Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
8Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Fordism

Fordism

Ratings: (0)|Views: 407|Likes:
Published by Silsila Asri

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: Silsila Asri on May 09, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as TXT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/23/2013

pdf

text

original

 
The Emerging of Post Fordism and Its Theoretical DebateOleh Silsila AsriPaper ini menguraikan mengenai kemunculan era Post-Fordism dan perdebatan teoritis yang menyertainya serta deskripsi mengenai kecendrungan system produksi yangmuncul pada era post fordism. Era sebelumnya disebut dengan era fordism atau juga dikenal dengan mass production era. Sejak akhir tahun 1940-an sampai akhir tahun 1960-an Negara-negara industri menikmati pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dengan upah dan keuntungan yang meningkat secara stabil. Kondisi ini mulai berubah pada awal tahun 1970-an, dimana tingkat pertumbuhan tiba-tiba mengalami penurunan. Pada saat yang sama, terjadi peningkatan harga minyak dan material pokok industri lainnya yang secara substansial meningkatkan biaya produksi. Pada saat itu, ekonomi dunia sedang menuju suatu periode inflasi yang berkepanjangan, instabilitas mata uang dan peningkatan jumlah pengangguran. Kebijakan ekonomi pemerintah yang pada umumnya berpedoman pada prinsip-prinsp fordism tidak bekerja,sehinggal muncul berbagai pemikiran dan perdebatan mengenai fordism.Kemunculan Era Post FordismKegagalan kebijakan ekonomi diindikasikan sebagai akibat dari globalisasi produksi. Selama lebih kurang 30 tahun perusahaan-perusahaan Amerika, Eropa dan Jepangtelah melakukan ekspansi untuk meraih skala ekonomi level internasional. Diluarkontrol pemerintahan nasional, sistem perdagangan global dikendalikan oleh aktor multinasional yang diregulasi oleh pasar finansial dunia. Dalam kondisi ini pemerintahan Negara industri kehilangan kontrolnya terhadap ekonomi nasional mereka sendiri, siklus peningaktan produksi dan konsumsi menjadi hancur dan ini berarti bahwa Fordism mengalami krisis. . Misalnya ketika pemerintah mengambil kebijakan Reflationary untuk mencegah krisis balance of payment, kekuatan-kekuatan ekonomi eksternal akan dengan sendirinya akan kembali memaksa pemerintah untuk kembali pada kebijakan deflationary. Kemunduran ekonomi ini menuntun terjadinya sebuah transisi, yang kemudian memunculkan sebuah era baru yang disebut dengan post fordism.Menurut Bob Jessop, seorang pemikir dari Departemen Sosiologi Lancaster University, UK, ada tiga kekuatan utama yang mengendalikan kemunculan post fordism yaknikemjuan teknologi, internasionalisasi dan peralihan paradigm fordism menuju post fordism itu sendiri. Dengan demikian dapat dipahami bahwa kemunculan post fordism atau krisis fordism tersebut terutama disebabkan oleh globalisasi dan kemajuan teknologi. Permasalahan berikutnya yang menjadi pertanyaan adalah mengapa proses globalisasi dan kemajuan teknologi itu berimplikasi terhadap krisis ekonomidunia tahun awal tahun 1970-an. Untuk menjawab pertanyaan ini diperlukan sebuah pemahaman teoritis. Seiring dnegan terjadinya krisis fordism, diantara para pemikir ekonomi politik terutama sosiologis telah terjadi perdebatan.Menurut Mitchell Bernard Post fordism diasosiasikan dengan sejumlah perubahan structural menuju organisasi produksi dan khususnya hubungan-hubungan sosialnya.Sedikitnya ada tiga cara untuk untuk menginterpretasikan post fordism ini. Pertama dengan pendekatan liberal yang lebih berkosentrasi pada restrukturisasi perusahaan dan pemahaman terhadap fleksibelitas sebagai suatu strategi managerial. Kedua pendekatan sosiologis dan yang ketiga adalah dengan pendekan politik. Tulisan ini lebih mengacu kepada pendekatan-pendekatan sosiologis, karena perdebatanteoritis yang terjadi dalam kajian sosiologis dianggap lebih mampu menjelsakan krisis fordism dari sudut pandang ekonomi atau liberal, sosial dan politik. Hallmengartikulasikan masa post fordism sebagai :A shift to the new ‘information technologies’; more flexible, decentralized forms of labor process and work organization; decline of old manufacturing base andthe growth of the ‘sunrise’, computer based industries; the hiving off or contracting out of functions and services; a greater emphasis on choice and product differentiation, on marketing, packaging and design, on the targeting of consumers by lifestyle, taste, and culture rather than by categories of social class; adecline in the proportion of the skilled, male, manual working class, the rise of the service and white-collar classes and the feminization of work force; an economy dominated by multinationals with their new international division of labour and their greater autonomy from nation state control; and the globalization ofthe new financial markets, linked by communication revolution.
 
Post fordism tidak hanya melulu dengan term –term transformasi ekonomi, tetapi secara luas juga diasosiasikan dengan perubahan-perubahan social dan budaya. Misalnya fragmentasi dan pluralism, melemahnya solidaritas sosial kolektif dan kelompok-kelompok indentitas, munculnya indentitas baru yang diasosiasikan dengan fleksibelitas kerja, maksimalisasi pilihan individu melalui konsumsi yang sifatnyapersonal. Dalam banyak literature dan pemahaman, perselisihan dalam politik jugamenjadi inti dari perdebatan post fordism.Perdebatan Teori Seputar Post FordismPerdebatan post fordism memusatkan perhatian pada hakikat dan arah dari perubahan atau transisi yang sedang berjalan. Teori-teori ini memperdebatkan mengenai transisi dari satu fase dominan perkembangan kapitalis periode pasca perang menuju siklus tiga puluh atau lima puluh tahun pembangunan yang berdasarkan pada norma-norma ekonomi, politik dan social yang berbeda. Perdebatan ini juga untuk mengidentifikasi kekuatan-kekuatan yang mengendalikan masing-masing fase sejarah dan melalui proses ini dielaborasi bagaimana kekuatan-kekuatan tersebut menetapkanparadigm atau system yang mampu menyelamatkan stabilitas ekonomi dalam jangka waktu relative panjang. Posisi-posisi yang berbeda dalam perdebatan tersebut masing-maisng menerima bahwa sejarah mengalami periodesasi menjadi fase-fase yang berbeda, dipandu oleh suatu kerangka prinsip dominan yang koheren, namun memberikan jalan menuju suatu periode ketidakpastian dan transisi dimana elemen-elemen dari suatu paradigm baru bisa berkembang dan matang.Secara umum terdapat tiga posisi teoritis dalam inti perdebatan post fordism yakni, regulation approach yang dikembangkan berdasarkan persfektif neo marxist, flexible specialization approach yang dikembangkan berdasarkan persfektif neo-Smithian, dan neo-Schumpeterian approach. Ketiga pendekatan ini mengembangkan kerangka teoritis untuk menyokong dan menjelaskan klaim bahwa mass production (fordism) telah mendapat tantangan atau mengalami krisis. Masing-masing pendekatan jugaberupaya untuk meramalkan cara menuju serangkaian prinsip-prinsip organisasional baru untuk menyelamatkan pertumbuhan ekonomi dalam jangka waktu yang relativepanjang dan berkelanjutan. Selain dari tiga di atas, juga muncul perdebatan-perdebatan lain yang pada dasarnya berupaya untuk menjelaskan kekuatan-kekuatan yangmengendalikan transisi dari fordism menuju post fordism.a.Regulation approachRegulation approach pertamakali berkembang di Perancis pada tahun 1970-an, dimana para pemikir ekonomi politik berupaya untuk menjelaskan dinamika siklus jangkapanjang dari perubahan dan stabilitas ekonomi. Pendekatan ini telah berdampaksangat besar terhadap perkembangan dunia internasional dan juga telah muncul sebagai suatu teorisasi mayor mengenai pola pertumbuhan ekonomi paska perang sampai tahun 1970-an dan krisis yang terjadi sesuadah itu. Tujuan awal dari para regulasionis Perancis ini adalah untuk mengembangkan suatu kerangka teoritis yang mampu menjelaskan paradox yang terdapat dalam kapitalisme antara kecendrungannya yang inheren terhadap instabilitas, krisis dan perubahan dan kemampuannya untuk menyatukan dan menstabilkan institusi, aturan-aturan dan norma-norma yang digunakan untuk menyelamatkan stabilitas ekonomi dalam periode yang relative lama. Upaya konseptual ini didukung oleh suatu observasi terhadap stagnasi pertumbuhan ekonomi dunia setelah pertengahan tahun 1970-anDalam rangka untuk menjelaskan dan mengartikulasikan koherensi sistemik masing-masing fase perkembangan kapitalis , teori regulasi mengemukakan dua konsep kunciyakni ‘regime of accumulation’ and ‘mode of regulation’. Regime of accumulationmengacu pada serangakaian peraturan-peraturan pada seluruh level ekonomi yang kurang lebih memungkinkan terjadinya capital accumulation (akumulasi capital) (Nielsen, 1991). Dalam hal ini termasuk norma-norma organisasi produksi dan kerja(proses tenaga kerja), hubungan-hubungan dan bentuk-bentuk perubahan antara cabang-cabang ekonomi, aturan umum industry dan managemen komersial, prinsip-prinsippendapatan yang terbagi atas upah, laba dan pajak, norma-norma komsumsi dan pola permintaan dalam pasar serta aspek-aspek makro ekonomi lainya yang kompleksuntuk menyelamatkan reproduksi kapitalis. Regulasi-regulasi tersebut terdiri dari aturan-aturan formal dan informal.Pertumbuhan ekonomi yang cendrung menurun dan resesi yang berulang terjadi sejakpertengahan tahun 1970-an dilihat dari sudut pandang regulation approach sebaga
 
i gejala-gejala krisis Fordism, didukung oleh ketidaksebandingan dan ketidakseimbangan antara level-level organisasinya yang berbeda. Nielsen mengidentifikasi empat faktor yang berkontribusi dengan signifikansi yang beragam dalam masing-masing konteks nasional terhadap krisis struktural fordism yaitu :Pertama, produktivitas mengalami penuruanan sebagai hasil dari batas-batas sosial dan teknis fordism (para pekerja resisten terhadap organisasi kerja fordism dan meningkatnya kesulitan-kesulitan dalam menyeimbangkan garis produksi yang lebih lama dan lebih kokoh)Kedua, ekspansi mass production menuntun peningkatan aliran globalisasiekonomi yang mana membuat managemen ekonomi nasional semakin sulit.Ketiga, Fordism menuntun peningkatan pengeluaran sosial ( biaya relatifkonsumsi kolektif meningkat, karena metode mass production tidak bisa diterapkan di area ini, menuntun terjadinya inflasi dan konflik distribusi)Keempat, pola konsumsi secara bertahap berubah menuju suatu variasi penggunaan nilai yang lebih besar (permintaan-permintaan baru dihalangi oleh standardisasi, skala ekonomi dasar, dan tidak bisa dengan mudah dipuaskan dengan metodemass production) .Kritikan-kritikan terhadap regulation approach ini bermunculan khususnya mengenai penggunaan metode sejarah sistem untuk menjelaskan perkembangan ekonomi kapitalis.
ada level yang sangat sederhana pendekatan ini dianggap kurang konsisten dimana menggambarkan bahwa Fordism telah mengalami krisis, melalui pengakuan pentingnya dalam ekonomi non-taylorist bentuk-bentuk organisasi kerja, proses produksi non fordist dan kebijakan Negara non Keynesian. Banyak para pemikir yang me
pertanyakan hubungan antara tipe ideal atau bentuk dominan fordism dan fordismnasional yang berbeda-beda, dengan kritikan bahwa pengakuan terhadap keberagaman nasional pada hakikatnya mendukung logika fordism dominan.b.The Neo-Schumpeterian ApproachPendekatan neo-schumpeterian ini sebenarnya memiliki banyak kesamaan dengan regulation approach. Pendekatan ini lebih banyak diasosiasikan dengan inovasi yangdikembangkan oleh Freeman dan Perez pada tahun 1980-an. Perbedaan mendasar dengan regulation approach adalah standar teknis dan teknologi yang mengawali dan mendasari pembangunan ekonomi di masing-masing fase. Pendekatan ini mengacu pada penelitian Kondrative pada tahun 1920-an mengenai periode panjang 50 tahun ‘boomand bust’ dalam pembangunan ekonomi kapitalis dan kemudian hasil kerja Kondrative ini lebih jauh dikembangkan oleh Schumpeter apada kahir tahun 1930-an melaluipenelitiannya mengenai peran pengusaha yang inovatif dalam melahirkan suatu paradigm teknis baru untuk pertumbuhan di masa depan. Selanjutnya berdasarkan hasil kerja kedua pemikir tersebut, Freeman dan Perez mengembangkan konsep-konsep mengenai transisi, dimana kesuksesan transisi bergantung pada dua hal, pertama ‘quantum leap’ (lompatan quantum) dalam produktivitas industry yang akan dicapaioleh yang pertama kali mengalami kemajuan dalam teknologi . Kedua, bergantung pada kesepadanan inovasi yang dibutuhkan dalam kerangka regulasi dan norma-norma social institusional, dengan tujuan untuk memfasilitasi penyebaran teknologi daninovasi tersebut.Defenisi Inovasi dalam pendekatan ini tidak hanya secara sempit mengacu pada proses industri baru atau produk-produk baru, melainkan juga meliputi bentuk-bentukorganisasi dan managmen kerja baru, transpotasi baru, teknologi komunikasi baru, lokasi geografi baru, dimana semua inovasi tersebut dikembangkan untuk mencapai kepuasan dan efesiensi. Dalam hal ini, Freeman dan Perez menekankan peran sentral dari carrier product or industrial sector’ yang bertindak sebagai input utama system atau teknologi universal yang memperkuat efisiensi.Neo Schumpeterian berargumen bahwa penurunan produktivitas merupakan konsekuensidari peningkatan upah, harga dan korporasi-korporasi besar yang tidak efisien.Krisis juga disebabkan oleh ketidaksepadanan antara kemunculan paradigma techno-economic yang mampu memperbaharui pertumbuhan, dan kerangka sosial institusional. Menurut Freeman dan Perez, institusional legal dari paradigm yang terdahulu berubah sangat pelan, sehingga mencegah penyebarluasan diffuse keuntungan dari inovasi lintas ekonomi. Kelembaman ini tidak hanya diikuti oleh kegagalan kebijakan-kebijakan pemerintah neo liberal kontemporer untuk menyediakan suatu tindakankebijakan industri yang langsung dan terkoordinasi tetapi juga menimbulkan kesul

Activity (8)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 thousand reads
1 hundred reads
Sarii Tri Anaa liked this
Sarii Tri Anaa liked this
Sarii Tri Anaa liked this
Noraslina Mansor liked this
Nurul Shahida liked this
Indra Thomas liked this

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->