H. Mursjid MahmudM. Anwar SaniJoko WindoroHerwibawaPane FahriPenanggungjawabPemimpin RedaksiRedaktur PelaksanaRedaksiKontributor
Komplek Masjid Agung Al AzharJl. SisingamangarajaKebayoran Baru, Jakarta SelatanTelp. 021 7221504,Fax. 021 7265241Iklan (Dwi K): 0819 32922223
Dewan Pertimbangan:H. Ir. Adiwarman A Karim, SE, AK, MAEPH. Drs. Rusydi Hamka; H. Mahfud Makmun; H. Nasroul Hamzah, SHKomisi Pengawas:H. Drs. Soebroto Tirtoatmodjo;H. Arlinus Sampono; Agus Heryanto, SH; Dra. Massaina Daud;Drs. H. TulusBadan Pelaksana:H. Mursjid Mahmud;H. Chairul Anwar, SE; Hj. Aty NurchamidDirektur Eksekutif:M. Anwar SaniCorporate Secretary:SuryaningsihSupervisor Fundraising:Dwi Kartikaningsih, SEI;Cecep Ajid BustomiManajer Program:Joko WindoroPendayagunaan:Saripudin, Iwan RahmatKeuangan:Uci
Komunikasi Media:Muhammad Taufik, HerwibawaPercetakan:Azzahra Graphic
(Isi di luar tanggungjawab percetakan)
Edisi Jumadil Awal 1429H
M. Anwar Sani
Direktur Eksekutif Al Azhar Peduli Ummat
onatur yang dimuliakan Allah, pertengahan tahun lalu saya beranjangsana keRanah Minang. Selain menjajaki berdirinya Al Azhar Peduli Ummat Padang(alhamdulillah sekarang sudah aktif), agenda berikutnya adalah berziarah keManinjau, Nagari yang keberadaannya lekat dengan sejarah YPI Al Azhar. Taklain, kunjungan ke sana adalah untuk menyaksikan dari dekat progress pemberdayaanPonpes Prof. Hamka.Pondok eksotis di tepi Danau Maninjau itu berhasil menghidupi diri dari jajarankaramba apung yang kini hasilnya sudah diekspor sampai Malaysia. Bolehlah sayatersenyum simpul; setengah abad silam, orang jiran mendapat anugerah dari kampungManinjau melalui hadirnya sosok Buya Hamka yang rajin berdakwah dan melahirkanbanyak ummat di Malaysia. Sekarang, mereka bisa menikmati gurihnya ikan emasdan nila yang dipanen dari karamba berair sebening kaca.Tapi bukan
success story
kecil itu yang membuat hati ini seakan tertambat ditepian Maninjau. Di Ponpes nan bersahaja itu, saya menyaksikan bagaimana puluhananak Kepulauan Mentawai menceburkan diri ke dalam gemilang fitrah Islam. Diantaranya sudah ada yang hafal satu - dua juz Al Qur’an. Ya, Ponpes Prof. Hamkamerupakan tujuan utama orang Mentawai menitipkan anak-anaknya yang semula dididikdalam tradisi animisme, atau Kristen. Di sela bahagia, satu fakta membuat saya tertegun. “Orang Mentawai mengantarkan anaknya ke sini bukan untuk menjadi Muslim.Mereka sebenarnya tidak peduli apakah anaknya beragama atau tidak. Kebanyakanorang Mentawai tidak peduli pada agama,” tutur Ustadz Zainul Arifin, Ketua Pondok.Keterangan beliau selanjutnya membuat saya terpukul KO: “Mereka menitipkan anak-anaknya di sini agar terbebas dari tanggungjawab memberi makan anak!” Kemiskinan, kata Rasulullah, dekat dengan kekufuran. Apalagi kalau kemiskinanitu berkelindan dengan kebodohan. Orang baduy Mentawai, sudah miskin dan bodoh,masih ditambah isolasi geografis yang memutus akses pencerahan. Makanya UstadzZainul Arifin tak heran melihat anak-anak Mentawai yang baru datang di Pondoknyaseenak udel memetik pisang di pekarangan tetangga. Mereka tak mengenal konsephak milik atas tanaman. Pohon pisang itu milik alam, siapa saja boleh memetik buahnya.Saya jadi teringat kata-kata Gandhi: “Tuhan, di mata orang-orang yang kelaparan,hanya bisa terlihat melalui sepotong roti.” Dan ihwal dakwah Islamiyah di Mentawaiyang “kalah menggigit” dibanding missionaris Kristen yang unggul dalam instrumenpendukung dakwah (fasilitas, gaji, hingga motor boat nan vital sebagai moda komuterdi kepulauan itu), saya terpaksa menelan mentah-mentah sinisme seorang kawan, “Baguslah masih ada Kristenisasi, daripada orang-orang itu menjadi bukti pembenarteori Darwin.” Kawan yang aktif menulis di berbagai media itu tidak benar-benar pro Kristenisasi.Ia sebenarnya menyindir betapa lemahnya kepedulian sosial kita, orang Islam; “KalauAnda hanya berasyik masyuk dengan diri sendiri, abai pada perut-perut lapar di sekitar, jangan salahkan orang lain yang datang membawa sepotong roti berisi tuhan sesuaikehendak yang memberi,” kata dia lagi. Lebih pedas, lebih mengiris.Maka simaklah kisah para
fiisabilillah
di Kepulauan Mentawai dalam “Fokus” edisiini. Dalam segala keterbatasan, mereka tak lekang mendakwahkan Islam. Juga “Sketsa” seorang da’i di Papua yang demi menegakkan Dienullah harus menerima fitnah, cacimaki, dilempari batu, diinjak-injak, bahkan berkali-kali dijebloskan ke penjara.Kemudian, do’a dan dukungan Anda kami harapkan untuk merealisasi program “Sahabat Mustahik” yang akan menjadikan para
fiisabilillah
itu sebagai sebenar benarsahabat mustahik yang tidak hanya berbekal kedalaman ilmu agama, tetapi mampumenjadi solusi atas problem keluarga-keluarga miskin yang didampingi. Benar, sudahsepantasnya para
fiisabilillah
mendapatkan haknya atas dana zakat sehingga aktivitasdakwahnya tak direcoki masalah dapur. Lebih dari itu, mereka pantas mendapat amunisilebih: menjadi mitra penyalur ZIS sehingga ketika menghadirkan Tuhan ke dalamrumah keluarga miskin, mereka juga bisa menyajikan roti. InsyaAllah.
[A]
Tuhan dalam Sepotong Roti
D
Assalamu’alaikum
C
A
RE
newsletter
C
A
RE