BAB IIPEMBAHASAN
1.Pengertian QiyasQiyas menurut arti bahasa arab ialah menyamakan, membandingkan ataumengukur
, dicontohkan seperti menyamakan si A dengan si B, karena keduanyamempunyai tinggi yang sama, bentuk tubuh yang sama, wajah yang sama dan lainsebagainya. Qiyas juga berarti mengukur, seperti tanah dengan meter. Demikian pula membandingkan sesuatu dengan yang lain dengan mencari persamaan- persamaannya.Imam Jalaluddin Al-mahalli
mendefinisikan qiyas sebagai berikut:
مكحلا يفهعجت ةعب صا ىلا رلا د وهف سقلاا
Artinya: Qiyas ialah mengembalikan masalah furu’ (cabang) pada masalah pokok, karena suatu illat yang mempersatukan keduanya (cabang dan pokok) di dalam hukum.
Kata kunci dari definisi di atas ialah masalah cabang, masalah pokok, illat,dan hukum. Yang dimaksud masalah cabang yaitu setiap peristiwa yang belumditetapkan hukumnya karena tidak ada nash yang dapat dijadikan sebuah dasar.Masalah pokok yaitu suatu peristiwa yang telah ditetapkan hukumnya berdasar nash. Illat (alasan) ialah sesuatu yang menimbulkan hukum, illat berupa sifat-sifatyang terdapat pada masalah pokok dan masalah cabang. Adapun hukum di siniialah hukum yang terdapat pada masalah pokok. Jika ada persamaan illat denganmasalah cabang, maka masalah cabang tersebut hukumnya dikembalikan(dipersamakan) pada masalah pokok.Timbulnya masalah pokok dan cabang berawal dari budaya dan perubahansocial yang terjadi di masyarakat, tempat islam itu masuk dan berkembang. Dicontohkan bahwa pada masa Nabi ketika ada orang meninggal beliau meletakkan pelepah kurma yang masih segar di atas kuburan si mayit, karena pelepah kurmatersebut akan beristigfar memintakan ampun untuknya selagi pelepah itu belumkering, di Indonesia yang sudah membudaya ketika ada orang meninggal ditaburi bunga segar atau basah (belum kering) di atas kuburan si mayit dengan illat(alasan) yang sama. Dari sinilah telah terjadi dua peristiwa yang dicontohkan oleh Nabi yang disebut sebagai masalah pokok dan peristiwa yang terjadi di Indonesiasebagai masalah cabang.2.Dasar Hukum QiyasTelah di sebutkan di atas bahwa sebagian besar ulama’ ushul fiqih dan para pengikut madzhab yang empat sependapat bahwa qiyas dapat dijadikan dasar pengambilan hukum islam. Ada juga menolak qiyas sebagai dasar hukum, sepertiyang disebutkan Dr. Wahbah al-Zuhaili
, beliau mengelompokkan pendapatulama’ ushul fiqih tentang kehujjahan (pedoman hukum) qiyas menjadi duakelompok, yaitu kelompok yang menerima qiyas sebagai dalil hukum yang dianut
1
http://cybermq.com/pustaka/detail/doa/132/qiyas
2
Imam Jalaluddin Al-Mahalli, Hasyiyah dimyati ala syarhi waroqot, penerbit Toha Putra Semarang,hlm.20
3
http://almanafi.blog.friendster.com/2008/03/makalah-seputar-qiyas/
2