JURNAL DIKTA EKONOMI
Volume 3 No. 3, Desember 2006
pertumbuhan ekonomi Indonesiayang mantap dengan tingkatpertumbuhan rata-rata 7 % pertahun sebelum krisis; akan tetapi,setelah masuk dalam krisis ekonomi(1998) anjlok dengan minus 15 %.Kenaikan tingkat suku bunga yangbegitu tinggi, dari rata-rata 20 %menjadi 70 % pertahun. Krisis itupula menyebabkan membengkak-nya utang luar negeri Indonesiaseiring menguatnya nilai tukardollar Amerika Serikat terhadaprupiah.Perbankan merupakaninstitusi ekonomi Indonesia yangpaling besar terkena imbasnya darikrisis ekonomi yang terjadi, tanpamenafikan institusi lainnya. Hal inimemang wajar, sebab krisisekonomi di Indonesia dan negara-negara Asia lainnya merupakankrisis yang diawali dari duniaperbankan. Akibatnya, banyakbank, baik bank pemerintahmaupun swasta yang mengalamikekurangan likuiditas yangmenyebabkan beberapa bankdiambil alih oleh pemerintah danbahkan ditutup operasionalnya.Pemerintah melalui MenteriKeuangan, mengemukan bahwapencabutan izin usaha bank-banktersebut disebabkan beberapakriteria, antara lain:
Pertama
, assetyang dimiliki tidak cukup untukmenutup kewajibannya. Hal itudisebabkan karena besarnya kreditmacet.
Kedua,
akibat besarnya kreditmacet, maka penghasilan yangdiporoleh bank tidak bisa menutupibiaya-biaya yang dikeluarkannya.Hal ini menimbulkan kerugian yangkemudian dari tahun ke tahunsemakin besar.
Ketiga,
kemampuanbank untuk menghimpun danamasyarakat semakin berkurang,sehingga sumber pendanaan bankbanyak tergantung pada pasar uangantarbank yang berjangka pendekdan berbunga tinggi.
Keempat
,karena akumulasi kerugian yangsemakin besar, mengakibatkanmodal menjadi negative.Tingkat inflasi yang tinggiserta kondisi ekonomi makro secaraumum yang tidak bagus terjadibersamaan dengan kondisiperbankan yang tidak dapatmemobilisasikan dana dengan baik,fenomena yang terjadi pada masasebelum deregulasi tersebut seolah-olah menjadi suatu lingkaran yangtidak ada ujung pangkalnya sertasaling mepengaruhi.Untuk mengatasai situasiyang serba tidak menguntungkanini cara yang ditempuh pemerintahpada waktu itu adalah denganmelakukan melakukan kebijakanberupa deregulasi di sektor riil dandi sektor moneter. Pada tahap awalderegulasi lebih cepat dampaknyapada sektor moneter melaluiserangkaian perubahan diduniaperbankan. Meskipun istilah yangdigunakan “deregulasi”, tidakberarti bahwa perubahan yangdilakukan sepenuhnya berupapengurangan pembatasan ataupengaturan di dunia perbankan.Perubahan yang terjadi jugatermasuk peningkatan pengaturanpada bidang-bidang tertentu,sehingga deregulasi ini lebih tepatdiartikan sebagai perubahan-perubahan yang dimotori olehotoritas moneter untukmeningkatkan kinerja duniaperbankan, dan pada akhirnya akanmeningkatkan kinerja sektor riil.Sebagai lembaga intermediasiantara pihak-pihak yang memiliki
ISSN 1411-0776