Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
5Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Permasalahan Dan Bimbingan Pernikahan Di Dalam Islam

Permasalahan Dan Bimbingan Pernikahan Di Dalam Islam

Ratings: (0)|Views: 1,684|Likes:

More info:

Categories:Types, Brochures
Published by: H Masoed Abidin bin Zainal Abidin Jabbar on Apr 11, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See More
See less

09/13/2010

pdf

text

original

 
2
Permasalahan dan Bimbingan Pernikahan di dalam Islam
PERMASALAHAN DAN BIMBINGANPERNIKAHAN DALAM ISLAM
BAB I
PERNIKAHAN
A.Pengertian Pernikahan
Pernikahan merupakan serangkaian peristiwa yang mampu membangun sebuahkomplikasi peradaban manusia, yang selama-lamanya harus dilestarikan, peristiwa itu ialah peristiwa fitrah; sebagai manusia pernikahan adalah Pertama, Pernikahan sebuah
 fitrah
untuk menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, diantaranya fitrah manusia itu adalah bertumbuh dan berkembang, nah dengan adanya wadah pernikahan, manusia dapat menjawab tuntutan itu.Kedua, Pernikahan adalah peristiwa
 fiqiyah
, menunjukkan seseorang telah melaksanakan suatuhukum agama yang asal hukumnya sunat. Ketiga, Pernikahan adalah peristiwa dakwah,seseorang yang telah melaksanakan akad pernikahan, berarti ia telah menegakkan syari`atdengan mendakwakan bahwa akad pernikahan itu harus dilakukan setiap orang Muslim yangakan mengarungi hidup Berumah Tangga. Dan Keempat, Pernikahan menunjukkan hubungansosial yang semula adalah sebuah keluarga kecil, kemudian menjadi besar dengan bergabungnyadua keluarga kecil. Serta Kelima, Peristiwa Budaya, pernikahan dapat membentuk suatu budayayang kokoh, dan mempunyai nilai keakraban yang asri, karena dua budaya yang berbeda, setelahterjadinya akad berarti peristiwa budaya akan menjadi berwarna-warni, yang nantinya akan dapatmembentuk budaya yang satu, walaupun didalamnya terdapat banyak karakter, namunmerupakan satu budaya, yaitu budaya Islam,
“ummah al-wâhidah”
. Inilah yang didambakan
H. Mas’oed Abidin 1
 
4
Islam sebagai agama Ilahiyah atau Tauhid.Pernikahan adalah suatu jalan hidup yang berorientasi hubungan horizontal dan fertikalkepada
ilâhi-rabbi.
Yang dimulai dengan niat ibadah kepada Allâh, dengan pembentukan
al-Usru
"keluarga" yang terdiri dari suami, isteri, dan anak-anak. Kemudian menjadi suatu struktur sosial "
al-Ijtima`i
".Keluarga terbentuk dari rasa saling memperlukan, sebagaimana yang diungkapkan olehAllâh dalam al-Qur`ân, surat al-A`râf ayat 189 maksudnya, "agar suami merasa tenang dantenteram bersama isterinya". Dan yang melindungi antara satu samalain (QS. Al-Baqarah/2:187). Dalam ayat ini Imam al-Qurtubi menafsirkan kata "
libas
" yang asal maknanya berkenaandengan pakaian. Kemudian menyatukan hubungan suami dan isteri tersebut, seperti melekatnya pakaian sekaligus fungsinya. Sebagian ulama berpendapat, "segala sesuatu yang menutupisesuatu itu
libas
.Keluarga sebagai ajang sikap yang saling memberi perhatian, apapun yang diberimisalnya oleh suami kepada isteri, tidak boleh diminta kembali (QS. Al-Nisâ/4: 20-21), hal inimembuktikan keikhlasan harus ditanamkan dalam diri suami sebelum ia berumah tangga.Keluarga juga untuk menyatukan perasaan, tenang dan tenteram "
mawaddah wa rahmah
", sertaakan membuat suami dan isteri berfikir jernih (QS. Al-Rûm/30: 21). Nah, Islam berpicara tentang pernikahan, lalu apa saja yang menjadi substansi dan prosedural dari hal tersebut?, mari kita lihat. Dalam al-Qur`ân dan al-Sunnah, masalah yangdiungkapkan adalah sakral berkisar sekitar masalah substansi, seperti masalah memilih jodoh, pernikahan, pembentukan keluarga beserta sikap-sikap yang harus ditempuh, pendidikan anak keturunan. Sedangkan masalah prosedural perkawinan tidak diatur, hanya saja itu menjadi lahanijtihad baik 
ijtihad tathbiqy
dan
istinbathy.
Seperti pelanggaran dalam masalah rumah tangga. Inidiatur dalam undang-undang
mujtahid.
Kita ambil contoh, masalah
ta`liq thalaq,
dalam undang-undang Perkawinan Indonesia ditentukan terutama undang-undang
 
tahun 1975 tentang perceraian akibat tidak diberi nafkah oleh suami selama dua (2) tahun berturut-turut, ini tidak ditemukan dalam al-Qur`ân dan al-Sunnah
1
. Pasal 2 ayat 1 Undang-Undang No. 1 tahun 1974
1Pasal 39 ayat (2) huruf b Jo PP No. 9 Tahun 1975 pada pasal 19 huruf b dinyatakan; salah satu sebab ataualasan perceraian ialah salah satu pihak meninggalkan pihak lain selama dua (2) tahun berturut-turut tanpa izin pihak lain dan tanpa dasar yang sah. Dan inilah yang kemudian yang menjadi salah satu janji
ta`liq thalaq
hingga kini.
 
Permasalahan dan Bimbingan Pernikahan di dalam Islam
mengatur sahnya pernikahan menurut agama masing-masing
2
. Undang-undang ini dirumuskandan berlaku atas perjuangan untuk mengembalikan berlakunya hukum Islam di Indonesia, setelahhukum nasional dikuasai oleh hukum adat dan eks Barat. Jadi, pelanggaran dalam perkawinan itudiatur dalam undang-undang yang dimunculkan oleh
mujtahid 
melalui kajian dalil-dalil, makaterwujudlah sebuah
ijtihad 
diterapkan sebagai hukum yaitu
hukum ta`zir 
3
.Islam agama berlaku pada masa apapun, tujuannya adalah untuk menunjukkankeagungannya. Dengan aturan seperti di atas, maka memberi peluang pada perkembangan peradaban manusia yang sempurna. Agama islam tidak akan pernah terlibat dalam masa yangsia-sia, penuh dengan kepura-puraan, tidak ada keteguhan dalam mempertahankan prinsip- prinsip sakral.
 
1.Pengertian Pernikahana.Pernikahan Menurut BahasaPernikahan dalam Bahasa Arab disebut dengan nikah atau tazwij. Lafazh nikah atautazwij artinya; kawin, berkumpul atau menghimpit
(
جٌ وِ ز ْ تَ
),
marriage
(pernikahan) seperti
“yâ ma`syara al-syabâb”
atau
marriageable
. b.Menurut Istilah1)Menurut Jalaluddin Al-Mahally Nikah adalah‘akad yang mengandung kebolehan melakukan hubungan seksual
(Al-Hikmah & DITBINBAPERA Islam, Mimbar Hukum; jurnal dua bulanan: aktualisasi Hukum Islam, (Jakarta :PT. Internusa, 1995), No. 21 tahun VI (juli-Agus), hal. 93.2Pasal 2 ayat 1 undang-undang No. 1 tahun 1974 Menyatakan; bahwa perkawinan adalah sah apabiladilakukan menurut hukum agama dan kepercayaannya. Dengan pernyataan ini Hukum Islam menjadi hukum yang berdiri sendiri setara dengan hukum barat. Ibid. hal. 18. Tahun 1981 Menteri Kehakiman Ali Said menegaskan,"Hukum Islam merupakan salah satu komponen tata hukum di Indonesia dan menjadi salah satu sumber baku pembentukan hukum nasional, ini ditegaskan oleh Menteri Kehakiman Ismail Saleh (tahun 1989), "… karenamayoritas rakyak Indonesia memeluk agama Islam. Ibid. hal. 19.3Kata "
Ta`zîr 
", secara bahasa berarti pengajaran, kebesaran, sedangkan secara istilah berarti hukuman yang bersifat pengajaran terhadap kesalahan-kesalahan yang tidak diancam hukum
had 
(khusus), atau kejahatan-kejahatanyang sudah pasti ketentuan hukumnya, tetapi syarat-syaratnya tidak cukup (seperti tidak cukupnya empat orangsaksi dalam kasus pidana). Hukuman ini diserahkan pada hakim atau penguasa. Dapat berubah sesuai dengankemashlahatan.
H. Mas’oed Abidin 3

Activity (5)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 thousand reads
1 hundred reads
sambikhair liked this
onelezt liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->