Inilah yang menggangu keseimbangan pada garis fraktur. Adanya osteoporosistulang mengakibatkan tidak tercapainya fiksasi kokoh oleh pin pada fiksasiinterna. Ditambah lagi, periosteum fragmen intrakapsuler leher femur tipissehingga kemampuannya terbatas dalam penyembuhan tulang. Oleh karena itu, pertautan fragmen fraktur hanya bergantung pada pembentukan kalus endosteal.Yang penting sekali ialah aliran darah ke kolum dan kaput femur yang robek padasaat terjadinya fraktur.Penanganan fraktur leher femur yang bergeser dan tidak stabil adalahreposisi tertutup dan fiksasi interna secepatnya dengan pin yang dimasukkan darilateral melalui kolum femur. Bila tak dapat dilakukan operasi ini, cara konservatif terbaik adalah langsung mobilisasi dengan pemberian anestesi dalam sendi dan bantuan tongkat. Mobilisasi dilakukan agar terbentuk pseudoartrosis yang tidak nyeri sehingga penderita diharapkan bisa berjalan dengan sedikit rasa sakit yangdapat ditahan, serta sedikit pemendekan.Terapi operatif dianjurkan pada orang tua berupa penggantian kaput femur dengan prosthesis atau eksisi kaput femur dengan prosthesis atau eksisi kaputfemur diikuti dengan mobilisasi dini pasca bedah.
a.
Terapi Konservatif
Dilakukan apabila fraktur memiliki kemungkinan sebagai berikut :
•
Gangguan peredaran darah pada fragmen proksimal
•
Kesulitan mengamati fragmen proksimal
•
Kurangnya penanganan hematom fraktur karena adanya cairan synovial.Penanganan konservatif dapat dilakukan dengan skin traction, dengan buck extension.
b.
Terapi Operatif
Pada umumnya terapi yang dilakukan adalah terapi operasi, fraktur yang bergeser tidak akan menyatu tanpa fiksasi internal, dan bagaimanapun juga manula harus bangun dan aktif tanpa ditunda lagi kalau ingin mencegahkomplikasi paru dan ulkus dekubitus. Fraktur terimpaksi dapat dibiarkanmenyatu, tetapi selalu ada resiko terjadinya pergeseran pada fraktur-fraktur itu, sekalipun ditempat tidur, jadi fiksasi internal lebih aman. Dua prinsip