Arsitektur Tradisional Batak Toba
wanita dan lumbung. Langgam arsitekturnya bercirikan peralihan bentuk atap rumahBatak dan rumah Minangkabau, Dewasa ini yang masih banyak ditemui adalah wujudarsitektur tradisional dan Batak Toba dan Batak Karo.
Gambar 2
Sketsa desa adatLumban Nabolon Parbagasan
Sumber: Soeroto (2003: 102)
Gambar di samping menunjukkan polaperkampungan adat Batak Toba yangmenyerupai benteng dengan duagerbang
Perkampungan suku Batak Toba mengikuti pola berbanjar dua, yaitu suatu tataruang lingkungan dengan komunitas yang utuh dan mantap. Desanya disebut lumban/ huta yang dilengkapi 2 pintu gerbang (bahal) di sisi utara dan selatan huta. Sekelilingkampong dipagar batu setinggi 2.00 m, yang disebut parik. Di setiap sudut dibuat menarauntuk mengintai musuh. Menurut sejarahnya, antar sesama suku Batak sering sekaliberperang. Itu sebabnya bentuk kampungnya menyerupai benteng, Huta masih dapatdisaksikan di Kabupaten Tapanuli Utara di desa-desa Tomok, Ambarita, Silaen, danLumban Nabolon Parbagasan. Desa-desa tersebut merupakan daya tarik wisata budayayang banyak dikunjungi wisatawan.
Makna dan Simbolisme
Pola penataan desa atau lumban/ huta terdiri dari beberapa ruma dan sopo.Perletakan ruma dan sopo tersebut saling berhadapan dan mengacu pada poros utaraselatan. Sopo merupakan lumbung, sebagi tempat penyimpanan makanan. Dalam hal ini,menunjukkan bahwa masyarakat Batak selalu menghargai kehidupan, karena padimerupakan sumber kehidupan bagi mereka.
Penafsiran
Pola penataan lumban yang terlindungi dengan pagar yang kokoh, dengan duagerbang yang mengarah utara-selatan, menunjukkan bahwa masyarakat Batak, memilikipersaingan dalam kehidupan kesehariannya. Jika kita mengamati peta perkampungan
ARSITEKTUR NUSANTARA
2