Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
8Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Pemilihan Rejim Nilai Tukar Suatu Negara Dan Hubungannya Dengan Ketergantungan Konstituen Domestik Pada Modal Global

Pemilihan Rejim Nilai Tukar Suatu Negara Dan Hubungannya Dengan Ketergantungan Konstituen Domestik Pada Modal Global

Ratings: (0)|Views: 133|Likes:
Published by Erika Angelika

More info:

Published by: Erika Angelika on May 16, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/14/2013

pdf

text

original

 
Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik . UniversitasIndonesia
Page | 1
Tugas Review VI Mata Kuliah Rezim Keuangan Internasional
Nama : ErikaNPM : 0706291243Sumber Bacaan : George E. Shambaugh.
“The Power of Money: Global Capital and Policy Choices in DevelopingCountries”, dalam
 American Journal of Political Science,
Volume 48 Issue 2, h. 281-285.
Pemilihan Rejim Nilai Tukar dalam Suatu Negaradan Hubungannya dengan Ketergantungan Konstituen Domestik pada Modal Global
Preferensi suatu negara pada rejim nilai tukar yang digunakannya merupakan faktor krusial yangakan berpengaruh pada kehidupan ekonomi dan politik negara tersebut. Seyogyanya, negara akan memilihrejim nilai tukar yang akan mendatangkan keuntungan maksimal bagi dirinya; negara juga seyogyanya akanmemilih untuk tidak lagi menggunakan rejim nilai tukar yang pada masa sebelumnya terbukti merugikandirinya. Akan tetapi ternyata premis ini tidak selalu terjadi. Dalam beberapa kasus, seperti misalnya kasusArgentina pada tahun 1991, Korea Selatan dan Hongkong, negara malah tetap menggunakan suatu rejimnilai tukar yang jelas-jelas bersifat
counterproductive
bagi dirinya. Menyinggung hal ini, George E.
Shambaugh dalam artikelnya yang berjudul “
The Power of Money: Global Capital and Policy Choices in Developing Countries
” mengatakan bahwa faktor kepercayaan terhadap mod
al asing dari para konstituendomestik ternyata ikut mempengaruhi preferensi pemilihan rejim nilai tukar pada suatu negara. Adapunpemikiran ini sejalan dengan asumsi Cohen dan Stallings yang mengatakan bahwa kelompok-kelompok lokal yang bergantung pada bentuk investasi tertentu akan cenderung melakukan modifikasi pada preferensirejim nilai tukarnya dan membentuk koalisi yang dapat mendukung preferensi itu. Menurut Shambaugh, adabeberapa kondisi yang berhubungan dengan kepercayaan pada modal asing yang akan menentukanpreferensi pemilihan rejim nilai tukar suatu negara. Kondisi tersebut adalah ketergantungan terhadap modal,kondisi politik domestik, dan kondisi ekonomi domestik.Dalam menjelaskan kondisi pertama, yaitu ketergantungan terhadap modal, Shambaugh memulaipenjelasannya dengan mengatakan bahwa negara yang baru berkembang sangat bergantung pada masuknyainvestasi asing ke negaranya, karena modal itu kemudian akan digunakan untuk membiayai defisit neracapembayarannya, membayar hutang eksternalnya, dan mewujudkan pembangunan ekonominya. Masuknyamodal asing ke suatu negara dapat dilakukan dalam tiga bentuk yaitu melalui peminjaman pada bank komersial,
 foreign direct investment 
(FDI), dan investasi portfolio, di mana ketergantungan pada setiapbentuk akan melahirkan bentuk preferensi rejim nilai tukar yang berbeda-beda. Adapun preferensi inimerupakan sebuah
trade-off 
antara stabilitas dan tingkat harga. Dari sisi peminjaman pada bank komersial,
 
Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik . UniversitasIndonesia
Page | 2
Shambaugh mengatakan bahwa semakin banyak konstituen domestik yang memiliki liabilitas mata uangasing atau melakukan bisnis dengan mata uang asing, maka kecenderungan suatu negara untuk memilihrejim nilai tukar tetap (selanjutnya disebut rejim tetap) untuk menghindari devaluasi atau depresiasi padaobligasi hutangnya akan semakin besar. Sehingga semakin besar ketergantungan suatu negara pada liabilitaskomersial pada waktu t-1, maka semakin besar probabilitas negara tersebut menerapkan rejim tetap padawaktu t. Sementara dari sisi FDI, Shambaugh mengatakan bahwa negara dengan banyak perusahaan yangbergerak di sisi ekspor akan cenderung memilih rejim fleksibel untuk menghindari apresiasi yang cenderungtimbul pada rejim tetap. Akan tetapi premis ini tidak berlaku untuk eksporter produk spesial (
specialized goods
), di mana harga jual produk ini tidak dipengaruhi oleh fluktuasi nilai tukar. Dalam hal ini, industritersebut akan lebih memilik rejim tetap karena eksportir produk ini hanya akan mendapat sedikit keuntungandari rejim fleksibel sementara mereka harus menanggung resiko fluktuasi nilai tukar yang diakibatkannya.Dari sisi investasi portfolio, Shambaugh menemukan adanya dua hipotesis. Hipotesis pertamaadalah negara dengan konstituen domestik yang bergantung pada investasi portfolio akan cenderungmenerapkan rejim tetap, dikarenakan rejim tetap akan menawarkan stabilitas nilai tukar yang tentunyamenjadi incaran para investor. Sementara hipotesis kedua mengatakan bahwa negara dengan konstituendomestik yang bergantung pada investasi portfolio akan cenderung menerapkan rejim fleksibel, denganargumen rejim fleksibel lebih adaptif terhadap berbagai vulnerabilitas yang dapat timbul karena sifat jangkapendek dari investasi portfolio itu sendiri. Akan tetapi dari penelitian empiris yang dilakukannya, ternyatahipotesis kedualah yang lebih banyak terjadi. Negara dengan konstituen domestik yang bergantung padainvestasi portfolio akan cenderung menerapkan rejim fleksibel.Setelah menjelaskan mengenai kondisi ketergantungan pada modal, Shambaugh kemudianmenjelaskan preferensi rejim nilai tukar yang dapat timbul pada berbagai situasi politik domestik. MenurutShambaugh, kondisi politik yang demokratis akan cenderung menerapkan rejim nilai tukar fleksibeldibanding rejim yang otoriter karena rejim fleksibel lebih memungkinkan negara untuk segera meresponpermintaan masyarakat dalam konteks meningkatnya vulnerabilitas di dunia internasional kini. Faktor keduayang juga menentukan preferensi rejim nilai tukar adalah kondisi pemilihan umum yang akan berlangsung.Dalam menghadapi pemilihan umum yang akan berlangsung, pemerintah akan cenderung menerapkan rejimtetap untuk menghindari stigma negatif yang mungkin timbul sehubungan dengan ketidakmampuanpemerintah menjaga kestabilan harga. Akan tetapi pemilihan rejim tetap itu akan dilakukan hanya sebelumpemilihan umum, sementara sesudahnya pemerintah akan cenderung menerapkan rejim fleksibel karena
 
Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik . UniversitasIndonesia
Page | 3
rejim ini dapat lebih mengurangi resiko politik yang mungkin timbul.Preferensi pemilihan rejim nilai tukar tidak hanya ditentukan oleh ketergantungan suatu negarapada modal asing dan kondisi politik domestiknya, melainkan juga ditentukan oleh kondisi ekonomidomestik suatu negara, khususnya masalah inflasi yang timbul di negara tersebut. Shambaugh melanjutkan,masalah inflasi ini kemudian melahirkan sebuah
trade-off 
antara keinginan para investor menjamin stabilitasdan kredibilitas moneter dan keinginan para buruh. Pada premis pertama, investor lebih menginginkansebuah rejim tetap, sementara kelompok buruh lebih menginginkan diterapkannya rejim fleksibel karenarejim tetap dengan kemungkinan apresiasi yang ditimbulkannya akan membahayakan para buruh. Dalampenelitian empiriknya, Shambaugh meneliti hubungan antara sejarah inflasi di suatu negara dalam limatahun terakhir dengan preferensi pemilihan rejim nilai tukarnya, dan hasilnya ternyata negara yang memilikisejarah inflasi lebih cenderung menerapkan rejim fleksibel.Kondisi kedua dalam ekonomi domestik yang juga diteliti Shambaugh adalah kondisi kepemilikancadangan devisa dan kontrol pada modal serta pada
current account 
, di mana semakin banyak cadangandevisa yang dimiliki suatu negara, maka negara tersebut cenderung akan menerapkan rejim tetap; sementarasemakin tinggi kontrol negara pada modal, negara akan cenderung menerapkan rejim tetap. Hal yangberbeda terjadi pada hubungan antar kontrol negara pada
current account 
dengan preferensi rejim nilai tukar,di mana semakin tinggi kontrol negara, negara akan semakin cenderung menerapkan rejim fleksibel.Kondisi ketiga dalam ekonomi domestik yang diteliti Shambaugh adalah masa krisis hutang yangterjadi pada tahun 1982-1989, di mana ketika itu negara sangat rentan pada hutang luar negeri. Pada masaini, menurut penelitian Shambaugh, negara akan cenderung menerapkan rejim tetap. Kondisi terakhir yangditeliti Shambaugh adalah periode 1990-an, di mana pada periode ini, pemilihan rejim nilai tukardiperkirakan akan semakin bervariasi dikarenakan ketergantungan pada FDI dan investasi portfolio semakinmeningkat. Kondisi ini akan mendorong negara untuk menerapkan rejim fleksibel.Pada dasarnya, penelitian Shambaugh menunjukkan bahwa ada keterkaitan antara fenomenadomestik dan internasional sehubungan dengan arus modal internasional dengan preferensi pemilihan rejimnilai tukar. Hal ini merupakan hal yang wajar, karena aktor-aktor domestik dalam pasar finansial tentunyaakan memiliki preferensi tersendiri untuk mengamankan posisi mereka, sehingga mereka akan berjuanguntuk mempengaruhi pembuatan kebijakan pemilihan rejim nilai tukar di negaranya masing-masing. Unsurketergantungan konstituen domestik pada arus modal global, menurut Shambaugh, merupakam hal yangharus diperhatikan dalam menganalisa preferensi rejim nilai tukar. Tanpa menggunakan analisa holistik 

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->