Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
24Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Perkembangan Demokrasi

Perkembangan Demokrasi

Ratings: (0)|Views: 3,154|Likes:
Published by Ma2nk Asep

More info:

Published by: Ma2nk Asep on Apr 09, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOC, TXT or read online from Scribd
See More
See less

11/09/2012

pdf

text

original

 
Perkembangan Demokrasi, Civil Society danKecenderungan Oligarki Partai Politik 
Oleh : Be-UTgl. : 15/12/08 - 10:43 WIB
Latar Belakang
Demokrasi merupakan sarana guna terciptanya partisipasi politik masyarakat secara luas denganinstrumen pokoknya adalah partai politik (parpol). Partisipasi merupakan persoalan relasikekuasaan atau relasi ekonomi-politik antara negara
(state)
dan masyarakat
(society).
Negaraadalah pusat kekuasaan, kewenangan dan kebijakan untuk mengatur (mengelola) alokasi barang- barang (sumberdaya) publik pada masyarakat. Di dalam masyarakat sendiri terdapat hak sipildan politik, kekuatan massa, kebutuhan hidup, dan lain-lain. Dengan demikian, partisipasi adalah jembatan penghubung antara negara dan masyarakat agar pengelolaan barang-barang publik membuahkan kesejahteraan dan human well being.Dari sudut pandang negara, demokrasi mengajarkan bahwa partisipasi sangat dibutuhkan untuk membangun pemerintahan yang bertanggungjawab
(accountability),
transparan
(transparency),
dan responsif 
(responsibility)
terhadap kebutuhan masyarakat. Tiadanya partisipasi masyarakatakan membuahkan pemerintahan yang otoriter dan korup. Dari sisi masyarakat, partisipasiadalah kunci pemberdayaan
(empowerment).
Partisipasi memberikan ruang dan kapasitas bagimasyarakat untuk memenuhi kebutuhan dan hak-haknya, mengembangkan potensi dan prakarsalokal, mengaktifkan peran masyarakat serta membangun kemandirian masyarakat.Demokrasi terkait erat dengan kompetisi, partisipasi dan kebebasan rakyat
(civil liberty).
Kompetisi dalam demokrasi terkait dengan adanya pemilihan umum (pemilu). Bahkan, bagiteoritisi minimalis penganut Schumpeterian (Schumpeter, 1947),[1]pemilu merupakan satu-satunya prasyarat demokrasi. Sejak kejatuhan Soeharto dengan orde barunya pada 1998,Indonesia hingga kini tengah mengarungi sebuah era transisi dari rezim otoriter menuju sebuahtatanan yang demokratis. Pengalaman sejarah selama pasca reformasi digulirkan menunjukkanadanya kecenderungan kekuatan elemen-elemen lama akan mengembalikan perkembangan politik nasional kepada tatanan politik otoriter atau setidaknya menghambat laju transisi menujudemokrasi. Gejala ini sangat transparan dengan munculnya berbagai konflik antar elite baik diDewan Perwakilan Rakyat (DPR) atau di internal parpol yang seolah-olah tak berunjung.Banyaknya parpol yang mengikuti pemilu, baik pada tahun 1999 dan 2004[2] menunjukkan tidak   puasnya publik dengan parpol-parpol mapan
(established)
yang ada. Mereka melakukansemacam gerakan resistensi dengan ramai-ramai membentuk parpol baru, meskipun mereka tahusyarat untuk bisa menjadi peserta pemilu sangat ketat. Publik juga kecewa dengan komposisianggota DPR, baik hasil pemilu tahun 1999 atau 2004 yang dinilainya belum mampu menangkapaspirasi masyarakat sipil
(civil society),
dan sekedar cenderung memperkuat oligarki politik,dengan memperkokoh eksistensi elite-elite parpol besar yang telah mapan semata.
Perkembangan Demokrasi di Indonesia
Guillermo O’Donnell dan kawan-kawan pernah melakukan serangkaian studi mengenai
 
fenomena transisi demokrasi yang terjadi di Amerika Latin dan Eropa Selatan --yangmenghasilkan karya mereka Transitions from Authoritarian Rule (1986)-- secara sederhanamenjelaskan “transisi” sebagai “interval waktu antara satu rezim politik dan rezim politik yanglain”.[3] Secara lebih jelas Juan J. Linz dan Alfred Stepan merumuskan bahwa suatu transisi demokrasi berhasil dilakukan suatu negara jika (a) tercapai kesepakatan mengenai prosedur- prosedur politik untuk menghasilkan pemerintahan yang dipilih; (b) jika suatu pemerintahmemegang kekuasaannya atas dasar hasil pemilu yang bebas; (c) jika pemerintah hasil pemilutersebut secara de facto memiliki otoritas untuk menghasilkan kebijakan-kebijakan baru; dan (d)kekuasaan eksekutif, legislatif, dan yudikatif yang dihasilkan melalui demokrasi yang baru itusecara de jure tidak berbagi kekuasaan dengan lembaga-lembaga lain.[4]Menurut pandangan O’Donnell dan Schmitter, proses transisi demokrasi mencakup tahapliberalisasi politik dan tahap demokratisasi, yang bisa berlangsung secara gradual –liberalisasilebih dahulu kemudian berlanjut kepada demokratisasi- atau secara bersama-sama dan sekaligus,atau bisa juga suatu transisi tanpa tahap demokratisasi sama sekali. Menurut kedua ahli tersebut,liberalisasi politik hanya mencakup perluasan serta perlindungan bagi hak-hak dan kebebasanindividu maupun kelompok dari kesewenangan negara atau pihak lain, tanpa perubahan struktur  pemerintahan dan akuntabilitas penguasa terhadap rakyatnya. Dengan begitu, makademokratisasi harus mencakup perubahan struktur pemerintahan (yang otoriter) dan adanya per-tanggungjawaban penguasa kepada rakyat (yang sebelumnya tidak ada). O’Donnell danSchmitter menyebut transisi yang bermuara pada liberalisasi ini sebagai liberalizedauthoritarianism.[5]Sementara itu dalam perspektif Larry Diamond,[6]konsolidasi demokrasi mencakup pencapaiantiga agenda besar, yakni (a) kinerja atau performance ekonomi dan politik dari rezim demokratis;(b) institusionalisasi politik (penguatan birokrasi, partai politik, parlemen, pemilu, akuntabilitashorizontal, dan penegakan hukum); dan (c) restrukturisasi hubungan sipil-militer yang menjaminadanya kontrol otoritas sipil atas militer di satu pihak dan terbentuknya civil society yangotonom di lain pihak. Apabila perspektif Diamond serta Linz dan Stepan dikaitkan dengan problematik demokratisasi di Indonesia pasca Orde Baru. maka tampak dengan jelas bahwamasih banyak persoalan krusial dalam upaya konsolidasi demokrasi.Seperti diingatkan Diamond, keberhasilan penyelenggaraan pemilihan umum hanya sekadar  prasyarat prosedural bagi suatu demokrasi yang terkonsolidasi. Kinerja politik dan ekonomi pemerintah baru hasil pemilu, misalnya, jelas masih perlu diperdebatkan mengingat arena bagi pemerintah untuk mewujudkan aspirasi publik sangat ditentukan oleh, pertama, dukungan partai- partai, baik di parlemen maupun di dalam pemerintahan sendiri; dan kedua, dukungan birokrasinegara, baik sipil maupun militer. Dilemanya, baik partai-partai politik di parlemen, maupun birokrasi negara yang diperlukan pemerintah baru untuk mendukung optimalisasi kinerjanyamasih terperangkap pada perilaku dan budaya lama, yakni “dilayani” ketimbang “melayani”masyarakat.Perspektif teoritis Diamond menggarisbawahi bahwa agenda institusionalisasi politik adalahsalah satu faktor kunci bagi suatu demokrasi yang terkonsolidasi. Di dalamnya tidak hanyatercakup reformasi birokrasi dan penguatan institusi pemerintahan, melainkan juga penguatan
 
 partai-partai politik, parlemen, dan reformasi pemilu, selain penguatan akuntabilitas horizontaldan penegakan supremasi hukum.Dalam konteks Indonesia pasca Orde Baru upaya reformasi institusional atau kelembagaansebenarnya telah dimulai pada era pemerintahan BJ Habibie yang ditandai dengan perubahan UUPemilu, UU Kepartaian, dan UU Susunan dan Kedudukan MPR, DPR dan DPRD (UU Susduk).Atas dasar perubahan itu maka pemilu bebas dan demokratis pertama pasca Orde Barudiselenggarakan pada Juni 1999. Pemilu di bawah sistem multipartai tersebut kemudianmenghasilkan DPR, MPR dan pemerintah baru yang mengagendakan reformasi konstitusimelalui empat tahap perubahan (amandemen), yakni amandemen pertama (1999) dan kedua(2000) pada era Presiden Abdurrahman Wahid, serta amandemen ketiga (2001) dan amandemenkeempat (2002) pada era Presiden Megawati Soekarnoputeri.Tampak mulai disadari, kendati agak terlambat, bahwa konsensus prosedural dalam rangkaefektifitas format politik baru tak mungkin dicapai tanpa reformasi konstitusi karena sistemdemokrasi yang stabil hanya bisa tumbuh jika konsitusi yang memayunginya cukup memadaiuntuk itu. Para ahli yang mendalami masalah transisi demokrasi menggarisbawahi pentingnyareformasi konstitusi sebagai bagian yang tak terpisahkan dari proses transisi menuju konsolidasidemokrasi.[7]Amandemen atas UUD 1945 pada akhirnya memang berhasil dilakukan, namun sulit dibantah bahwa dalam realitasnya perubahan yang dilakukan oleh MPR atas konstitusi tersebut cenderung bersifat tambal sulam.[8] Paling kurang ada tiga kelemahan mendasar pada hasil amandemen yang dilakukan Badan Pekerja MPR atas UUD 1945 sehingga diperlukan suatu komisi konstitusiyang bersifat independen --dibentuklah Mahkamah Konstitusi--. Pertama, proses amandemenyang cenderung terjebak pada kepentingan jangka pendek dari elite partai-partai di parlemen.Kedua, kualitas dan substansi perubahan yang cenderung inkonsisten dan tambal-sulam satusama lain. Dan ketiga, format legal drafting perubahan yang tidak sistematik dan tak terpola sertamembingungkan sehingga menyulitkan pemahaman atasnya sebagai hukum dasar.[9] Dalam konteks substansi hasil amandemen, di satu pihak hendak dibangun sistem pemerintahan presidensiil yang kuat, stabil, dan efektif, namun di sisi lain obsesi besar tersebut tidak didukungoleh struktur perwakilan bicameral yang kuat pula.[10] Kedudukan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) yang semestinya merupakan salah satu “kamar” dari sistem perwakilan dua-kamar, bahkan tak jelas karena kekuasaan dan hak-haknya yang sangat terbatas. Tidak mengherankan jika para anggota DPD dewasa ini mempertanyakan relevansi keberadaan mereka dalam sistemyang berlaku.[11] Sebaliknya, para politisi di Panitia Ad-Hoc I MPR selaku penyusun konstitusi  justru makin memperkuat posisi, kedudukan, kekuasaan, dan hak-hak DPR melebihi yangseharusnya dimiliki oleh DPR dalam konteks sistem presidensiil.Selain itu, UUD 1945 hasil amandemen tidak melembagakan berlakunya mekanisme checks and balances di antara cabang-cabang kekuasaan pemerintahan utama, yakni lembaga eksekutif-legislatif pada khususnya dan eksekutif-legislatif-yudikatif pada umumnya. Di satu pihak, suatuUU dapat tetap berlaku apabila dalam waktu 30 hari tidak disahkan oleh Presiden, namun di pihak lain Presiden tidak memiliki semacam hak veto untuk menolak UU yang telah disetujuiDPR. Padahal tegaknya prinsip checks and balances bersifat mutlak karena menjadi salah satu

Activity (24)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Putri Athena liked this
Dhia Revianaa liked this
Chelsy Yesicha liked this
Wahyu Fiya liked this
Azie Azia liked this
Rian Griyantika liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->