Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
0Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
UPAYA MENGATASI KORUPSI

UPAYA MENGATASI KORUPSI

Ratings: (0)|Views: 98|Likes:
Published by Thya Twozia

More info:

Published by: Thya Twozia on Apr 20, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOC, TXT or read online from Scribd
See More
See less

04/29/2013

pdf

text

original

 
UPAYA MENGATASI KORUPSI
Korupsi pada hakikatnya adalah kebejatan akhlak sehinggaseseorang berani melakukan pelanggaran. Dalam bentuk yang mudahtampak, yang diambil ini adalah berupa barang. Dalam bentuk yangtersembunyi seseorang mungkin berkorupsi dengan mengambilsesuatu yang bukan haknya seperti uang, sedangkan dalam hal yanglebih halus lagi yang diambil ini adalah waktu.Jika kita telusuri lebih mendasar kunci pokok masalah korupsi dalamsegala bentuknya itu tampak bahwa semua itu berpulang pada si penerima. Jika seorang pejabat tidak yakin akan terpenuhinya semuatugas dan kewajibannya, maka ia akan selalu khawatir akankekokohan kedudukannya. Untuk mengatasi ini dia akan berusahamemperkuat diri dengan mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya,dengan cara halus ataupun kasar untuk mampu "menghadapi"atasannya. Orang yang ingin cepat kaya akan mencari kesempatandengan berbagai cara, misalnya memaksa orang untuk menyerahkan pemberian sebagai pelicin jika mereka ingin urusannya dapat cepatselesai.Dapat disimpulkan bahwa bagaimanapun juga usaha fihak yangmendorong terjadinya korupsi, semua penyimpangan itu hanya dapatterjadi jika ada fihak yang bersedia menerima uang (baca:menuntut pemberian), barang, peluang, atau pun juga orang. Fihak ini adalah pejabat (baca: penguasa, dilakukan sendiri ataupun lewat anak  buahnya sebagai suatu tim) yang mempunyai kekuasaan. Jadi terjadiatau tidaknya semua korupsi itu sangat tergantung pada sikap bagaimana pejabat termaksud memandang besarnya "kenikmatan"yang akan diperoleh dari pemberian itu. Di sini kita akan melihat berbagai macam kemungkinannya. Di satu ujung ekstrimnya adafihak yang memang berusaha mencarinya, dan di ujung kedua adafihak yang menolaknya sama sekali; di antara keduanya memang adaterbentang rentangan luas ragam bentuk yang merupakan spektrumantara keduanya. Masing-masing tentu saja dengan berbagaialasannya, yang "rasional" maupun yang tidak.Di negara yang sedang berkembang, seperti Indonesia sangat terkaitdengan budaya korupsi di dalam masyarakatnya, yang masih sulituntuk meninggalkan budaya feodalisme. Korupsi yang terjadi ditingkat para elit politik dapat menjadi sarana "pembonsaian" politik karena mereka merendahkan politik menjadi masalah bisnis dankeuntungan pribadi atau keluarga. Upaya penanganan kejahatankorupsi yang selama ini dilakukan oleh pemerintah belum mampumenyentuh akar persoalan korupsi itu sendiri. Penegakan hukumdengan membawa para koruptor kemeja hijau adalah persoalan taktisdari penanganan korupsi.Genderang perang terhadap korupsi yang dikemukakan oleh PresidenSusilo Bambang Yudhoyono pada saat pelantikan Kabinet IndonesiaBersatu, baru-baru ini mendapatkan sambutan yang cukup antusias darimasyarakat.Gebrakan 100 hari yang dilakukan pemerintah untuk menyeret parakoruptor ke pengadilan adalah salah satu langkah maju bagi upaya penegakanhukum terhadap para koruptor "kakap" yang selama ini dianggap kebal hukum,kendatiimplementasinya masih jauh dari harapan.Sejauh ini serangkaian kasus-kasus korupsi memang terus sajamenguak ke permukaan, dan selalu melibatkan pejabat tinggi negaraserta anggotalegislatif. Simak saja, dugaan korupsi di Sumbar, Banten, Jateng,Kendari dandaerah-daerah lain. Sejalan dengan itu, muncul harapan darimasyarakat tentangkeseriusan pemerintah untuk melakukan pemberantasan KKN diamat mengurita diIndonesia.Sejarah pemberantasan korupsi di Indonesia telah dilakukan sejak tahun 1967, dengan dibentuknya Tim Pemberantas Korupsi yangdiketuai olehMayjen Sutopo Yuwono, SH, IJ Kasimo, Anwar Tjokroaminoto, danProf Ir Yohanes. Kemudian Opstib-1977 dengan koordinator  pelaksana Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara, ditingkat pusat pelaksana operasionalnya oleh Pangkokamtib,sementara di daerah oleh Laksusda. Tim Pemberantas Korupsi 1982 pelaksananya melibatkan pula Menteri Pendayagunaan Aparatur  Negara, Pangkokamtim, Ketua MA, Menteri Kehakiman, JaksaAgung dan Kapolri. Sementara Tim Gabungan PemberantasanTindak Pidana Korupsi (TGPTPK) Tahun 1999, berdasarkan putusanHak Uji Materiil MA, lembaga ini terpaksa dibubarkan.Pada tahun 2002 terbentuklah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)yang juga telah memasukkan fungsi KPKPN dalam tugasnyasehingga diharapkan akanmenjadi instrumen yang melembaga dan bersifat independen, bebasdari pengaruhkekuasaan mana pun sehingga mampu maksimal dalam menjalankan
 
tugasnya. Tetapitampaknya upaya-upaya tersebut tidak cukup mampu mengatasi persoalan pemberantasan korupsi. Hal ini lebih dikarenakan belum adanyakeseriusan dari pemerintah untuk mengadili secara tegas para pelaku korupsi diIndonesia.Karena, persoalan korupsi bukan hanya melibatkan satu sisi saja,tetapi telahmerasuki seluruh aspek kehidupan dan pemerintahan.Dari sisi peraturan perundang-undangan pemberantasan korupsitertuang dalam Tap MPR Nomor XI/MPR/1998 tentang penyelengaraan negara yang bersih dan bebas KKN (korupsi, kolusi, dan nepotisme), UU Nomor 28 Tahun 1999tentang penyelengaraan negara yang bersih dan bebas KKN, UU Nomor 31 Tahun 1999tentang pemberantasan tindak pidana korupsi. Hal ini mengartikan bahwa persoalan korupsi bukan hanya perilaku, tindakan atau upaya penyelewengananggaran negara. Tetapi, praktik korupsi sudah dapat diaartikansebagai"pemerkosaan" perundang-undangan di Indonesia atau yang seringdisebut dengancrime against constitution. Dengan demikian pengadilan atas parakoruptor secara tidak langsung adalah upaya untuk menegakkan konstitusiatau perundang-undangan.Pada perkembangan selanjutnya, karena tidak adanya keseriusan pemerintah untuk melakukan pemberantasan korupsi, maka korupsimemilikikecenderungan untuk menjadi masalah publik, yang dilakukan secara bersama-samaatau yang juga disebut dengan "korupsi berjamaah", sebagaimana praktik korupsiatau penyelewengan anggaran yang dilakukan oleh para anggotadewan yangterhormat.Kejahatan korupsi merupakan crime against constitution, makamendasarkan penanganan korupsi pada sistem pembuatan kebijakanadalah lebih strategis dan menjadi langkah pertama yang harusdilakukan sebelum menguak kasus-kasus korupsi yang melibatkan para pejabat publik dan konglomerat besar. Dengan demikianlangkah-langkah yang bisa dilakukan antara lain :1. meletakkan persoalaan korupsi dalam perspektif sistem,khususnya sistem negara sebagaimana yang diatur oleh konstitusi.Hal ini penting mengingat kejahatan korupsi adalah crime againstconstitution, sehingga meletakkan penanganan korupsi dalamkonstitusi atau undang-undang menjadi satu langkah maju penanganan. Selain itu persoalan korupsi menyangkut seluruh aspek dan sisi kehidupan rakyat dan negara. Maka, dengan menempatkan persoalan korupsi sebagai persoalan sistem maka langkah-langkah penanggulanganya tidak bisa dilakukan secara parsial. Tetapi harusdiikuti dengan langkah-langkah strategis dalam kerangka sistem itu,yaitu melakukan perubahan konstitusi yang akan mengatur mekanisme penanganan dan sanksi atas para koruptor. Baik dari sisi pembuatan kebijakan, aparatur penegak hukum, seperti kepolisian, pengadilan (jaksa dan hakim), masyarakat itu sendiri maupun lem baga-lembaga yang berkompeten dalam pemberantasan korupsi yangdalam hal ini adalah KPK.2. melakukan pembagian kekuasaan.Pembagian kekuasaan menjadi penting untuk menjaga profesionalisme kelembagaan. Hal ini menjadi strategis untumenjaga independensi lembaga-lembaga tersebut khususnya dalamrangka pembuatan kebijakan-kebijakan publik. Serta dalam rangkameminimalisir segala bentuk intervensi kekuasaan, baik kekuasaaneksekutif, yudikatif dan legeslatif. Pada sisi lain pembagiankekuasaan dalam lembaga-lembaga tinggi negara baik eksekutif,yudikatif dan legislatif menjadi penting untuk sama-samamenjalankan fungsinya secara substantif dan prinsipiil. Sertamelakukan pembagian kerja dalam struktur pemerintahan secara profesional sesuai dengan pembidangan masing-masing. Dengantetap menempatkan fungsi pengawasan dan kontrol sebagaimanifestasi dari prinsip transparansi dan akuntabilitas publik.Pembagian kekuasaaan ini juga strategis dalam rangka untuk mewujudkan profesional kelembagaan, khususnya KPK sebagailembaga yang berkompeten terhadap penanganan korupsi diIndonesia. Selain itu penanggulangan secara berkelanjutan dengankerjasama semua aparatur penegak hukum, baik kepolisian, jaksa,hakim, MA dan pemerintah itu sendiri.3. menghindari politisasi dan intervensi politik terhadap upayahukum penanganan korupsi.Hal ini strategis mengingat fenomena maraknya korupsi di Indonesia juga sangat potensial dipolitisir oleh elite-elite politik kita, sehingga
 
kecenderungan terjadinya intervensi terhadap upaya penegakankorupsi cukup dominan mewarnai pengadilan-pengadilan terhadapkasus-kasus korupsi di Indonesia. Baik dilakukan oleh penguasamaupun dilakukan oleh para elit politik kita. Dalam suasana euforiademokrasi dan reformasi seperti sekarang ini, persoalan korupsi jugatelah merebak dalam proses-proses politik yang terjadi di Indonesia, baik di tingkat legislasi maupun dalam proses politik yang lain,seperti suksesi. Maka menjadi sangat penting untuk mengedepankan prinsip-prinsip etika politik karena telah tereduksir sedemikian rupayang lambat laun akan menjadi krisis etika politik, sehingga elit politik tidak sadar lagi akan posisinya atas hak dan kewajiban yangharus ditanggungnya sebagai konsekuensi dari kekuasaannya didalam lembaga publik yang juga berfungsi sebagai kepanjangan tangan darimasyarakat (baca: partai politik)4. membangun cara pandang baru negara atas penanganan korupsidengan jalan meletakkan persoalan korupsi dalam persoalan sistemsama halnya dengan melakukan perubahan perilaku negara dalam praktik penanganan korupsi. Maka, keseriusan pemerintah akanmenjadi indikator penting dalam menilai keberhasilan pemberantasan korupsi di Indonesia.Mengenai upaya mengatasi korupsi yang sudah menjadi budaya,dikatakan Franz Magnis, Guru Besar Sekolah Tinggi Driyarkara, adadua hal yang harus digarisbawahi. Pertama, upaya dari atas atau pemerintah untuk memberi contoh tidak korupsi dan memberantaskorupsi. Kedua, peranan civil society untuk mendesak para pengambil kebijakan melakukan pemberantasan korupsi.Ia menekankan pentingnya peran perempuan dalam upayamemberantas korupsi demikian juga dapat menjadi penyebabkorupsi. Yang menjadi faktor soliditas bangsa itu perempuan,termasuk korupsi itu kan persoalan utama bangsa maka perempuanitu bisa diandalkan untuk mengatasi kesulitan ini, mengingat korupsiitu persoalan kultural yang telah mengakar.Korupsi merupakan wabah yang sangat berbahaya bagi umatmanusia. Karena begitu dahsyatnya bahaya korupsi ini, tidak kurangdari organisasi dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa mengadakan pertemuan-pertemuan yang menghasilkan konvensi pemberantasankorupsi sedunia. Dalam konferensi Merida (Mexico), Desember,2003 konvensi PBB antikorupsi telah ditandatangani oleh sejumlahnegara dan konvensi ini akan diberlakukan di seluruh dunia setelah90 hari sejak penandatangan pada 11 Desember 2003 yang lalu.Sekarang tahun 2005. Dengan demikian konvensi tersebut telah berlaku.Jika kita sepakat mengatakan bahwa korupsi merupakan penyakit,yakni penyakit pelanggaran moral, maka setiap penyakit tentu ada penyebab. Dengan demikian, maka untuk mengatasi korupsi terlebihdahulu harus dicari akar penyebabnya. Dalam kaitan ini terdapatsejumlah teori yang dikemukakan para ahli tentang sebab-sebabterjadinya korupsi. Sejumlah teori tersebut dapat dikemukakansebagai berikut.Pertama, menurut Robert Merton yang terkenal dengan teorinyatentang “means-ends scheme”, bahwa korupsi merupakan suatu perilaku manusia yang diakibatkan oleh tekanan sosial, sehinggamenyebabkan pelanggaran norma-norma. Semua system sosialmempunyai tujuannya. Manusia berupaya untuk mencapainyamelalui cara-cara (means) yang telah disepakati. Inilah yangselanjutnya disebut norma-norma lembaga yang dikenal di dalammasyarakat.Sebagaimana biasanya banyak orang mengikutinya. Mereka adalahgolongan kompromis. Namun demikian sistem sosial jugamenimbulkan tekanan yang menyebabkan banyak orang tidak mempunyai akses atau kesempatan di dalam struktur tersebut karena pembatasan-pembatasan atau diskriminasi rasial, etnis, kekuranganketerampilan, kapital, dan sumber-sumber lainnya. Golongan inikemudian berupaya mencari berbagai cara untuk mendapatkan pengakuan di dalam masyarakat. Di dalam perjuangan ini banyak terdapat jarak antara kebutuhan dan apa yang dapat disediakan olehmasyarakat. Kenyataan di dalam masyarakat ialah banyak yang tidak mendapatkan kesempatan yang sama sehingga mereka melawan peraturan yang ada baik secara inovatif maupun secara kriminal.Di dalam teori Merton ditunjukkan bahwa kebudayaan yang terlalumenekankan kepada sukses ekonomi namun membatasi kesempatan-kesempatan untuk mencapainya akan menyebabkan tingkat korupsiyang tinggi. Suatu kehidupan masyarakat yang mementingkananggota keluarga sendiri seperti di dalam nepotisme akanmenyebabkan orang lain iri dan menyuburkan korupsi. Demikian pula orang akan mencari jalan di dalam mencapai struktur kekuasaanagar ia mendapatkan kesempatan untuk memperoleh apa yangdiinginkannya.Hal ini dapat menjelaskan mengapa banyak negara berkembang jatuhke dalam wabah korupsi. Apalagi dalam suatu masyarakat transisi dimana control masyarakat menjadi lemah dan kekuasaan yang berlebihan di dalam negara yang tidak demokratis mengalamikekurangan kontrol dari masyarakat. Negara-negara ini adalahnegara-negara yang lemat atau menurut istilah Gunnar Myrdal, ahli

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->