Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
6Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
pertumbuhan ekonomi

pertumbuhan ekonomi

Ratings: (0)|Views: 960|Likes:
Published by iswadi_gunarso123
dibaca dengan cermat aja deh
dibaca dengan cermat aja deh

More info:

Published by: iswadi_gunarso123 on Apr 12, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/18/2012

pdf

text

original

 
Kontribusi Pendidikan Terhadap Pertumbuhan Ekonomi
Ditulis oleh Asep Hidayat
A. LATAR BELAKANG Bila kualitas pendidikan diukur dengan Indeks Pembangunan Manusia maka peringkatIndonesia diantara negara-negara Asean, sampai dengan tahun 2001, menempati peringkat 102, di bawah Vietnam dandi atas Myanmar. Angka indeks ini digunakan oleh Unesco dan World Bank dalam memeringkat pembangunan manusiadi dunia. Peringkat selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 1.Tabel 1. PERINGKAT IPM, IKM, IPT DAN IDS INDONESIA DI ANTARA NEGARA-NEGARA ASEAN  NEGARAIPM IKM IPT IDS (1) (2) (3) (4) (5) Singapura 26 --10 2 Malaysia 56 13 30 29 Thailan 66 21 40 38Filipina 70 23 44 40 Vietnam 101 45 -- -- Indonesia 10238 60 49 Myanmar 118 43 -- -- Keterangan: IPM= Indeks PembangunanManusia; IKM= Indeks kemiskinan Manusia; IPT= Indeks Pencapaian Teknologi; dan IDS= Indeks Daya Saing. Sumber: Human Development Report, 2001 dan World Competitiveness Year Book 2001 Secara keseluruhan,perkembangan Indeks Pembangunan Manusia di Indonesia ditampilkan pada Tabel 2. Tabel 2. PERKEMBANGANINDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA DI INDONESIA 1990 –1999 INDIKATOR 1990 19961999 (1) (2) (3) (4) Angka Harapan Hidup (th) 63,2 66,4 66,2 Angakematian Bayi (per 1000 kelahiran hidup) 56,0 44,0 44,9 Angka Melek Huruf (5) 81,585,5 88,4 Rata-rata lama sekolah (th) 5,3 6,3 6,7 Tingkat Konsumsi per Kapita(Rp.000) 555,4 587,4 578,8 Indkes Pembangunan Manusia 63,4 67,7 64,3Sumber: Biro Pusat Statistik, 1999. Apabila IPM ini digunakan, maka rendahnya kulitas pendidikan di Jawa Barat dapatditunjukkan oleh rendahnya angka Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Jawa Barat bila dibandingkan denganpropinsi lain di Indonesia. Berdasarkan data yang bersumber dari Biro Pusat Statistik, pada tahun 1999 Propinsi JawaBarat berada pada ranking 15 dari 26 propinsi lain yang ada di Indonesia, dengan nilai IPM sebesar 64,6. Beberapafaktor yang mempengaruhi kondisi IPM Jawa Barat pada tahun 1999 antara lain Angka Melek Huruf (91,77 %), Rata-rataLama Sekolah (6,85 tahun), Angka Harapan Hidup (65,43 tahun) dan Tingkat Konsumsi Perkapita ( Rp606,2/jiwa).Menurut Renstra Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Barat 2001-2005, ada enam daerah di Jawa Barat yangmemberikan kontribusi negatif terhadap rendahnya kualitas IPM. Keenam Kabupaten tersebut beserta nilai IPM nyadapat dilihat pada Tabel 3.   DATA ENAM KABUPATEN DI JABAR DENGANIPM INDRAMAYU 56,5 KARAWANG 60,4 GARUT 61,7 CIREBON61,6 MAJALENGKA 62,8 SUBANG 63,1 JAWA BARAT 64,6 Menurut sumberyang sama, rendahnya kualitas pendidikan di Jawa Barat tersebut sangat dipengaruhi oleh beberapa kondisi lingkungandi Jawa Barat yang sangat tidak mendukung bagi pembangunan pendidikan di Jawa Barat saat ini , yaitu: SARANADAN PRASARANA YANG MEMPRIHATINKAN KEKURANGAN DAYA TAMPUNG KEKURANGAN TENAGA GURURENDAHNYA KESEJAHTERAAN GURU RENDAHNYA KUALITAS GURU RENDAHNYA ANGGARAN PENDIDIKANRENDAHNYA KUALITAS MANAJEMEN SEKOLAH ANGKA DROP OUT (DO) YANG MENGANCAM Kondisilingkungan pendidikan di Jawa barat seperti itu nampaknya yang menjadi penyebab selalu mundurnya pencapaiansasaran program wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun (wajar dikdas 9 tahun) yang mulai tahun 1994 telahdicanangkan. Indikator yang dapat menjelaskan ini yaitu Angka Partisipasi Kasar (APK) dan Angka Partisipasi Murni(APM) SLTP di Jawa Barat pada tahun 2001 baru mencapai 72,32 % dan 56,02 %. Sehingga Pemerintah perlumentargetkan kembali tuntas wajar dikdas 9 tahun akan dicapai tahun 2008/2009 yang akan datang, dan untuk JawaBarat Pemerintah Propinsi Jawa Barat mentargetkan 2 tahun lebih cepat yaitu tahun 2006 yang akan datang. Padatahun 2001, besarnya Anggaran Pembangunan dan Belanja Daerah (APBD) yang dialokasikan untuk mendukungpelaksaaan seluruh program pembangunan bidang pendidikan yang dikelola Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Baratadalah sebesar adalah Rp 45.675.000.000,-. Seluruh anggaran ini digunakan untuk membiayai 25 jenis proyek APBD.Besarnya anggaran ini memang lebih masih kecil bila dibandingkan dengan besarnya anggaran pembangunan bidangpendidikan yang bersumber dari APBN tahun 2001, yaitu sebesar Rp 77.295.218.440. Perbandingan alokasi anggaranbidang pendidikan tahun 2001, baik untuk APBD, APBN dan program rutin dapat dilihat pada Grafik 1. Dilihat darialokasinya, menurut Kepala Dinas Pendidikan Kota Bandung (Republika, 17 Mei 2003) lebih banyak untuk belanjapegawai, diikuti untuk rehabilitasi gedung. Berdasarkan latar belakang di atas, perlu ada reorientasi dan penyikapantertentu terhadap kebijakan pendidikan, baik dari pemegang kebijakan maupun dari masyarakat. Semua pihak harusmelihat, bahwa pendidikan bukan untuk konsumsi melainkan untuk investasi yang kembaliannya akan terasa dalam jangka panjang. Dalam hal ini, terasa pada pertumbuhan ekonomi masa mendatang. 8. PENDIDIKAN DANPERTUMBUHAN EKONOMI Mungkinkah ada intervensi pendidikan terhadap pertumbuhan ekonomi? Pendidikanmemiliki daya dukung yang representatif atas pertumbuhan ekonomi. Tyler mengungkapkan bahwa pendidikan dapatmeningkatkan produktivitas kerja seseorang, yang kemudia akanmeningkatakan pendapatannya. Peningkatanpendapatan ini berpengaruh pula kepada pendapatan nasional negara yang bersangkutan, untuk kemudian akanmeningkatkan pendapatan dan taraf hidup masyarakat berpendapatan rendah. Sementara itu Jones melihat pendidikansebagai alat untuk menyiapkan tenaga kerja terdidik dan terlatih yang sangat dibutuhkan dalam pertumbuhan ekonomisuatu negara. Jones melihat, bahwa pendidikan memiliki suatu kemampuan untuk menyiapkan siswa menjadi tenagakerja potensial, dan menjadi lebih siap latih dalam pekerjaannya yang akan memacu tingkat produktivitas tenaga kerja,yang secara langsung akan meningkatakan pendapatan nasional. Menurutnya, korelasi antara pendidikan denganpendapatan tampak lebih signifikan di negara yang sedang membangun. Sementara itu Vaizey melihat pendidikanmenjdi sumber utama bakat-bakat terampil dan terlatih. Pendidikan memegang peran penting dalam penyediddantenaga kerja. Ini harus menjadi dasar untuk perencanaan pendidikan, karena pranata ekonomi membutuhkan tenaga-
EDUCARE: Jurnal Pendidikan dan Budayahttp://educare.e-fkipunla.netGenerated: 12 April, 2010, 08:32
 
tenga terdidik dan terlatih. Permasalahan yang dihadapai adalah jarang ada ekuivalensi yang kuat antara pekerjaan danpendidikan yang dibutuhkan yang mengakibatkan munculnya pengangguran terdidik dant erlatih. Oleh karena itu,pendidikan perlu mengantisipasi kebutuhan. Ia harus mampu memprediksi dan mengantisipasi kualifikasi pengetahuandan keterampilan tenaga kerja. Prediksi ketenagakerjaan sebagai dasar dalam perencanaan pendidikan harus mengikutipertumbuhan ekonomi yang ada kaitannya dengan kebijaksanaan sosial ekonomi dari pemerintah. Intervensipendidikan terhadap ekonomi merupakan upaya penyiapan pelaku-pelaku ekonomi dalam melasnakan fungsi-fungsiproduksi, distribusi, dan konsumsi. Intervensi terhadap fungsi produksi berupa penyediaan tenaga kerja untuk berbagaitingkatan yaitu top, midle, dan low management; atau secara ekstrim tenaga kerja krah biru dan krah putih. Di sampingtenaga kerja, juga pendidikan mengintervensi produksi untuk penyediaan entrepreneur tangguh yang mampu mengambilresiko dalam inovasi teknologi produksi. Bentuk intervensi lain yaitu menciptakan teknologi baru dan menyiapkan orang-orang yang menggunakannya. Program-program perluasan produksi melalui intensifikasi dan rasionalisasi merupakansalah satu wujud nyata dari peran prangata pendidikan atas fungsi produksi ini. Intervensi terhadap fungsi distribusiadalah melalui pengembangan research and development produk yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginanmasyarakat atau konsumen. Intervensi terhadap fungsi konsumsi dilakukan melalui peningkatan produktivitas kerja yangakan mendorong peningkatan pendapatan. Peningkatan pendapatan ini akan mendorong pada peningkatan fungsikonsusmsi, yang ditunjukan dengan meningkatnya jumlah tabuhan yang berasal dari pendapatan yang disisihkan.Tabungan ini akan menjadi investasi kapital yang tentunya akan lebih mempercepat laju pertumbuhan ekonomi suatunegara. 9. UKURAN-UKURAN KONTRIBUSI PENDIDIKAN TERHADAP PEMBANGUNAN DAN PERTUMBUHANEKONOMI Bagaimanakan keterkaitan pendidikan dan pertumbuhan ekonomi? Secara sederhana, jawaban ataspertanyaan tersebut dapat digambarkan di halaman berikut. Untuk menjawab hal tersebut di atas, kita tidak dapatmelepaskan diri dari masalah pembangunan. Konsep pembangunan dalam bidang sosial ekonomi sangat beragamtergantung konteks pengggunaanya. Ahli-ahli ekonomi mengembangkan teori pembangunan yang didasari kepadakapasitas produksi tenaga manusia di dalam proses pembangunan, yang kemudian dikenal dengan istilah Invesment inHuman Capital. Teori ini didasari pertimbangan bahwa cara yang paling efisien dalam melakukan pembangunannasional suatu negara terletak pada peningkatan kemampuan masyarakatnya. Selain itu dihipotesiskan pula bahwafaktor utama yang mendukung pembangunan adalah pendidikan masyarakat. Teori human capital mengasumsikanbahwa pendidikan formal merupakan instrumen terpenting untuk menghasilkan masyarakat yang memiliki produktifitasyang tinggi. Menurut teori ini pertumbuhan dan pembangunan memiliki 2 syarat, yaitu  Adanya pemanfaatan teknologitinggi secara efisien, dan Adannya sumber daya manusia yang dapat memanfaatkan teknologi yang ada. Sumber dayamanusis seperti itu dihasilkan melalui proses pendidikan. Hal inilah yang menyebabkan teori human capital percayabahwa investasi dalam pendidikan sebagai investasi dalam meningkatkan produktivitas masyarakat. Asumsi dasaryang melandasi keharusan adanya hubungan pendidikan dengan penyiapan tenaga kerja adalah bahwa pendidikandiselenggarakan untuk meningkatkan keterampilan dan pengatahuan untuk bekerja. Dengan kata lain, pendidikanmenyiapkan tenaga-tenaga yang siap bekerja. Namun demikian pada kenyataannya tingat pengangguran di hampirseluruh negara bertambah sekitar 2 % setiap tahunnya (World Bank:1980) Terjadinya pengangguran bukan disebabkantidak berhasilnya proses pendidikan, namun pendidikan tidak selalu harus menghasilkan lulusan dengan jenis pekerjaantertentu. Sekolah memang dapat menghasilkan tenaga kerja dengan keterampilan tertentu, tetapi sekolah bukan satu-satunya tempat dimana keterampilan itu dapat dicapai. Terdapat berbagai macam faktor untuk mengukur bagaimanapertumbuhan ekonomi diukur dengan baik. Diantara ukuran-ukuran tersebut, diantaranya: 10. Pendapatan per-kapita11. Perubahan peta ketenagakerjaan dari pertanian ke industri 12. Konsumsi energi atau pemakaian barangberteknologi tinggi seperti mobil, telepon, televisi Dengan demikian kriteria untuk menilai keberhasilan pembangunan:13. Peningkatan dalam efisiensi sistem produksi masyarakat yang diukur dengan GDP dan GNP. 14. Kepuasaanpemenuhan kebutuhan dasar masyarakat, 15. Pencapaian tujuan-tujuan oleh berbagai kelompok dalam masyarakat,yang dikaitkan dengan penggunakan sumber daya yang terbatas. Pola keterkaitan antara pendidikan danpembangunan berbeda sesuai dengan karakteristik khas setiap negara. Secara ringkas tampak berikut ini. 16. NegaraKapitalis vs Negara Sosialis. Ekonomi di negara kapitalis mengasumsikan bahwa model produksinya bebas dariintervensi pemerintah dan mensyaratkan adanya kompetisi terbuka di dalam pemasaran. Hubungan antara pendidikandan pertumbuhan ekonomi sangat erat dan pendidikan merupakan suatu hal yang diperlukan. Ekonomi di negarasosialis, memiliki konteks yang berbeda dalam mengitepretasikan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan. Pemerintahmemiliki peranan di dalam mengontrol jalannya proses produksi dan pemasaran. Kaitan antara pendidikan denganpertumbuhan ekonomi dan pembangunan seolah tidak terlihat karena pembangunan sangat diatur oleh negara, bukanditentukan oleh masing-masing warga negara. 17. Negara Industri vs Non-Industri. Di Amerika Serikat yang sudahmaju, persentase pekerja yang bekerja di sektor industri sebesar 33 % dan di bidang jasa/service sebesar 66 %. DiMeksiko persentase di sektor yang sama adalah 23 % dan 33 %. Di negara maju, penduduknya memiliki pendapatanperkapita yang lebih tinggi, pemakaian teknologi yang canggih, konsumsi energi yang lebih besar dibandingkan negarakurang berkembang. Di negara maju memiliki akumulasi modal yang lebih besar, sebagai akibat dari kelebihanpendapatan setelah dikurangi kebutuhan konsumsi, sehingga jumlah tabungan semakin lebih besar dan pada akhirnyaakan diinvestasikan lagi pada sistem ekonomi yang telah berjalan. Hubungan antara pendidikan dan pembangunan dinegara maju sangat jelas dilihat dari adanya perubahan karakteristik individu yang berkaitan dengan tingkatpertumbuhan ekonomi. Di negara non-industri, perekonomiannya sangat tergantung kepada sektor pertanian sehinggapersentase tenaga kerjanya lebih banyak yang bekerja di sektor non-industri. Jelas bagaimana pentingnya analisiskontribusi pendidikan dalam pembangunan. Salah satu alasan banyaknya kontroversi tentang kaitan antarapembangunan dan pendidikan disebabkan karena sedikit sekali kebijakan pendidikan yang dimonitor benar-benar dan juga dievaluasi hasilnya. Analisis terhadap pendidikan biasanya bersifat ex-post fakto, artinya data diperoleh darikejadian-kejadian yang telah lampau. Sebenarnya konsep bagaimana pendidikan itu harus dievaluasi harus
EDUCARE: Jurnal Pendidikan dan Budayahttp://educare.e-fkipunla.netGenerated: 12 April, 2010, 08:32

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->