Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
19Activity
P. 1
Hubungan Antara Pengaturan Diri Dalam Belajar, Self Efficacy, Lingkungan Belajar Di Rumah, Dan Intelegensi Dengan Prestasi Belajar

Hubungan Antara Pengaturan Diri Dalam Belajar, Self Efficacy, Lingkungan Belajar Di Rumah, Dan Intelegensi Dengan Prestasi Belajar

Ratings: (0)|Views: 3,731 |Likes:
Published by JAMRIDAFRIZAL
BAYAR RP.10.000/DOWNLOAD/HP.081319533469/Penjelasan tentang pengaturan diri dalam belajar yang menjadi salah satu variabel dalam penelitan ini didasarkan pada teori ‘social cognitive’ dari Bandura. Maka sebelum masalah pengaturan diri dalam belajar dibahas, telebih dulu akan diuraikan sepintas mengenai teori ‘social cognitif’.
Pendekatan teoritik teori ‘social cognitif’ adalah ‘social learning’. Dalam pandangan faham ‘social learning’, individu tidak hanya dikemudikan oleh kekuatan dari dalam, demikian pula tidak cecara otomatis dikontrol oleh stimuli dari lingkungan. Fungsi psikologis dijelaskan sebagai interaksi timbal balik yang terus menerus terjadi antara faktor-faktor penentu pribadi dan lingkungan (Bandura, 1997:11)
Menurut Bandura (1986) Teori-teori psikologi secara tradisional menekankan belajar melalui hasil kegiatan orang lain. Dalam teori social learning, hal yang amat penting adalah kemampuan individu untuk mengambil sari informasi dari perilaku orang lain, memutuskan perilaku mana yang akan diambil, kemudian melakukan perilaku tersebut. Teknologi baru telah mengubah sifat lingkup pengaruh dan cara hidup manusia dalam kehidupan. Teori ‘social cognitive’ mencoba menganalisis fungsi manusia dari sudut pandang sosial dalam hal motivasi, pemikiran dan perilaku manusia. Seperti halnya pada teori ‘social learning’, teori ‘social cognitive’ juga beranggapan bahwa peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam lingkungan, faktor-faktor pribadi dan perilaku merupakan determinan yang berinteraksi satu sama lain. Hubungan timbal balik ini memberi kesempatan bagi individu untuk melakukan sejumlah kontrol diri sebagai suatu batasan penentuan pengarah diri.
Adapun penggunaan istilah ‘social cognitive’ menurut Bandura (1986) adalah karena lingkup dari pendekatan ini lebih luas daripada yang digambarkan oleh label ‘social learning’. Selain itu menurutnya, banyak teori-teori yang berbeda rumusannya seperti teori ‘Drive’ dari Dollard dan Millers (1950), teori ‘expectancy’ dari Rotter (1954), teori ‘conditioning’ dari Patterson (1982) semuanya menggunakan label ‘social learning’. Untuk hal inilah Bandura menyatakan bahwa label yang lebih tepat dan terpisah dari pendekatan teoritiknya adalah teori ‘social cognitive’ dan penggunaan lebel ini tdak mendapat tuntutan dari asal usul teoritiknya.
BAYAR RP.10.000/DOWNLOAD/HP.081319533469/Penjelasan tentang pengaturan diri dalam belajar yang menjadi salah satu variabel dalam penelitan ini didasarkan pada teori ‘social cognitive’ dari Bandura. Maka sebelum masalah pengaturan diri dalam belajar dibahas, telebih dulu akan diuraikan sepintas mengenai teori ‘social cognitif’.
Pendekatan teoritik teori ‘social cognitif’ adalah ‘social learning’. Dalam pandangan faham ‘social learning’, individu tidak hanya dikemudikan oleh kekuatan dari dalam, demikian pula tidak cecara otomatis dikontrol oleh stimuli dari lingkungan. Fungsi psikologis dijelaskan sebagai interaksi timbal balik yang terus menerus terjadi antara faktor-faktor penentu pribadi dan lingkungan (Bandura, 1997:11)
Menurut Bandura (1986) Teori-teori psikologi secara tradisional menekankan belajar melalui hasil kegiatan orang lain. Dalam teori social learning, hal yang amat penting adalah kemampuan individu untuk mengambil sari informasi dari perilaku orang lain, memutuskan perilaku mana yang akan diambil, kemudian melakukan perilaku tersebut. Teknologi baru telah mengubah sifat lingkup pengaruh dan cara hidup manusia dalam kehidupan. Teori ‘social cognitive’ mencoba menganalisis fungsi manusia dari sudut pandang sosial dalam hal motivasi, pemikiran dan perilaku manusia. Seperti halnya pada teori ‘social learning’, teori ‘social cognitive’ juga beranggapan bahwa peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam lingkungan, faktor-faktor pribadi dan perilaku merupakan determinan yang berinteraksi satu sama lain. Hubungan timbal balik ini memberi kesempatan bagi individu untuk melakukan sejumlah kontrol diri sebagai suatu batasan penentuan pengarah diri.
Adapun penggunaan istilah ‘social cognitive’ menurut Bandura (1986) adalah karena lingkup dari pendekatan ini lebih luas daripada yang digambarkan oleh label ‘social learning’. Selain itu menurutnya, banyak teori-teori yang berbeda rumusannya seperti teori ‘Drive’ dari Dollard dan Millers (1950), teori ‘expectancy’ dari Rotter (1954), teori ‘conditioning’ dari Patterson (1982) semuanya menggunakan label ‘social learning’. Untuk hal inilah Bandura menyatakan bahwa label yang lebih tepat dan terpisah dari pendekatan teoritiknya adalah teori ‘social cognitive’ dan penggunaan lebel ini tdak mendapat tuntutan dari asal usul teoritiknya.

More info:

Published by: JAMRIDAFRIZAL on Apr 15, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC or read online from Scribd
See more
See less

07/01/2013

You're Reading a Free Preview
Pages 4 to 33 are not shown in this preview.

Activity (19)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Ade Irma Arifin liked this
PalBummer liked this
Ade Irma Arifin liked this
Adinda Nchae added this note
ada g ya terjemahan teori self regulasi dr zimmerman??
sulisawatin liked this
Firma Desra liked this
Azza Syak liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->