Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
P. 1
Instabilitas Sektor Finansial Indonesia Paska-Krisis Finansial Global 2007, Menemukan Kembali Penguatan Peran Pemerintah Dan Bank Indonesia Dalam Meregulasi Sektor Finansial

Instabilitas Sektor Finansial Indonesia Paska-Krisis Finansial Global 2007, Menemukan Kembali Penguatan Peran Pemerintah Dan Bank Indonesia Dalam Meregulasi Sektor Finansial

Ratings: (0)|Views: 929 |Likes:
Published by Erika Angelika

More info:

Published by: Erika Angelika on May 16, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/12/2012

pdf

text

original

 
0
INSTABILITAS SEKTOR FINANSIALINDONESIA PASKA-KRISIS FINANSIALGLOBAL 2007: MENEMUKAN KEMBALIPENGUATAN PERAN PEMERINTAH DANBANK INDONESIA DALAM MEREGULASISEKTOR FINANSIAL
Oleh:Andi Rosilala (0706291193)Erika (0706291243)Resi Qurrata A (0706291363)Winda (0706291464)
 
DEPARTEMEN ILMU HUBUNGAN INTERNASIONALFAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIKUNIVERSITAS INDONESIADEPOK2010
 
 
1
BAB IPENDAHULUANI.1. Latar Belakang Masalah
Akhir tahun 2007 menjadi awal cobaan berat setelah krisis Asia 1997
 – 
1998terhadap perekonomian Indonesia. Peristiwa instabilitas finansial yang terjadi diAmerika Serikat (AS) dalam derajat tertentu berdampak ke Indonesia. Krisis yang lebihdikenal dengan istilah krisis finansial global ini bermula dari kebijakan uang longgaryang diterapkan oleh Bank Sentral AS,
The Fed,
yang memuncak dalam kasus produk sekuritisasi kredit perumahan yang disebut
subprime mortage.
Adapun terkait dampak krisis ini terhadap perekonomian AS khususnya, dan dunia pada umumnya,
1
pertama,
The Fed 
harus secara berturut-turut menurunkan tingkat suku bunganya. Penurunansuku bunga itu sendiri telah mendorong pelemahan nilai tukar dollar AS terhadapbeberapa mata uang kuat dunia, seperti poundsterling, euro, yen, dan lain-lain. Kedua,
The Fed 
juga terpaksa harus mengucurkan dana segar untuk menyelamatkan aset-asetyang sedang bermasalah. Salah satu contoh yang fenomenal adalah usahamenyelamatkan
 Bear Stearns & Co.Inc
yang terancam bangkrut, ditandai dengananjloknya nilai saham perusahaan investasi tersebut dari 60 dollar AS menjadi 2 dollarAS.
The Fed 
, selain terus menurunkan suku bunga guna menggerakkan ekonomi, ia juga bertugas meredam gejolak pasar, baik dengan menyuntikkan likuiditas langsungmaupun membeli aset-aset yang bangkrut. Upaya penyelamatan ini merupakan kerjasama antara
The Fed 
dan Departemen Keuangan AS. Menteri Keuangan Henry Paulsonterpaksa mengambil prakarsa mendirikan semacam lembaga peminjaman swasta yangdisebut
Superfund.
Lembaga ini didukung oleh Citigroup Inc., JP Morgan Chase Co.,dan Bank of America Corp. Selain Bear Stearns, krisis kredit perumahan juga menyeretMerrill Lynch dalam kerugian amat besar, yakni mencapai sekitar 8 milliar dollar AS.Bencana kerugian perusahaan-perusahaan investasi kelas dunia ini menjalar dengancepat ke Eropa dan Jepang, seperti UBS dan Barclays (Eropa, serta Mizuho (Jepang),mengalami kerugian serius, akibat krisis
subprime mortgage
.
1
A. Prasetyantoko, Bencana Finansial: Stabilitas Sebagai Barang Publik, (Jakarta: Kompas, 2008), hal.166
 – 
167.
 
2
Gonjang-ganjing krisis finansial global ini, pada periode awal krisis globaltahun 2007, tidak terlalu dirasakan dampaknya secara langsung oleh Indonesia ditingkat domestik. Akan tetapi, walaupun secara keseluruhan perekonomian Indonesiamencatat perubahan-perubahan positif pada tahun 2007, bukan berarti Indonesia lantasterbebas dari krisis dan tidak terkena dampak KFG. Pada tahun 2008, perekonomianIndonesia, terutama dari sektor finansial, mulai menunjukkan tanda-tanda negatif.Dampak krisis finansial global pada sektor finansial Indonesia dapat dibagi menjadibeberapa kategori, yaitu dampak pada sektor nilai tukar rupiah yang terdepresiasi,turunnya harga saham di pasar modal domestik, menurunnya cadangan devisa, danhuru hara di sektor perbankan. Oleh karena itu, fokus dalam pada makalah ini akanditekankan pada sektor finansial saja.Sebelum Lehman Brothers mengumumkan kebangkrutannya, nilai tukar rupiahmasih berada di level Rp9.000 per dolar AS. Memasuki pertengahan September, ketikaLehman Brother resmi dinyarakan bangkrut, rupiah mulai fluktuatif. Puncaknya, pada24 November 2008, rupiah menembus angka Rp12.650 per dolar AS.
2
Meroketnyanilai tukar rupiah menembus angka psikologis (Rp10.000/dolar) sudah barang tentumembuat panik perusahaan-perusahaan nasional yang masih mengandalkan bahan bakuimpor dan para pemilik modal yang tergerus nilai nominal dana mereka. Kenaikkanharga barang-barang ini pun memicu angka inflasi hingga sempat menyentuh 12,56%pada tahun 2008. Begitu juga kaitannya dengan cadangan devisa Indonesia. Bank Indonesia (BI) mengumumkan bahwa cadangan devisa tinggal US$51,6 miliar perDesember 2008. Padahal lima bulan sebelumnya (Juli 2008), masih tercatat US$60,6miliar. Artinya, ada uang sebesar US$9 miliar atau mencapai sekitar 15 persen yangmenguap begitu saja.Dalam menanggapi situasi genting seperti itu, pemerintah dengan cukupproaktif melakukan intervensi demi penyelamatan sektor keuangan dari kehancuranlebih dalam. Pemerintah, melalui BI, mengeluarkan beberapa kebijakan. Kebijakan-kebijakan tersebut dapat dibagi menjadi beberapa sektor, seperti Penerbitan TigaPeraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (PERPPU), Upaya PenciptaanKetersediaan Likuiditas Pasar, Upaya Menjaga Kesinambungan Devisa dan NeracaPembayaran, dan Upaya Menjaga Kesinambungan APBN 2009/2010. Upaya itu,
2
 
Ibid
.

Activity (22)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Ziie Lha Lhana liked this
Shofia Sri A liked this
Nanny Bee liked this
ina3300 liked this
cokludh liked this
kensell liked this
gakky_77 liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->