Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
18Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Makalah

Makalah

Ratings: (0)|Views: 2,635|Likes:
Published by enter_me

More info:

Published by: enter_me on Apr 12, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/17/2013

pdf

text

original

 
PEMIKIRAN SUFISTIK SYEKH ABDUL WAHAB ROKAN
1
M. Iqbal Irham M.Ag
2
A. Pendahuluan
Manusia dilahirkan dengan kemampuan untuk mengenal Tuhan. Kemampuanini ada sebagai sebuah potensi yang sama pada seluruh manusia karena adanya “ruh”Tuhan pada dirinya. Potensi inilah yang disebut oleh Islam dengan
 fitrah
.
3
Olehkarena merupakan pembawaan secara intrinsik, maka kecenderungan berketuhananini tidak bisa dielakkan oleh siapapun. 
4
 Kecenderungan kepada Tuhan sebagai Realitas Mutlak dan Absolut ini,diekspresikan oleh sebagian orang dengan melakukan perbuatan dalam bentuk ibadahformal seperti doa, shalat, puasa, haji dan ibadah syariah lainnya. Ekspresi ini lebihdikenal dengan
 fiqh
. Sementara sebagian yang lain melaksanakan lebih dari sekedaibadah formal yakni menghampiri Tuhan sedekat-dekatnya bahkan bersatu dengan- Nya. Ekspresi yang kedua inilah yang kemudian disebut dengan tasawuf (mistisisme /mistyc). Dengan demikian terlihat bahwa objek kajian tasawuf lebih mengarah padakajian yang bersifat batin (esoteris), sedangkan
 fiqh
lebih menekankan pada aspek-aspek luar (eksoteris). Keunikan tasawuf yang bersifat esoteris ini menyebabkan ialebih bersifat universal, luas, lentur dan inklusif.
1
Disampaikan pada Annual Conference, Grand Hotel, Lembang, Bandung, 26-30 Nopember 2006
2
PPs UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
3
Lihat Q.S al-Rum : 30. Juga dipertegas dengan sabda Nabi Muhammad SAW bahwa setiapmanusia dilahirkan dalam keadaan
 fitrah
; orang tuanyalah yang mengarahkan menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi. Lihat, Abi Al-Husain Muslim,
Shahih Muslim,
juz III, (Mesir: Musthafa al-Babyal-Halaby wa Auladih, 1377 H), h. 216
4
Rudolf Otto menyatakan
“… they born with an innate capacity of sensing God and can not help themselves”.
Lihat, Walter Huston Clark,
The Psychology of Religion,
(New York: McMillan,1967), h. 80.
 
Esoterisme tasawuf terlihat nyata karena perbincangan yang muncul didalamnya senantiasa mengarah pada aspek ruhani yakni penyucian jiwa (
tazkiyah
 
an-nafs
) untuk selanjutnya melakukan perjalanan menuju Tuhan. Pengalamankerohanian ini biasanya di ukur dengan rasa (
dzawq
) yang tentu saja sangat bersifat personal karena setiap individu merasakan pengalaman yang dipastikan tidak akan pernah sama dengan yang lain. Pengalaman ini juga meniscayakan keragaman yangtak mungkin disatukan sebab hal ini terkait erat dengan kondisi kejiwaan seseorang,tingkat pemahaman, keyakinan, penghayatan dan perolehannya dari pemberian(
mauhibah,
 jamaknya
mawahib
) Tuhan yang dituju.
Mauhibah
Tuhan kepada seseorang yang meniti jalan tasawuf biasanyadipahami dengan penyingkapan atau terbukanya tirai-tirai alam ghaib (
kasyf al-hijab
)yang sangat banyak jumlahnya.
5
Penyingkapan ini akan mencapai titik puncaknyasuatu saat, dimana seseorang akan merasakan
tajalli
-nya Tuhan Yang Maha Indahdan Sempurna. 
6
Pengalaman dalam merasakan
tajalli
-nya Tuhan ini, merupakan sesuatu yangsulit diungkapkan oleh bahasa biasa (sehari-hari). Alih-alih menyampaikan perasaanini kepada orang lain, seorang sufi terkadang lebih memilih menutup mulutnya rapat-rapat, berdiam diri dan merahasiakannya dari orang lain. Hal ini biasanya dilakukanuntuk terus menjaga kesucian diri, menangkal munculnya sifat-sifat kedirian (
nafs
)dalam bentuk ‘
ujub
,
riya
,
 sum’ah
dan
takabbur 
. Di samping itu, “gerakan tutup
5
Satu pendapat mengatakan bahwa
hijab
(tirai-tirai pembatas alam ghaib) itu berjumlah tujuh puluh ribu.
6
Penyingkapan yang terjadi pada Muhammad SAW. yang menjadi panutan dan teladansemua orang yang ingin mendekat kepada-Nya, telah diabadikan oleh Allah SWT
“hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya…Dan sesungguhnya Myhammad telah melihat-Nya padawaktu yang lain, (yaitu) di Sidrah al-Muntaha”.
(QS. An-Najm : 11,13-14).
 
mulut” ini juga disebabkan karena adanya kekhawatiran jika apa yang merekarasakan akan disalahpahami serta disalahmaknakan oleh orang lain. Namun demikian, pengungkapan dari penyingkapan
tajalli
Tuhan tersebutternyata juga merupakan sesuatu yang diperlukan terlebih untuk pendidikan dan pembelajaran bagi yang lain. Hanya saja, umumnya pengungkapan ini menggunakanmedia tersendiri seperti seni, baik seni tari maupun bahasa sastra, dalammenyampaikan pengalaman yang tak terkatakan itu.
7
Dalam sejarah, ternyata banyak sufi yang menyampaikan pengalamankerohanian dan pengajaran (lebih tepatnya pemikiran sufistik) mereka kepada oranglain dalam bahasa sastra yakni puisi, syair dan sejenisnya. Penyampaian denganmetode ini tampaknya karena ada jembatan penghubung antara tasawuf itu sendiridengan seni yakni rasa (
dzawq
).Rabi’ah al-Adawiyah misalnya, dikenal dengan syai
mahabbah
-nya yangcukup masyhur. Ada juga Shana’i al-Ghaznawi, seorang pujangga sufi Persia pertamayang sangat produktif dalam memaparkan doktrin-doktrin tasawufnya melalui mediasyair 
8
sejak paruh pertama abad ke-6 H. Enam puluh tahun setelah Shana’i, adaFariduddin al-‘Aththar (w.626 H), penyair yang juga sangat produktif. Karya-karyanya berbentuk prosa dan puisi. Ia menulis risalah
Tadzkirah al-Auliya’,
yang berisi riwayat hidup dan karaktek para sufi. Kitabnya
Mantiq
 
at 
-
Thayr 
 jugamerupakan maha karya dalam bidang tasawuf. Ibn Faridh al-Mishri (w.632 H)merupakan sufi yang sajak-sajak tasawufnya sangat menakjubkan. Ia terkenal dengan
 Diwan
(himpunan sajak puitis)nya. Seorang penyair sufi Iran yang juga terkemuka
7
Bandingkan dengan Idrus Abdullah Al-Kaf,
 Bisikan-Bisikan Ilahi : Pemikiran Sufistik Imamal-Haddad dalam Diwan ad-Durr al-Manzhum
(Bandung : Pustaka Hidayah, 2003), h. 9. 
8
A.J. berry,
 Pasang Surut Aliran Tasawuf,
diterjemahkan oleh Bambang herawan, (Bandung:Mizan, 1993), h. 139-143.

Activity (18)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Bayu Utomo liked this
harbood liked this
Shapu Thaji liked this
ikhsanu liked this
Musafir Mh liked this
Anzya Andy Syah liked this
andri5 liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->