Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
18Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Masalah Sistem Keuangan Dan Perbankan - Anwar Nasution

Masalah Sistem Keuangan Dan Perbankan - Anwar Nasution

Ratings:

5.0

(1)
|Views: 299 |Likes:
Published by vdilla
he
he

More info:

Published by: vdilla on Apr 23, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/25/2013

pdf

text

original

 
 
MASALAH-MASALAH SISTEM KEUANGANDAN PERBANKAN INDONESIAOleh :PROF. DR. ANWAR NASUTION
 
STABILITAS SISTEM KEUANGAN :URGENSI, IMPLlKASI HUKUM, DAN AGENDA KEDEPAN
1
 Oleh : Prof. DR. Anwar Nasution
2
 I. PENDAHULUAN
Krisis keuangan di Asia yang terjadi pada dasarnya bersumber dari kelemahankualitas sistem keuangan di Asia. Reformasi keuangan yang terjadi pada awal tahun1980an ternyata hanya memberikan peningkatan kuantitas lembaga-lembaga keuangandan kuantitas aliran modal yang masuk (
capital inflow 
) ke suatu negara. Hal yang samaterjadi pula di Indonesia, khususnya dikaitkan dengan liberalisasi perbankan yang berawalpada tahun 1988 yang merupakan salah satu faktor pemicu lemahnya sistem keuangan,khususnya perbankan. Terjadinya gejolak di pasar uang, pasar valas dan pasar modalserta meningkatnya ketidakpastian (
uncertainty 
) dapat mengakibatkan semakinmemburuknya
adverse
 
selection
dan
moral hazard 
yang pada gilirannya mengakibatkanruntuhnya kestabilan sektor keuangan.Untuk kasus Indonesia, gejolak nilai tukar negara-negara regional memiliki pengaruhpaling utama yang menyebabkan terjadinya krisis yang berkepanjangan. Kuatnya tekananterhadap rupiah mengakibatkan ketidakmampuan Bank Indonesia untuk menyangga pitaintervensi (
band intervention
) yang ada sehingga sistem nilai tukar mengambang bebas(
Free floating system
) menjadi salah satu alternatif sistem nilai tukar yang akhirnya dipilihuntuk tetap menjaga cadangan devisa. Disamping sebagai dampak dari bergejolaknyanilai rupiah, sektor perbankan mengalami krisis yang sangat mendalam karenamenurunnya kepercayaan masyarakat terhadap sistem perbankan. Hal tersebut semakindiperberat oleh lemahnya kondisi internal sektor perbankan, terutama sebagai dampakdari konsentrasi kredit yang berlebihan, lemahnya manajemen bank,
moral hazard 
yangtimbul akibat mekanisme exit yang belum tegas serta belum efektifnya peagawasan yangdilakukan oleh Bank Indonesia.Secara keseluruhan, akibat dari krisis yang semakin mendalam telah memperburuktidak saja aspek likuiditas perbankan, tetapi juga aspek solvabilitas dan rentabilitasnyamengingat perbankan merupakan market dominan dalam industri keuangan di Indonesia,maka secara sistematis sektor Keuangan juga mengalami kelumpuhan. Krisis keuangandan perbankan tersebut telah menyedot keuangan negara yang mencapai selatar 50%dari PDB Indonesia, sehingga dapat dikategorikan terbesar dalam sejarah krisiskeuangan. Biaya krisis tersebut tentu saja belum memperhitungkan dampak negatif krisispada perekonomian secara keseluruhan akibat hilangnya perlu pertumbuhan ekonomi,investasi dan tingkat pengangguran,
social cost 
lainnya akibat terjadinya instabilitas sosialpolitik sebagai dampak ikutan di saat krisis terjadi.
1
Disampaikan dalam Seminar Pembangunan Hukum Nasional VIII yang diselenggarakan oleh BadanPembinaan Hukum Nasional - Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Rl. tanggal 14-18 Juli diDenpasar.
2
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia
 
Mempertimbangkan dampak dan biaya / kerugian yang demikian besar terhadapperekonomian akibat instabilitas sistem keuangan tersebut serta langkah-langkahpenyelesaian krisis (
crisis resolution
) yang juga membutuhkan waktu yang lama, makawacana menjaga stabilitas sistem keuangan menjadi perhatian yang serius dari banksentral dan pengambil kebijakan publik di berbagai negara dewasa ini. Di Indonesia, isustabilitas sistem keuangan tersebut kembali menguat setelah terjadinya krisis keuangandan perbankan dalam tahun 1997-1998. Namun demikian, saat ini dipandang belumterdapat konsep pemikiran secara yuridis maupun institusional (
legal and institutional framework 
) mengenai institusi-institusi yang bertanggung-jawab secara menyeluruhdalam menjaga stabilitas sistem keuangan tersebut.Mempertimbangkan cepat atau lambat isu stabilitas sistem keuangan ini akan menjadipermasalahan di Indonesia, berkaitan dengan pihak yang bertanggungjawab danmekanisme pengendaliannya, maka paper ini akan mencoba membahas pentingnyamenjaga stabilitas sistem keuangan saat ini dan di masa mendatang, serta beberapa isudan agenda hukum di bidang keuangan perbankan yang membutuhkan perhatian.Dengan tema tersebut, organisasi paper akan dibagi dalam dikemukakan sebagai berikut:Bagian II membahas mengenai urgensi dari stabilitas sistem keuangan khususnya dimulaidari fenomena asimetri informasi untuk memahami apa dan bagaimana stabilitas sistemkeuangan dan beberapa prasyarat; Bagian III mengenai agenda ke depan yang terkaitdengan isu-isu di bidang hukum dalam pengaturan stabilitas sistem keuangan, dan Bab IVsebagai kesimpulan dan penutup.
II. URGENSI MENJAGA STABILITAS SISTEM KEUANGANa. Asimetari Informasi : Sumber Instabilitas Sistem Keuangan
Telah dipahami bahwa sistem keuangan memegang peranan yang sangat pentingdalam perekonomian seiring dengan fungsinya untuk menyalurkan dana dari pihak yangberkelebihan dana kepada pihak-pihak yang membutuhkan dana. Apabila sistemkeuangan tidak bekerja dengan baik, maka perekonomian menjadi tidak efisien danpertumbuhan ekonomi yang diharapkan tidak akan tercapai. Salah satu masalah krusialdalam sistem keuangan yang dapat menjadi sumber instabilitas keuangan yaknimenyangkut terjadinya asimetri / ketidaksamaan informasi (
asymmetric information
)
3
yaknisuatu situasi dimana satu pihak yang terlibat dalam kesepakatan keuangan tidak memilikiinformasi yang akurat dibanding pihak lain. sebagai contoh, peminjam (
debitur 
) biasanyamemiliki informasi yang lebih baik keuntungan dan kerugian potensial dari suatu proyek.investasi yang direncanakan dibandingkan dengan pihak pemberi pinjaman (kreditur).Dengan demikian, kreditur tidak dapat membedakan antara pinjaman yang sehat dantidak sehat.Permasalahan asimetri informasi selanjutnya menyebabkan dua permasalahan pokokyakni
adverse selection
dan
moral hazard 
.
 Adverse selection
merupakan satu bentukmasalah asimetri, informasi yang terjadi sebelum transaksi keuangan dilakukan karena
3
Frederic S. Mishkin dalam “Prudential Supervision Whal Works and What Doesn’t”, NBER ConferenceReport. Chicago, The University of Chicago Press, 2001

Activity (18)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Dwi Damayanti liked this
iffrans liked this
HajiEka liked this
andysitumorang liked this
muachmua liked this
narc2007 liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->