Prof Widjajono Partowidagdo , ”Peningkatan Produksi, Investasi dan Kemampuan Nasional Hulu Migas”, Jakarta: CIDES, 20/05/2008
1-14
Peningkatan Produksi, Investasi dan Kemampuan Nasional Hulu MigasOleh Widjajono Partowidagdo
Sustainable development will require a change of heart, a renewal of the mind and a healthy dose of repentance.These are all religious terms, and that is no coincidence because a change in the fundamental principles we live by is a change so deep that it is essentially religious whether we call it that or not
. (Pembangunan berkelanjutan akanmembutuhkan perubahan nurani, pembaruan pandangan, dan tobat dalam dosis yang sehat. Semua ini adalahistilah-istilah keagamaan dan hal itu bukan kebetulan karena suatu perubahan dalam prinsip-prinsip fundamentalyang kita anut adalah perubahan yang sangat dalam sehingga hal itu sebenarnya adalah keagamaan, baik kitamenyebutnya demikian atau tidak.)Herman Daly, Beyond Growth, 1996
4
A nation agains its own principle will never stand
. (Sebuah bangsa yang melawan prinsipnya sendiri tidak akanmampu bertahan.)Bung Karno
Pengusahaan Migas di Indonesia
Dasar pemikiran pengelolaan migas di Indonesia sebenarnya sudah dirancang dengan ideKontrak
Production Sharing
(Bagi Hasil). Pencetus ide Kontrak Bagi Hasil adalah Bung Karno,yang mendapatkan ide tersebut berdasarkan praktek yang berlaku di pengelolaan pertanian diJawa. Kebanyakan petani (Marhaen) adalah bukan pemilik sawah. Petani mendapatkanpenghasilannya dari bagi hasil (paron). Pengelolaan ada ditangan pemiliknya.Pak Ibnu Sutowo dalam bukunya “Peranan Minyak dalam Ketahanan Negara” (1970)
13
menyatakan yang dibagi adalah minyak (hasilnya) dan bukan uangnya. Pak Ibnu menyatakan,“Dan mengenai minyak ini, terserah pada kita sendiri, apakah kita mau
barter
, mau
refining
sendiri atau mau dijual sendiri. Atau kita minta tolong kepada patner untuk menjualkannya,untuk kita”. Intinya adalah kita harus menjadi tuan di rumah kita sendiri. Itulah sebabnya dalamKontrak
Production Sharing
manajemen ada di tangan pemerintah.Perbedaan Kontrak Karya (konsesi) dan Kontrak
Production Sharing
(bagi hasil) adalah padamanajemennya. Pada Kontrak Karya, manajemen ada di tangan kontraktor, yang pentingadalah dia membayar pajak. Sistem audit disini adalah
post
audit
saja. Pada Kontrak
Production Sharing
(KPS), manajemen ada di tangan pemerintah. Setiap kali kontraktor maumengembangkan lapangan dia harus menyerahkan POD (
Plan of Development
) atauperencanaan pengembangan, WP&B (
Work Program and Budget
) atau program kerja danpendanaan serta AFE (
Authorization fo Expenditure
) atau otorisasi pengeluaran supayapengeluaran bisa dikontrol. Sistem audit di sini adalah
pre, current
, dan
post
audit
.Tujuan jangka panjang KPS sebenarnya adalah mengusahakan minyak kita sedapat mungkinoleh kita sendiri. Dengan mengelola KPS bangsa Indonesia dapat belajar cepat tentangbagaimana mengelola perusahaan minyak serta belajar cepat untuk menguasai teknologi dibidang perminyakan. Pak Ibnu menyatakan “Tapi telah menjadi tugas kita dan telah kitasanggupi untuk mengusahakan minyak kita oleh kita sendiri. Dan ini telah memikulkan suatukewajiban atas pundak kita semua, supaya setiap detik dan setiap ada kesempatan, kitaberusaha mengejar
know, how
dan
skill
ini dalam tempo yang sependek mungkin”. Indonesiamemang diakui sebagai pelopor
Production Sharing
di dunia. Sayangnya ide Pak Ibnu dan ideberdikari (berdiri di atas kaki sendiri) dari Bung Karno justru lebih berhasil dilaksanakan olehPetronas Malaysia. Walaupun demikian, kita cukup berbangga hati mempunyai Medco danperusahaan-perusahaan swasta nasional lainnya yang dapat menyaingi perusahaan multinasional. Pertaminapun diharapkan dengan statusnya yang baru segera bisa menjadiperusahaan migas multi nasional yang unggul.
Add a Comment