Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
47Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
AGAMA DAN KEMISKINAN edit

AGAMA DAN KEMISKINAN edit

Ratings:

4.75

(24)
|Views: 4,168 |Likes:
Published by Agn Mul

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: Agn Mul on May 22, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/02/2013

pdf

text

original

 
 
1
 AGAMA DAN KEMISKINANUsaha Memahami Kemiskinan Secara Multidimensional
1
  A.
 
Pendahuluan
 Agama secara inheren memiliki nilai-nilai emansipasi, karena itu dalamsejarah agama telah menempatkan dirinya sebagai penggerak perubahan. Dalamkonteks Indonesia,
ketertinggalan 
yang berarti
kemiskinan 
merupakan tantanganyang harus diatasi dengan partisipasi dan keberpihakan agama, karena darikomposisi masyarakat Indonesia dikenal sebagai masyarakat yang religius. Namunpotensinya belum tergali secara signifikan guna membebaskan masyarakat dariberbagai masalah. Sebagai bangsa yang religius, kita perlu berpikir serius tentang tanggung jawab moral-sosial terkait apa yang dihadapi bangsa ini. Agama denganiman dan kepercayaannya diharapkan ada pada garda terdepan perubahan sosialdan perbaikan derajat hidup dan kehidupan umatnya. Mungkin tidak berlebihanmenempatkan nilai-nilai iman yang emansipatif menjadi obor penerang ritualsosial yang membangkitkan bangsa. Pada batasnya, tugas mulia hadirnya agamaadalah untuk membangkitkan umat dari ketertinggalan.
Ketertinggalan 
yang berarti
kemiskinan 
dalam Islam dianggap sebagai persoalan serius sekaligus berbahaya,karena kemiskinan terkadang menjadikan tingkat keimanan menjadi terganggudan justru dikhawatirkan hilang atau dengan kata lain menjadi kafir.
2
 
Kemiskinan 
adalah fenomena yang begitu mudah dijumpai di mana-mana. Tidak hanya di desa-desa, namun juga di kota-kota. Di balik kemewahan gedung-gedung pencakar langit di kota, misalnya, tidak terlalu sulit dijumpai rumah-rumah kumuh berderet di bantaran sungai, atau para pengemis yang berkeliarandi perempatan-perempatan jalan. Berbagai program sudah dilakukan untuk mengatasi persoalan sosial tersebut, tetapi anehnya, secara statistik jumlah merekabukan berkurang, tetapi justru semakin bertambah. Terlebih lagi setelah krisisekonomi melanda Indonesia.
3
 
Makalah HA MUHTADI RIDWAN Disampaikan Pada Diskusi Rutin Dosen Fakultas Ekonomi UIN Malang - 22 Juli 2005 
2
Dalam hadis Nabi SAW. riwayat Anas dinyatakan :
"
اﺮﻔآ 
 
نﻮﻜﻳ 
 
نأ
 
ﺮﻘﻔﻟا
 
دﺎآ 
"
,Lihat Abu al-U’laMuhammad Abdurrahman ibn Abdurrahim al-Mubarakfuriy,
Tuhafah al-Ahwadziy (Syarakh Jami’ al- Turmudzi,
Juz kesepuluh (Bairut Lebanon: Dar al-Fikri, 1424 H/2003 M), 50..
3
Data tentang kemiskinan di Indonesia dapat disampaikan sebagai berikut : Jumlah penduduk miskin (penduduk yang berada dibawah Garis Kemiskinan) di Indonesia pada bulan Maret 2006sebesar 39,05 juta (17,75 persen). Dibandingkan dengan penduduk miskin pada Februari 2005 yang berjumlah 35,10 juta (15,97 persen), berarti jumlah penduduk miskin meningkat sebesar 3,95 juta.Persentase penduduk miskin antara daerah perkotaan dan perdesaan tidak banyak berubah.Pada bulan Maret 2006, sebagian besar (63,41 persen) penduduk miskin berada di daerah perdesaan. Terjadi pergeseran posisi penduduk miskin dan hampir miskin selama periode Februari 2005-Maret 2006. Sekitar 56,51 persen penduduk miskin pada bulan Februari 2005 tetap tergolong sebagaipenduduk 
miskin pada Maret 2006, sisanya berpindah posisi menjadi tidak miskin. Sebaliknya, 30,29 persenpenduduk hampir miskin di bulan Februari 2005 jatuh menjadi miskin pada bulan Maret 2006. Pada saat yangsama, 11,82 persen penduduk hampir tidak miskin di bulan Februari 2005 juga jatuh menjadi miskin padabulan Maret 2006. Bahkan 2,29 persen penduduk tidak miskin juga terjatuh menjadi miskin di bulan Maret2006. Perpindahan posisi penduduk ini menunjukkan jumlah kemiskinan sementara (
transient poverty
) cukupbesar.
 
Berita Resmi Statistik No. 47 / IX / 1 September 2006,
Tingkat Kemiskinan Di Indonesia Tahun 2005-2006,
1.Adapun program pengentasan kemiskinan, baik program Pemerintah maupun non Pemerintah dapatdisampaikan sebagai berikut : 1) Untuk program Pemerintah antara lain Program Inpres Desa Tertinggal (IDT), Jaringan Pengaman Sosial (JPS), Program Pengentasan Kemiskinan di Perkotaan (P2KP), Program KompensasiKenaikan BBM berupa Bantuan Langsung Tunai (BLT), Bantuan Tidak Langsung (BTL) dan BantuanOperasional Sekolah (BOS), Program Beras Miskin (Raskin), Kredit Usaha Tani (KUT), Kredit Ketahanan
 
 
Pada dekade terakhir ini, kemiskinan menjadi topik yang dibahas dandiperdebatkan di berbagai forum nasional dan internasional, walaupunkemiskinan itu sendiri telah muncul ratusan tahun yang lalu. Fakta menunjukkanpembangunan yang telah dilakukan belum mampu meredam meningkatnyajumlah penduduk miskin di dunia, khususnya negara-negara berkembang.Diperkirakan ada yang kurang tepat dalam mamahami dan merumuskanserta implementasi kebijakan untuk memberantas kemiskinan danmemberdayakan penduduk miskin. Selama ini kemiskinan lebih sering dikaitkandengan dimensi ekonomi karena dimensi inilah yang paling mudah diamati,diukur, dan diperbandingkan. Padahal kemiskinan berkaitan juga dengan berbagaidimensi lainnya, antara lain dimensi sosial, budaya, sosial politik, lingkungan(alam dan geografis), kesehatan, pendidikan, agama, dan budi pekerti. Menelaahkemiskinan secara multidimensional sangat diperlukan untuk memahami secarakomprehensip sebagai pertimbangan perumusan kebijakan pengentasankemiskinan.Naskah ini mencoba menelaah kemiskinan dari
segi normatif tekstual 
, baik menurut konsep agama (Islam) maupun teori yang dikembangkan para pakar,dan dari
segi empiris kontektual,
yaitu mencoba memahami hasil-hali penelitian yang dilakukan oleh berbagai pihak.
B.
 
Kemiskinan dari Segi Normatif Tekstual
Konsep tentang kemiskinan sangat beragam, mulai dari sekadarketidakmampuan memenuhi kebutuhan konsumsi dasar dan memperbaikikeadaan, kurangnya kesempatan berusaha, hingga pengertian yang lebih luas yang memasukkan aspek sosial dan moral. Misalnya, ada pendapat yang mengatakanbahwa kemiskinan terkait dengan sikap, budaya hidup, dan lingkungan dalamsuatu masyarakat atau yang mengatakan bahwa kemiskinan merupakanketakberdayaan sekelompok masyarakat terhadap sistem yang diterapkan olehsuatu pemerintahan sehingga mereka berada pada posisi yang sangat lemah dantereksploitasi (kemiskinan struktural). Tetapi pada umumnya, ketika orang berbicara tentang kemiskinan, yang dimaksud adalah kemiskinan material.Dengan pengertian ini, maka seseorang masuk dalam kategori miskinapabila tidak mampu memenuhi standar minimum kebutuhan pokok untuk dapathidup secara layak. Ini yang sering disebut dengan
kemiskinan konsumsitif 
. Memang definisi ini sangat bermanfaat untuk mempermudah membuat indikator orang miskin, tetapi defenisi ini sangat kurang memadai karena; (1) tidak cukup untuk memahami realitas kemiskinan; (2) dapat menjerumuskan ke kesimpulan yang salah bahwa menanggulangi kemiskinan cukup hanya dengan menyediakan bahanmakanan yang memadai; (3) tidak bermanfaat bagi pengambil keputusan ketikaharus merumuskan kebijakan lintas sektor, bahkan bisa kontraproduktif.Kajian tentang pemahaman kemiskinan yang hakiki dan komprehensipsangat diperlukan untuk memahami dan mencari penjelasan agar tidak terjadisalah urus ketika berusaha menanggulanginya. Dalam bab ini penulis mencobamengkaji konsep tersebut, baik yang berkaitan dengan hakikat pengertiankemiskinan, faktor dan indikatornya, dan bagaimana konsep pemberdayaan danpengentasannya dalam perspektif agama (Islam) maupun bagaimana realitas yang 
Pangan (KKP), Program Pengembangn Kecamatan (PPK), Proyek Padat Karya, Program Kesehatan keluargaMiskin (Gakin) dan lain-lain. 2) Untuk program non Pemerintah, antara lain ; Program Cepat Tanggap, SiagaGizi Nusantara, Layanan Kesehatan Masyarakat (Dompet Dlu’afa’), Program Tali Kasih, Bedah Rumah, UangKaget, Lunas (Media Televisi), dan lain-lain.
 
 
3
terjadi di masyarakat. Untuk yang terakhir ini penulis mencoba mengurai hasil-hasil penelitian yang pernah lakukan.
1.
 
Konsep Kemiskinan Perspektif Agama
a.
 
Pengertian Kemiskinan
 
Kemiskinan 
adalah akar kata dari
miskin 
dengan awalan
ke 
danakhiran
an 
yang menurut kamus bahasa Indonesia mempunyai persamaanarti dengan
kefakiran 
yang berasal
 
dari asal kata
 fakir 
dengan awalan
ke 
dan akhiran
an.
Dua kata tersebut seringkali juga disebutkan secarabergandengan;
 fakir miskin 
dengan pengertian orang yang sangatkekurangan.
4
Al-Qur’an memakai beberapa kata dalam menggambarkankemiskinan, yaitu
 faqir, miskin, al-sail, dan al-mahrum 
, tetapi dua kata yang pertama paling banyak disebutkan dalam ayat al-Qur’an. Kata fakirdijumpa dalam al-Qur’an sebanyak 12 kali dan kata miskin disebutsebanyak 25 kali,
5
yang masing-masing digunakan untuk pengertian yang bermacam-macam. Tentang dua golongan yang pertama;
 fakir 
dan
iskin 
para ahliberbeda pendapat, ada yang mengatakan bahwa dua golongan tersebutpada hakikatnya adalah sama. Demikian pendapat Abu Yusuf, pengikutImam Abu Hanifah dan Ibnu Qasim pengikut Imam Malik.
6
Berbedadengan pendapat sebagian besar ulama, sebenarnya keduanya adalah duagolongan tetapi satu macam, yakni dalam hal kondisi kekurangan dandalam kebutuhan. Para ahli tafsir dan ahli fikih juga berbeda pendapatdalam memberi definisi kedua kata tersebut. Yusuf Qardawi memberikanperumpamaan bahwa kedua kata tersebut seperti
Islam 
dan
Iman 
, kalaudikumpulkan terpisah, yakni masing-masing mempunyai arti tersendiri,dan jika dipisah terkumpul, yakni bila salah satu disebutkan sendiri-sendiri, masing-masing mempunyai arti buat kata lain yang sejajar.
7
 
4
Dua kata :
“fakir 
dan
miskin”
menurut kamus bahasa Indonesia sebenarnya mempunyai arti yangberbeda, fakir mempunyai dua pengetian; yaitu 1) orang yang sangat kekurangan; orang yang terlalu miskin. 2)orang yang sengaja membuat dirinya menderita kekurangan untuk mencapai kesempurnaan batin. Sedangkanmiskin juga mempunyai pengertian; 1) tidak berharta benda, serba kekurangan, berpenghasilan rendah. LihatLukman Ali et.all.,
Kamus Besar Bahasa Indonesia,
Edisi Kedua, Cetakan Ketujuh (Jakarta: Balai Pustaka, 1996),273 dan 660.
5
Ayat-ayat tentang fakir terdapat pada Qs. Faathir; 35: 15, al-Qashash; 28 : 24 , al-Baqarah ; 2 : 271, al-Baqarah ; 2 : 273, al-Baqarah ; 2 : 268, Ali ‘Imran; 3 : ,al-Nisa’; 4 : 6 , al-Nisa’; 4 : 135, al-Taubah; 9 :, al-Hajj; 22 :,al-Nur; 24 : 12. Muhammad; 47 : , al-Hasyr; 59 : . Sedangkan ayat-ayat miskin terdapat pada Qs. al-Baqarah ; 2 :184, al-Kahfi; 18 :, al-Rum; 30 :, al-Haqqah; 69 :, al-Mudatstsir; 74 :, al-Fajr; 89 :, al-Balad; 90 :, al-Ma’un; 107 :, al-Baqarah; 2 :, Ali ’Imran; 3 :, al-Nisa’; 4 : 8, al-Nisa’; 4 : 36, al-Ma’idah; 5 : 89, al-Ma’idah; 5 : 95, al-Anfal; 8 :, al-Taubah; 9 :, al-Isra’; 17 :, al-Nur; 24 :, al-Mujadalah; 58 :, al-Hasyr; 59 :, al-Qalam; 68 :, al-Insan; 76 :
6
Yusuf Qardawi,
Hukum Zakat,
Cetakan keenam (Jakarta: Litera AntarNusa, 2002), 511.
 
7
Orientalis Josef Schacht dalam
Ensiklopedi Islam
mengatakan : “Perbedaan antara kata “fakir danmiskin” ialah perbedaan yang dipaksa-paksa dalam segala seginya. Para ulama fikih biasanya sukumenafsirkan suatu definisi dan sering memasukkan diri mereka sendiri ke dalam salah satu kelompok itu.”Selanjutnya Yusuf Qardawi mengatakan sebagai umpan balik pernyataan Josef Schacht; kalau orangmempunyai sedikit saja etika kesarjanaan tidak akan mengeluarkan pernyataan kosong semacam itu. Orang-orang semacam Sarkhasi dari kalangan Hanafi, Ibnu al-Arabi dari Maliki, Nawawi dari kalangan Syafi’i, IbnuQudamah dari Hambali atau Ibnu Hazm dari kalangan Zahiri dan ulama-ulama fikih yang lain dari kalanganmazhab –akan punya ambisi demikian supaya mereka memperoleh zakat atas nama kaum fakir atau orangmiskin, dengan jalan mengubah pengertian-pengertian dan definisi itu dan supaya dengan demikian merekamemperoleh keuntungan materi. Ulama-ulama fikih itu sendiri dari kalangan berada yang malah mauberkorban, atau golongan miskin yang memang sudah tidak menginginkan harta (zakat). Jelas sekali ini dapatdiketahui oleh mereka yang sudah mengenal riwayat hidup para ulama itu. Mengenai anggapannya tentangperbedaan yang dipaksa-paksakan, nampaknya dia tidak menyadari adanya perbedaan-perbedaan yang begitumendetail antara istilah-istilah yang tergabung dalam satu ungkapan itu, Masalahnya adalah masalahlinguistik, sebelum ia menjadi masalah hukum (fikih). Oleh karena itu, baik ahli bahasa dan ahli tafsir maupun

Activity (47)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Drs. Anwar added this note
Ass Alaikum Wr. Wb. Saya Sangat tertarik untuk membaca tulisannya tapi saya tidak tahu bagaimana cara mendownloadnya, abis masih gatek
Nike Benu liked this
Asy Ari liked this
Said Mujahid liked this
Billy Pebrio Tan liked this
Reyval Hakim liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->