Welcome to Scribd. Sign in or start your free trial to enjoy unlimited e-books, audiobooks & documents.Find out more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Memahami Gejolak Ekonomi Indonesia Dewasa Ini 04 2000

Memahami Gejolak Ekonomi Indonesia Dewasa Ini 04 2000

Ratings: (0)|Views: 72|Likes:
Published by chepimanca

More info:

Published by: chepimanca on Apr 20, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/20/2010

pdf

text

original

 
Memahami Gejolak Ekonomi Indonesia dewasa ini(Suatu tinjauan dari aspek Akuntansi Manajemen)Oleh
I.Pendahuluan.Gejolak ekonomi yang dimulai tanggal 14 Juli 1997 yang lalu hingga kini masih belum reda, bahkan beberapa kalangan menyatakan bahwa pengalaman dibeberapa negara yang mengalami
“exchange rate turbulence
” menunjukkan bahwa kembali ke keadaan ekuilibrium baru bisamemakan waktu 3 bulan hingga 1 tahun. Inggris misalnya, ketika mengalami fluktuasi poundsterling di tahun 1992, membutuhkan waktu hanya 2 bulan untuk kembali ke ekuilibrium baruyang ternyata 15 % lebih tinggi (terdepresiasi). Perancis ditahun 1993, memerlukan waktusampai 6 bulan untuk mata uangnya kembali ke
“pre-float level”,
sedangkan Mexico pada masakrisis tahun 1994 yang lalu mem-butuhkan waktu 1 tahun untuk mencapai ekuilibrium baru.Pengalaman 3 negara ini sering disebut sebagai
“clean floats
” dimana boleh dikatakan proseskembalinya kondisi nilai tukar ke ekuilibrium baru tidak menjadikan “
collapse”
perekonomiannegara-negara tersebut.Walaupun pada akhirnya kembali ke keadaan ekuilibrium yang stabil, cerita dibalik prosestersebut sangat berbeda-beda, Perancis berhasil kembali ke tingkat kurs sebelum terjadinya
 floating 
, namun dengan melaksanakan TMP (
tight money policy
) yang sangat ketat sehinggamengorbankan tingkat pertumbuhan ekonominya dan mengakibatkan tingkat pengangguran yangcukup tinggi. Sebaliknya Inggris, dapat mengembalikan kestabilan mata uang nya, namun padatingkat 15 % lebih tinggi dari sebelum
 floating.
Akibat
 floating 
ini dikabarkan bahwa perekonomian dan ekspor Inggris malah ter dongkrak pada periode setelah
 floating.
Dalam kasusMexico,
loose monetary policy
yang dijalankan pada saat
 floating 
(termasuk meningkatnyaEkonomi Indonesia :
 Akuntansi Manajemen Halaman
11
 
money supply
karena diperlukan untuk mensupport bank-bank yang hampir kolaps) ternyatatelah menyebabkan periode floating yang berkepanjangan.Dalam keseluruhan kasus diatas, pemerintah negara-negara tersebut (bank central) terpaksaharus berupaya kembali memupu
 foreign exchange reserve
mereka yang terkuras untuk menstabilkan nilai tukar mata uangnya (Catatan : ketiga negara pada hakekatnya menganut
 fixed exchange rate regime
dengan cara menumpuk cadangan devisa yang besar untuk mengendalikanfluktuasi). Ini berbeda dengan Indonesia yang tidak menghabiskan cadangan devisanya untuk mengendalikan nilai tukar.Keadaan di Indonesia terlihat pergerakan nilai rupiah terhadap dolar AS yangmenggambarkan peningkatan (terdepresiasi) yang cukup tajam sejak tanggal 14 Juli 1997 hingga3 Oktober 1997. Dalam kurun waktu tersebut nilai rupiah terhadap dolar AS telah anjok sekitar 42 %. Kejadian ini tentunya menimbulkan berbagai pertanyaan di benak kita, seperti, apa sebab-sebab terjadinya kejadian ini, dan sampai kapan akan tercapai ekuilibrium baru. Bagi beberapafihak bahkan ingin mengetahui sampai pada tingkat berapa ekuilibrium baru yang akan tercapai,dan bagi khalayak pasti ingin mengetahui langkah-langkah apa yang akan dan harus dilakukanoleh otoritas moneter untuk mencapai kestabilan kembali ? Ini semua akan menjadi topik untuk didiskusikan .II. Latar Belakang 
 
Kejadian ini yang menimpa Indonesia tidak unik, melainkan terjadi pada negara ASEAN lainsecara hampir bersamaan. Sejumlah negara ASEAN saat ini mengalami hal yang serupa,sehingga ada baiknya kita melihat latar belakang terjadinya peristiwa ini dan barangkali dapat belajar dari peristiwa yang terjadi di negara lain.Negara ASEAN yang pertama kali mengalami “serangan” oleh para spekulator pasar uangadalah Thailand. Pada tanggal 2 Juli 1997, Pemerintah Thailand terpaksa mengambangkan matauangnya setelah terjadi krisis pada sektor keuangannya. Akibatnya, pada keesokan harinya nilaiBath langsung anjok hingga 22 % dipasar uang. Ini adalah triggering factor yang kemudianmenyulut kemelut jatuhnya mata uang negara ASEAN lainnya. (moment ini oleh Bpk. RizalRamli , dalam suatu seminar disebut sebagai
Phatphong effect
, istilah yang cukupmengingatkan kita pada sisi gelap kehidupan sosial di Thailand, sedangkan Bpk. MarzukiUsman, mengatakan sebagai
Chiang Mai effect
, menggambarkan keindahan negeri Thailand)Jatuhnya mata uang Thailand sudah diantisipasi oleh sebagian pengamat pasar uanginternasional dari berbagai indikator. Sebenarnya kinerja pertumbuhan ekonomi Thailandselama sepuluh tahun kebelakang menunjukkan peningkatan yang tinggi bahkan mungkin terlalutinggi. Konfident yang besar telah membawa ekspansi ekonomi yang cukup kuat pula, dandiwarnai meningkatnya arus modal jangka pendek yang cukup mengkhawatirkan. Serangkaiankebijaksanaan moneter berupa kontrol melalui instrumen perbankan pernah dicoba tahun yanglalu untuk mem “
 filter-out”
modal jangka pendek yang bertujuan spekulatif, dengan berbagaicara antara lain memajaki hasil deposito account orang asing Thailand, memberikan limit yangcukup ketat pada net foreign position perbankan dan sejenisnya. Perlu diketahui, arus masuk modal jangka pendek juga “menyerang” negara-negara ASEAN yang lain seperti Malaysia danEkonomi Indonesia :
 Akuntansi Manajemen Halaman
33

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->