ilusi. Dalam penelitian sosial tidak ada apayang disebut “obyektivitas”. “
Knowledge isa’socially contitued’, historically embeded, and valuationally
. Namun ini tidak berarti bahwahasil penelitian bersifat subyektif semata-mata, oleh sebab penelitian harus selalu dapatdipertanggungjawabkan secara empirik, sehingga dapat dipercaya dan diandalkan. Macam-macam cara yang dapat dilakukan untuk mencapai tingkat kepercayaan hasil penelitianJelasnya, apabila kita mengacu kepada pemikiran Thomas Kuhn dalam bukunya
The Structureof Scientific Revolutions
(1962) bahwa perkembangan filsafat ilmu, terutama sejak tahun 1960hingga sekarang ini sedang dan telah mengalami pergeseran dari paradigma positivisme-empirik,–yang dianggap telah mengalami titik jenuh dan banyak mengandung kelemahan–,menuju paradigma baru ke arah post-positivisme yang lebih etik.Terjadinya perubahan paradigma ini dijelaskan oleh John M.W. Venhaar (1999:) bahwa perubahan kultural yang sedang terwujud akhir-akhir ini, –perubahan yang sering disebut
purna-modern
, meliputi persoalan-persoalan : (1) antihumanisme, (2) dekonstruksi dan (3)fragmentasi identitas. Ketiga unsur ini memuat tentang berbagai problem yang berhubungandengan fungsi sosial cendekiawan dan pentingnya paradigma kultural,– terutama dalam karyaintelektual untuk memahami identitas manusia.
Daftar Pustaka
Achmad Sanusi,.(1998),
Filsafah Ilmu, Teori Keilmuan, dan Metode Penelitian : Memungut dan Meramu Mutiara-Mutiara yang Tercecer,
Makalah, Bandung PS-IKIPBandung.Achmad Sanusi, (1999),
Titik Balik Paradigma Wacana Ilmu : Implikasinya Bagi Pendidikan,
Makalah, Jakarta : MajelisPendidikan Tinggi Muhammadiyah.Agraha Suhandi, Drs., SHm.,(1992),
Filsafat Sebagai Seni untuk Bertanya
, (Diktat Kuliah),Bandung : Fakultas Sastra Unpad Bandung.Filsafat_ Ilmu, http://members.tripod.com/aljawad/artikel/filsafat_ilmu.htm.Ismaun, (2001),
Filsafat Ilmu,
(Diktat Kuliah), Bandung : UPI Bandung.Jujun S. Suriasumantri, (1982),
Filsafah Ilmu : Sebuah Pengantar Populer
, Jakarta : Sinar Harapan.