Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
19Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
konvensional vs ekonomi islam

konvensional vs ekonomi islam

Ratings: (0)|Views: 1,046 |Likes:
Published by hendrieanto
dont copy
dont copy

More info:

Categories:Types, Resumes & CVs
Published by: hendrieanto on Apr 13, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/03/2013

pdf

text

original

 
BAB
 
17
REKAYASA PASAR MENUJU PERBAIKANDISTRIBUSI SUMBER DAYA EKONOMI
PENDAHULUAN
Beberapa alternatif pemikiran telah diajukan dalam rangka menciptakan kondisi pasar yangIslami serta mewujudkan misi-misi ekonomi Islam dalam pembangunan. Salah satu misi utamaajaran Islam yang tidak dapat dengan baik dilaksanakan dalam sistem pasar bebas adalah keadilandistribusi sumber daya ekonomi. Secara teoritis maupun praktikal mekanisme pasar bebas akanmengabaikan masalah distribusi ini. Pasar akan bekerja dengan mekanisme harga sehingga hanyamemberikan tempat bagi masyarakat yang memiliki daya beli. Oleh karenanya, untuk memperbaikidampak pasar terhadap distribusi maka harus ada upaya rekayasa melalui pasar (maupun non pasar)untuk mengatasi masalah ini.Beberapa ekonom muslim telah mengusulkan suatu bentuk rekayasa terhadap pasar, misalnya pendekatan
effective need based demand 
dan
 potential capacity based supply.
Dengan rekayasa inimaka pasar akan menyediakan
effective need 
saja, bukan seluruh barang dan jasa yang sematadiinginkan oleh konsumen. Dalam sistem pasar bebas masyarakat miskin akan terpinggirkan karenatidak memiliki daya beli yang memadai. Karena Islam memiliki perhatian yang besar terhadapkelompok fakir miskin maka pemerintah dapat menerbitkan kupon bagi mereka sehingga dapatmemasuki pasar.Alternatif lain untuk mencapai misi-misi ekonomi Islami adalah dengan kebijakan
 Zero to‘N’ Pricing,
yaitu kebijakan diskriminasi harga untuk barang-barang publik dan lainnya yangdipandang penting. Misalnya, kebijakan ini diterapkan untuk barang-barang kebutuhan dasar atauyang amat dibutuhkan oleh kelompok miskin. Bab ini memaparkan berbagai bentuk rekayasa danalternatif-alternatif pengelolaan pasar agar sesuai dengan tujuan sistem ekonomi yang Islami,terutama masalah distribusi kekayaan. Sebelum membahas berbagai bentuk rekayasa pasar ini maka pada bagian awal dibahas konsep Pareto Optimum yang menjadi pedoman efisiensi alokasi dalamekonomi konvensional. Konsep ini ternyata menimbulkan permasalahan serius antara efisiensidengan keadilan dalam distribusi sumber daya ekonomi.
 
 Pengantar Ekonomika Mikro Islami - MBHA
330
 
EFISIENSI VS KEADILAN DALAM PASAR 
Pasar yang bersaing secara sempurna (
 perfect competition market 
) merupakan wahana paling baik bagi transaksi barang dan jasa dalam menghasilkan harga yang adil. Selain itu, mekanisme pasar juga dapat mengatur alokasi sumber daya ekonomi dengan cara yang paling efisien. Suatu perekonomian dikatakan efisien kalau pengaturannya sedemikian rupa sehingga konsumenmendapatkan kemungkinan kombinasi barang dan jasa yang terbanyak berdasarkan sumber dayayang dimiliki (Samuelson, 1985). Efisiensi seperti ini sering disebut dengan efisiensi alokatif (
allocative efficiency
) atau Pareto Optimum. Kriteria efisiensi alokatif ini tepatnya dirumuskansebagai berikut:Efisiensi alokatif terjadi bila tidak mungkin lagi dilakukan reorganisasi produksi sedemikianrupa sehingga masing-masing pelaku pasar merasa lebih sejahtera (
better off 
). Dalamkeadaan seperti ini kesejahteraan masyarakat telah optimal, di mana kesejahteraan seseoranghanya bisa ditingkatkan dengan konsekuensi menurunkan kesejahteraan orang lain.Bagaimana pasar bisa menghasilkan efisiensi alokatif ?Terdapat beberapa cara untuk menjelaskan hal ini, antara lain:
Secara ringkas efisiensi ini tercapai karena pasar merupakan sarana untuk mensintesiskan: (a)kesediaan orang yang memiliki uang untuk membayar harga (
 Price
/P) barang dan jasa yangdiinginkannya (
willingness to pay
), (b)
 
 biaya marjinal (
Marginal Cost 
/ MC) untumemproduksi barang dan jasa tersebut. Karena tingkat harga bagi konsumen menunjukkantambahan tingkat utilitas dalam mengkonsumsi barang tersebut (
Marginal Utility
) atau P = MU,maka pasar akan menghasilkan keseimbangan MU = MC. Dengan kata lain utilitas marjinalyang diperoleh untuk mengkonsumsi barang sama dengan biaya marjinal untuk memproduksi barang tersebut Inilah yang menjamin bahwa transaksi dalam pasar adalah paling efisien.
Persaingan pasar memungkinkan tercapainya harga yang memberikan surplus konsumen dansurplus produsen yang paling optimal. Surplus konsumen menunjukkan keuntungan lebih yangditerima oleh konsumen karena ia memperoleh utilitas yang lebih besar dibandingkan denganharga yang harus dibayarkannya, sedangkan surplus produsen menunjukkan keuntungan lebihyang diterima produsen karena ia mendapatkan harga lebih tinggi daripada pengorbanan yangdikeluarkannya untuk menghasilkan barang dan jasa. Fenomena ini dapat digambarkan sebagai berikut:
Gambar 17. 1 
 Pengantar Ekonomika Mikro Islami - MBHA
331
 
 
P P*Q 
angan pasar akan terjadi ketika permin
 
taan bertemu dengan penawaran secara bebas (‘
antaraddim minkum
encapai titik keseimbangan ini terganggu maka pemerintah harus melaku?kan intervensi
Pasar dan Surplus Tetapi, konsepsi pareto optimum sebagai kriteria efisiensi alokatif sebenarnya tidak bisamenyelesaikan masalah besar yang lebih mendasar dalam perekonomian, yaitu keadilan alokatif (
alocative justice
). Keadilan alokatif menunjukkan bagaimana barang dan jasa didistribusikankepada segenap lapisan masyarakat yang membutuhkan, sehingga seluruh masyarakat akanmerasakan kesejahteraan. Jika hanya sebagian saja dari masyarakat yang dapat menikmati barangdan jasa - sementara sebagian lainnya tidak bisa – maka hal ini jelas menimbulkan ketimpangan,dan pada akhirnya akan mengusik rasa keadilan dalam masyarakat. Masalah keadilan alokatif inimuncul karena secara filosofis dan teoritik konsep Pareto Optimum sebagai kriteria efisiensialokatif memang telah menyimpan kelemahan dalam menciptakan keadilan alokatif.Kelemahan ini antara lain:
Konsep ini hanya bertumpu kepada titik keseimbangan pasar saja yang mekanismekerjanya hanya didasarkan pada kriteria biaya pada sisi produsen (yaitu P=MC) danutilitas pada sisi konsumen (P=MU). Konsep ini tidak memperhatikan perbedaantingkat daya beli masyarakat atau mengasumsikannya memiliki tingkat yang sama.Hanya orang yang memiliki daya beli sajalah yang dapat menikmati utilitas barang,sebab ia dapat membayar harga pasar. Asumsi ini jelas tidak realistis, sebabkenyataannya daya beli masyarakat memang berbeda-beda, ada yang kaya dan adayang miskin. Dengan demikian pada dasarnya efisiensi alokatif hanya menunjukkantingkat efisiensi pada masyarakat yang memiliki daya beli saja. Kriteria inimengabaikan masalah distrbusi pendapatan dalam masyarakat
Selain itu, juga terdapat asumsi-asumsi lain sebagai prasyarat berlakunya ParetoOptimum dalam pasar – yang juga tidak realistis sehingga kriteria ini sesungguhnya
 Bab 17 Rekayasa Pasar Menuju Perbaikan Distribusi Sumber Daya Ekonomi
332

Activity (19)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Imam Syairozi liked this
sblackto12 liked this
Sham Mihah liked this
Nur Indah Sari liked this
Cak Tefur Rc liked this
YaNn Saidin liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->