Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
MENJAGA KESTABILAN JIWA

MENJAGA KESTABILAN JIWA

Ratings: (0)|Views: 32 |Likes:
Published by Nadzier Wiriadinata
Umumnya kita mampu menyikapi perubahan yang membuat kita untung dan senang dengan sikap positif, tetapi terkadang atau umumnya kita sulit bersikap positif atas perubahan yang merugikan dan mengecewakan kita. Padaha permasalahan justru muncul adalah ketika kita tidak mau bersikap positif terhadap perubahan yang merugikan dan mengecewakan kita.
Umumnya kita mampu menyikapi perubahan yang membuat kita untung dan senang dengan sikap positif, tetapi terkadang atau umumnya kita sulit bersikap positif atas perubahan yang merugikan dan mengecewakan kita. Padaha permasalahan justru muncul adalah ketika kita tidak mau bersikap positif terhadap perubahan yang merugikan dan mengecewakan kita.

More info:

Published by: Nadzier Wiriadinata on May 06, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/24/2010

pdf

text

original

MENJAGA KESTABILAN JIWA
Oleh : E. Nadzier Wiriadinata

Dalam kehidupan sosial yang kita jalani senantiasa ada persaingan dan ada benturan konflik kepentingan. Karena itulah kenapa hidup ini dikatakan dinamis. Dinamika kehidupan ini tentunya akan senantiasa memunculkan perubahan-perubahan. Sudah menjadi sunnatullah bahwa setiap perubahan yang muncul dalam kehidupan kita apapun bentuk manifestasinya bisa menimbulkan dua kemungkinan : pertama, membawa sesuatu yang menguntungkan dan menyenangkan; atau kedua, bisa juga berakibat sesuatu yang merugikan dan mengecewakan kita. Kalau perubahan tersebut membawa sesuatu yang menguntungkan dan menyenangkan kita tentunya tidak ada masalah. Dalam arti bahwa kita akan merespon perubahan tersebut dengan penuh senyum dan sukacita. Tetapi permasalahannya adalah bagaimana kalau perubahan tersebut mengakibatkan sesuatu yang merugikan dan mengecewakan kita? Disini permasalahan sebenarnya muncul dan menarik untuk kita renungkan.

Umumnya kita mampu menyikapi perubahan yang membuat kita untung dan senang dengan sikap positif, tetapi terkadang atau umumnya kita sulit bersikap positif atas perubahan yang merugikan dan mengecewakan kita. Padaha permasalahan justru muncul adalah ketika kita tidak mau bersikap positif terhadap perubahan yang merugikan dan mengecewakan kita. Karena akibat dari ketidakmauan untuk bersikap positif itulah akhirnya jiwa kita bergolak, tidak tentram, dan tidak nyaman. Pergolakan jiwa, ketidaktentraman dan ketidak-nyamanan inilah yang dikhawatirkan akan mengakibatkan jiwa kita kemudian menjadi tidak stabil. Ketidakstabilan jiwa inilah yang menyebabkan terbukanya kemungkinan-kemungkinan yang mengarah kepada penyakit kejiwaan yang RINGAN maupun BERAT.

Suka atau tidak suka kita harus mau dan mampu bersikap positif terhadap perubahan apapun yang kita hadapi dalam kehidupan ini kalau jiwa kita ingin stabil. Lalu bagaimana cara efektif yang bisa kita lakukan agar kita bisa menjaga kestabilan jiwa kita ? Langkah efektif yang bisa kita lakukan adalah dengan mengetahui faktor-faktor penyebab utama yang menyebabkan jiwa

kita mudah bergolak dan tidak stabil. Dengan mengetahui faktor-faktor penyebabnya kita akan
mengetahui langkah-langkah apa yang harus lakukan untuk mengatasinya. Ada tiga penyebab
utama yang harus diperhatikan:
1. Hilangnya sesuatu ( benda mati atau makhluk hidup) yang keberadaannya sangat
dicintai

Adalah manusiawi dan wajar kalau kita merasa kecewa dan sedih bila , katakana saja, kehilangan jabatan, mobil yang yang dengan susah payah kita beli atau orang yang kita cintai. Pada tahap tertentu, perasaan kecewa dan juga rasa sedih itu pasti ada dan sulit terhindarkan. Tetapi kalau kekecewaan dan kesedihan itu berkepanjangan yang selanjutnya mengganggu kenyamanan tidur kita, kenikmatan makan kita serta terganggunya konsentrasi kita dalam belajar maupun bekerja , maka kondisi semacam itu tidak boleh kita biarkan karena kondisi itu menandakan bahwa kestabilan jiwa kita terganggu. Karena itu, siapkan mental kita untuk menyadari bahwa apa yang ada disisi kita atau apa yang kita

miliki tidak pernah akan abadi . Mari kita yakini dan hayati firman Allah SWT berikut ini,
yang artinya :
\ue000Apa yang ada disisi kamu akan binasa/tidak abadi tetapi apa yang ada disisi Allah itulah
yang abadi\ue001 (Q.S An-Nahl : 96)
2. Gagal meraih apa yang diinginkan

Dalam kehidupan riil adalah mustahil bagi seseorang, sehebat apapun dia, untuk bisa selamanya berhasil meraih apapun yang diinginkan. Ada saatnya seseorang berhasil dan ada saatnya dia gagal. Kalau kita bisa menyikapi keberhasilan dengan sikap positif kenapa kita tidak bisa melakukan hal yang sama atas kegagalan yang kita alami. Kenapa kita harus uring-uringan dan mencari kambing hitam atas kegagalan yang kita alami. Bukankah lebih baik bila kita kembalikan segala urusan kita kepada Allah SWT . Gambaran diatas secara tegas diperkuat oleh statement Allah melalui firman-Nya :

\ue002Saat-saat itu (keberhasilan/kegagalan, kesenangan/kekecewaan) Allah pergilirkan diantara
manusia (agar manusia mengambil hikmah)\ue003 (Q.S Ali Imran : 140)
Dalam ayat lain (Q.S Ali Imran : 26) Allah pun menegaskan :

Allah berikan kekuasaan (jabatan/posisi) kepada orang yang Dia kehendaki dan Allah cabut kekuasaan itu dari orang yang Dia kehendaki. Allah muliakan orang yang Dia kehendaki dan Allah nistakan orang yang Dia kehendaki. Ditangan-Mu lah ya Allah kebenaran maupun kebaikan. Dan Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Mari kita jadikan ayat di atas sebagai pegangan kita agar jiwa kita tetap stabil manakala kegagalan menghantam kita. Keyakinan dengan sepenuh hati atas ayat diataslah yang akan membuat hati kita legowo dan nrimo apapun yang menjadi kehendak dan ketetapan-Nya.

3. Takut menghadapi apa yang akan terjadi dimasa mendatang

Ketika seorang anak ditinggal mati orang tua yang membiayai hidupnya, biasanya muncul kekhawatiran dalam diri si anak. Khawatir akan masa depannya. Khawatir siapa yang akan memperhatikan dirinya dan memenuhi kebutuhannya : uang jajan, biaya pendidikan dan sebagainya.

Ketika seorang gadis belum juga mendapatkan calon suami sementara usia merambat naik,
maka saat itulah kekhawatiran muncul menyangkut masa depannya.
Ketika seseorang diberhentikan atau di-phk dari pekerjaannya, maka saat itu pula muncul
kekhawatiran akan masa depan dirinya

Kekhawatiran semacam itu dalam batas tertentu adalah wajar tetapi menjadi tidak wajar kalau kemudian kekhawatiran itu membuat kita terjebak dan larut dalam ketakutan menatap masa depan.

Masa depan adalah sesuatu yang \ue000ghaib\ue001 yang belum tentu kita akan mengalaminya. Karenanya, yang harus kita perhatikan adalah hidup kita hari ini. Jangan biarkan ketakutan atau kekhawatiran akan masa depan membuat kita lalai dan lupa untuk berbuat optimal dan terbaik dalam menjalani hidup kita hari ini. Bukankah masa depan kita sangat bergantung pada kualitas hidup kita saat ini ??????

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->