Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
41Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Strategi Pendidikan Non Formal

Strategi Pendidikan Non Formal

Ratings: (0)|Views: 5,511|Likes:
Published by hasan1969
Tulisan ini merupakan tugas makalah untuk diskusi di Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Karimiyyah. Tulisan ini mengulas mengenai lembaga pendidikan non formal serta seluk beluknya.
Tulisan ini merupakan tugas makalah untuk diskusi di Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Karimiyyah. Tulisan ini mengulas mengenai lembaga pendidikan non formal serta seluk beluknya.

More info:

Published by: hasan1969 on Apr 21, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/15/2013

pdf

text

original

 
TUGAS KELOMPOK :PENDIDIKAN LUAR SEKOLAHSTRATEGI PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN NON FORMALA.Pendahuluan
Pada pasal 26 ayat 1, Deklarasi Universal Hak Asasi Manusiadinyatakan bahwa:"
Setiap orang berhak memperoleh pendidikan. Pendidikan harusdengan cuma-cuma, setidak-tidaknya untuk tingkatan sekolahrendah dan pendidikan dasar. Pendidikan rendah harus diwajibkan.Pendidikan teknik dan kejuruan secara umum harus terbuka bagisemua orang dan pendidikan tinggi harus dapat dimasuki dengancara yang sama, berdasarkan kepantasan
.
1
"Pernyataan tersebut terlihat sangat ideal dimana kebutuhanpendidikan (
educational need 
) yang merupakan kebutuhan dasarmanusia (
human basic need 
) diakomodir dengan sangat sempurna dansangat jelas memperlihatkan kondisi sempurna tentang bagaimanaseharusnya pendidikan dijalankan dan bagaimana semua orang akandidorong untuk masuk dan mengambil keuntungan darinya.Kebutuhan pendidikan sebagaimana dikemukakan oleh MalcolmS Knowless (Knowless; 1977:85)
2
adalah "
 An educational need issomething a person ought to learn for his own good, for the good of an organization, or for the good of society (kebutuhan pendidikanadalah sesuatu yang harus dipelajari seseorang untuk kebaikandirinya sendiri, organisasi atau sebuah masyarakat)
". Menurutpengertian tersebut maka kebutuhan pendidikan adalah sesuatu yangharus dipelajari oleh seseorang guna kemajuan kehidupan dirinya,lembaga yang ia masuki, dan atau untuk kemajuan masyarakat.Secara umum kebutuhan pendidikan adalah jarak atauperbedaan antara perolehan tingkat pendidikan seseorang ataukelompok pada saat ini dengan tingkat pendidikan yang ingin dicapaioleh orang atau kelompok tersebut. Batasan tentang kebutuhanpendidikan mengandung dua implikasi.1).
Pertama
, bahwa seseorang yang merasakan dan menyatakankeinginan untuk memiliki atau meningkatkan pengetahuan,keterampilan, sikap dan aspirasi hanya dapat dicapai melalui
1
Sigiro, Atnike Nova, Kebutuhan Pendidikan Masa Depan, Media Indonesia, 20 Desember 2002
2
Materi Mata Kuliah Pendidikan Luar Sekolah, Bab 4 Asas Kebutuhan, Pendidikan Non Formal..
 Tugas Kelompok:
 
Strategi Penyelenggaraan Pendidikan Non Formal 
[1]
 
kegiatan belajar yang terencana dan disengaja.2).
Kedua
, bahwa kebutuhan pendidikan yang dirasakan dandinyatakan oleh seseorang merupakan ekspresi dari kebutuhandiri seseorang (
individual need 
), kebutuhan lembaga(
institutional need 
), atau kebutuhan masyarakat (
community need 
); bahkan mungkin merupakan manifestasi ketiga macamkebutuhan tersebut. Kebutuhan perorangan, kebutuhan lembaga,dan kebutuhan masyarakat dapat saling melengkapi antara satudengan yang lainnya.
B.Tantangan dalam Penyelenggaraan Pendidikan
Terpenuhinya kebutuhan pendidikan sebagaimana secara jelasdinyatakan dalam deklarasi tersebut memang merupakan cita-citaatau niat luhur yang diinginkan dalam Deklarasi Universal Hak AsasiManusia tersebut harus berhadapan dengan problem yang sangatkompleks, tidak hanya kendala teknis pelaksanaan, tetapi jugakendala sistemik. Kendala sistemik inilah yang justru merupakanfaktor utama yang tidak memungkinkan terjadinya pemerataankesempatan pendidikan dan dunia kerja yang seluas-luasnya.Problem ini terjadi di seluruh negara di dunia, pun di Indonesia,dengan berbagai karakteristik yang dipengaruhi kondisi masing-masing.Di Indonesia, mahalnya harga bangku sekolah telah menjadi'teror' yang biasa dihadapi masyarakat sehari-hari di tengah gembar-gembor program Wajib Belajar Sembilan Tahun, Gerakan NasionalOrang Tua Asuh (GNOTA), dan yang terbaru Gerakan Komite Sekolahyang ramai diiklankan media massa. Biaya pendidikan yang harusditanggung untuk memasuki sistem sekolah sangatlah beragam, tentujumlahnya pun sangat besar, mulai uang bangunan, uang buku, uangseragam, uang ujian, belum lagi pungutan-pungutan temporerlainnya. Dengan jumlah pengangguran yang tinggi dan pendapatansebagian besar penduduk yang rendah, besarnya biaya yang harusditanggung untuk bersekolah tidak dapat ditanggulangi sendiri olehmasyarakat. Sementara alokasi anggaran pemerintah untuk bidangpendidikan masih rendah.Menurut data Departemen Pendidikan Nasional, angka putussekolah di Indonesia cukup tinggi. Pada tahun ajaran 1999/2000lulusan pendidikan tingkat SD yang tidak melanjutkan ke tingkatSLTP mencapai 770.500 anak, dari SLTP ke SLTA adalah 956.400anak, dan dari SLTA ke pendidikan tinggi adalah 814.300 anak, belumtermasuk yang drop out (DO) sebelum menyelesaikan jenjangpendidikannya. Penyebab utama tingginya putus sekolah ini adalahketidakmampuan ekonomi keluarga, sekaligus waktu si anak yangdigunakan untuk mencari nafkah, sehingga tidak bisa secara regulermengikuti pelajaran di sekolah.
 Tugas Kelompok:
 
Strategi Penyelenggaraan Pendidikan Non Formal 
[2]
 
Pemerintah dan parlemen untuk saat ini belummemprioritaskan bidang pendidikan --dibanding rekapitulasiperbankan, Pemilu 2004, dan isu lain semisal antiterorisme.Pendidikan sejak dulu belum dilihat negara sebagai problem pentingyang harus disikapi secara struktural sehingga setiap tahun di saatperingatan Hari Pendidikan Nasional, pemerintah selalumemperbarui komitmennya dan selalu melupakannya di keesokanhari.Sementara itu, sekolah sebagai bentuk legitimasi ataskemampuan intelektual, skill, maupun prestise semakin mendapatlegitimasi dengan munculnya berbagai jenis sekolah, baik darimetode maupun isinya, dan tentu harganya. Sekolah adalah salahsatu variabel yang menentukan status seseorang. Mereka yang tidakdapat mengakses bangku sekolah memiliki posisi yang rendah dalammasyarakat, dengan berbagai julukan: 'bodoh', 'tidak terdidik', 'butahuruf', 'tidak pernah makan bangku sekolahan', dan lain sebagainya.Telah menjadi rahasia umum bahwa untuk mendapatkan pekerjaan,kemampuan menjadi urutan kesekian setelah koneksi, uang pelicin,dan lainnya, tetapi toh masyarakat tetap menerima gagasan bahwasekolah adalah jalan satu-satunya untuk persaingan memperolehlapangan pekerjaan.Pada akhirnya, di dalam masyarakat terbangun kesadaranmanipulatif untuk menerima kondisi pendidikan yang carut-marutsebagai tanggung jawab mereka sendiri. Akibatnya, hanya merekayang mampu secara ekonomilah yang berhak mengakses setiapjenjang pendidikan. Mereka yang tak mampu cukup menikmatipendidikan seadanya. Pendidikan yang rendah sama denganpengetahuan dan kemampuan yang rendah dan sama artinya denganupah yang rendah pula. Seolah-olah telah menjadi rumus baku bahwaorang miskin karena tidak sekolah; supaya tidak miskin, orang harussekolah; karena orang miskin tidak bisa sekolah maka itulah nasibyang harus ia jalani. Di sini kita temukan kenyataan bahwa padaakhirnya sekolah itu sendiri menjadi pabrik daur ulang ketidakadilansosial dalam masyarakat.
C.Pendidikan Non Formal sebagai Jawaban Terhadap KebutuhanPendidikan
Proses belajar bagi anak (manusia) sebetulnya tidak dibatasihanya oleh institusi sekolah. Sejak dilahirkan, anak mengalamiproses belajar bersama dengan lingkungannya. Institusi sekolahseharusnya berfungsi sebagai sarana atau alat dalam proses belajar.Namun, dalam kenyataan, sekolah justru mendominasi gagasantentang pendidikan bagi masyarakat. Gagasan dan praktik sekolahtersebut telah melahirkan ketidaksetaraan (inequality) ketika tidaksemua orang bisa mengakses pendidikan sekolah.
 Tugas Kelompok:
 
Strategi Penyelenggaraan Pendidikan Non Formal 
[3]

Activity (41)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
kastux liked this
Pandu Hardi liked this
Tati Nurkhikmah liked this
Lusin Surip liked this
Siti Masitoh liked this
Indah Nur Asiah liked this
Indah Nur Asiah liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->