Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
4Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Kepustakawanan Indonesia

Kepustakawanan Indonesia

Ratings: (0)|Views: 1,024|Likes:
Published by vicky andreas

More info:

Published by: vicky andreas on May 09, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOC, TXT or read online from Scribd
See More
See less

03/06/2014

pdf

text

original

 
Dari Cicak vs Buaya sampai Pencitraan HariKiamat : Tantangan Kepustakawanan Indonesia
Putu Laxman Pendit
 Abstrak 
Keterbukaan informasi di Indonesia antara lain ditandai oleh semakin ‘riuh-rendah’-nya pemberitaan dan silang pendapat di ruang publik. Pemberitaan dan diskusitentang berbagai kasus dan skandal korupsi memperlihatkan fenomena keterbukaanyang tidak pernah terjadi sebelumnya. Di sisi lain masih ada kekuatiran tentang isiinformasi yang disebarkan ke masyarakat dan masih ada upaya pengekangan, atau bahkan sensor terhadap film cerita. Ironi dan paradoks ini hadir di tengah upaya kitamenegakkan hak informasi lewat Undang-Undang Kebebasan Memperoleh InformasiPublik. Adalah amat penting bagi bangsa Indonesia untuk memastikan agar hak informasi publik ini tetap menjadikan warga masyarakat sebagai subjek yang berperansentral dalam demokrasi, dan bukan hanya sebagai objek sasaran curahan informasi.Justru sekaranglah amat diperlukan profesi informasi yang dapat memberdayakanmasyarakat. Inilah yang juga menjadi tantangan bagi Kepustakawanan Indonesia.Kata kunci : hak informasi, demokrasi, kebijakan informasi publik, Kepustakawanan
Pengantar 
Belakangan ini warga Indonesia ‘menikmati’ salah satu fenomena di eraketerbukaan, yaitu ketika kasus “cicak versus buaya” mengemuka.Melalui pemberitaan di media massa, khususnya di televisi, wargamemperoleh aneka informasi dalam jumlah yang sedemikian besar.Bukan saja jumlahnya yang besar, tetapi jenis, sumber, dan kualitasinformasi juga sangat beragam. Selain dibombardir oleh fakta gamblanghasil penyelidikan pihak berwajib, warga juga dihujani aneka pendapatdari komentator, analis, pejabat, dan bahkan dari orang-orang yanglangsung terlibat skandal korupsi.Setelah kasus itu mereda, muncul upaya parlemen menyelidiki kasusBank Century, seolah-olah melanjutkan ‘kegaduhan’. Kali ini media massamemaparkan secara rinci bagaimana para anggota Dewan PerwakilanRakyat berusaha merespon harapan rakyat tentang fungsi merekasebagai wakil yang harus membongkar penyelewengan. Publik kembalidibombardir oleh berita tentang perdebatan di parlemen, serta curahanpendapat dari komentator, analis, pejabat, dan para petinggi partai.Di tengah suasaha hiruk-pikuk yang mencerminkan keterbukaan dankeleluasaan publik, muncul fenomena yang berlawanan. Dua film yangakan beredar di masyarakat mengalami upaya sensor. Film tentangprediksi kiamat,
2012
sempat ditentang oleh beberapa kalangan danbahkan hendak dilarang beredar di beberapa kota. Sementara film fiksi
Balibo Five
yang diinspirasi peristiwa tewasnya wartawan-wartawanAustralia dalam konflik Timor Timur juga dilarang ikut Jakarta FilmFestival. Upaya-upaya pelarangan ini memiliki persamaan motivasi:1
 
mencegah publik mendapatkan hal-hal yang “tidak benaratau“mengganggu ketentraman masyarakat”.Dua fenomena informasi yang amat kontras di atas seolah-olah menjadi‘hidangan pembuka’ bagi kehadiran Undang-Undang KebebasanMemperoleh Informasi Publik (UU-KMIP) yang akan mulai berlaku tahun2010. Di satu sisi, masyarakat Indonesia mendapatkan keleluasaanmemperoleh informasi yang pada masa sebelumnya boleh dikatakan tabuuntuk diketahui. Di sisi lain, masih ada pandangan di sebagianmasyarakat dan pemimpin bahwa masyarakat harus dilindungi dariinformasi yang menyesatkan dan karena itu beberapa bentukpenyampaian informasi harus dilarang.Ironi, paradoks, dan kehadiran UU-KMIP ini menarik dilihat dalam konteksyang lebih luas tentang kehidupan bernegara dan kewarganegaraan(
citizenships
). Jika dikaitkan dengan tradisi demokrasi, secara klasikkewarganegaraan pada dasarnya mengandung tiga elemen pokok, yaituhak sipil (
civil rights
), hak politik, dan hak sosial yang muncul di abad XX,terutama ketika konsep negara kesejahteraan semakin menguat danmasyarakat perlu kepastian hukum ketika harus berurusan denganbirokrasi yang menggurita maupun bisnis raksasa. Boven (2002)menambahkan “hak informasi” (
information rights
) ke dalam jajaran tigahak di atas. Pengertian hak informasi dikaitkan dengan tiga hal, yaitu:
Hak warga sebagai subjek (dan bukan semata objek) di dalammasyarakat informasi. Kuncinya bukan hanya pada kepastianhukum tentang hak memperoleh informasi, tetapi juga padakepastian tentang kemampuan menggunakan informasi itu untukkehidupan bernegara. Haruslah digarisbawahi, warga takmemerlukan semboyan dan jargon kosong tentang kebebasan,tetapi bukti-bukti nyata bahwa ada cukup tersedia informasi yangspesifik, relevan, dan aktual. Warga berharap agar setiap lembagapublik sungguh-sungguh berupaya agar setiap warga mampumenggunakan haknya, misalnya dengan secara aktif menyediakaninformasi dalam berbagai bentuk yang sesuai kebutuhan atausituasi di masyarakat.
Akses yang mudah dan cepat ke informasi publik, terutama untukproses pengambilan keputusan dan pembuatan peraturan yangmenyangkut hajat hidup orang banyak. Ini kemudian menjadiprinsip bagi pemerintah yang terbuka (
open government 
) sebagaipra-syarat penting agar warga mampu secara efektif berpartisipasidalam penyelenggaraan kehidupan bersama. Teknologi saat iniberpotensi memudahkan warga memilih dan mengunduh informasisesuai keperluan mereka. Tetapi Boven menganjurkan janganterbatas di situ. Teknologi bisa dimanfaatkan untuk dialog dandebat yang mengajak publik ikut dalam proses pengambilankeputusan. Tentu saja, untuk dapat melakukan hal ini pemerintahharus bersedia melepaskan monopoli mereka terhadap prosestersebut.2
 
Hak informasi tidak hanya menyangkut hubungan antarapemerintah dan publik, tetapi juga kesetaraan dan keadilan akses.Warga yang tidak punya akses akan kehilangan kekuasaan politik,berpotensi terasingkan secara sosial (
social exclusion
). Akses keinformasi dan sumber informasi harus menjadi bahan yang tersediasecara meluas (
 primary social good 
). Jadi persoalan akses ini jugamenjadi persoalan keadilan, sebab selalu ada potensi munculnyakesenjangan dalam akses, khususnya jika menyangkut teknologiinformasi (
digital divide
).Dengan kata lain, hak informasi lebih luas daripada sekadar keterbukaanpemerintah. Memang, prinsip keterbukaan ini akan meningkatkantransparansi administrasi publik, dengan tujuan meningkatkanpengawasan oleh rakyat dan akuntabilitas pemerintah. Namun hakinformasi juga dapat dilihat sebagai bagian penting dari hak sipil yang takhanya berkaitan dengan pemerintahan, melainkan juga bagian daripergaulan hidup sebuah masyarakat yang madani dan demokratis. Darisisi pandang inilah maka kemudian Boven mengatakan bahwa hakinformasi dapat dilihat sebagai hak yang memiliki tiga tingkatan:1.Hak informasi primer, dalam bentuk hak seluruh anggotamasyarakat untuk secara langsung menggunakan informasi publikatau informasi dari pemerintah.2.Hak informasi sekunder, yaitu hak yang dimiliki warga untukmemperoleh dukungan dan kemudahan (fasilitas) dalam mengaksessumber informasi penting.3.Hak informasi tertier, sebagai hak yang mendukung warga dalamhubungan horizontal dengan warga lain dan dengan badan lain.Bersifat tertier karena peran pemerintah hanyalah membangunkerangka aturan bagi hubungan tersebut.Cara pandang dan kategorisasi oleh Boven di atas dapat membantu kitamemahami aneka fenomena informasi mulai dari kasus “cicak versusbuaya” sampai kontroversi tentang film fiksi yang akan diputar sebagaibagian dari upaya bangsa Indonesia menapak jalan demokrasi. Jalan inimasih panjang dan berliku, selain juga penuh ‘jebakanyang dapatmemundurkan bangsa kita kembali ke masa otoritarian. Salah satuancaman yang perlu dikenali adalah kemungkinan terlantarkannya hakinformasi karena kita terfokus pada keleluasaan menggunakan mediauntuk menyampaikan pendapat; pada saat sama kita melupakan isyuyang lebih fundamental, misalnya tentang apakah masyarakat padaumumnya adalah semata objek dari curahan informasi atau juga subjekyang punya kemampuan memilih, memilah, dan mengambil informasisecara mandiri.Fenomena “cicak versus buaya” dan kontroversi pemutaran film fiksi jugadapat membantu kita memahami peran berbagai institusi informasi (dantidak hanya media massa) dalam memastikan terjaminnya hak informasiwarga sebagai subjek mandiri. Di dalam kerangka pikir inilah kita dapatmemasukkan peran perpustakaan, pusat dokumentasi, dan kantor arsip3

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->