Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
281Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
ALIRAN- Aliran Pendidikan

ALIRAN- Aliran Pendidikan

Ratings: (0)|Views: 22,740 |Likes:
Published by DWI ANDRI YATMO

More info:

Published by: DWI ANDRI YATMO on Apr 25, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/13/2014

pdf

text

original

 
BAB IPENDAHULUAANLembaga pendidikan pada umumnya adalah sarana bagi proses pewarisan maupun transformasi pengetahuan dan nilai-nilai antar generasi. Dari sini dapat terpahami bahwa pendidikan senantiasamemiliki muatan ideologis tertentu yang antara lain terekam melalui konstruk filosofis yangmendasarinya. Kata Roem Topatimasang, sekolah memang bukanlah sesuatu yang netral atau bebasnilai. Sebab tak jarang dan seringkali demikian, pendidikan dianggap sebagai wahana terbaik bagi pewarisan dan pelestarian nilai-nilai yang nyatanya sekedar yang resmi, sedang berlaku dan direstui bahkan wajib diajarkan di semua sekolah dengan satu penafsiran resmi yang seragam pula.Dinamika sistem pendidikan yang berlangsung di Indonesia dalam berbagai era kesejarahan akanmenguatkan pandangan ini, betapa dunia pendidikan memiliki keterkaitan sangat erat dengankondisi sosial-politik yang tengah dominan.Sebuah bagan skematik dari William F. O’neil berikut in menunjukkan bagaimana nalar relasionalantara filsafat dengan dunia pendidikan:1. Ontologi (Apa yang tertinggi yang bisa diketahui, dan bagaimana kita bisa mengetahuinya[epistemologi, ny.]?)2. Aksiologi (Apakah kebaikan tertinggi itu?)3. Teori Moral (Apakah perilaku antarmanusia yang baik itu?)4. Filosofi Politik (Apakah organisasi sosial yang baik itu?)5. Filosofi Pendidikan (Pengetahuan macam apa yang diperlukan dan bagaimana semestinya iaditanamkan?)Filsafat pendidikan merupakan terapan dari filsafat umum, maka dalam membahas filsafat pendidikan akamn berangkat dari filsafat. Dalam arti, filsafat pendidikan pada dasarnyamenggunakan cara kerja filsafat dan akan menggunakan hasil-hasil dari filsafat, yaitu berupa hasil pemikiran manusia tentang realitas, pengetahuan, dan nilai.Dalam filsafat terdapat berbagai mazhab, aliran-aliran, seperti materialisme, idealisme, realisme, pragmatisme, dan lain-lain. Karena filsafat pendidikan merupakan terapan dari filsafat, sedangkanfilsafat beraneka ragam alirannya, maka dalam filsafat pendidikan pun kita akan temukan berbagaialiran, sekurang-kurnagnya sebanyak aliran filsafat itu sendiri.Brubacher (1950) mengelompokkan filsafat pendidikan pada dua kelompok besar, yaitu filsafat pendidikan “progresif” dan filsafat pendidikan “ Konservatif”. Yang pertama didukung oleh filsafat pragmatisme dari John Dewey, dan romantik naturalisme dari Roousseau. Yang kedua didasari olehfilsafat idealisme, realisme humanisme (humanisme rasional), dan supernaturalisme atau realismereligius. Filsafat-filsafat tersebut melahirkan filsafat pendidikan.Perspektif O’neil (H.A.R. Tilaar) memandang titik tolak pedagogik dari tindakan pemanusiaan.Sehingga pendidikan tidak bisa dilepaskan dari filsafat manusia. Jadi, justru perbedaan persepsitentang manusia inilah yang kemudian melahirkan berbagai aliran dalam dunia pendidikan.BAB IIALIRAN-ALIRAN PENDIDIKANSejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, pendidikan memiliki nuansa berbeda antara suatudaerah dengan daerah lain, sehingga banyak bermunculan pemikiran-pemikiran yang dianggapsebagai penyesuaian proses pendidikan dengan kebutuhan yang diperlukan. Karenanya banyak teoriyang dikemukakan pada pemikir yang bermuara pada munculnya berbagai aliran pendidikan.Aliran-aliran pendidikan telah dimaulai sejak awal hidup manusia, karena setiap kelompok manusiaselalu dihadapkan dengan generasi muda keturunannya yang memerlukan pendidikan yang lebih baik dari orang tuanya. Di dalm kepustakaan tentang aliran-aliran pendidikan, pemikiran-pemikirantentang pendidikan telah dimulai dari zaman Yunani kuno sampai kini. Oleh karena itu bahasantersebut hanya dibatasi pada beberapa rumpun aliran klasik, pengaruhnya sampai saat ini dan duatonggak penting pendidikan di Indonesia.A. ALIRAN KLASIK DAN GERAKAN BARU DALAM PENDIDIKANAliran-aliran klasik yang dimaksud adalah aliran empirisme, nativisme, naturalisme, dankonvergensi. Sampai saat ini aliran aliran tersebut masih sering digunakan walaupun dengan
 
 pengembangan-pengembangan yang disesuaikan dengan perkembangan zaman.1. Aliran-aliran klasik dalam pendidikan dan pengaruhnya terhadap pemikiran pendidikan diindonesia.a. ESENSIALISMEEsensialisme adalah pendidikan yang di dasarkan kepada nilai-nilai kebudayaan yang telah adasejak awal peradaban umat manusia. Esensialisme muncul pada zaman Renaissance dengan ciri-ciriutama yang berbeda dengan progresivisme. Perbedaannya yang utama ialah dalam memberikandasar berpijak pada pendidikan yang penuh fleksibilitas, di mana serta terbuka untuk perubahan,toleran dan tidak ada keterkaitan dengan doktrin tertentu. Esensialisme memandang bahwa pendidikan harus berpijak pada nilai-nilai yang memiliki kejelasan dan tahan lama yangmemberikan kestabilan dan nilai-nilai terpilih yang mempunyai tata yang jelas.Idealisme dan realisme adalah aliran filsafat yang membentuk corak esensialisme. Dua aliran ini bertemu sebagai pendukung esensialisme, akan tetapi tidak lebur menjadi satu dan tidak melepaskan sifatnya yang utama pada dirinya masing-masing.Dengan demikian Renaissance adalah pangkal sejarah timbulnya konsep-konsep pikir yang disebutesensialisme, karena itu timbul pada zaman itu, esensialisme adalah konsep meletakkan sebagianciri alam pikir modern. Esensialisme pertama-tama muncul dan merupakan reaksi terhadapsimbolisme mutlak dan dogmatis abad pertengahan. Maka, disusunlah konsep yang sistematis danmenyeluruh mengenai manusia dan alam semesta, yang memenuhi tuntutan zamanTokoh-tokoh Esensialisme1) Georg Wilhelm Friedrich Hegel (1770 – 1831)Georg Wilhelm Friedrich HegelHegel mengemukakan adanya sintesa antara ilmu pengetahuan danagama menjadi suatu pemahaman yang menggunakan landasan spiritual.2) George Santayana3) George Santayana memadukan antara aliran idealisme dan aliran realisme dalam suatu sintesadengan mengatakan bahwa nilai itu tidak dapat ditandai dengan suatu konsep tunggal, karena minat, perhatian dan pengalaman seseorang menentukan adanya kualitas tertentu.Pandangan Esensialisme dan Penerapannya di Bidang Pendidikan1. Pandangan Essensialisme Mengenai Belajar Idealisme, sebagai filsafat hidup, memulai tinjauannya mengenai pribadi individu dengan menitik  beratkan pada aku. Menurut idealisme, bila seorang itu belajar pada taraf permulaan adalahmemahami akunya sendiri, terus bergerak keluar untuk memahami dunia obyektif. Darimikrokosmos menuju ke makrokosmos. belajar dapat didefinisikan sebagai jiwa yang berkembang pada sendirinya sebagai substansi spiritual. Jiwa membina dan menciptakan diri sendiri.2. Pandangan Essensialisme Mengenai KurikulumBeberapa tokoh idealisme memandang bahwa kurikulum itu hendaklah berpangkal pada landasanidiil dan organisasi yang kuat b. PROGRESIVISMEProgresivisme adalah suatu gerakan dan perkumpulan yang didirikan pada tahun 1918. Aliran ini berpendapat bahwa pengetahuan yang benar pada masa kini mungkin tidak benar di masamendatang. Pendidikan harus terpusat pada anak bukannya memfokuskan pada guru atau bidangmuatan. Beberapa tokoh dalam aliran ini : George Axtelle, William O. Stanley, Ernest Bayley,Lawrence B. Thomas dan Frederick C. Neff.Progravisme mempunyai konsep yang didasari oleh pengetahuan dan kepercayaan bahwa manusiaitu mempunyai kemampuan-kemampuan yang wajar dan dapat menghadapi dan mengatasi maslah-masalah yang bersifat menekan atau mengancam adanya manusia itu sendiri (Barnadib, 1994:28).Oleh karena kemajuan atau progres ini menjadi suatu statemen progrevisme, maka beberapa ilmu pengetahuan yang mampu menumbuhkan kemajuan dipandang merupakan bagian utama darikebudayaan yang meliputi ilmu-ilmu hayat, antropologi, psikologi dan ilmu alam.Progresivisme berpendapat tidak ada teori realita yang umum. Pengalaman menurut progresivisme bersifat dinamis dan temporal; menyala. tidak pernah sampai pada yang paling ekstrem, serta
 
 pluralistis. Menurut progresivisme, nilai berkembang terus karena adanya pengalaman-pengalaman baru antara individu dengan nilai yang telah disimpan dalam kehudayaan. Belajar berfungsiuntuk :mempertinggi taraf kehidupan sosial yang sangat kompleks. Kurikulum yang baik adalahkurikulum yang eksperimental, yaitu kurikulum yang setiap waktu dapat disesuaikan dengankebutuhan.Progresvisme merupakan pendidikan yang berpusat pada siswa dan memberi penekanan lebih besar  pada kreativitas, aktivitas, belajar “naturalistik”, hasil belajar “dunia nyata” dan juga pengalamanteman sebayaAliran progesivisme telah memberikan sumbangan yang besar di dunia pendidikan saat ini. Aliranini telah meletakkan dasar-dasar kemerdekaan dan kebebasan kepada anak didik. Anak didik diberikan kebaikan baik secara fisik maupun cara berpikir, guna mengembangkan bakat dankemampuan yang terpendam dalam dirinya tanpa terhambat oleh rintangan yang dibuat oleh oranglain (Ali, 1990: 146). Oleh karena itu, filsafat progesivisme tidak menyetujui pendidikan yangotoriter.John Dewey memandang bahwa pendidikan sebagai proses dan sosialisasi (Suwarno, 1992: 62-63).Maksudnya sebagai proses pertumbuhan anak didik dapat mengambil kejadian-kejadian dari pengalaman lingkungan sekitarnya. Maka dari itu, dinding pemisah antara sekolah dan masyarakat perlu dihapuskan, sebab belajar yang baik tidak cukup di sekolah saja.Dengan demikian, sekolah yang ideal adalah sekolah yang isi pendidikannya berintegrasi denganlingkungan sekitar. Karena sekolah adalah bagian dari masyarakat. Dan untuk itu, sekolah harusdapat mengupyakan pelestarian karakteristik atau kekhasan lingkungan sekolah sekitar atau daerahdi mana sekolah itu berada. Untuk dapat melestarikan usaha ini, sekolah harus menyajikan program pendidikan yang dapat memberikan wawasan kepada anak didik tentang apa yang menjadikarakteristik atau kekhususan daerah itu. Untuk itulah, fisafat progesivisme menghendaki sis pendidikan dengan bentuk belajar “sekolah sambil berbuat” atau learning by doing (Zuhairini,1991: 24).Dengan kata lain akal dan kecerdasan anak didik harus dikembangkan dengan baik. Perlu diketahui pula bahwa sekolah tidak hanya berfungsi sebagai pemindahan pengetahuan (transfer of knowledge), melainkan juga berfungsi sebagai pemindahan nilai-nilai (transfer of value), sehinggaanak menjadi terampildan berintelektual baik secara fisik maupun psikis. Untuk itulah sekat antarasekolah dengan masyarakat harus dihilangkan.Tokoh-tokoh Progresivisme1. William James (11 Januari 1842 – 26 Agustus 1910)James berkeyakinan bahwa otak atau pikiran, seperti juga aspek dari eksistensi organik, harusmempunyai fungsi biologis dan nilai kelanjutan hidup. Dan dia menegaskan agar fungsi otak atau pikiran itu dipelajari sebagai bagian dari mata pelajaran pokok dari ilmu pengetahuan alam. JadiJames menolong untuk membebaskan ilmu jiwa dari prakonsepsi teologis, dan menempatkannya diatas dasar ilmu perilaku.2. John Dewey (1859 – 1952)Teori Dewey tentang sekolah adalah “Progressivism” yang lebih menekankan pada anak didik danminatnya daripada mata pelajarannya sendiri. Maka muncullah “Child Centered Curiculum”, dan“Child Centered School”. Progresivisme mempersiapkan anak masa kini dibanding masa depanyang belum jelas3. Hans Vaihinger (1852 – 1933)Hans VaihingerMenurutnya tahu itu hanya mempunyai arti praktis. Persesuaian dengan obyeknyatidak mungkin dibuktikan; satu-satunya ukuran bagi berpikir ialah gunanya (dalam bahasa YunaniPragma) untuk mempengaruhi kejadian-kejadian di dunia. Segala pengertian itu sebenarnya buatansemata-mata; jika pengertian itu berguna. untuk menguasai dunia, bolehlah dianggap benar, asalorang tahu saja bahwa kebenaran ini tidak lain kecuali kekeliruan yang berguna saja.Pandangan Progesivisme dan Penerapannya di Bidang PendidikanAnak didik diberikan kebebasan baik secara fisik maupun cara berpikir, guna mengembangkan bakat dan kemampuan yang terpendam dalam dirinya, tanpa terhambat oleh rintangan yang dibuat

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->