Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword or section
Like this
19Activity

Table Of Contents

0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Oase Iman

Oase Iman

Ratings:

5.0

(1)
|Views: 1,842 |Likes:
Published by Achmad Hidayat
Bergegaslah bangun dari mimpi, atau engkau akan kehilangan keindahan yang tengah engkau genggam … (salah satu kalimat dari syair lagu Ebiet G Ade). Wallahu ‘a’lam bishshowaab
Bergegaslah bangun dari mimpi, atau engkau akan kehilangan keindahan yang tengah engkau genggam … (salah satu kalimat dari syair lagu Ebiet G Ade). Wallahu ‘a’lam bishshowaab

More info:

Published by: Achmad Hidayat on May 20, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/06/2012

pdf

text

original

 
 Eyang 
ku,
 Eyang 
mu,
 Eyang 
Kita
Publikasi 04/03/2003 09:00 WIB
eramuslim
- Hujan rintik waktu itu. Saya bergegas menembus jalanan pagi yang padatdengan payung terkembang. Berpacu dengan pejalan kaki lainnya, juga mobil dan motor yang suka merebut kavling pejalan kaki di trotoar. Saya harus segera tiba di kantor. Tiba-tiba sesuatu menghentikan langkah kaki saya dan memaksa saya menoleh.Lagi, untuk yang kesekian kali. Seorang wanita berusia di akhir 60 tahunan, berkain,kebaya dan kerudung sampir, menyandang tas kantong, tertatih tanpa pelindung darihujan."Ibu hendak kemana?” sapa saya. Payung langsung saya condongkan ke arah beliau.Bersama kami melangkah satu-satu, menapaki jalan yang licin dan berlubang-lubang."Mau naik angkot di depan situ, Neng. Ibu hendak ke Cibubur"
MasyaAllah! Cibubur? Dari Salemba? Sendirian? Dalam hujan dan tanpa payung?
"Ibu sendirian?" Saya masih bertanya, sekedar menepis kegalauan, meski saya tak butuh jawaban, apa yang saya saksikan toh sudah menjawab pertanyaan itu."Allah yang mengantarkan Ibu, Neng!" jawabnya, sedikit melegakan saya. Dan akhirnya,ketika saya melepasnya naik Mikrolet 01A, saya tak lagi merasa terlalu bersalah. Allahyang akan mengantarnya sampai tujuan.Entah berapa kali saya menjumpai peristiwa serupa. Dan semuanya mendorong padatumbuhnya satu rasa: Iba. Bagaimana tidak? Mereka melangkah satu-satu, jarak 500meter ditempuh lebih dari setengah jam. Belum lagi trotoar yang miring atau berlobang,atau dihuni kendaraan parkir, sehingga kadang-kadang pejalan kaki terpaksa turun ke badan jalan yang penuh dengan kendaraan lalu lalang. Kadang saya terpikir: kemanaanak-anak mereka? Kemana cucu-cucu mereka? Hingga membiarkan bapak/ibu atau
eyang 
nya bepergian sendiri? Di Jakarta pula.Mungkin dunia memang sudah sedemikian tua, hingga penghuninya tak lagi memilikicinta dan perhatian, bahkan kepada orang tua sendiri yang sudah mulai lemah. Barangkalidunia memang sudah sedemikian merana, hingga orang di jalanan tak lagi menganggapmanula sebagai makhluk lemah yang, Tapi, sebentar! Apa hak saya ‘menuduh’ anak dancucu yang mengabaikan orang tua/
eyang 
nya di jalanan? Apa hak saya ‘menghakimi’manusia dan dunia yang tak lagi mempedulikan para manula? Memangnya saya sudah berbuat baik kepada
eyang 
dan orang tua saya dengan sempurna?
 
Dan, tiba-tiba saya teringat
eyang kakung 
saya di kampung sana. Usia beliau sudah diatas 80 tahun, pendengaran sudah jauh berkurang, penglihatan sudah tidak awas lagi dan berjalan pun sudah harus ditopang tongkat.Sekalipun secara fisik –seingat saya- saya tak pernah mengabaikannya, harus saya akui,selama ini saya sulit untuk bisa akrab dengan beliau. Pertama, karena jarak yangmemisahkan kami, sehingga sedikit kesempatan untuk bersama. Kedua, pendengaran dan penglihatan beliau yang kurang, membuat sulit untuk berkomunikasi. Saya harus agak  berteriak supaya beliau mendengar apa yang saya katakan. Ketiga, saya kesulitanmenemukan bahan pembicaraaan yang nyambung. Kondisi tersebut membuat saya jarang bercakap-cakap dengan
 Eyang 
, kecuali saat melayani makan, mandi dan semua keperluansehari-hari lainnya.Jadi, apa bedanya saya dengan mereka yang menelantarkan orang tua dan
eyang 
nya di jalanan? Meski tak tampak secara fisik, namun secara psikologis nyaris tak ada bedanya:saya telah mengabaikannya, betapapun alasan saya.Dan saya pun merasa perlu mengoreksi kembali penilaian saya kepada para anak dancucu dari
eyang-eyang 
di jalan raya itu. Mencoba menemukan alasan, mengapa merekatak mengantarkan orang tua atau
eyang 
nya yang bepergian. Barangkali saja keluarganyamiskin, sehingga tak mampu mengantarkan dengan kendaraan memadai. Bisa saja anak-anaknya sedang sibuk bekerja, demi memenuhi kebutuhan hidup yang kian melilit.Mungkin saja cucu-cucunya sedang bersekolah sampai sore dan masih ditambah dengankesibukan membantu pekerjaan rumah tangga. Barangkali,… ada alasan entah apa lagi. Namun, semoga saja, meski anak dan cucunya tidak mengantarkan para
eyang 
di jalananitu, mereka tetap memberi perhatian dan berbuat baik kepada
eyang 
nya dengan cara yanglain. Hingga Allah akan melindungi mereka, seperti kata Ibu tua tadi: "Allah yang akanmengantar saya, Neng!”Semoga demikian adanya, dan semoga yang demikian itu adalah melalui tangan kita. Ya,semoga Allah menolong para
eyang 
itu dengan menggerakkan hati dan meringankanlangkah kita untuk mengantar dan menemani para
eyang 
di jalanan itu. Semogakemudian Allah menolong dan menjaga
eyang 
dan orang tua kandung kita, karena kitamengikhlaskan hati menolong para
eyang 
di sekeliling kita.Karena mereka adalah
eyang 
ku,
eyang 
mu,
eyang 
kita semua. (Saat ini saya berharap-harap cemas, jika saya membantu para
eyang 
di jalanan dan di sekeliling saya, di jauhsana, Allah akan memberikan teman dan penjaga bagi
eyang 
saya, meskipun itu seoranganak batita yang senang mengajaknya bermain, tanpa kata-kata verbal, namun penuhketulusan cinta. Ya, Allah kabulkanlah harapan saya, dan titip salam rindu sayakepadanya). (azi_75@yahoo.com,
 saat saya mengingati eyang 
)
 Mbok 
Narti
Publikasi 27/02/2003 09:45 WIB
 
eramuslim
-
Mbok 
NartiBegitu kami sekeluarga memanggilnya. Usia-nya sudah 60 tahun namun kegagahan dankegesitannya justru membuat sosoknya terlihat 10 tahun lebih muda.
Mbok 
Narti baru bekerja beberapa minggu di tempat kami. Seorang tetangga membawanya ke rumah ibuketika mengetahui bahwa kami membutuhkan asisten di rumah kami. Ayah yang sudahsakit dalam 8 bulan terakhir tentu menyita waktu ibu untuk mengurusnya. Alhasil pekerjaan rumah tangga sedikit 'keteteran' karena kami bekerja seharian di luar rumah.
 Alhamdulillah
, kami dapat bernafas lega ketika mendapatkan bantuan
mbok 
Narti ini.Setiap ba'da shubuh dia sudah rajin bekerja dari mencuci, memasak dan menyetrika.
Mbok 
Narti tidak pernah mengijinkan ibu untuk membantunya, alih-alih
mbok 
Nartimenyarankan ibu untuk konsentrasi menyiapkan dan mengurus keperluan ayah yangsedang sakit.
Mbok 
Narti hidup sebatang-kara di dunia ini, begitu informasi yang kami dapatkan lewattentangga. Dia tidak pernah menceritakan asal-usul dirinya dengan jelas.
Mbok Narti
,sosok baru di rumah kami ini langsung menjadi idola. Senyumnya tidak pernah lepas dari bibirnya. Pekerjaan dia selesaikan dengan giat dan gesit. Setiap malamnya tidak pernahdilewatkan
mbok 
Narti dengan bersimpuh di hadapan Sang Khaliq. Selalu khusyuk dalamsujud dan do'a-nya.Dan suatu hari, setelah hampir tiga minggu
mbok 
Narti bekerja di rumah kami. Tiba-tibakami kedatangan seorang tamu. Seorang dokter dari Jakarta. Awalnya kami agak terkejutdengan maksud dan tujuan dokter tersebut untuk menjemput
mbok 
Narti.
 Astaghfirullah
,kami sempat bersu'udzon tentang sesuatu hal yang buruk yang pernah terjadi kepada si
mbok 
ketika bekerja di Jakarta dahulu. Namun, dokter yang ternyata bekas majikan si
mbok 
tersebut justru memohon maaf kepada kami untuk menjemput
mbok 
Narti karena si
mbok 
dirindukan oleh anaknya. Rupanya putera si dokter meminta ayahnya untuk datangke rumah kami menjemput mbok Narti.
 Ah
, rupanya ada yang merindukan si
mbok 
disana.Si dokter itupun bercerita bahwa anak bungsu-nya tidak mau makan sejak 
mbok 
Narti pulang ke kampungnya. Persis seperti di sinetron-sinetron memang, namun itulah faktayang terjadi. Entah apa yang membuat
mbok 
Narti berhenti bekerja dari rumah si dokter tersebut sebelumnya. Namun dari kehidupan, tindak-tanduk mbok Narti yang baru beberapa minggu di rumah kami,
mbok 
Narti adalah sosok yang sangat baik danmendekati sempurna sebagai asisten keluarga kami.Akhirnya kami pun harus melepas
mbok 
Narti dengan berat hati. Walau baru beberapaminggu bekerja di rumah kami, namun kesan yang ditinggalkan begitu mendalam. Terusterang, kami tidak pernah mendapatkan asisten rumah tangga seperti sosok 
mbok 
Nartiini.Satu minggu berlalu sejak kepergian
mbok 
Narti dan tetanga kami yang pernahmengantarkan si
mbok 
datang untuk mengambil uang gaji
mbok 
Narti yang belum sempat

Activity (19)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Umri Ana liked this
Ricky Geos liked this
Agus Wantoro liked this
Nur Kholiq liked this
madjuh liked this
donimr liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->