Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
29Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
JURNAL AKUNTANSI PEMERINTAH

JURNAL AKUNTANSI PEMERINTAH

Ratings: (0)|Views: 2,355 |Likes:
Published by Beni Kristanto

More info:

Published by: Beni Kristanto on Apr 15, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/02/2013

pdf

text

original

 
JURNAL AKUNTANSI PEMERINTAH
 
Hubungan dan Masalah Keagenan di Pemerintahan Daerah:
(Sebuah Peluang Penelitian Anggaran dan Akuntansi)
 Abdul Halim
*)
Syukriy Abdullah
**)
 Abstraksi 
Diakui atau tidak di Pemerintahan Daerah terdapat hubungan dan masalahkeagenan, khususnya hubungan eksekutif dan legislatif yang pada gilirannyadengan teori keagenan. Teori keagenan merupakan salah satu dasar dalamilmu anggaran dan akuntansi. Analisis hubungan dan masalah keagenan di Pemerintahan Daerah tidak pelak lagi merupakan sebuah peluang penelitianmasalah anggaran dan akuntansi. Ide-ide penelitian di bidang ini dapat mencakup dari keakurasian anggaran hingga pada analisis angka-angkalaporan keuangan Pemerintah Daerah.
Kata Kunci
:
Keagenan, Eksekutif, Legislatif, Anggaran Daerah
Pendahuluan
Sejak otonomi daerah berlaku di Indonesia berdasarkan UU Nomer 22/1999 tentangPemerintahan Daerah pada tahun 2001, peluang penelitian dengan menggunakanperspektif keagenan (
agency theory 
) terbuka lebar. UU tersebut memisahkan dengantegas antara fungsi pemerintah daerah (eksekutif) dengan fungsi perwakilan rakyat(legislatif). Berdasarkan pembedaan fungsi tersebut, eksekutif melakukan perencanaan,pelaksanaan, dan pelaporan atas anggaran daerah, yang merupakan manifestasi daripelayanan kepada publik, sedangkan legislatif berperan aktif dalam melaksanakanlegislasi, penganggaran, dan pengawasan.Berdasarkan UU 22/1999 legislatif memiliki kewenangan untuk memilih,mengangkat, dan memberhentikan kepala daerah. Hal ini bermakna adanya posisi yangtidak setara antara eksekutif dan legislatif, di mana legislatif memiliki kekuasaan yanglebih tinggi. Artinya, legislatif mendelegasikan suatu kewenangan kepada kepaladaerah yang dipilihnya dengan konsekuensi diberhentikan apabila kepala daerah tidak
 
dapat melaksanakan kewenangan tersebut seperti yang diinginkan oleh legislatif.Dengan demikian, kemitraan yang dimaksud dalam UU tersebut bukanlah kemitraanyang sepenuhnya sejajar. Dalam literatur ilmiah, baik dalam disiplin ekonomi (termasukakuntansi), politik, maupun keuangan, hubungan seperti ini disebut hubungankeagenan. Dalam hubungan keagenan, terdapat dua pihak yang melakukankesepakatan atau kontrak, yakni yang memberikan kewenangan atau kekuasaan(disebut prinsipal) dan yang menerima kewenangan (disebut agen). Dalam suatuorganisasi hubungan ini berbentuk vertikal, yakni antara pihak atasan (sebagaiprinsipal) dan pihak bawahan (sebagai agen). Teori tentang hubungan kedua pihaktersebut populer dikenal sebagai teori keagenan.Hubungan eksekutif-legislatif seperti disebutkan di atas menjadi lebih menarik untukditeliti dengan diamandemennya UU 22/1999 menjadi UU Nomer 32 tahun 2004tentang Pemerintahan Daerah. Pada UU terbaru tersebut terjadi perubahan posisi“luasnya kekuasaan” atau kesejajaran antara legislatif sebagai prinsipal terhadapeksekutif sebagai agen.Tulisan ini menganalisis pengaplikasian teori keagenan, yang menjadi
mainstream
dalam ilmu ekonomi (termasuk ilmu akuntansi) dan ilmu politik, di pemerintahan daerahdalam konteks otonomi daerah di Indonesia. Pada bagian akhir diberikan rekomendasiuntuk penelitian empiris dan regulasi untuk mengurangi kecenderungan perilaku
moral hazard 
agen, baik eksekutif maupun legislatif. 
Pengertian Teori Keagenan
Teori yang menjelaskan hubungan prinsipal dan agen ini salah satunya berakar pada teori ekonomi, teori keputusan, sosiologi, dan teori organisasi. Teori prinsipal-agen menganalisis susunan kontraktual di antara dua atau lebih individu, kelompok,atau organisasi. Salah satu pihak (
 principal 
) membuat suatu kontrak, baik secaraimplisit maupun eksplisit, dengan pihak lain (
agent 
) dengan harapan bahwa agen akanbertindak/melakukan pekerjaan seperti yang dinginkan oleh prinsipal (dalam hal initerjadi pendelegasian wewenang). Lupia & McCubbins (2000) menyatakanpendelegasian terjadi ketika seseorang atau satu kelompok orang (prinsipal) memilihorang atau kelompok lain (
agent 
) untuk bertindak sesuai dengan kepentingan prinsipal.Menurut Ross (1973) contoh-contoh hubungan prinsipal-agen sangat universal.Hubungan prinsipal-agen terjadi apabila tindakan yang dilakukan seseorangmemiliki dampak pada orang lain
 
atau ketika seseorang sangat tergantung padatindakan orang lain
 
(Stiglitz, 1987 dan Pratt & Zeckhauser, 1985 dalam Gilardi, 2001).Pengaruh atau ketergantungan ini diwujudkan dalam kesepakatan-kesepakatan dalamstruktur institusional pada berbagai tingkatan, seperti norma perilaku dan konsepkontrak.Menurut Lane (2003a) teori keagenan dapat diterapkan dalam organisasi publik. Iamenyatakan bahwa negara demokrasi modern didasarkan pada serangkaian hubunganprinsipal-agen
 
(Lane, 2000:12-13). Hal senada dikemukakan oleh Moe (1984) yangmenjelaskan konsep ekonomika organisasi sektor publik dengan menggunakan teorikeagenan. Bergman & Lane (1990) menyatakan bahwa rerangka hubungan prinsipalagen merupakan suatu pendekatan yang sangat penting untuk menganalisis komitmen-
 
komitmen kebijakan publik. Pembuatan dan penerapan kebijakan publik berkaitandengan masalah-masalah kontraktual, yakni informasi yang tidak simetris (
asymmetric information
),
moral hazard,
dan
adverse selection.
Petrie (2002) mendefinisikan
moral hazard 
dan
adverse selection
sebagai berikut:
Moral hazard refers to the tendency of an agent, after the contract isentered into, to shirk or otherwise not fully seek to promote the principal’s interests. Adverse selection refers to the inability of a principal to determine, before the contract is entered into, whichamong several possible agents is most likely to promote the principal’s interests; and, given this imperfect information, thetendency for candidates with less than average motivation or qualifications to apply.
Selanjutnya Gilardi (2001) menyatakan, bahwa:
 Adverse selection (or ex-ante opportunism, or hidden information)occurs whenever the principal cannot be sure that he is selecting the agent that has the most appropriate skills or preferences and moral hazard (or ex-post opportunism, or hidden action) occurswhenever the agent’s actions cannot be perfectly monitored by the principal.
Sementara itu menurut Lane (2003b):
 Adverse selection meaning opportunism before the making of thecontract between principal and agent, moral hazard meaning opportunism after the making of the contract between principal and agent 
 Menurut Carr & Brower (2000), model keagenan yang sederhana mengasumsikandua pilihan dalam kontrak: (1)
behavior-based 
, yakni prinsipal harus memonitor perilakuagen dan (2)
outcome-based,
yakni adanya insentif untuk memotivasi agen untukmencapai kepentingan prinsipal. Para teoretisi berpegang pada proposisi bahwa
agentsbehave opportunistically toward principals.
Oportunisme bermakna bahwa ketika terjalinkerjasama antara prinsipal dan agen, kerugian prinsipal karena agen mengutamakankepentingannya (
agent self-interest 
) kemungkinan besar akan terjadi.Menurut Andvig et al. (2001)
 principal-agent model 
merupakan rerangka analitikyang sangat berguna dalam menjelaskan masalah insentif dalam institusi publik dengandua kemungkinan kondisi, yakni (1) terdapat beberapa prinsipal dengan masing-masingtujuan dan kepentingan yang tidak koheren dan (2) prinsipal juga bisa bertindak tidaksesuai dengan kepentingan masyarakat, tetapi mengutamakan kepentingannya yangsifatnya lebih sempit.
 
Lebih jauh, Christensen (1992) menyatakan teori prinsipal-agendapat menjadi alat analitis untuk penyusunan dan pengimplementasian anggaranpublik.Sejalan dengan pendapat Christensen (1992), Smith & Bertozzi (1998)berpandangan bahwa

Activity (29)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Sarnie Sianturi liked this
Irma Zunita liked this
Panika Friantama liked this
syamsrizk liked this
Diana Herdianti liked this
Putri Selvia liked this
Adianto Nugroho liked this
dhanipink liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->