAHULUANA.Latar Belakang
Hukum kewarisan Islam mendasarkan ketentuan pokoknya pada AlquranQS. An Nisaa’ ayat 12 dan 176. Hukum waris menduduki posisi yang pentingdalam hukum Islam. Hal ini dapat dimengerti sebab masalah kewarisan pastidialami oleh setiap orang. Disamping itu hukum waris tersebut langsungmenyangkut harta benda yang apabila tidak diberikan ketentuan yang pasti makaakan dapat menimbulkan sengketa diantara para ahli waris. Dalam hukum warisyang diatur adalah persoalan bagaimana harta peninggalan harus diperlakukan,kepada siapa saja harta itu dipindahkan dan bagaimana cara perpindahan harta peninggalan tersebut.
1
Salah satu asas yang dianut dalam hukum kewarisan Islam adalah asas
compulsory
, yaitu asas yang memberikan pengertian bahwa apabila seorangmeninggal dunia maka segala hak akan harta bendanya akan berpindah kepada ahliwarisnya, dimana perpindahan harta benda tersebut tidak digantungkan padakeinginan maupun kehendak ahliwarisnya. Begitupula dengan persoalan bagiandari tiap ahli waris juga telah ditentukan dengan jelas sebagaimana dimuat dalamAlquran, QS An Nisaa’(4): 12 dan QS An Nisaa’ (4):176.Ketentuan mengenai bagian ahli waris tersebut tidak menimbulkan perbedaan pandangan dikalangan para ulama mazhab karena telah jelas pembagiannya. Namun terhadap ketentuan yang tidak diatur secara jelas seperti bagian untuk saudara kandung, saudara seayah/seibu dari pewaris masih terdapat perbedaan pandangan diantara para ulama sehingga menimbulkan beberapagolongan dalam system kewarisan Islam. Dalam hal ini muncul golongan denganajaran Ahlussunnah, golongan dengan ajarah Hazairin dan ajaran yang kemudianditerapkan dalam Kompilasi Hukum Islam. Golongan dengan ajaran Ahlussunnahmenitikberatkan pada sistem patrilinial, sedangkan Prof. Hazairin lebih kepadasistem bilateral dan KHI mengabsorbsi kedua ajaran ini dalam ketentuan pasal- pasalnya.
1
Ahmad Azhar Basyir., Hukum Waris Islam, UII Press, Yogyakarta. Tahun 2001. Hal.1
1
 
Secara eksplisit dapat disimpulkan bahwa pada sistem patrilinial, pihak laki-laki lebih utama tampil sebagai ahli waris, sedangkan pada sistem bilateralnyaProf. Hazairin, pihak laki-laki dan pihak perempuan mempunyai kedudukan danhak yang sama sebagai ahli waris.Perbedaan pandangan tersebut pada akhirnya akan berpengaruh terhadap penentuan ahli waris beserta bagian-bagiannya. Banyak literatur yang menyoroti perbedaan tersebut. Hal yang menonjol adalah mengenai bagian ahliwaris cucu.Menurut sistem kewarisan yang dikembangkan oleh golongan Ahlussunah,(patrilinial), ada perbedaan kedudukan antara cucu dari anak laki-laki dan cucu darianak perempuan. Kedua cucu dari garis yang berbeda ini tidak mungkin mewarissecara bersama-sama. Hal ini karena menurut ajaran Ahlussunah bahwa cucu laki-laki dari anak laki-laki menutup kemungkinan cucu dari anak perempuan untuk menjadi ahli waris. Cucu laki-laki dari anak laki-laki berkedudukan sebagai ahliwaris dzul faraid atau ashobah, semantara cucu laki-laki dari anak perempuan berkedudukan sebagai ahli waris dzul arham. Ketentuannya adalah bahwa ahliwaris dzul arham baru dapat mewaris apabila tidak ada ahli waris dzul faraid atauashobah. Demikian hal tersebut dengan ketentuan apabila pewaris tidamempunyai anak laki-laki lain.Sedangkan dalam sistem kewarisan yang dikembangkan oleh Prof. Hazairindengan sistem bilateralnya tidak membedakan kedudukan diantara para cucu sertamengenal adanya pranata pergantian tempat (
 plaatsvervulling 
). Cucu dari analaki-laki dan cucu dari anak perempuan dapat menggantikan kedudukanorangtuanya yang sudah meninggal terlebih dahulu, meskipun pewaris mempunyaianak laki-laki lain. Pendapat beliau berdasarkan penafsiran mengenai ayat 33 suratAn Nisa yang berbunyi
Wa likullin ja’alnaa mawaaliya mimma taraka’l-waalidaani wa’l-aqrabuuna
2
KHI sebagai pengembangan dari hukum kewarisan Islam membuka pintu pilihan yang dipergunakan dalam pembagian warisan dengan mempertimbangkankemaslahatan para ahli waris. Hukum Islam membuka pintu ahli waris untuk melakukan perdamaian dalam rangka menentukan perolehan masing-masing berdasarkan kerelaan, keikhlasan dan kekeluargaan setelah masing-masing ahliwaris menyadari bagiannya, seperti yang diatur dalam pasal 183 KHI.
2
Ahmad Azhar Basyir,. Peradilan Agama dan KHI dalam Tata Hukum Indonesia,UII Press, YogyakartaTahun1993, hal.137.
2
 
Ada anggota keluarga dari pewaris yang tidak termasuk golongan ahli warisyang menurut istilah fiqh disebut dzawil arham, tetapi menurut KHI mereka dapatdiberi bagian waris atas nama kerabat (pasal 171 huruf e KHI). Sistem pergantiantempat bagi ahli waris diatur dalam pasal 183 KHI, tetapi tidak dijelaskan apakahmengikuti pendapat Ahlussunah atau mengikuti pendapat Prof. Hazairin.Terjadinya pluralisme kesadaran umat Islam terhadap hukum Islamdisebabkan oleh beberapa hal yang melatarbelakangi adanya pluralisme pemahaman tersebut. Bahwa Islam datang ke Indonesia melalui Negara yang telahmempunyai budaya yang diwarnai oleh agama setempat seperti melalui NegaraPersi, India, Cina dan sebagainya . Agama Islam masuk ke Indonesia dimanaagama Hindu, Budha dan Kepercayaan telah ada di Indonesia dan bahwa proses perpindahan dari agama Hindu/Budha ke Islam berjalan secara evolutif yangmemakan waktu lama, sehingga batas-batasnya sangat bias, terutama dilihat dari pengalaman masyarakat.Dengan kenyataan yang demikian itu maka penerimaan dan penghayatan penduduk Indonesia terhadap agama dan hukum Islam berbeda-beda bahkan yangmenyangkut aqidah. Wajar kalau di Indonesia terdapat kelompok abangan, yang pengetahuannya tentang hukum agama sangat mengambang, terbatas pada waktusunat, kawin dan meninggal. Kelompok lain disebut dengan mutian, adalahkelompok yang sadar sebagai pengikut suatu agama, mereka berusaha untuk mengetahui dan mendalami ajaran agamanya serta mengamalkannya. Ada jugayang menerima Islam hanya pada hal-hal yang sesuai dengan adat kebiasaansetempat, dengan mengurangi /menambah ketentuan yang sudah baku dalamsyari’at. 
3
Kebagkitan dunia Islam diabad ke-19 memberi angin segar bagikebangkitan umat Islam di Indonesia. Berdirinya perguruan-perguruan tinggiIslam baik negeri maupun swasta mempercepat proses pemahaman umat Islamakan agama dan hukum yang dikandungnya. Namun demikian hasil yangdiharapkan belumlah maksimal, hal ini berkaitan dengan persoalan bahwa belumsemua umat Islam dapat terjangkau oleh gerakan ini.Dengan melihat perkembangan Islam dalam masyarakat Indonesia tersebutmaka dapatlah dipahami terjadinya pluralisme dalam pelaksanaan hukum Islam
3
Ibid,. Hal 13.
3

Activity (120)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Jun Zasyhuri liked this
Puther Muter liked this
maria_silalahi_4 liked this
Arja' Waas liked this
Murpin Lucas liked this
Tohayudin Toha liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->