padahal tawadhu’ merupakan pangkal akhlak orang beriman yang bertakwa. Ia tidak dapatterus-menerus menjaga kejujuran, tidak dapat meninggalkan rasa dendam, marah, dan dengki;tidak dapat memberi nasehat orang lain; selalu menghina orang dan menggunjingnya.Sikap sombong inilah yang merupakan dosa pertama iblis yang dipergunakan untuk durhaka kepada Allah. Akibatnya ia diusir dari jannah, kemudian timbul dendam kepada Adama.s.Seburuk-buruk kesombongan adalah kesombongan yang dapat menghalangi pelakunyauntuk mendapatkan manfaat ilmu dan mengahalangi pelakunya untuk menerima kebenaran dariorang lain dan tunduk kepada kebenaran Oleh karena itu Rasulullah saw menjelaskankesombongan dengan dua macam bahaya ini ketika beliau ditanya oleh Tsabit bin Qais. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, saya adalah orang yang suka keindahansebagaimana Engkau lihat.Apakah itu trmasuk sombong?” Nabi amenjawab, “Tidak. Akan tetapi kesombongsan adalahmenolak kebenaran dan meremehkan manusia” (HR Muslim).Jadi setiap yang memandang dirinya lebih baik daripada orang lain dan menghinanyaserta memandangnya dengan sinis, atau menolak kebenaran padahal ia mengetahuinya, maka iatelah sombong dan merebut hak-hak Allah.
Faktor-Faktor Penyebab Kesombongan
Ada beberapa sebab yang dapat menimbulkan kesombongan, Ada yang bersifatkeagamaan seperti ilmu dan amal, dan ada yang bersifat keduniaan seperti nasab, ketampanan,kekayaan, dan banyaknya pendukung.
1.Ilmu Pengetahuan
Ilmu pengetahuan dapat dengan cepat menjangkiti orang menjadi sombong. Seseorangmerasa dalam dirinya terdapat kesempurnaan ilmu, lalu merasa dirinya hebat, menganggaporang lain bodoh. Kesombongan karena ilmu disebabkan dua hal:
pertama, karena menekuni sesuatu yang disebut ilmu, padahal sebenarnya bukan
. Sebab ilmu yang hakiki dapat untuk mengenal Tuhannya, dan dapat mengenalkan berbagai hal ketika berurusan dengan Allah. Ilmuyang benar dapat menimbulkan rasa takut dan tawadhu’, bukan sebaliknya. Seperti dalamfirman Allah,
“Sesungguhnya yang takut pada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalahulama’”
(QS Fathir/35: 28)
Kedua, menggeluti ilmu dengan batin yang kotor, jiwa yang rendah dan akhlak yang buruk
. Seseorang tidak lebih dahulu melakukan
tazkiatun nafs
, menekuni pensucian jiwa dan pembersihan hatinya dengan berbagai macam mujahadah, dan tidak menempa jiwanya denganibadah. Akibatnya, ilmu yang ditekuninya tidak membawa bekas kebaikan.Cara mengatasinya. Kesombongan karena ilmu dapat di
ilaj
dengan mengetahui bahwakeutamaan ilmu itu hanyalah dengan disertai niat yang baik dan mengamalkannya sertamenyebarluaskannya karena Allah tanpa menmgharapkan manfaat dari manusia. Jika tidak demikian akan menyebabkan seorang yang berilmu lebih rendah martabatnya daripada orangyang bodoh.Dari Usamah bin Zaid r.a., ia berkata, “Saya mendengar Rasulullah saw bersabda, ‘Akanada orang yang dibawa pada hari kiamat lalu dilemparkan ke dalam neraka sehingga isi perutnya keluar, lalu ia berputar-putar seperti keledai berputar-putar dalam penggilingan.Kemudia para ahli neraka mengelilinginya dan berkata, ‘Hai Fulan, mengapa kamu (demikian), bukankah kamu (dahulu) memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar?’ Iamenjawab, ‘Ya, saya dahulu saya memerintahkan yang ma’ruf, namun saya tidak mengerjakannya, dan saya mencegah yang mungkar, namun saya mengerjakannya’” (HR Muslim).
2.Amal dan Ibadah
Ahli ibadah kadang-kadang menyombongkan diri atas orang-orang lain, terhadap orangyang tidak melakukan amal ibadah seperti yang dilakukannya. Sikap seperti ini adalah sebuahkebodohan.Cara mengatasinya adalah dengan memahami bahwa keutamaan ibadah itu jika diterimaoleh Allah. Dan diterimanya ibadah itu jika telah memenuhi syarat-syarat dan rukunnya, sertamenjauhi apa saja yang dapat merusaknya.Tentunya juga tetap disertai dengan niat ikhlas,