Ini berbeda dengan kegelisahan “terapan” yang terjadi dalam peristiwa kehidupansehari-hari, seperti kegelisahan karena anaknya sampaimalam belum pulang, orang tuayang sakit keras, istrinya yang sedang melahirkan, diasingkan oleh orang-orangsekitarnya, melakukan perbuatan dosa yang ditentang nuraninya, dan sebagainya.Alasan mendasar mengapa manusia gelisah ialah karena manusia memiliki hatidan perasaan. Bentuk kegelisahannya berupa keterasingan, kesepian, danketidakpastian. Perasaan-perasaan semacam ini silih berganti dengan kebahagiaan,kegembiraan dalam kehidupan manusia. Persaan seseorang yang sedang gelisah, ialahhatinya tidak tenteram, merasa khawatir, cemas, takut, jijik dan sebagainya.Perasaan cemas menurut Sigmun Freud ada tiga macam, yaitu:1.Kecemasan obyektif, kegelisahan ini mirip dengan kegelisahan terapan, sepertianaknya yang belum pulang, orang tua yang sedang sakit keras, dan sebagainya.2.Kecemasan neurotik (saraf). Hal ini timbul akibat pengamatan tentang bahaya darinaluri. Contohnya dalam penyesuaian diri dengan lingkungan, rasatakut yang irasionalsemacam fobia, rasa gugup, dan sebagainya.3.Kecemasan moral. Hal ini muncul dari emosi diri sendiri seperti perasaan iri, dengki,dendam, hasud, marah, rendah diri, dan sebagainya.Uraian tentang penderitaan disini dianalogikan dengan perasaan gelisah(kegelisahan hati) sebagai akibat kecemasan moral. Untuk mengatasi kegelisahan ini(dalam ajaran islam), manusia diperintahkan untuk meningkatkan iman, takwa, danamal shaleh. Seperti difirmankan : “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluhkesah lagi kikir, apabila ditempa kesusahan, ia berkeluh kesah, tetapi bila iamendapatkan kebaikan, ia amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat,mereka yang tetap mengrjakan shalatnya, dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu bagi orang miskin (yang tidak dapat meminta), dan orang-orang yangmempercayai hari pembalasan, dan orang-orang yang takut terhadap adzab Tuhannya.’’Hanya dengan cara mendekatkan diri kepada Tuhan, maka hati gelisah manusiaakan hilang. Mendekatkan diri bukan hanya dengan cara melalui hubungan vertikaldengan Tuhan, tetepi juga melalui hubungan horizontal dengan sesame manusiasebagaimana diperintahkan oleh Tuhan sendiri.Tentang kecemasan ini Sigmund freud membedakan menjadi tiga macam:kecemasan kenyataan (obyektif), kecemasan neurotic, dan kecemasan moral