Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
5Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Rustam Ibrahim

Rustam Ibrahim

Ratings: (0)|Views: 124 |Likes:
Published by mitabookaholic

More info:

Published by: mitabookaholic on May 14, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/08/2010

pdf

text

original

 
1
 
BeberapaBeberapaBeberapaBeberapa TantanganTantanganTantanganTantangan Akuntabilitas danAkuntabilitas danAkuntabilitas danAkuntabilitas dan InternalInternalInternalInternal GovernanceGovernanceGovernanceGovernancedalam Pengembangandalam Pengembangandalam Pengembangandalam Pengembangan EfektivitasEfektivitasEfektivitasEfektivitas ORNOPORNOPORNOPORNOP IndonesiaIndonesiaIndonesiaIndonesia
Oleh Rustam IbrahimOleh Rustam IbrahimOleh Rustam IbrahimOleh Rustam Ibrahim
1111
 
Dunia awal abad ke-21 menyaksikan terjadinya pergeseran dalam tata-pemerintahan global. Kekuasaan tidak lagi sepenuhnya didominasi
negara
dan
pasar 
tetapi juga oleh masyarakat sipil. Masyarakat sipil diakui merupakan salahsatu pemain kunci dalam mengembangkan dan memperluas demokrasi danpembangunan sosial. Peran ORNOP, salah satu komponen penting masyarakat sipil,sangat meningkat baik di forum-forum internasional mau pun pada skala nasional.Pada tingkat nasional, di negara-negara demokratis, pemerintah sebagaipenyelenggara negara tidak lagi dapat sendiri memonopoli penyelenggaraanpemerintahan karena dinilai tidak memadai untuk menjawab kompleksitas yang dihadapi. Pemerintahan harus melibatkan pemangku kepentingan lain sepertisektor swasta dan organisasi masyarakat sipil (OMS). Karena itu konseppemerintah
(government)
 juga
 
tidak lagi memadai maka diperkenalkan istilah
 governance
(tata-pemerintahan) yang merupakan perluasan dari konsep
 government.
Tata-pemerintahan merujuk kepada suatu gagasan atau konsepmengenai “tindakan dan perilaku dalam menjalankan kekuasaan (organisasi)”,apakah itu pemerintah, perusahaan atau OMS. Diperkenalkan pula istilah
 good governance (tata-pemerintahan yang baik 
). Prinsip
 good governance
ini tidakhanya berlaku bagi pemerintah tetapi juga bagi sektor swasta dan OMS.Seperti halnya dengan pemerintahan, kata
 governance
bagi OMS berarti adalahcara-cara bagaimana keputusan dibuat di dalam organisasi, khususnya keputusan-keputusan yang menyangkut arah dan tujuan organisasi dan proses yang diikuti,untuk menjamin bahwa OMS akuntabel kepada mereka yang membentuknya, yang menjalankannya, yang mendukungnya dan yang memperoleh manfaat darinya.Perluasan peran pasar dan masyarakat sipil diperlukan dalam keseluruhan prosesperumusan kebijakan publik, termasuk dalam pengambilan keputusan danimplementasinya. Dengan perubahan ini tata-pemerintahan memberikan peran danruang yang lebih besar kepada lembaga-lembaga non-pemerintah bukan hanyalebih partisipatif, tetapi juga lebih responsif dan akuntabel kepada kepentinganpublik. (Dwiyanto, 2002).Sejalan dengan meningkatnya pengaruh maka sebagai konsekuensinya kepadaORNOP dituntut akuntabilitas publik yang lebih besar pula. Dalam beberapa tahun
1
Ketua Kelompok Kerja untuk Akuntabilitas Organisasi Masyarakat Sipil, Ketua Pengurus PerhimpunanLP3ES, Anggota Pembina YAPPIKA dan Anggota Badan Pengurus Komunitas Indonesia untuk Demokrasi (KID).
 
2
belakangan ini Kritik-kritik mulai santer yang dialamatkan kepada ORNOP. Beberapapertanyaan mendasar diajukan seperti: apa yang menjadi dasar serta tujuankeberadaan ORNOP? Siapa yang mereka wakili atau siapa yang menjadi konstituenmereka? Prof. Dr. Frank Bliss dari Universitas Hamburg, Jerman, misalnya menulisbahwa sampai saat ini masih “sedikit sekali perhatian kepada aspek
legitimasi 
didalam wacana atau debat mengenai peran organisasi masyarakat sipil di negara-negara sedang berkembang.”
2
Sedangkan Hugo Slim dalam salah satu tulisannyamenyebutkan bahwa mulai banyak dipersoalkan tentang masalah representasiorganisasi masyarakat sipil (OMS). Siapa yang memberikan mandat kepada OMSuntuk mewakili atau bertindak sebagai, atas nama atau untuk kepentingan rakyatatau kelompok-kelompok dalam masyarakat?
3
 Era reformasi merupakan “era kebangkitan masyarakat sipil”. Organisasi dankelompok-kelompok dalam masyarakat tumbuh bagaikan “ribuan bungaberkembang”. Di dalam situasi demokrasi yang baru tumbuh ORNOP Indonesiamenuntut berbagai haknya: hak untuk bersuara dalam berbagai pengambilankebijakan; hak untuk berpartisipasi dalam wacana politik; hak untuk menggalang suatu gerakan dan melayani masyarakat; hak untuk berorganisasi, hak untukmengamati, mengawasi, memantau, mengomentari, mengkritik dan memprotessuatu proses pemerintahan; hak untuk memperoleh informasi publik, dansebagainya. Era demokrasi telah memungkinkan ORNOP untuk memperluasperannya. ORNOP Indonesia kini terlibat dalam pelayanan sosial dan ekonomimasyarakat dan advokasi; juga mengawasi kinerja pemerintah, lembaga negaradan lembaga politik lainnya. ORNOP menuntut tata-pemerintahan yang baik berupapemerintah yang bersih, akuntabel dan transparan; melakukan advokasi terhadappelanggaran hak asasi manusia (HAM), pelayanan publik yang lebih baik, sertaperluasan demokrasi dan desentralisasi.Pertumbuhan pesat ORNOP dalam situasi masyarakat yang berubah, sayangnyabelum banyak diikuti dengan perubahan dalam strategi ORNOP menghadapinya.ORNOP dalam banyak hal tampaknya belum juga dapat memposisikan dirinyasecara tepat dalam konstelasi politik yang baru. Demokrasi telah menciptakanpemerintah yang dipilih rakyat dan kekuasaan tidak lagi tersentralisir tetapi mulaiterdistribusi pada beberapa pusat kekuasaan seperti pemerintah, parlemen danlembaga peradilan. ORNOP tidak dapat lagi menyebut dirinya sebagai satu-satunyainstitusi yang melakukan pengawasan dan kontrol terhadap lembaga-lembaganegara. Peran ini juga dilakukan media, akademisi, dan organisasi-organisasimasyarakat sipil lainnya. Sikap oposisi terhadap institusi-institusi negara inimenyebabkan mereka kurang menghargai kehadiran dan kontribusi ORNOPterhadap publik. Bukan hanya dari pemerintah, kini tuduhan bahwa ORNOPIndonesia sebagai agen asing dan menjual kemiskinan juga datang dari kalanganpartai politik dan anggota parlemen.
2
Frank Bliss, “What is Civil Society: Too little attention to the aspect of legitimacy”,
 D+C,
Vol.30, Mei2003, hal. 195-199
3
Lihat Hugo Slim, “By What Authority? The Legitimacy and Accountability of Non-Governmental y org
 
3
Ketika ORNOP semakin lantang menyuarakan pendapat mereka dalam berbagaidebat kebijakan publik, melakukan perlawanan terhadap praktik-praktik korupsi maupemerintah yang tidak transparan, mereka yang kepentingan politiknya terancammulai mengarahkan serangan balik kepada ORNOP. Kelemahan akuntabilitasdijadikan bungkus serangan politis oleh pihak-pihak tertentu yang inginmembungkam suara ORNOP. Kalangan politisi misalnya menuntut agar ORNOPsebagai institusi yang memperoleh dana publik dan bergerak untuk kepentinganpublik harus akuntabel kepada publik. Menurut mereka penerapan prinsip-prinsiptransparansi dapat melepaskan kecurigaan terhadap ORNOP yang selama inimelakukan kegiatan yang besar yang tentu disokong oleh dana yang besar pula.Hanya saja akuntabilitas terutama ditafsirkan sebagai
financial accounting,
bahwadana ORNOP yang berasal dari donor asing itu perlu diaudit dan diumumkankepada publik. Pemerintah juga mulai mempersoalkan legalitas ORNOP dengan caramempersulit akses ke, atau membatasi sumber-sumber, dukungan finansial melaluiperaturan dan meminta kelengkapan administratif yang sulit dipenuhi.Namun bagaimana pun juga kritik-kritik ini tidak seluruhnya didasarkan pada motif politik. Pertanyaan mengenai akuntabilitas muncul sekurang-kurangnya atas tigaalasan yang masuk akal. Yaitu, pertumbuhan ORNOP yang sangat cepat baik dalam jumlah maupun volume kegiatan, semakin besarnya jumlah dana publik yang disalurkan melalui ORNOP dan semakin kuatnya peran ORNOP dalampembentukan kebijakan publik. Untuk menanggulangi bencana Tsunami, misalnya,sumbangan dari masyarakat internasional yang berada di tangan ORNOP Indonesiacukup besar yang dapat menimbulkan irihati badan-badan pemerintah yang berhubungan dengan penanggulangan bencana alam.
Beberapa masalah akuntabilitasBeberapa masalah akuntabilitasBeberapa masalah akuntabilitasBeberapa masalah akuntabilitas
Ada beragam definisi mengenai akuntabilitas. Suatu definisi yang cukupkomprehensif misalnya dikemukakan oleh Hugo Slim bahwa akuntabilitas adalahproses di mana ORNOP mengakui dirinya secara terbuka bertanggungjawabterhadap apa yang diyakininya, yang dilakukan dan yang tidak dilakukan dengancara melibatkan semua pihak yang terkait dan secara aktif memberikan responsterhadap pelajaran yang diperolehnya.
4
 Peter van Tuijl mengatakan bahwa akuntabilitas mencakup penjelasan kepadapublik mengenai siapa kita (ORNOP), apa yang kita inginkan, apa yang kita lakukan,mengapa, dengan siapa kita bekerjasama, dari mana kita memperoleh uang danbagaimana kita menggunakannya.Definisi akuntabilitas seperti ini tentu jauh lebih luas dari sekedar akuntansikeuangan dan pelaporan keuangan. Suatu definisi kerja tentang akuntabilitas akanselalu mencakup tiga aspek: pelaporan atau pemberian informasi
(reporting)
,pelibatan
(involving)
dan cepat-tanggap
(responding).
4
Hugo Slim, “By What Authority? The Legitimacy and Accountability of Non-GovernmentalOrganizations,” makalah yang disajikan pada International Meeting on Global Trends and Human Rights – Before and After September 11, Geneva, January 10-12, 2002

Activity (5)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
xdroka liked this
Ahmad Dinilhaq liked this
senjasarilagi liked this
dam1554 liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->