Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
99Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
KTI Nurul Pola Asuh Orang Tua Dalam Pemberian Makanan Balita

KTI Nurul Pola Asuh Orang Tua Dalam Pemberian Makanan Balita

Ratings: (0)|Views: 6,238 |Likes:
Published by john_ebleh01

More info:

Published by: john_ebleh01 on Apr 07, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/28/2013

pdf

text

original

 
11
BAB IPENDAHULUANA.
 
Latar Belakang
Di negara berkembang kesakitan dan kematian pada anak balita banyak dipengaruhi oleh keadaan gizi dengan demikian angka kesakitan dan kematianpada periode ini dapat dijadikan informasi yang berguna mengenai keadaankurang gizi di masyarakat (Supariasa, 2001). Gangguan gizi pada anak balitamerupakan dampak komulatif dari berbagai faktor baik yang berpengaruhlangsung atau tidak langsung terhadap gizi anak (Moehji S, 2003). Anak balitamerupakan kelompok yang menunjukkan pertumbuhan badan yang pesatsehingga memerlukan zat-zat gizi yang tinggi setiap kg berat badannya. Anak balita merupakan kelompok umur yang paling sering menderita akibatkekurangan gizi (Djaeni, 2000). Untuk itu status gizi balita perlu diperhatikandalam status gizi baik dengan cara memberikan makanan bergizi seimbangyang sangat penting untuk pertumbuhan (Paath, 2004).Berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) tahun 2003angka prevalensi gizi kurang adalah 19,20% dan status gizi buruk 8,30%(Depkes RI, 2004). Data dari Dinas Kesehatan RI yang mengacu pada aksipangan dan gizi tahun 2001-2005 sasaran gizi kurang dari 20% dan giziburuk 5% (Depkes RI, 2002). Menurut hasil pemantauan status gizi padabalita di Propinsi Jatim pada tahun 2005, dari 8.012 balita yang disurveiterdapat 6,5% balita mengalami gizi buruk dan 20% mengalami gizi kurang(Sugeng Iwan, 2008). Menurut hasil pemantauan status gizi balita Kabupaten
 
22Bojonegoro tahun 2008 ditinjau dari BB/U 70.749 balita terdapat 1,32% balitadengan status gizi buruk, balita dengan gizi kurang sebanyak 13,15% balita,83,63% balita dengan status gizi baik dan gizi lebih sebanyak 1,90% balita,sedangkan pada pemantauan status gizi balita di Wilayah Kerja PuskesmasTemayang tahun 2008, dari 1.781 balita terdapat 1,46% balita mengalami giziburuk 16,79% balita dengan gizi kurang 80,17% balita dengan gizi baik dan1,09% mengalami gizi lebih. Berdasarkan hasil pencatatan pemantauan statusgizi balita tahun 2008 oleh bidan Desa Papringan diperoleh data dari 150balita yang mengalami gizi buruk 3,3% balita, 22,6% balita dengan gizikurang, 73,3% balita dengan gizi baik dan 0,6% balita yang mengalami gizilebih.Menurut Menkes, ada 3 faktor utama yang saling terkait mempengaruhibesarnya masalah gizi dan kesehatan masyarakat. Pertama, ketersediaanpangan di tinhgkat rumah tangga. Kedua, pola asuhan gizi atau makanankeluarga. Ketiga, akses terhadap pelayanan kesehatan (Depkes RI, 2007).Gizi kurang dan gizi buruk berdampak serius terhadap kualitas generasimendatang. Anak yang menderita gizi kurang akan mengalami gangguanpertumbuhan fisik dan perkembangan mental (Depkes RI, 2002). Pada usiasebelum 6 bulan sistem pencernaan belum siap untuk menerima makananselain ASI kebutuhan bayi akan makanan sudah cukup terpenuhi dengan ASInamun pasca usia tersebut ia memerlukan makanan tambahan yang dapatmenunjang tumbuh kembangnya. Pada usia ini jika hanya diberi ASI sajakebutuhan asuhan gizi bayi masih belum terpenuhi sepenuhnya. Dan jika
 
33memberikan makanan pendamping terlalu awal (sebelum 6 bulan) berdampak kurang baik terhadap kesehatannya (Akhmad Saifudin A, 2008). Masalah gizipada balita akan bertambah negatif pada obesitas (gizi lebih) pada masa anak bila terus berlanjut sampai dewasa dapat mengakibatkan hipertensi,hiperlipidemia, paterosklerosis, penyakit jantung koroner dan maturitasseksual lebih awal (Soetjiningsih, 2004).Upaya penanggulangan gizi kurang yang sudah dilakukan adalahpeningkatan pelayanan gizi terpadu dan sistem rujukan dimulai dari tingkatpos pelayanan terpadu (posyandu) hingga puskesmas dan rumah sakit,peningkatan komunikasi, informasi dan edukasi dibidang pangan dan gizimasyarakat dan intervensi langsung kepada sasaran melalui PemberianMakanan Tambahan (PMT) (Almatsier S, 2006). Untuk mengatasi kasuskurang gizi memerlukan peranan dari keluarga khususnya para ibu harusmemiliki kesabaran bila anaknya mengalami problema makan danlebih memperhatikan asupan makanan sehari-hari bagi anaknya(http://www.iyoiye.com diakses tanggal 20 mei 2009).Dari uraian di atas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentanghubungan pola asuh orang tua dalam pemberian makanan balita dengan statusgizi balita di Desa Papringan Kecamatan Temayang Kabupaten Bojonegoro.

Activity (99)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Chayang Kalian liked this
evypriyanti liked this
Wiji Utami liked this
Maulana Rizky liked this
adiosperniti liked this
Icha Puna Cpha liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->