Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
57Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Perkembangan Islam di Indonesia

Perkembangan Islam di Indonesia

Ratings: (0)|Views: 3,902 |Likes:
Published by Nuhaini

More info:

Published by: Nuhaini on May 01, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/26/2013

pdf

text

original

 
PENDAHULUAN
Sejarah telah menunjukkan bahawa masyarakat Indonesia pra-Islam, di sekitar abad ketujuh dan sebelumnya,adalah masyarakat dagang dengan ciri kosmopolitan yang sangat kental.2 Bahkan Burger menyatakan bahawa, jauh sebelum masa pra-sejarah, masyarakat Indonesia telah berkenalan dengan bangsa-bangsa lain di luar kepulauan.Perkembangan yang menarik buat masyarakat Indonesia adalah bahawa lambat laun ciri agrarisnya lebihmenonjol dibandingkan dengan ciri baharinya. Dampak penonjolan ini sangat besar pengaruhnyaterhadap bentuk kerajaan, sistem kekuasaan, dan corak keagamaan masyarakatnya.3 Dengan demikiandapat pula berpengaruh terhadap struktur sosial yang berkembang pada masa itu. Bagi Indonesia, dampak kedatangan para pedagang sangat berpengaruh terhadap penyebaran agama Islam di nusantara. Apalagi bila diingat bahawa, sejak dimulainya proses penyebaran Islam di Indonesia, belum terdapat suatu organisasi dakwah yangmapan untuk memperkenalkan Islam kepada masyarakat luas.4Proses tersebarnya Islam pada waktu itu, semata-mata mengandalkan kemampuan dan ketekunan tenaga-tenaga da'i pedagang atau guru sufi. Kerana itu, sangat beralasan bila dikatakan proses penyebaran Islam diIndonesia membutuhkan waktu yang relative lama bahkan berabad-abad.Latarbelakang sejarah berkembangnya kelompok pedagang Muslim di kepulauan Indonesia merupakanindikasi bahawa Islam disebarluaskan kepada masyarakat oleh kaum pedagang. Mereka tidak semata-mata berperanan sebagai pedagang, namun sekaligus bertindak sebagai da'i guru agama (Islam), orang sufi yangmemberikan bimbingan keagamaan dan kehidupan sehari-hari kepada masyarakat setempat Kerana itu, terdapat kesan kuat bahawa Islam di Indonesia, pada awalnya, berpusat di kota yang juga merupakan pusat kegiatan dagang dankomersial. Pemeluk-pemeluk pertamanya adalah golongan pedagang –suatu masyarakat yang ketika itu,menempati posisi kelas sosial yang cukup baik.5 Dalam penyebarannya kemudian, Islam dipeluk olehmasyarakat kota, baik dari lapisan atas mahupun lapisan bawah.Keberhasilan Islam menembus dan mempengaruhi kehidupan masyarakat Indonesia, serta menjadikan dirinyasebagai agama utama bangsa ini, merupakan suatu prestasi yang luar biasa. Hal itu, terutama, jika dilihat darisegi geografis, di mana jarak Indonesia dengan Negara asal Islam, Jazirah Arab, cukup jauh. Kini, Islamrelatif telah berkembang di seluruh kepulauan Indonesia. Tetapi hal itu tidak bererti bahawa masyarakat Indonesiasepenuhnya menerima Islam.6 Sebagaimana di dunia Islam pada umumnya, pr oses Islamisasi tetap berlanjutan dan, pada kenyataannya hal itu merupakan suatu proses yang tidak pernah selesai.Makalah ini akan mengelaborasi berbagai masalah sekitar perkembangan Islam di Indonesia, terutama yang berkait dengan aspek-aspek politik, hukum dan ekonomi. Di samping itu, juga akan dibahas upaya-upaya atau peranan Majelis Ulama Indonesia dalam perkembangan Islam di Indonesia
ASPEK-ASPEK PERKEMBANGAN ISLAM DI INDONESIA
Islam adalah sebuah ajaran yang fleksibel dalam pengertian bahawa ia merupakan kodifikasi nilai-nilaiuniversal. Dengan ciri demikian itu, ajaran Islam dapat berhadapan dengan berbagai bentuk dan jenissituasi kemasyarakatan. Kerana watak ajaran seperti itu, maka Islam tidak secara serentak menggantikanseluruh tatanan nilai yang telah berkembang di dalam kehidupan masyarakat Indonesia sebelum datangnyaIslam. Bahkan, hingga taraf-taraf tertentu, nilai-nilai kemasyarakatan yang telah ada, seperti rendah hati, sabar,mementingkan orang lain dan sebagainya, disubordinasikan ke dalam ajaran Islam. Sebab ajaran-ajaranseperti itu, juga dikandung oleh Islam.Oleh kerana itu, dalam sub judul ini, akan dibahas tentang berbagai aspek perkembangan Islam diIndonesia, terutama dalam kaitan dengan aspek politik,hukum dan ekonomi.
A. ASPEK POLITIK.
Di antara ciri-ciri Islam yang dapat menduduki ranking par-excellence (istimewa) ialah kerana sifatnya yanguniversal, setiap aspek kehidupan tidak terlepas dari peraturannya tidak terkecuali aspek politik.7Kerananya tidak heran bila dalam nas-nasnya senantiasa kita dapatkan berbagai hukum yang berhubungandengan urusan kenegaraan berikut sistem pemerintahannya, hukum perang dan damai serta hubunganinternational antara negara Islam dengan negara lainnya.Membahas pembangunan politik di Indonesia dalam perspektif Islam akan melahirkan dua pemikiran penting,iaitu pemikiran tentang hubungan antara politik dan Islam dan perlakuan oleh berbagai kekuatan politik 
 
terhadap Islam terutama dalam sejarah perkembangan politik di Indonesia. Sejak zaman kolonial sampai erakemerdekaan, tindakan dan kebijakan berbagai kekuatan politik terhadap Islam di Indonesia, tampak dalam peranan yang dimainkan oleh para pemimpin yang berorientasi kepada Islam. Peranan tersebut adalah implikasidari situasi yang mereka hadapi dan dalam hubungan dialogis politik Islam dengan budaya politik Indonesiayang selalu berubah. Dalam wacana tentang orientasi, gerakan atau institusionalisasi Islam di Indonesiasering digunakan istilah-istilah: "Islam Kultural", "Islam Struktural", dan "Islam Politik". Istilah "IslamKultural" dan "Islam Struktural", tidak lazim digunakan dalam wacana Islam di luar Indonesia, meskipunistilah-istilah ini sebenarnya cukup tepat untuk menjelaskan fenomena perkembangan Islam yang terjadi diIndonesia dengan di luar,8 yakni adanya orientasi pada hampir semua gerakan Islam di luar Indonesia pada Islam struktural dan ideologis, meski tidak semuanya mendukung atau terlibat dalam Islam politik. Namun, penggunaan istilah-istilah ini sering kurang pasti, terutama tentang "Islam structural" dan "Islam politik" yang sering dianggap identik. Untuk menelusuri lebih jauh term-term tersebut, paling tidak kita perlumembedakan karakteristik Islam ke dalam dua perspektif. Pertama, adalah institusionalisasi ajaranIslam, termasuk dalam konteks pembentukan sistem nasional, yang dikelompokkan ke dalam Islam culturaldan Islam structural; Kedua, gerakan atau aktifitas Islam, yang dikelompokkan dalam gerakan Islam kulturaldan Islam politik. Namun demikian, terlepas dari kedua dikotomi istilah di atas, penulis akan berkonsentrasisekitar perkembangan politik Islam di Indonesia, baik pada masa kolonial mahupun pada masakemerdekaan.
1. Politik dan Islam di Masa Kolonial
Islam di Indonesia adalah bahagian yang tidak terpisahkan dari budaya Indonesia, sehingga Islammerupakan agama yang paling banyak dianut oleh mayoritas penduduk Indonesia. Signifikansi hubunganyang begitu erat antara Islam dan Indonesia sebagai suatu daerah territorial, menyebabkan penjajahanlebih dari tiga abad oleh Belanda dan Jepun gagal dalam upaya deislamisasi agar akidah Islam tercabutdari umat Islam.9 Sebab melalui hubungan itu juga menjelaskan terinternalisasinya nilai-nilai Islam baik dalam bentuk akidah, pesan-pesan moral dan sosial dalam diri pemeluknya guna membendung kolonialismeAgaknya, uraian di atas ada benarnya, sebab mengakarnya Islam di Indonesia tidak terlepas dari sebuah proses panjang program sosialisasi Islam yang dilakukan oleh para pemuka Islam melalui aktifitas dakwahdan pendidikan. Dalam proses tersebut, Islam di Indonesia telah berhadapan dengan berbagai tentanganideologi, budaya, dan kekuatan sosial politik penguasa, sehingga memaksa Islam harus tampil dalam berbagai bentuk gerakan, seperti, gerakan Islam melawan kolonialisme, sebagai Islam politik, dan Islamsebagai kekuatan moral, kultural dan intelektual.Bentuk-bentuk gerakan tersebut di atas sebagai akibat dari upaya umat Islam untuk menjadikan Islamsebagai agama yang dinamis melalui pola-pola sosialisasi seperti pola akomodasi, modifikasi dansosialisasi, sehingga Islam tersosialisasi dalam berbagai bentuk kehidupan masyarakat Indonesia.Menurut Fachry Ali, dinamika Islam yang tampil dalam berbagai bentuk gerakan, sangat dipengaruhioleh dominasi Barat, baik yang bersifat "positif" seperti dalam bentuk intelektualisme, sains danteknologi, mahupun dalam hal-hal "negative" seperti kolonialisme. Namun demikian, untuk menghadapidominasi itu, Islam sangat kaya dengan doctrinal dan pengalaman politik yang dapat ditranformasi dandirekonstruksi menjadi ideologi politik tanpa meminjam ideologi lain.10 Berbeda dengan Fachry Ali, YusrilIhza Mahendra mengklaim bahawa gerakan Islam dipengaruhi oleh faktor rekayasa-rekayasa politik  penguasa dan faktor-faktor persaingan antara kelompok bangsa sendiri.11Mengamati berbagai uraian di atas, dapat ditegaskan bahawa faktor-faktor tersebut menjadi faktor-faktor dominan dalam dinamika gerakan Islam di Indonesia baik pada masa kolonial dan terus berlanjutan hingga saatsekarang ini. Gerakan-gerakan yang dilakukan kekuatan Islam agaknya mendapat banyak tentangan dari pihak kolonial. Sebab pemerintah kolonial Belanda dalam melestarikan penjajahannya di Indonesiamenerapkan berbagai tindakan guna melumpuhkan kekuatan Islam. Penjajah Belanda seringkalimelakukan tindakan tidak manusiawi, melanggar hak asasi manusia, invasi, eksploitasi sumber-sumber ekonomi dan sumber daya manusia yang hanya menguntungkan pihaknya. Mereka juga melakukan upayade-Islamisasi dan depolitisasi terhadap umat Islam. Namun demikian, berbagai bentuk penindasan dan kebijakan Belanda tidak menjadikan umat IslamIndonesia lumpuh, bahkan mereka menjadikan Islam sebagai dasar pembentukan identitas bangsa danlambang perlawanan terhadap imperialisme. Mereka bersatu dalam perjuangan Islam melawan kolonialBelanda. Bagi mereka, Islam tidak sekadar agama secara formal tetapi juga sebagai way of life.
 
Menganalisis berbagai uraian di atas, dapat difahami bahawa, selama penjajahan kolonial Belanda, Islamsecara utuh mampu tampil dalam bentuk gerakan melawan kolonialisme Belanda dan sebagai Islam politik dalam wujud partai politik seperti Sarikat Islam dan Partai Islam Indonesia waktu itu dapat memberikan pendidikan politik kepada rakyat dan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Di sisi lain Politik Islam HindiaBelanda yang berusaha melaksanakan deislamisasi untuk menjauhkan umat Islam dari kegiatan politik (depolitisasi) telah mengalami kegagalan.
2. Politik dan Islam di Era Kemerdekaan
Seperti halnya di era kolonial, pembangunan politik di Indonesia pada masa kemerdekaan baik padamasa kepemimpinan orde lama mahupun orde baru, tidak dapat dilepaskan dari eksistensi Islam danumatnya. Jika masa kolonial Islam berhadapan dengan ideologi kolonialisme, maka di masakemerdekaan Islam berhadapan dengan ideologi tertentu, seperti komunisme dengan segala perangkatnya.Sejarah politik bangsa Indonesia menegaskan bahawa Islam melalui para pemimpinnya mempunyai andil besar mulai dari menanamkan nilai-nilai nasionalisme sampai perumusan Undang-Undang Dasar Negara.Ketika menyusun Undang-Undang Dasar NKRI, para tokoh Islam berhasil memasukkan rumusankalimat:"dengan kewajiban menjalankan syari'at Islam bagi pemeluknya," dalam Piagam Jakarta.12 Rumusantersebut tampaknya merupakan perwujudan dari aspirasi yang muncul sebelumnya, bahawa kemerdekaanmerupakan peluang bagi umat Islam melaksanakan ajarannya dalam kehidupan bernegara sebagaimanadicetuskan tokoh-tokoh Sarikat Islam (SI) di akhir tahun 1920.Ketika sidang-sidang konstituante membahas tentang dasar Negara, para pemimpin Islam kembalimenyuarakan aspirasinya agar Islam dijadikan sebagai dasar Negara. Namun demikian usaha ini mendapat banyak tentangan dari berbagai pihak. Bahkan kondisi ini menyebabkan Soekarno mengeluarkan DekritPresiden 5 Julai 1959 untuk memberlakukan kembali UUD 1945 sekaligus membubarkan konstituante.Di masa pemerintahan Orde Baru, umat Islam belum juga berhasil menetapkan Islam sebagai dasar Negara.Sebaliknya, pemerintah Orde Baru menetapkan Pancasila sebagai ideologi Negara dan satu-satunya asasdalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kerana itu, ideologi politik lainnya, termasuk Islam tidak diberihak untuk hidup dan berkembang. Akibatnya, umat Islam dan juga umat lainnya tidak dibenarkanmenampilkan Islam dalam bentuk Islam politik seperti terwujud dalam bentuk partai politik. Namun demikian, umat Islam lainnya, tetap mendukung kebijakan Orde Baru itu. Sehingga Islamterbahagi menjadi dua kelompok yang sangat berbeda, iaitu kelompok pendukung Orde Baru dankelompok penentang. Kelompok yang disebut terakhir, dinamakan dengan kaum skripturalis yang hidupdalam suasana depolitisasi dan konflik dengan pemerintah. Sedang kelompok pertama disebut kaumSebagaimana dikemukakan di atas bahawa pemerintah Orde baru dalam hal politik Islam mengadakandepolitisasi yang didukung kaum substansialis. Dukungan yang paling nyata dari kalangan substansialisialah slogan "Islamic Religioun: Yes", Islamic (Political) Ideologi: No". Ini bererti bahawa bagi kaumsubstansialis, pemerintah OrdeBaru sangat responsive terhadap Islam selama Islam yang dimaksud bukan Islam politik yangmenghendaki Negara diatur berdasarkan ajar an Islam.14 Ringkasnya, agenda politik Orde Baru mencakupdepolitisasi Islam. Projek ini didasarkan pada sebuah asumsi bahawa Islam yang kuat secara politik atau Islam politik akan menghambat jalannya agenda-agenda politik rezim Or de Baru. Tidak hanya itu,Islam politik juga dituduh akan menjadi hambatan bagi jalannya modenisasi. Hal ini tampak darikekecewaan di kalangan elit pemerintahan Orde Baru terhadap kualitas dan kemampuan para pemimpin Islamtradisional.15Sejalan dengan penolakan ideologi Islam atau partai politik Islam, pemerintah Orde Baru melakukan fusi partai. Partai-partai non pemerintah dijadikan dua kelompok, masing-masing kelompok Islam dan nonIslam. Partai yang disebut pertama difusikan sebagai Partai Persatuan pembangunan (PPP) dan partaidisebut kedua adalah Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Namun demikian perkembangan selanjutnya, PPP semakin mengalami erosi dari kandungan Islam, dansetidaknya telah menjadi partai terbuka bagi anggota-anggota yang bukan muslim. Sebab semua partai politik dan organisasi sosial kemasyarakatan harus menjadikan Pancasila sebagai satu-satunya asas,sehingga pintu untuk memberlakukan aturan yang bernafaskan Islam tertutup. Akibatnya, NahdatulUlama (NU) sebagai komponen terbesar dalam PPP menyatakan keluar dan kembali menjadi organisasinon politik.16Mengamati uraian-uraian di atas, dapat dipahami bahawa tampilnya kaum substansialis sebagai pendukung pemerintahan Orde Baru, mengakibatkan umat Islam Islam terpecah menjadi dua kelompok.

Activity (57)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Akhsan Try liked this
Ruwaida Malika liked this
Ruwaida Malika liked this
Apriana Asdin liked this
diki nur permadi liked this
Chaswazie Ask liked this
Ifah Angraini liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->