Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
16Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Tanggung Jawab Sosial Korporasi

Tanggung Jawab Sosial Korporasi

Ratings: (0)|Views: 663 |Likes:
Businesses exist for one fundamental purpose – to earn profits for their own. Issue of social responsibility is becoming increasingly important as companies around the world enter an era of intense competition. A number of highly visible ecological problems and environmental disasters brought about a new spirit of environmentalism among individuals, groups, and organizations. Increasingly, managers began to confront questions about an organization’s decisions and activities and its impact on the natural environment, that is referred to as the greening of management.
Businesses exist for one fundamental purpose – to earn profits for their own. Issue of social responsibility is becoming increasingly important as companies around the world enter an era of intense competition. A number of highly visible ecological problems and environmental disasters brought about a new spirit of environmentalism among individuals, groups, and organizations. Increasingly, managers began to confront questions about an organization’s decisions and activities and its impact on the natural environment, that is referred to as the greening of management.

More info:

Published by: Perdana Wahyu Santosa on Apr 23, 2010
Copyright:Traditional Copyright: All rights reserved

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/28/2011

pdf

text

original

 
  Dikta Ekonomi Jurnal Ekonomi dan Bisnis
TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN TERHADAPKELESTARIAN LINGKUNGAN ALAM
Verni Yuliaty Ismail 
Fakultas Ekonomi Universitas YARSI
Abstract
Businesses exist for one fundamental purpose – to earn profits for their own. Issue of socialresponsibility is becoming increasingly important as companies around the world enter an era of intensecompetition. A number of highly visible ecological problems and environmental disasters brought about anew spirit of environmentalism among individuals, groups, and organizations. Increasingly, managersbegan to confront questions about an organization’s decisions and activities and its impact on the naturalenvironment, that is referred to as the
 greening of management.
Keywords : Social responsibility, a new spirit of environmentalism
Fenomena lain yang sangatberpengaruh adalah runtuhnya sistemekonomi komunis di Eropa Timur sekitartahun 1990-an. Hal ini membawa implikasipada pesatnya arus globalisasi ekonomikapitalis, sehingga setiap negara menjadisemakin sulit menghindar dari pengaruheksternal pada perekonomiannya. Pasarmenjadi semakin mengglobal, dan interaksibisnis semakin luas menjangkau sampai kepelosok. Akibatnya, aktivitas bisnis menjadisemakin berperan sebagai agen perubahankebudayaan manusia. Bersamaan dengan itu,persoalan moralitas dalam dunia bisnis itusendiri menjadi persoalan yang mengglobal.Di dalam kerangka perubahan kebudayaan,suatu bangsa yang tak mampu berperandalam dunia bisnis global bisa jatuhmenjadikorban arus globalisasi.
PENDAHULUAN
Perkembangan pesat teknologisetelah perang dunia kedua telah memacudunia bisnis di negara-negara kapitalismenjadi semakin dinamis. Akan tetapiperkembangan ini sayangnya kurang disertaidengan pemikiran dan kesadaran moral parapelakunya, sehingga menimbulkan skandal-skandal bisnis yang merugikan masyarakat.Oleh karena itu, sejak tahun 1970-an, etikadalam dunia bisnis menjadi semakin seringdibicarakan dan dituntut realisasinya (Endro,1999).Di lain pihak, bangsa yang ingin suksesberperan dalam dunia bisnis harus mampumenghadapi perubahan kebudayaan yangdapat menampung etika dalam dunia bisnisyang mengglobal tersebut. Salah satu isuyang menjadi perhatian serius dalam duniabisnis global ini adalah masalah kelestarianlingkungan alam. Karena mau tidak maubisnis akan berkaitan dengan penggunaansumberdaya alam, yang mesti dipikirkan jugatentang kelanjutan keberadaan sumberdayaalam tersebut bagi generasi mendatang.Indonesia sendiri telah mengikatkandiri terhadap komitmen pembangunanberkelanjutan di Rio de Janeiro, Brasil padatahun 1992. Sepuluh tahun kemudian, padatahun 2002, Indonesia bahkan menjadi tuanrumah persiapan peringatan 10 tahunkomitmen Rio tersebut. Secara eksplisit, duamomentum penting tersebut menunjukkanbahwa Indonesia memang mempunyaikomitmen terhadap konsep pembangunanyang berkelanjutan atau
sustainabledevelopment
(Keraf, 2003). Konseppembangunan berkelanjutan merupakanparadigma yang memandang bahwalingkungan dan sosial budaya tidak bolehdikorbankan hanya demi kepentingan
 Volume 2 Nomor 3, Desember 05/ Dzulqa’idah 1426 H ISSN 1411 - 0776
44
 
  Dikta Ekonomi Jurnal Ekonomi dan Bisnis
ekonomi. Pelajaran panjang beberapa negaradi dunia hingga sekarang seharusnyamenyadarkan kita semua bahwapembangunan yang hanya menitikberatkanpada kepentingan ekonomi – denganmengabaikan kepentingan lingkungan – telahmembawa malapetaka bagi manusia dankehidupan di muka bumi.Berbagai peraturan perundangantelah dikeluarkan oleh pihak pemerintahuntuk mewujudkan konsep pembangunanberkelanjutan yang berwawasan lingkungan.Sebut saja salah satu diantaranya adalahUndang-Undang Nomor 41 tahun 1999tentang kehutanan. Undang-undang inimenegaskan bahwa penggunaan kawasanhutan untuk kepentingan pembangunan diluar kegiatan kehutanan hanya dapatdilakukan di dalam kawasan hutan produksidan hutan lindung. Sementara untukKawasan Suaka Alam (KSA) dan KawasanPelestarian Alam (KPA) seperti cagar alam,suaka margasatwa, taman nasional, tamanwisata alam, dan taman hutan rayamerupakan wilayah yang dilarang untukkegiatan apapun – termasuk usaha komersialdan pertambangan (Kompas, 2003).Dalam kenyataannya, sampai saat inimasih banyak terjadi kasus-kasus
illegallogging
atau
 
kasus eksploitasi pertambangandi kawasan suaka dan pelestarian alam, yangsangat merugikan kelestarian hutan diIndonesia. Eksplorasi dan eksploitasi hutanKSA dan KPA sebenarnya sangat beresikoterhadap kelestarian lingkungan danpelaksanaan pembangunan berkelanjutan.Banjir, longsor, kemarau panjang, dankebakaran hutan adalah bencana lingkunganyang telah sangat mengancam kehidupanmasyarakat Indonesia> Bhkan bencana ini juga membawa dampak bagi lingkunganglobal; seperti meningkatnya pemanasanglobal, asap yang mengganggu negaratetangga, dan segala dampak ikutan lainnyamerupakan bukti nyata dari dahsyatnyadampak kerusakan hutan di Indonesiaterhadap lingkungan global. Bahkan dari sisiekonomis, biaya eksternal dari seluruhbencana lingkungan ini sangat mahal danmemberatkan ekonomi – keungan negara,termasuk menjadi biaya eksternalitas bagiperusahaan.
PERMASALAHAN
Pertanyaan yang muncul kemudianadalah apakah pelestarian lingkungan alamdalam pembangunan hanya merupakan tugasdan tanggungjawab dari pemerintah dan paraaktivis yang peduli lingkungan ? Apakahmemang dunia bisnis hanya berfokus padatujuan mencari keuntungan semata ? Adakahtanggung jawab sosial perusahaan terhadaplingkungan alam ? Padahal dalamkenyataannya, sebagian besar bisnis yangdilakukan oleh perusahaan, secara langsungmaupun tidak langsung berkaitan denganlingkungan di sekitarnya, baik lingkunganalam maupun lingkungan sosialnya. Untukitu perusahaan perlu mengembangkantanggungjawab sosial terhadap lingkunganalam dalam setiap aktivitas manajemennya.Karena hal ini berkaitan pula denganeksistensi mereka di dunia bisnis.Tulisan ini berusaha untuk menjawabpermasalahan perlunya tanggungjawab sosialperusahaan terhadap lingkungan alam dalammelaksanakan aktivitas bisnisnya. Pertama,akan dibahas tentang bagaimana pengelolaanbisnis dan keterkaitannya dengan lingkunganalam dan sosial yang ada di sekitarnya. Darisudut pandang ini akan terlihat bahwaorganisasi bisnis mempunyai tanggungjawabsosial terhadap lingkungan alam jika inginperusahaannya tetap eksis.
PEMBAHASANPerbedaan Pandangan tentang Tanggung  Jawab Sosial Perusahaan
Bisnis merupakan aktivitas yangcakupannya amat luas, meliputi aktivitaseksploitasi barang tambang atau pertaniandari bumi, memproses bahan dasar hinggaberguna, membuat berbagai barang jadi,mendistribusikan barang, menyediakan jasa,menjual dan membeli barang daganganataupun aktivitas yang berkaitan dengansuatu pekerjaan untuk memperolehpenghasilan. Walaupun cakupannya luas,namun tujuan hakikinya adalah pertukaranbarang dan jasa, dan pertukaran inidipermudah oleh medium penukar, yaitu
 Volume 2 Nomor 3, Desember 05/ Dzulqa’idah 1426 H ISSN 1411 - 0776
45
 
  Dikta Ekonomi Jurnal Ekonomi dan Bisnis
uang. Jadi, kriteria umum aktivitas dalamdunia bisnis adalah penyediaan barang dan jasa demi suatu pembayaran dengan uang baik secara tunai maupun kredit (Griffin danEbert, 2002).Bisnis yang sederhana dapatdilakukan oleh individu, namun semakinmanusia menyadari keterbatasan dirinyaserta dahsyatnya manfaat kerja sama antarmanusia, maka semakin banyak bisnis yanghanya mungkin bisa dilaksanakan oleh suatuusaha bersama individu-individu yangterkoordinasi dalam suatu organisasi. Dengandemikian, lalu muncul pengertianmanajemen, yaitu bagaimana mengelolaorganisasi tersebut agar mencapai tujuannya.Dalam hal ini, lingkup kegiatan manajemenadalah merencanakan, mengorganisasikan,mengarahkan (memimpin), dan mengontrolaktivitas anggota-anggota organisasi –dengan menggunakan semua sumberdayayang dimiliki dan diperoleh organisasi untukmencapai tujuannya. Melalui manajemenyang efektif, organisasi bisnis menjadikohesifm, akibatnya pengertian bisnis lantasbergeser dari “aktivitas” menjadi “entitas”.Bentuk “entitas” yang umumnya disebutperusahaan itu bisa berupa perusahaanperseorangan, persekutuan, koperasi, atauperseroan terbatas. Disinilah bermulaperdebatan tentang persoalan tanggung jawab sosial bisnis (perusahaan) danpersoalan-persoalan etika pada umumnya(Robbins dan Coulter, 2002).Tanggung jawab sosial merujuk padacara bisnis berusaha untuk menyeimbangkankomitmen mereka pada kelompok-kelompokdan individu-individu di lingkungan mereka.Kelompok dan individu ini sering disebutsebagai pihak-pihak yang berkepentinganterhadap organisasi atau “
organizationalstakeholders
”; termasuk konsumen, bisnis-bisnis lain, pegawai, dan investor. Kelompok,individu, dan organisasi tersebut yang secaralangsung dipengaruhi oleh praktek-praktekorganisasi dan, lebih jauh memilikikepentingan pada kinerja organisasaitersebut.Secara umum, pandangan tentangtanggung jawab sosial bisnis difokuskan padadua pandangan ekstrim. Pada satu sisi,terdapat pandangan ekonomi klasik ataumurni yang menyatakan bahwa tanggung jawab sosial hanyalah untuk mencapaikeuntungan yang maksimal. Pada sisi lainberdiri posisi sosial ekonomi, yang berprinsipbahwa tanggung jawab berjalan dengan baikdisamping dengan mencapai tingkatkeuntungan, juga termasuk melindungi danmengembangkan kesejahteraan masyarakat(Robbins dan Coulter, 2002).
 Pandangan Klasik
Agumentasi dari pandangan inimenyatakan bahwa tanggung jawab utamamanajer adalah menjalankan bisnis untukkepentingan terbaik dari pemegang saham(pemilik perusahaan yang sebenarnya).Pemegang saham memiliki satu perhatian,yang menjadi kepentingannya padaperusahaan, yaitu pengembalian finansial.Pada saat manajer membuat keputusansendiri untuk mengeluarkan sumberdayaperusahaan untuk “kepentingan sosial”,mereka menambahkannya dalam biayaoperasional perusahaan. Biaya-biaya ini akanditanggung konsumen dalam bentuk hargayang lebih tinggi atau ditanggung olehpemegang saham berupa penegembaliankeuntungan sebagai deviden yang jumlahnyalebih kecil.Pada pandangan ini tidak dikatakanbahwa perusahaan seharusnya tidakmempunyai tanggung jawab secara sosial.Tetapi bentuk luas dari tanggungjawabtersebut adalah memaksimalkan keuntunganbagi pemegang saham.
 Pandangan Sosial Ekonomi
Pandangan Sosial Ekonomididasarkan pada keyakinan bahwa harapanmasyarakat terhadap bisnis telah berubah.Perusahaan bukanlah entitas berdirisendiri/bebas yang hanya bertanggung jawabpada pemegang saham. Mereka jugabertanggung jawab pada masyarakat yanglebih luas yang mengesahkan kreasi-kreasimereka melalui berbagai hukum danperaturan dan mendukung mereka denganmembeli produk dan jasa mereka. Tambahanlagi, pendukung pandangan sosial ekonomiyakin bahwa organisasi bisnis tidak hanyasekedar institusi ekonomi. Masyarakatmenerima bahkan mendorong bisnis untukmenjadi terlibat dalam isu-isu sosial, politik,dan hukum.
 Volume 2 Nomor 3, Desember 05/ Dzulqa’idah 1426 H ISSN 1411 - 0776
46

Activity (16)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Dadi Priyambodo liked this
diontrycool liked this
sznshaza liked this
M Irfan Ilmy liked this
Hidup Bahagia liked this
toxse liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->