Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
2Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
NL_MEI_2008

NL_MEI_2008

Ratings: (0)|Views: 176 |Likes:
Dengan kedok melestarikan budaya, tribalisme suku-suku terasing di Indonesia diawetkan dan dijadilan obyek wisata. Tak boleh ada sentuhan dakwah. Berbagai lembaga dakwah coba mengirim puluhan da’i, silih berganti. Tapi karena kondisi para da’i itu hanya sedikit lebih baik daripada masyarakat binaannya, banyak yang putus di tengah jalan. Sahabat Mustahik menawarkan solusi.
Dengan kedok melestarikan budaya, tribalisme suku-suku terasing di Indonesia diawetkan dan dijadilan obyek wisata. Tak boleh ada sentuhan dakwah. Berbagai lembaga dakwah coba mengirim puluhan da’i, silih berganti. Tapi karena kondisi para da’i itu hanya sedikit lebih baik daripada masyarakat binaannya, banyak yang putus di tengah jalan. Sahabat Mustahik menawarkan solusi.

More info:

Published by: AL-AZHAR PEDULI UMMAT on Apr 27, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/26/2010

pdf

text

original

 
3
 A
 R
 A
 R
n e w s l e t t e r
Fokus
Sejuta Ummat Tak Cukup Satu Da’i
Dengan kedok melestarikan budaya, tribalismesuku-suku terasing di Indonesia diawetkan dan di- jadilan obyek wisata. Tak boleh ada sentuhan dak-wah. Berbagai lembaga dakwah coba mengirimpuluhan da’i, silih berganti. Tapi karena kondisi parada’i itu hanya sedikit lebih baik daripada masyarakatbinaannya, banyak yang putus di tengah jalan. Sa-habat Mustahik menawarkan solusi.Komplek Masjid Agung Al Azhar, Jl. Sisingamangaraja,Kebayoran Baru, Jakarta SelatanTelp. 021 7221504, Fax. 021 7265241
Edisi Jumadil Awal 1429 H, Mei - Juni 2008
3
Kilas Program
Bimrohis YPI: Bukan Akhir Segalanya
Dera penyakit kronis bisa menyebabkan putus asa.Apalagi vonis mati yang sudah dijatuhkan bagi se-orang pesakitan. Dunia seakan berakhir. Aktivis-aktivis Bimrohis YPI Al Azhar mendobrak kebuntu-an jiwa itu dengan memberikan bimbingan agamadan konseling. Membesarkan hati si sakit danmenyelinap ke balik jeruji besi untuk menjaga apiiman para napi tetap menyala.
 
H. Mursjid MahmudM. Anwar SaniJoko WindoroHerwibawaPane FahriPenanggungjawabPemimpin RedaksiRedaktur PelaksanaRedaksiKontributor 
Komplek Masjid Agung Al AzharJl. SisingamangarajaKebayoran Baru, Jakarta SelatanTelp. 021 7221504,Fax. 021 7265241Iklan (Dwi K): 0819 32922223
Dewan Pertimbangan:H. Ir. Adiwarman A Karim, SE, AK, MAEPH. Drs. Rusydi Hamka; H. Mahfud Makmun; H. Nasroul Hamzah, SHKomisi Pengawas:H. Drs. Soebroto Tirtoatmodjo;H. Arlinus Sampono; Agus Heryanto, SH; Dra. Massaina Daud;Drs. H. TulusBadan Pelaksana:H. Mursjid Mahmud;H. Chairul Anwar, SE; Hj. Aty NurchamidDirektur Eksekutif:M. Anwar SaniCorporate Secretary:SuryaningsihSupervisor Fundraising:Dwi Kartikaningsih, SEI;Cecep Ajid BustomiManajer Program:Joko WindoroPendayagunaan:Saripudin, Iwan RahmatKeuangan:Uci Komunikasi Media:Muhammad Taufik, HerwibawaPercetakan:Azzahra Graphic
(Isi di luar tanggungjawab percetakan)
Edisi Jumadil Awal 1429H 
M. Anwar Sani
Direktur Eksekutif Al Azhar Peduli Ummat
onatur yang dimuliakan Allah, pertengahan tahun lalu saya beranjangsana keRanah Minang. Selain menjajaki berdirinya Al Azhar Peduli Ummat Padang(alhamdulillah sekarang sudah aktif), agenda berikutnya adalah berziarah keManinjau, Nagari yang keberadaannya lekat dengan sejarah YPI Al Azhar. Taklain, kunjungan ke sana adalah untuk menyaksikan dari dekat progress pemberdayaanPonpes Prof. Hamka.Pondok eksotis di tepi Danau Maninjau itu berhasil menghidupi diri dari jajarankaramba apung yang kini hasilnya sudah diekspor sampai Malaysia. Bolehlah sayatersenyum simpul; setengah abad silam, orang jiran mendapat anugerah dari kampungManinjau melalui hadirnya sosok Buya Hamka yang rajin berdakwah dan melahirkanbanyak ummat di Malaysia. Sekarang, mereka bisa menikmati gurihnya ikan emasdan nila yang dipanen dari karamba berair sebening kaca.Tapi bukan
success story 
kecil itu yang membuat hati ini seakan tertambat ditepian Maninjau. Di Ponpes nan bersahaja itu, saya menyaksikan bagaimana puluhananak Kepulauan Mentawai menceburkan diri ke dalam gemilang fitrah Islam. Diantaranya sudah ada yang hafal satu - dua juz Al Qur’an. Ya, Ponpes Prof. Hamkamerupakan tujuan utama orang Mentawai menitipkan anak-anaknya yang semula dididikdalam tradisi animisme, atau Kristen. Di sela bahagia, satu fakta membuat saya tertegun. “Orang Mentawai mengantarkan anaknya ke sini bukan untuk menjadi Muslim.Mereka sebenarnya tidak peduli apakah anaknya beragama atau tidak. Kebanyakanorang Mentawai tidak peduli pada agama,” tutur Ustadz Zainul Arifin, Ketua Pondok.Keterangan beliau selanjutnya membuat saya terpukul KO: “Mereka menitipkan anak-anaknya di sini agar terbebas dari tanggungjawab memberi makan anak!” Kemiskinan, kata Rasulullah, dekat dengan kekufuran. Apalagi kalau kemiskinanitu berkelindan dengan kebodohan. Orang baduy Mentawai, sudah miskin dan bodoh,masih ditambah isolasi geografis yang memutus akses pencerahan. Makanya UstadzZainul Arifin tak heran melihat anak-anak Mentawai yang baru datang di Pondoknyaseenak udel memetik pisang di pekarangan tetangga. Mereka tak mengenal konsephak milik atas tanaman. Pohon pisang itu milik alam, siapa saja boleh memetik buahnya.Saya jadi teringat kata-kata Gandhi: “Tuhan, di mata orang-orang yang kelaparan,hanya bisa terlihat melalui sepotong roti.” Dan ihwal dakwah Islamiyah di Mentawaiyang “kalah menggigit” dibanding missionaris Kristen yang unggul dalam instrumenpendukung dakwah (fasilitas, gaji, hingga motor boat nan vital sebagai moda komuterdi kepulauan itu), saya terpaksa menelan mentah-mentah sinisme seorang kawan, “Baguslah masih ada Kristenisasi, daripada orang-orang itu menjadi bukti pembenarteori Darwin.” Kawan yang aktif menulis di berbagai media itu tidak benar-benar pro Kristenisasi.Ia sebenarnya menyindir betapa lemahnya kepedulian sosial kita, orang Islam; “KalauAnda hanya berasyik masyuk dengan diri sendiri, abai pada perut-perut lapar di sekitar, jangan salahkan orang lain yang datang membawa sepotong roti berisi tuhan sesuaikehendak yang memberi,” kata dia lagi. Lebih pedas, lebih mengiris.Maka simaklah kisah para
fiisabilillah
di Kepulauan Mentawai dalam “Fokus” edisiini. Dalam segala keterbatasan, mereka tak lekang mendakwahkan Islam. Juga “Sketsa” seorang da’i di Papua yang demi menegakkan Dienullah harus menerima fitnah, cacimaki, dilempari batu, diinjak-injak, bahkan berkali-kali dijebloskan ke penjara.Kemudian, do’a dan dukungan Anda kami harapkan untuk merealisasi program “Sahabat Mustahik” yang akan menjadikan para
fiisabilillah
itu sebagai sebenar benarsahabat mustahik yang tidak hanya berbekal kedalaman ilmu agama, tetapi mampumenjadi solusi atas problem keluarga-keluarga miskin yang didampingi. Benar, sudahsepantasnya para
fiisabilillah
mendapatkan haknya atas dana zakat sehingga aktivitasdakwahnya tak direcoki masalah dapur. Lebih dari itu, mereka pantas mendapat amunisilebih: menjadi mitra penyalur ZIS sehingga ketika menghadirkan Tuhan ke dalamrumah keluarga miskin, mereka juga bisa menyajikan roti. InsyaAllah.
[A]
Tuhan dalam Sepotong Roti
 D
 Assalamu’alaikum
 A
 RE 
newsletter
 A
 RE 
 
Fokus
 Sahabat Mustahik 
lhamdulillah
Ustadz, babi saya beranakbanyak.” Begitulah ungkapan syukurseorang muallaf di Masjid Nurul HidayahDusun Salappa, Desa Muntei, Kecamatan SiberutSelatan, Kepulauan Mentawai. Anda yang diJakarta mungkin
shock 
mendengarnya. Tapi tidakdengan Afdhal, da’i pembimbing jamaah NurulHidayah. Dia tetap
cool 
, meski hatinyamenjeritkan seribu
istighfar 
.Ya, untuk saat ini, Afdhal terpaksa “tutupmata” dulu dengan budaya tradisional yangmasih kental mewarnai warga binaannya.Misalnya, beternak anjing, babi, dan merajahtubuh dengan tatto. Prioritas dia adalahmenguatkan aqidah jamaah yang jumlahnyabaru seperlima dari total penduduk dusun.Capaian dakwah itu diperoleh setelahAfdhal berjibaku sekitar 2 tahun. Sangat lambat,memang. Tapi apa mau dikata, modal awalAfdhal memang lebih banyak berupa semangat.Lulusan SMA dari Pulau Bayak, Aceh, inimempertaruhkan nyawa ketika mulai berdakwahpada 1994. Dua tahun pertama pengabdiannyahabis untuk bersosialisasi dengan menguasai 5bahasa (Indonesia, Aceh, Padang, Nias, danMentawai).Sampai kini, Afdhal tetap sendirian,berteman keterbatasan dalam keterpencilan. Iatak bisa berharap pada 10 rekannya di lain desayang dipisahkan bukit, rawa, teluk, dan sungai.Sebab, mereka pun sendirian seperti dirinya.Bahkan ada yang tak tahan, dan akhirnya pulangkampung meninggalkan jamaah. Nelangsa nianmendengar istilah “mantan da’i”.Jelas, Kepulauan Mentawai butuh lebihbanyak lagi da’i. Padahal, umat di pelosokNusantara lainnya pun perlu rengkuhan dakwah.Misalnya sebagian suku di Sulawesi Utara, yang
hare gene
masih makan tikus. Juga sebagiansuku di Papua, yang masih telanjang danmenjadikan babi sebagai santapan sehari-hari.Jauh-jauh hari DR Mohammad Natsirkhawatir jika tribalisme semacam itu dilestarikandan dijadikan objek pariwisata. Karenanya, lewatDewan Dakwah yang beliau pimpin, sejak tahun70-an dikirimkan da’i-da’i ke pelosok negeri.Mereka membawa tugas yang dirumuskan MNatsir sebagai “
binaan wa difa’an” 
. Melakukanpembinaan umat, sekaligus mempertahankanIslam dari serangan yang hendak merusaknya.Ormas lain seperti MUI, Hidayatullah, DMI, juga mengutus para penyeru ke jalan Ilahi bagi
3
Sejuta UmatTak Cukup Satu Da’i
 A  
Ustadz Nurkib (berpici) bersama seorang suku baduy Mentawai binaannya

Activity (2)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 thousand reads
1 hundred reads

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->