Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
6Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
dongeng dan kekuasaan atas perempuan

dongeng dan kekuasaan atas perempuan

Ratings:

5.0

(1)
|Views: 1,277 |Likes:
Published by Achmad Hidayat
Jika anda mengenal dongeng-dongeng: Snow White, Sleeping Beauty, Cinderella, maka anda akan menemukan simbolisasi perempuan yang tergantung pada laki-laki untuk menemukan kebahagiaannya. Snow White mati setelah memakan apel beracun dan dia bisa hidup kembali
Jika anda mengenal dongeng-dongeng: Snow White, Sleeping Beauty, Cinderella, maka anda akan menemukan simbolisasi perempuan yang tergantung pada laki-laki untuk menemukan kebahagiaannya. Snow White mati setelah memakan apel beracun dan dia bisa hidup kembali

More info:

Published by: Achmad Hidayat on May 19, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/29/2012

pdf

text

original

 
DONGENG DAN KEKUASAAN ATAS PEREMPUAN
Oleh:Audifax 
 Dongeng akrab dengan kehidupan kita. Ketika kanak-kanak, kita kerapmengonsumsi berbagai dongeng. Anggapan sebagai cerita isapan jempol,membuat orang tidak menyadari kekuatan ( baca:
 power 
, kekuasaan) yang adadalam dongeng. Terlepas dari ketidaknyataannya, dongeng sebenarnyamenanamkan banyak hal, mulai dari benar-salah, pantas-tidak pantas, baik-buruk dan sebagainya. Nilai yang ditanamkan melalui dongeng saat kita masihkanak-kanak, sangat mungkin terbawa hingga dewasa. Nilai ini kemudianmenjadi dasar bagi peran kita dalam masyarakat.Jika anda mengenal dongeng-dongeng:
Snow White
,
Sleeping Beauty 
,
Cinderella
, maka anda akan menemukan simbolisasi perempuan yangtergantung pada laki-laki untuk menemukan kebahagiaannya.
Snow White
matisetelah memakan apel beracun dan dia bisa hidup kembali setelah mendapatkecupan dari Sang Pangeran. Begitu pula,
Sleeping Beauty 
yang hanya bisaterlepas dari kutukan tertidur setelah mendapat ciuman dari seorang Pangeran.Banyak dongeng menempatkan perempuan sebagai sosok yang tergantungpada laki-laki.Dalam dominasi laki-laki ini, yang sebetulnya terjadi ialah kekuasaan. MenurutPierre Bourdieu, kekuasaan bekerja melalui penguasaan modal simbolik ataumodal kekuasaan yang tak kasat mata. Pada kondisi ini, kaum perempuanbahkan tidak melihat atau merasakan bahwa dongeng adalah salah satu bentukpenguasaan, tetapi sebagai sesuatu yang alamiah dan wajar. Bahwa perempuanhanya pasif menerima nasib atau ditentukan oleh laki-laki sebagai sesuatu yangsudah semestinya.Dongeng adalah manifestasi dari mite. Sementara mite sendiri adalah entitasyang keluar dari alam ketaksadaran kolektif manusia (
shared unconsciousrealm
). Carl Gustav Jung menjelaskan bahwa mite terbentuk dari arketipe-arketipe yang ada pada tataran bawah sadar kolektif. Ini sebabnya tema-temadongeng yang sama bisa bermunculan di berbagai tempat dan masa yangberbeda. Kita dapat menemui tema putri diselamatkan pangeran, kurcaci, orangtua bijaksana, dan sejumlah tema lainnya, muncul secara berulang di berbagaitempat dan sepanjang rentang masa. Mite-mite ini selain muncul dalam dongeng juga berperan membentuk religi dan agama.Mite yang manifes sebagai dongeng, menempatkan sosok Tuhan pada jeniskelamin laki-laki. Dalam agama tidak perlu dipertanyakan lagi; kita dapat melihatbeberapa agama mengonstruksikan bahwa perempuan diciptakan dari tulangrusuk laki-laki dan ini diterima sebagai kebenaran karena telah dilabel sebagaiWahyu, Takdir dan sebagainya. Mite yang manifes dalam dongeng, agama, danlain sebagainya, kemudian berubah menjadi sebuah konsepsi tentang hubungan
 
laki-laki dan perempuan yang tidak menguntungkan perempuan dan mempunyaiimplikasi pada terbentuknya struktur kekuasaan.Layaknya mite yang manifes dalam dongeng, kekuasaanpun bersifat absurd, takterdefinisikan. Ia tak berbentuk namun muncul di mana-mana. Menurut MichelFoucault, kekuasaan itu terlaksana bukan pertama-tama melalui kekerasan atauhasil dari persetujuan, melainkan melalui struktur tindakan yang menekan danmendorong munculnya tindakan-tindakan lain melalui rangsangan, persuasi ataubias; juga melalui paksaan dan larangan. Kekuasaan bukan institusi, bukanstruktur, bukan pula kekuatan yang dimiliki; tetapi nama yang diberikan padasuatu situasi strategis kompleks dalam suatu masyarakat. Kekuasaan ada dimana-mana; tapi bukan berarti mencakup semua; kekuasaan lebih merupakansesuatu yang datang dari mana-mana. Begitu merasuknya kekuasaan dalamkehidupan, sehingga banyak manusia tak bisa lagi merasakannya. Manusia matidalam rantai kekuasaan yang beroperasi dalam tanda. Orang atau institusi yangmenguasai dan mampu memanipulasi tanda akan mampu menguasai orang lain.Konsepsi yang muncul dari dongeng memberi kontribusi bagi proses yangmengkristalisasi pemahaman mengenai laki-laki dan perempuan yang kemudianditerima sebagai sesuatu yang alamiah dalam suatu budaya. Yang alamiah, yangsudah semestinya itu, menjadi mitos yang didukung oleh wacana yang dikuasaioleh laki-laki. Mitos itu diterima dan didukung oleh struktur sosio-budaya danpengorganisasian masyarakat. Pada titik ini, kita memperoleh cermatan bahwaperan perempuan dan laki-laki yang didapat seorang anak melalui dongeng danterbawa hingga dewasa, adalah sebagian dari fakta sejarah, yangmemungkinkan untuk dirubah, sejauh kemampuan kita mengolah danmenafsirkan kembali nilai dalam dongeng itu. Peran-peran dalam masyarakatyang didominasi oleh laki-laki sebenarnya lebih karena dikondisikan oleh konteksbudaya tertentu dan bukan sudah semestinya demikian. Maka membongkar ketidakadilan gender berarti menafsirkan kembali peran pada tatanan yang telahada.Dongeng memiliki peran menentukan dalam mendefinisikan pengorganisasianmasyarakat dan pembagian peran gender. Ini karena dongeng diperkenalkanpada kita sejak kanak-kanak, sejak kita belum mengerti peran sebagai laki-lakidan perempuan. Pemahaman bahwa perempuan adalah sosok pasif yangmenunggu datangnya sang Pangeran secara tidak sadar juga terinternalisasidalam pemikiran kita. Ini bisa kita temui di kemudian hari pada peristiwa seorangisteri yang mengatakan bahwa suaminya setuju bahwa dia meneruskankariernya. Seakan-akan bagi perempuan, menekuni profesinya itu menjadimungkin karena belas kasih sang suami. Mengapa justru tidak mengandaikanyang sebaliknya bahwa melalui profesinya itu perempuan mencapai pemenuhandiri. Lelaki itu bisa menjadi suaminya karena menerimanya seperti apa adanyadan eksistensi karir si istri turut memberi kontribusi pada eksistensi suami. Daripembalikkan wacana seperti itu menjadi jelas bahwa perjuangan untukkesetaraan perempuan yang selama ini berkutat pada pemenuhan hak-hakperempuan, perlakuan yang adil, justru memperkuat wacana dominasi peranlaki-laki atas perempuan. Perjuangan untuk kesetaraan gender semestinya lebih
 
ditekankan pada dekonstruksi sistem peran itu sendiri, terutama konstruksisimbolis mengenai laki-laki yang ada dalam masyarakat, selanjutnya masalahhak dan keadilan dengan sendirinya akan ikut terdekonstruksi.Foucault mengandaikan bahwa kekuasaan itu banyak dan tersebar serta tidakmengacu pada satu sistem umum dominasi oleh seseorang atau suatu kelompokterhadap yang lain, tetapi menunjuk pada beragamnya hubungan kekuasaan.Kekuasaan dipahami bukan dalam keterpusatan pada satu titik atau satu sumber otoritas, namun berasal dari adanya perbedaan dalam hubungan. ‘Hubungan’dan ‘perbedaan dalam hubungan’ menjadi salah satu faktor penting munculnyakekuasaan. Orang kerap menerima dan menempatkan berbeda antara diri danorang lain sehingga memungkinkan munculnya dominasi atau kekuasaan. Ketikaperempuan menginternalisasi simbol putri cantik yang menunggu pertolongansang pangeran dalam dirinya, maka seketika itulah kekuasaan laki-laki atasdirinya berlangsung. Secara tidak sadar, perempuan seperti ini telahmemposisikan dirinya berbeda dengan laki-laki dalam hal kemampuan.Konstruksi simbolis yang melahirkan kekuasaan laki-laki atas perempuan dalamdongeng, bekerja dalam mekanisme hegemoni Gramscian, melalui dongengterjadi penaklukan moral intelektual sehingga yang tertindas memberi pengakuansecara sukarela terhadap simbol-simbol yang menindasnya. Jadi sebetulnyalogika dominasi ini bisa berjalan karena prinsip simbolis yang diketahui danditerima baik oleh yang menguasai maupun yang dikuasai. Prinsip simbolis yangberasal dari dongeng itu kemudian menderivat pada mitos, gaya hidup, caraberpikir, cara bertindak, dan kepemilikan yang khas pada kelompok tertentu atasdasar ciri ketubuhan.
Hak dan Kewajiban Perempuan dalam Dongeng
Hak adalah sisi lain dari kewajiban, maka pemenuhan hak menuntut syarat-syarat. Melalui dongeng, anak tertanam pemahaman mengenai hak dankewajiban. Laki-laki adalah pangeran penolong bagi putri cantik. Laki-lakibertugas menyelamatkan, dan perempuan (sebagai pihak yang diselamatkan)wajib membaktikan diri atau membalas budi si penyelamat. Kriterium iniditentukan oleh standar laki-laki, karena menguntungkan pihak laki-laki, di satusisi dia dipuja sebagai ‘pahlawan’, di sisi lain dia mendapat ‘hadiah’ seorang putricantik. Kesadaran akan hak-kewajiban seperti ini menjebak perempuan padapengakuan atas standar yang menguntungkan laki-laki. Dalam derivasinyasimbolisme ini muncul pada ungkapan-ungkapan seperti: “siapakah yang harusmaju berperang kalau negara ini diserang?”; siapa yang harus menyelamatkanrumah tangga?” “siapa bertanggungjawab bila keluarga tidak bisa memenuhikebutuhannya?”; “siapakah yang wajib melakukan ronda malam menjagakeamanan kampung?” Ungkapan-ungkapan tersebut memberi legitimasi atasprivilese yang diterima laki-laki. Jadi kalau perempuan menginginkan beradapada kondisi selamat (
save)
, ia lebih dulu harus memenuhi syarat-syarat sepertiyang dilakukan laki-laki, sang penyelamat (
savior)
. Syarat-syarat itu sebetulnyadibuat sesuai dengan fisiologi dan kepentingan laki-laki, kemudian dilembagakan

Activity (6)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Kasma Pimon liked this
riuhardana liked this
Ayu Wisudayanti liked this

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->