Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
10Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
TEORI KRITIS JÜRGEN HABERMAS

TEORI KRITIS JÜRGEN HABERMAS

Ratings: (0)|Views: 205 |Likes:
Published by co_mozilla2501

More info:

Published by: co_mozilla2501 on Apr 29, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/17/2014

pdf

text

original

 
 
180
TEORI KRITIS JÜRGEN HABERMAS:ASUMSI-ASUMSI DASAR MENUJU METODOLOGI KRITIK SOSIAL
Sindung Tjahyadi
 
Abstract:
Multiculturalism, the global cultural exchange, and the needof humanized communication are the real challenges for socialsciences and social philosophy. Through the metatheoritical approachin Critical Theory, Jürgen Habermas attempts to answer thosefundamental problems. He built a comprehensive theory to analyzethe relationships of knowledge, science, politics, society, and culturein modern society. He found that we need a new approach to developan emancipatory science, a science which regard the human as thesubject of change.
Kata Kunci
: Habermas, teori kritis, sistem,
life-world 
, komunikasi,emansipasi.Masalah yang mengemuka dalam filsafat sosial dan politik terkait denganhakikat suatu kajian filsafat tercermin dalam pertanyaan-pertanyaan: Apa peranyang semestinya dilakukan oleh ‘rasio’ dalam refleksi-refleksi abstrak tentangmasyarakat? Apakah suatu teoritisasi atas dasar suatu perspektif yang tidak memihak dan netral tentang masyarakat itu mungkin? Ataukah teoritisasi yangada ini hanyalah sebuah permukaan dari suatu pemikiran yang sesungguhnya biasdan ditujukan hanya untuk kepuasan diri sendiri? (Christman, 2002: 1)Persoalan ‘metodologis’ dalam pemahaman sosial ini sesungguhnya terkaitdengan perkembangan yang terjadi pada kajian-kajian tentang realitas sosial- politik, di samping tuntutan pragmatis untuk menjawab berbagai masalah yangdihadapi oleh masyarakat itu sendiri. Dinamika masyarakat pada satu sisimenuntut adanya reorientasi dan restrukturisasi bangunan metodologis ilmusosial, pada sisi lain kajian atas dasar sudut pandang baru menyajikan kekayaananalisis atas berbagai dimensi dan hubungan-hubungan sosial yang tak mampudiungkap melalui pendekatan sebelumnya.Pergeseran pemahaman aspek ‘teoritis’ dan ‘praktis’ dari teori terjadi secaragradual. Akibat yang ditimbulkan oleh perubahan tersebut pada akhirnyamembawa pada situasi ‘keberjarakan’ antara kajian politik klasik dengan realitassosial dewasa ini. Pendekatan klasik terhadap politik menjadi sesuatu yang asing bagi kita (Habermas, 1973: 42). Politik dan perangkat teori sosial yangmendukungnya menjadi sesuatu yang ‘jauh’, karena kecenderungan yang kuatadanya penekanan pada aspek normatif, dan juga terjadi proses marginalisasiklaim-klaim pengetahuan yang mendasari putusan politik dengan menyatakannyasebagai jenis pengetahuan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan secaraepistemologis. Akibatnya, bila dicermati perkembangan yang terjadi dewasa ini pada dunia ‘politik’, jarak kajian ilmiah terhadap ‘dunia praksis’ nampak menjadisemakin lebar.
Sindung Tjahyadi adalah Dosen Filsafat Pengetahuan, Fakultas Filsafat UGM 
 
Sindung, Teori Kritis Habermas
181Realitas aktual dewasa ini ditandai dengan meningkatnya mobilitas sosial,kesadaran kultural yang lebih luas, dan globalisasi ekonomi. Ketiga gejalatersebut telah menjadikan asumsi-asumsi tradisional tentang masyarakat menjaditerisolasi, atau dengan kata lain konsep masyarakat homogen dalam pemikiran politik menjadi lebih dicurigai. Masyarakat kemudian lebih digambarkan sebagai
multikultural 
(Christman, 2002: 2). Pengandaian-pengandaian sebagaimanamuncul dalam ‘politik demarkasi’ yang mengandaikan adanya kotak-kotak komunitas homogen yang membingkai individu-individu, menjadi sebuah pengandaian yang secara kognitif dan normatif mengingkari realitas. Pluralitasmenjadi bagian dari karakter sosial yang meski diterima dan dijadikan bagian dari bangunan analisis dan konstruksi sosial.Pada sisi lain, meningkatnya komunikasi internasional telah membuatinteraksi antar budaya dan tradisi menjadi sedemikian lebih kuat, walau masihdihantui oleh keraguan tentang status ontis dari kesamaan identitas dankepentingan. Sudah menjadi kebutuhan dari umat manusia dewasa ini, bahwa penteorian tentang ‘hak-hak asasi manusia’ tanpa penelitian ke dalam jenis-jenismanusia yang berbeda sebagaimana dikonseptualisasikan sekarang akanmerupakan hal yang sangat kontroversial (Christman, 2002: 2). Aspek ontologis-epistemologis terkait dengan kategori-kategori dasar tentang manusia danmasyarakat kemudian menjadi mengemuka. Titik pandang transendental atashakikat manusia dan masyarakat mulai dipertanyakan. Namun apabila kerangkanormatif transendental dalam memahami manusia dan masyarakatnya ditolak,adakah kerangka ‘normatif’ lain yang menghargai pluralitas budaya atau pluralitas struktural yang tidak terjebak dalam pluralisme ? Masih adakahkerangka ‘normatif’ yang mampu merangkum segala perbedaan tanpa kehilangandaya pengarah menuju masyarakat damai sejahtera?Jürgen Habermas yang lahir pada tahun 1929 adalah pemikir kontemporer yang mencurahkan usahanya untuk menjawab persoalan-persoalan dasar di atasmelalui dan berpijak dari suatu tradisi yang disebut Teori Kritis. Teori Kritis yangdipahami sebagai ‘teori sosial yang dikonsepsikan dengan intensi praktis’,merupakan buah pikiran yang muncul dari refleksi yang luas tentang hakikat pengetahuan, struktur penelitian sosial, dasar normatif interaksi sosial, dantendensi-tendensi politis, ekonomis, dan sosio-kultural dari jaman ini (McCarthy,1978: 1). Habermas juga dinilai sebagai seorang teoritikus neo-marxian, yang pada tahun-tahun awal karirnya dia secara langsung sudah diasosiasikan denganMadzab Kritis. Sekalipun dia memberikan sumbangan penting pada Teori Kritis,selama bertahun-tahun dia menggabungkan teori marxian dengan banyak masukan teori yang lain dan menghasilkan serangkaian gagasan teoritis yangsangat khas (Ritzer, 2003: 132). Habermas adalah juru bicara yang paling kuatdan berpengaruh sekarang ini dari tradisi Madzab Frankfurt (Miller, 2002: 64).Dia telah membuat kajian yang paling khusus tentang komitmen epistemologisdari teori kritis sebagaimana terlihat dalam upaya dia untuk mengembangkanlebih lanjut garis pemikiran yang telah dibuat oleh pemikir-pemikir MadzabFrankfurt. Habermas tertarik untuk menunjukkan adanya kaitan antara kekuasaan
 
 Jurnal Filsafat, Agustus 2003, Jilid 34, Nomor 2
 
182dan pengetahuan dengan memaparkan suatu ‘politik epistemologi’ (Mumby,dalam: Miller, 2002: 66). Teori Habermas mengungkapkan kebutuhanepistemologis dan etis bagi adanya suatu komitmen pada sebagian pemikir untuk secara kritis merefleksikan keyakinan-keyakinan pribadi dan sosialnya (Endres,1996: 1). Arah aksiologis yang demikian kiranya mampu menjawab kebutuhan pengembangan ilmu sosial dan juga ilmu humaniora, terlebih ilmu-ilmuhumaniora memiliki kesulitan metodologis khusus yang meski juga diatasi, yakni bahwa pada ilmu-ilmu humaniora secara umum, dan khususnya pada filsafat,tidak terdapat sebuah ‘metode’ yang melindungi dari kemungkinan terjadikekeliruan ‘metodologis’ sebagaimana misalnya jika dibandingkan denganmetode yang terdapat pada ilmu-ilmu eksperimental dan statistik (Christman,2002: 9).Dengan suatu reorientasi dasariah terhadap cara pandang tentang manusiadan masyarakatnya, dan orientasi aksiologi sosial yang jelas, perspektif TeoriKritis Habermas diharapkan mampu pada satu sisi memberikan pijakan kritis-akademis yang memadai dalam analisis sosial, pada sisi lain juga memberikan pijakan praksis-rasional dalam menjawab berbagai persoalan kemanusiaan yangmengancam peradaban manusia dewasa ini. Bagi Habermas, masalah yangmengancam masyarakat modern adalah bagaimana
validitas
 
dan
legitimasi
 
darisebuah tatanan sosial dapat ditetapkan ketika tindakan komunikatif menjadiotonom dan tindakan strategis yang ditujukan pada kepentingan pribadi mulaidibedakan dari tindakan komunikatif yang bertujuan untuk meraih pemahaman?(Marsh, 2001: 21). Bagaimana dapat
dunia-hidup
yang mengecewakan, yangsecara internal terpilah-pilah, dan yang terplurasi dapat secara sosialdiintegrasikan, jika pada saat yang sama resiko pertikaian bertumbuh, khususnyadalam ruang-ruang tindakan komunikatif yang telah putus ikatan dengan otoritassuci dan lepas dari ikatan-ikatan lembaga kuno? (Habermas, 1998: 26).Dalam rangka menelusuri dan mengungkap secara sistematik teori kritisHabermas, berikut akan diulas asumsi-asumsi, pendekatan, dan arah teoritismaupun praksis sosial yang hendak dituju Habermas melalui Teori Kritisnya.Berturut-turut dipaparkan dasar-dasar dan bangunan ontologi sosial danepistemologi sosial dari Teori Kritis Habermas, yang sekalipun bersifat ‘selintas’,namun diharapkan mampu menyajikan signifikasi pemikiran Habermas bagianalisis sosial.
ASUMSI-ASUMSI DASAR: ONTOLOGI SOSIAL
Teori Kritis bekerja atas dasar suatu kerangka
metateoritis
(Miller, 2002:69). Teori Kritis berpijak pada suatu pandangan umum tentang hakikat realitassosial, baik dalam dimensi faktual maupun dimensi normatif. Belajar danmengamati realitas-realitas sosial masa lalu dan realitas sosial masa kini perupakan pijakan penting dalam membangun proyeksi masyarakat yangdiharapkan. Suatu
ontologi sosial 
selalu berdimensi historis –faktual dansekaligus proyektif. Suatu pandangan umum tentang hakikat masyarakat akanmembentuk cara pandang terhadap masa lalu dan masa kini, namun sekaligus

Activity (10)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 thousand reads
1 hundred reads
Akbar Prasetya liked this
Opa Yat liked this
Sampean liked this
muhammadalfan liked this
muhammadalfan liked this
Doddy liked this
buru_buku liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->