Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
109Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Kinerja Keuangan Bank Syariah

Kinerja Keuangan Bank Syariah

Ratings:

2.0

(1)
|Views: 4,795 |Likes:
This research will analyze Financial Performance Comparison among Syariah Banks and Conventional Banks: before and after of financial deregulation and monetary crisis. This Comparison will perform a case study between Muamalat Indonesian Bank (Syariah Banking) and BTPN, Sumatera Utara Bank, Mestika Bank, and American Express Bank (Conventional Banking).
This research will analyze Financial Performance Comparison among Syariah Banks and Conventional Banks: before and after of financial deregulation and monetary crisis. This Comparison will perform a case study between Muamalat Indonesian Bank (Syariah Banking) and BTPN, Sumatera Utara Bank, Mestika Bank, and American Express Bank (Conventional Banking).

More info:

Published by: Perdana Wahyu Santosa on Apr 23, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/28/2013

pdf

text

original

 
 JURNAL DIKTA EKONOMI 
Volume 3 No. 3, Desember 2006
 
ANALISIS PERBANDINGAN KINERJA KEUANGANBANK SYARIAH DENGAN BANK UMUMKONVENSIONAL SEBELUM DAN SESUDAHDEREGULASI FINANSIAL DAN KRISIS MONETERSTUDY KASUS : BMI DAN 4 (EMPAT) BANKUMUM KONVENSIONAL
MUSTAFA EDWIN NASUTION
Universitas Indonesia 
SURYA DENI
Universitas Indonesia 
 Abstract
This research will analyze Financial Performance Comparison among Syariah Banksand Conventional Banks: before and after of financial deregulation and monetarycrisis. This Comparison will perform a case study between Muamalat IndonesianBank (Syariah Banking) and BTPN, Sumatera Utara Bank, Mestika Bank, and American Express Bank (Conventional Banking). This analysis result is based onFinancial Banking ratios from CAREL (Capital, Asset, Rentability, Earnings,Liquidity) where this CAREL is a representative from Financial Indicator ratiossuch as CAR, NPL, ROA, ROE, BOPO and LDR. Using a statistical methodIndependent t-test, there is a significantly comparison of financial performanceamong Syariah Banking and Conventional Banking, except financial ratio ROE nothave significantly Comparison. The analysis result based on a statistical PairedSample Test states that statistical test result using Compare Means describes thatall performances that are stated by the variable of totality performances. Thisvariable is the totalling financial ratios by adding certainly value weight. From the five banks, only Sumatera Utara Bank has impact significantly after financialderegulation and monetary crisis.According to Bank Indonesia, MuamalatIndonesian Bank has the best financial ratio NPL and LDR. This condition will arisecustomers’ trust to Syariah Banking and government is suggested to protect anddevelop with regulations of Syariah Banking.Key words : financial performance, conventional and syariah banking, financialderegulation, monetary crisis
PENDAHULUAN
Pada pertengahan tahun1980-an berbagai macam deregulasidikeluarkan oleh pemerintah untukmenggairahkan industri perbankan.Diawali dengan diluncurkannyaPaket Kebijakan 27 Oktober 1988(PAKTO) yang mencakup bidang
ISSN 1411-0776
 
 JURNAL DIKTA EKONOMI 
Volume 3 No. 3, Desember 2006
 
keuangan, moneter dan perbankan.Kebijakan di bidang perbankanantara lain meliputi pemberiankemudahan-kemudahan dalammembuka kantor bank, danLembaga Keuangan Bukan Bank,memperkenankan pendirian bank-bank swasta baru antara lain denganpenetapan syarat modal disetorminimal Rp10 milyar, jugamemberikan kesempatan untukmendirikan Bank PerkreditanRakyat (BPR) dengan modalminimum Rp.50 juta, danmemperingan persyaratan bagibank menjadi bank devisa.Puncak krisis ekonomi danmoneter beberapa tahun lalu masihmemberikan dampak yang nyatapada kehidupan masyarakat,ditandai dengan terpuruknyasektor-sektor penggerak perekono-mian, meningkatnya konflik-konfliksosio-politik, serta tingginya tingkatpelangggaran hak asasi manusia.Selain itu, kondisi politik dalamnegeri yang menghangat sertakeamanan international paskaperang Irak yang cenderung tidakstabil, juga pengaruh padaperkembangan pembangunan diIndonesia.Krisis ekonomi yangmelanda perekonomian bangsaIndonesia menimbulkan berbagaiefek dalam kehidupan bangsa ini,tidak hanya dalam kehidupanekonomi, tapi juga menimbulkankrisis yang berkepanjangan dalambidang politik dan sosialmasyarakat. Krisis tersebutmemaksa para elit politik bangsaIndonesia melakukan berbagireformasi ekonomi dan politik.Kebijakan – kebijakan ekonomi lebihdiarahkan bagaimana masyarakatIndonesia bisa keluar dari krisistersebut dengan melakukanberbagai macam cara dan metodeyang ada.Krisis ekonomi tersebutmerupakan rangkaian dari krisisyang melanda beberapa negara diAsia, khususnya negara-negara AsiaTenggara. Krisis ekonomi negara –negara Asia berawal dari gejolakterjadi di pasar uang yang terjadi diThailand pada awal bukan Juli 1997.Krisis yang terjadi di Thailandmerupakan kepanikan keuanganThailand yang ditimbulkan karenaperubahan sentiment pasarterhadap perekonomian negaratersebut. Kepanikan keuangan itudimulai dengan para kreditor daninvestor menghentikan dana masukdan menggantinya dengan gerakanpenarikan dana yang merekainvestasikan sehingga menekan nilaitukar mata uang
bath
, mata uangThailand, terhadap
dollar 
AmerikaSerikat. Gejolak itu disikapipemerintah Thailand denganmengubah system nilai tukar matauang
bath
, dari system nilai tukartetap menjadi mengambang padatanggal 2 Juli 1997. Krisis yangmelanda Thailand dengan cepatmerambah negara-negara lain diAsia seperti Korea Selatan, Filipina,Malaysia dan termasuk Indonesiapada pertengahan bulan Juli tahun1997. Indonesia adalah salah satunegara yang masih dilanda krisisekonomi sampai sekarang.Krisis tersebut telahmenyebabkan terpuruknya berbagaiindikator ekonomi makro. Padatahun 1998 laju inflasi mencapai 78%, bahkan mencapai angka 100 %pertengahan tahun 1999, padahaltahun-tahun sebelumnya, selaludibawah 10 %. Sedangkan
ISSN 1411-0776
 
 JURNAL DIKTA EKONOMI 
Volume 3 No. 3, Desember 2006
 
pertumbuhan ekonomi Indonesiayang mantap dengan tingkatpertumbuhan rata-rata 7 % pertahun sebelum krisis; akan tetapi,setelah masuk dalam krisis ekonomi(1998) anjlok dengan minus 15 %.Kenaikan tingkat suku bunga yangbegitu tinggi, dari rata-rata 20 %menjadi 70 % pertahun. Krisis itupula menyebabkan membengkak-nya utang luar negeri Indonesiaseiring menguatnya nilai tukardollar Amerika Serikat terhadaprupiah.Perbankan merupakaninstitusi ekonomi Indonesia yangpaling besar terkena imbasnya darikrisis ekonomi yang terjadi, tanpamenafikan institusi lainnya. Hal inimemang wajar, sebab krisisekonomi di Indonesia dan negara-negara Asia lainnya merupakankrisis yang diawali dari duniaperbankan. Akibatnya, banyakbank, baik bank pemerintahmaupun swasta yang mengalamikekurangan likuiditas yangmenyebabkan beberapa bankdiambil alih oleh pemerintah danbahkan ditutup operasionalnya.Pemerintah melalui MenteriKeuangan, mengemukan bahwapencabutan izin usaha bank-banktersebut disebabkan beberapakriteria, antara lain:
Pertama
, assetyang dimiliki tidak cukup untukmenutup kewajibannya. Hal itudisebabkan karena besarnya kreditmacet.
Kedua,
akibat besarnya kreditmacet, maka penghasilan yangdiporoleh bank tidak bisa menutupibiaya-biaya yang dikeluarkannya.Hal ini menimbulkan kerugian yangkemudian dari tahun ke tahunsemakin besar.
Ketiga,
kemampuanbank untuk menghimpun danamasyarakat semakin berkurang,sehingga sumber pendanaan bankbanyak tergantung pada pasar uangantarbank yang berjangka pendekdan berbunga tinggi.
Keempat
,karena akumulasi kerugian yangsemakin besar, mengakibatkanmodal menjadi negative.Tingkat inflasi yang tinggiserta kondisi ekonomi makro secaraumum yang tidak bagus terjadibersamaan dengan kondisiperbankan yang tidak dapatmemobilisasikan dana dengan baik,fenomena yang terjadi pada masasebelum deregulasi tersebut seolah-olah menjadi suatu lingkaran yangtidak ada ujung pangkalnya sertasaling mepengaruhi.Untuk mengatasai situasiyang serba tidak menguntungkanini cara yang ditempuh pemerintahpada waktu itu adalah denganmelakukan melakukan kebijakanberupa deregulasi di sektor riil dandi sektor moneter. Pada tahap awalderegulasi lebih cepat dampaknyapada sektor moneter melaluiserangkaian perubahan diduniaperbankan. Meskipun istilah yangdigunakan “deregulasi”, tidakberarti bahwa perubahan yangdilakukan sepenuhnya berupapengurangan pembatasan ataupengaturan di dunia perbankan.Perubahan yang terjadi jugatermasuk peningkatan pengaturanpada bidang-bidang tertentu,sehingga deregulasi ini lebih tepatdiartikan sebagai perubahan-perubahan yang dimotori olehotoritas moneter untukmeningkatkan kinerja duniaperbankan, dan pada akhirnya akanmeningkatkan kinerja sektor riil.Sebagai lembaga intermediasiantara pihak-pihak yang memiliki
ISSN 1411-0776

Activity (109)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
dimansc liked this
Wahyu Fitri liked this
Bakti Sri Rahayu liked this
Andini Ayoe liked this
Cha AJah liked this
Ayunita Auliya liked this
Ipung Pradana liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->